Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Analisis Kandungan Logam Kadmium (Cd) COD dan BOD dalam Limbah Air Sungai Sleng dengan Menggunakan Arang Aktif dari Kulit Kopi Amelia, Tri Widya Sasnita; Iryani, A. Sry
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 3 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i3.6331

Abstract

Heavy metals such as Cadmium (Cd) are pollutants that are very dangerous to life because they are toxic, cannot be degraded, and are easily absorbed into the soil. Metal pollution is very dangerous because it can damage and cause serious global problems. The content of heavy metals such as Cd can damage the environment and waters in the area. The presence of heavy metals in large quantities can affect ecological and biological aspects. This study analyzed the effectiveness of activated charcoal from coffee husks in removing cadmium (Cd) from wastewater from the Sleng River. Wastewater from the Sleng River was contaminated with Cd with a concentration of 0.0521 mg/L, five times higher than the permitted threshold of 0.0100 mg/L. The author made activated charcoal from coffee husks through carbonization and activation using ZnCl₂. The results showed that activated charcoal from coffee husks was effective in reducing Cd concentration, with an optimum mass of 150 mg for both treatments (with and without activation). For COD, unactivated charcoal was more effective (reducing it from 134.3 mg/L to 86.9 mg/L). Meanwhile, for BOD, activated charcoal showed better results (reducing it from 20.4 mg/L to 16.6 mg/L).
POTENSI TEPUNG TULANG BISON (BISON BISON) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PAKAN TERNAK ainun, ainun; Iryani, A. Sry
Journal of Research and Education Chemistry Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jrec.2025.vol7(2).23349

Abstract

Bison bone meal, a byproduct of the bison meat processing industry, has attracted attention as a source of minerals and protein for animal feed. A comprehensive analysis of the nutritional content of bison bone meal is needed to identify its specific advantages as a raw material for animal feed. This study aims to determine the potential of bison bone meal (Bison-bison) as an alternative raw material for animal feed. This study includes sample preparation, calcium analysis using the permanganatometry method, phosphorus analysis using the UV-Vis instrument, and nutritional content using the proximate method for water, ash, fat, and protein content parameters. Bison is a wild ruminant species known for its ability to adapt and survive in harsh environments. Bone meal is a feed raw material produced from animal processing waste. Bison bone meal has a significant mineral content, with a calcium (Ca) concentration ranging from 24-28% and phosphorus (P) 12-14%, creating a Ca:P ratio of around 2:1 which is ideal for animal nutrition. The content of bison bone meal is protein, fat, calcium and phosphorus. However, the main content of bison bone meal with the highest content is protein at 44.90%. The characterization carried out on bison bone meal is the analysis of water and ash content in bison bone meal with the results of the analysis of water content of 4.77% which is lower than the water content in beef bone meal. While the ash content is 37.69% and is greater when compared to beef bone meal. Based on SNI quality standards, each test parameter meets SNI standards. The addition of bison bone meal which is rich in protein and phosphorus to animal feed can improve the quality and productivity of livestock.
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS BIJIH NIKEL LATERIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE X-RAY FLUORESCENCE Khairil Amri, khairil amri; A. Sry Iryani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.24025

Abstract

Nikel laterit merupakan material yang berasal dari regolith (lapisan yang merupakan hasil pelapukan batuan yang menyelimuti suatu batuan dasar) yang berasal dari batuan ultrabasa yang mengandung unsur Ni, Mg, Fe dan Co. Sekira 72% cadangan nikel dunia merupakan nikel laterit dan baru 42% dari cadangan tersebut yang diproduksi. Dari data tersebut, salah satu negara pemasok nikel laterit terbesar adalah Indonesia. Penambangan bijih nikel laterit telah banyak beroperasi di daerah Sulawesi, khususnya di PT Tonia Mitra Sejahtera, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu masalah yang dialami dalam proses penambangan bijih nikel laterit di PT Tonia Mitra Sejahtera adalah kadar bijih pada endapan nikel laterit yang bervariasi sehingga akan sangat mempengaruhi kualitas bijih yang diproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan dalam pengendalian kualitas bijih nikel laterit dalam proses kegiatan penambangan PT Tonia Mitra Sejahtera khususnya pada Pit Daniati (zona saprolit) agar kualitas dan kadar bijih yang diproduksi akan terus terjaga. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian pada kerja praktik ini terdiri dari tiga jenis, yaitu kegiatan observasi, kegiatan wawancara dan pengambilan data dari dokumen perusahaan, yang berupa hasil analisis kadar bijih. Berdasarkan hasil analisis sampel mining dan sampel produksi, menunjukkan bahwa untuk kadar rata-rata Ni, Fe, Co, MgO , dan SiO2 sampel mining pada Pit Daniati (zona saprolit) berturut-turut 1,95%, 14,81%, 0,04%, 18,03%, 35,12% dan untuk sampel produksi pada Pit Daniati (zona saprolit) berturut-turut 1,91%, 14,98%, 0,04%, 17,66%, 34,47%. Perubahan kadar yang terjadi berturut-turut 2,15%, 1,05%, 4,44%, 2,05%, 1,85%. Faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan kadar bijih nikel laterit tersebut diantaranya operasi kegiatan penambangan, proses pengambilan sampel, perawatan ore di stockpile, dan proses preparasi sampel.
PENENTUAN KADAR NIKEL DALAM SAMPEL NIKEL ORE MENGGUNAKAN METODE PRESS MELALUI PEMBACAAN XRF PADA PT. SAIMBAKI TAMBANG SENTOSA A. Sry Iryani; Hidayat, Muh Fajrin
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.24454

