Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Kandungan Logam Kadmium (Cd) COD dan BOD dalam Limbah Air Sungai Sleng dengan Menggunakan Arang Aktif dari Kulit Kopi Amelia, Tri Widya Sasnita; Iryani, A. Sry
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 3 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i3.6331

Abstract

Heavy metals such as Cadmium (Cd) are pollutants that are very dangerous to life because they are toxic, cannot be degraded, and are easily absorbed into the soil. Metal pollution is very dangerous because it can damage and cause serious global problems. The content of heavy metals such as Cd can damage the environment and waters in the area. The presence of heavy metals in large quantities can affect ecological and biological aspects. This study analyzed the effectiveness of activated charcoal from coffee husks in removing cadmium (Cd) from wastewater from the Sleng River. Wastewater from the Sleng River was contaminated with Cd with a concentration of 0.0521 mg/L, five times higher than the permitted threshold of 0.0100 mg/L. The author made activated charcoal from coffee husks through carbonization and activation using ZnCl₂. The results showed that activated charcoal from coffee husks was effective in reducing Cd concentration, with an optimum mass of 150 mg for both treatments (with and without activation). For COD, unactivated charcoal was more effective (reducing it from 134.3 mg/L to 86.9 mg/L). Meanwhile, for BOD, activated charcoal showed better results (reducing it from 20.4 mg/L to 16.6 mg/L).
POTENSI TEPUNG TULANG BISON (BISON BISON) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PAKAN TERNAK ainun, ainun; Iryani, A. Sry
Journal of Research and Education Chemistry Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jrec.2025.vol7(2).23349

Abstract

Bison bone meal, a byproduct of the bison meat processing industry, has attracted attention as a source of minerals and protein for animal feed. A comprehensive analysis of the nutritional content of bison bone meal is needed to identify its specific advantages as a raw material for animal feed. This study aims to determine the potential of bison bone meal (Bison-bison) as an alternative raw material for animal feed. This study includes sample preparation, calcium analysis using the permanganatometry method, phosphorus analysis using the UV-Vis instrument, and nutritional content using the proximate method for water, ash, fat, and protein content parameters. Bison is a wild ruminant species known for its ability to adapt and survive in harsh environments. Bone meal is a feed raw material produced from animal processing waste. Bison bone meal has a significant mineral content, with a calcium (Ca) concentration ranging from 24-28% and phosphorus (P) 12-14%, creating a Ca:P ratio of around 2:1 which is ideal for animal nutrition. The content of bison bone meal is protein, fat, calcium and phosphorus. However, the main content of bison bone meal with the highest content is protein at 44.90%. The characterization carried out on bison bone meal is the analysis of water and ash content in bison bone meal with the results of the analysis of water content of 4.77% which is lower than the water content in beef bone meal. While the ash content is 37.69% and is greater when compared to beef bone meal. Based on SNI quality standards, each test parameter meets SNI standards. The addition of bison bone meal which is rich in protein and phosphorus to animal feed can improve the quality and productivity of livestock.
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS BIJIH NIKEL LATERIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE X-RAY FLUORESCENCE Khairil Amri, khairil amri; A. Sry Iryani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.24025

Abstract

Nikel laterit merupakan material yang berasal dari regolith (lapisan yang merupakan hasil pelapukan batuan yang menyelimuti suatu batuan dasar) yang berasal dari batuan ultrabasa yang mengandung unsur Ni, Mg, Fe dan Co. Sekira 72% cadangan nikel dunia merupakan nikel laterit dan baru 42% dari cadangan tersebut yang diproduksi. Dari data tersebut, salah satu negara pemasok nikel laterit terbesar adalah Indonesia. Penambangan bijih nikel laterit telah banyak beroperasi di daerah Sulawesi, khususnya di PT Tonia Mitra Sejahtera, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu masalah yang dialami dalam proses penambangan bijih nikel laterit di PT Tonia Mitra Sejahtera adalah kadar bijih pada endapan nikel laterit yang bervariasi sehingga akan sangat mempengaruhi kualitas bijih yang diproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan dalam pengendalian kualitas bijih nikel laterit dalam proses kegiatan penambangan PT Tonia Mitra Sejahtera khususnya pada Pit Daniati (zona saprolit) agar kualitas dan kadar bijih yang diproduksi akan terus terjaga. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian pada kerja praktik ini terdiri dari tiga jenis, yaitu kegiatan observasi, kegiatan wawancara dan pengambilan data dari dokumen perusahaan, yang berupa hasil analisis kadar bijih. Berdasarkan hasil analisis sampel mining dan sampel produksi, menunjukkan bahwa untuk kadar rata-rata Ni, Fe, Co, MgO , dan SiO2 sampel mining pada Pit Daniati (zona saprolit) berturut-turut 1,95%, 14,81%, 0,04%, 18,03%, 35,12% dan untuk sampel produksi pada Pit Daniati (zona saprolit) berturut-turut 1,91%, 14,98%, 0,04%, 17,66%, 34,47%. Perubahan kadar yang terjadi berturut-turut 2,15%, 1,05%, 4,44%, 2,05%, 1,85%. Faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan kadar bijih nikel laterit tersebut diantaranya operasi kegiatan penambangan, proses pengambilan sampel, perawatan ore di stockpile, dan proses preparasi sampel.
PENENTUAN KADAR NIKEL DALAM SAMPEL NIKEL ORE MENGGUNAKAN METODE PRESS MELALUI PEMBACAAN XRF PADA PT. SAIMBAKI TAMBANG SENTOSA A. Sry Iryani; Hidayat, Muh Fajrin
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.24454

Abstract

Kadar nikel dalam sampel nikel ore, diperlukan metode analisis yang cepat, akurat, dan efisien. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah X-Ray Fluorescence (XRF), yang merupakan teknik analisis non-destruktif yang sangat efektif untuk mendeteksi unsur-unsur dalam sampel. Khususnya, Wavelength Dispersive X-Ray Fluorescence (WDXRF) adalah teknik XRF yang mampu memberikan hasil analisis yang sangat presisi dan dapat digunakan untuk analisis unsur-unsur secara simultan dalam satu kali pengukuran. Namun, agar teknik WDXRF dapat memberikan hasil yang akurat, sampel perlu dipersiapkan dengan baik. Salah satu cara untuk mempersiapkan sampel yang ideal adalah dengan menggunakan metode press. Metode ini digunakan untuk mengompresi sampel menjadi pelet yang padat, yang memungkinkan sinar-X untuk menembus sampel dengan lebih homogen, sehingga menghasilkan pembacaan yang lebih akurat dan reproducible. Berdasarkan hasil penelitian, metode press berpengaruh terhadap tekanan (preasure) dalam analisis kadar nikel pada sampel nikel ore menggunakan metode EDXRF. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar nikel dalam sampel yang diuji berkisar antara 1,590 – 1,640%, yang mendekati nilai standar CRM (1,640%). Hal ini menunjukkan bahwa metode EDXRF memiliki akurasi yang baik dalam menentukan kadar nikel. Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas sampel terhadap pembacaan XRF meliputi kelembaban sampel MC berkisar 41,00% hingga 45,16%. Kandungan air yang tinggi dapat mempengaruhi akurasi analisis XRF dengan menghambat sinyal fluoresensi nikel. Oleh karena itu, proses pengeringan sebelum analisis sangat penting untuk mengurangi efek matriks dan meningkatkan sensitivitas deteksi