Abstract

Kadar nikel dalam sampel nikel ore, diperlukan metode analisis yang cepat, akurat, dan efisien. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah X-Ray Fluorescence (XRF), yang merupakan teknik analisis non-destruktif yang sangat efektif untuk mendeteksi unsur-unsur dalam sampel. Khususnya, Wavelength Dispersive X-Ray Fluorescence (WDXRF) adalah teknik XRF yang mampu memberikan hasil analisis yang sangat presisi dan dapat digunakan untuk analisis unsur-unsur secara simultan dalam satu kali pengukuran. Namun, agar teknik WDXRF dapat memberikan hasil yang akurat, sampel perlu dipersiapkan dengan baik. Salah satu cara untuk mempersiapkan sampel yang ideal adalah dengan menggunakan metode press. Metode ini digunakan untuk mengompresi sampel menjadi pelet yang padat, yang memungkinkan sinar-X untuk menembus sampel dengan lebih homogen, sehingga menghasilkan pembacaan yang lebih akurat dan reproducible. Berdasarkan hasil penelitian, metode press berpengaruh terhadap tekanan (preasure) dalam analisis kadar nikel pada sampel nikel ore menggunakan metode EDXRF. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar nikel dalam sampel yang diuji berkisar antara 1,590 – 1,640%, yang mendekati nilai standar CRM (1,640%). Hal ini menunjukkan bahwa metode EDXRF memiliki akurasi yang baik dalam menentukan kadar nikel. Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas sampel terhadap pembacaan XRF meliputi kelembaban sampel MC berkisar 41,00% hingga 45,16%. Kandungan air yang tinggi dapat mempengaruhi akurasi analisis XRF dengan menghambat sinyal fluoresensi nikel. Oleh karena itu, proses pengeringan sebelum analisis sangat penting untuk mengurangi efek matriks dan meningkatkan sensitivitas deteksi
ANALISIS PARAMETER KONDISI OPERASI PROSES PASTUERISASI TERHADAP KUALITAS PRODUK MINUMAN KEMASAN MUH FIQRI; A. Sry Iryani; Mansyur, Andi Irsyam
Journal of Research and Education Chemistry Vol. 8 No. 1 (2026): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jrec.2026.vol8(1).27919

Abstract

This study aims to analyze the effect of pasteurization process operating parameters—including temperature, contact time, flow rate, and pH—on the quality of packaged beverages, particularly flavored beverages and tea drinks. The pasteurization process is a thermal processing method used in the beverage industry to improve microbiological safety and extend product shelf life. The success of this process is highly influenced by the combination of operating parameters used. The research was conducted experimentally by varying the temperature, contact time, and flow rate during the pasteurization process, followed by product quality testing that included chemical parameters (pH and °Brix), microbiological parameters (total plate count/TPC), and organoleptic parameters (hedonic test). The data were analyzed descriptively to examine the relationship between process parameters and product quality. Based on the research results, it can be concluded that the appropriate combination of pasteurization parameters significantly determines the final product quality, both from chemical, microbiological, and organoleptic aspects. The results indicate that for flavored beverages, pasteurization at 65°C with sufficient contact time and a balanced flow rate effectively reduces microbial counts to undetectable levels while maintaining organoleptic quality. Meanwhile, for tea beverages, conditions at 135°C yield the best results in terms of microbiological safety and consumer acceptability. Excessively high temperatures lead to a decline in sensory quality due to the degradation of flavor and aroma components.
Pengaruh Konsentrasi Semicoke sebagai Reduktor terhadap Peningkatan Kadar Nikel pada Bijih Nikel Ore Laterit dari Maluku Utara Rizky Amalia; A. Sry Iryani; Faisal Riza Basalamah
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.24477

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel laterit yang melimpah, khususnya di wilayah Maluku Utara. Namun, kadar nikel dalam bijih tersebut umumnya masih rendah sehingga memerlukan proses peningkatan kadar sebelum dimanfaatkan dalam industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi semicoke sebagai reduktor terhadap peningkatan kadar nikel dalam proses reduksi bijih nikel ore laterit. Proses reduksi dilakukan menggunakan rotary kiln pada suhu 800°C selama 60 menit dengan lima variasi persen reduktor semicoke, yaitu 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, dan 6%. Hasil pengujian menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) menunjukkan bahwa kadar nikel tertinggi diperoleh pada variasi penambahan semicoke sebesar 6%. Dimana, kadar nikelnya meningkat dari 1,71% menjadi 1,82% dengan persentase peningkatan kadar nikel sebesar 6,43%. Efektivitas semicoke sebagai reduktor didukung oleh karakteristik fisik dan kimia yang unggul, seperti kandungan karbon tetap tinggi (>75%), porositas baik, kadar abu dan sulfur rendah, serta kestabilan termal yang tinggi. Selain smemberikan hasil yang lebih efisien, penggunaan semicoke juga dianggap lebih ramah lingkungan dan ekonomis dibandingkan reduktor konvensional seperti batubara. Penelitian ini menunjukkan bahwa semicoke dapat menjadi reduktor alternatif dalam proses pirometalurgi nikel laterit.
KARAKTERISTIK LIMBAH HASIL REDUKSI BATUAN ORE SEBAGAI BAHAN MATERIAL KONSTRUKSI Astrid Ayu Kartini; A. Sry Iryani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 03 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Juni 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i03.24723

Abstract

Limbah hasil reduksi batuan ore (slag) merupakan residu padat yang dihasilkan dari proses peleburan dan pemurnian bijih nikel, yang keberadaannya berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan apabila tidak dikelola dengan tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia, dan mekanik slag serta menilai kelayakannya sebagai bahan alternatif material konstruksi dengan membandingkannya terhadap paving block dan batu kerikil. Analisis kimia menunjukkan bahwa slag masih mengandung oksida logam dalam jumlah signifikan, di antaranya Fe₂O₃ sebesar 11,8–20,5%, MgO sebesar 23–24%, Al₂O₃ sebesar 4,5–5,6%, serta kandungan logam minor seperti Ni (0,070–0,160%), Co (0,019–0,038%), dan MnO (0,443–0,473%). Sementara itu, paving block lebih didominasi oleh SiO₂ sebesar ±136–137% dengan kandungan oksida logam rendah, dan batu kerikil menunjukkan SiO₂ ±52–53% dengan Al₂O₃ sekitar 16,6% serta Fe₂O₃ 6,9–7,0%. Dari sisi mekanik, slag menunjukkan kuat tekan mencapai 48 ton. Apabila dikonversi, dengan 1 tonf ≈ 9,80665 kN, maka nilai tersebut setara dengan 470,7 kN. Dengan asumsi luas penampang uji 0,01 m² (misalnya sampel kubus 10 cm × 10 cm), kuat tekan slag dapat dihitung sebesar 98 MPa. Nilai ini lebih tinggi dibanding kuat tekan paving block yang umumnya berkisar antara 30–50 MPa dengan standar minimum rata-rata 49 MPa, serta beton dengan agregat kerikil yang menunjukkan kuat tekan sekitar 34 MPa pada umur 28 hari. Hasil ini menegaskan bahwa slag memiliki keunggulan mekanik signifikan dibanding dua material pembanding, yang menjadikannya prospektif sebagai bahan pengganti agregat dalam aplikasi beton maupun paving. Secara keseluruhan, slag hasil reduksi ore memiliki karakteristik fisik yang padat dan densitas tinggi, kandungan kimia kaya oksida logam yang mendukung pembentukan matriks padat, serta sifat mekanik dengan kuat tekan yang kompetitif bahkan lebih unggul dibanding material konvensional. Namun, kandungan logam berat seperti Ni, Co, dan Mn perlu diwaspadai karena berpotensi terlepas ke lingkungan melalui proses pelindian. Oleh karena itu, pemanfaatan slag sebagai bahan konstruksi memerlukan tahapan perlakuan tambahan seperti stabilisasi, pencucian, atau solidification untuk menjamin keamanan lingkungan. Dengan pengendalian tersebut, slag dapat digunakan sebagai material konstruksi alternatif yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah industri, tetapi juga mendukung konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable construction) melalui pengurangan timbunan limbah padat
IDENTIFIKASI KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM LIMBAH SISA PREPARASI SAMPEL ORE NIKEL MENGGUNAKAN X-RAY FLUORESCENCE EPSILON-4 Rasmiyanti Nurdin; A. Sry Iryani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 03 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Juni 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i03.24726

Abstract

Limbah sisa preparasi ore nikel hasil analisis X-Ray Fluorescence (XRF) Epsilon-4 mengandung beberapa logam berat, yaitu Fe (11,53%), Ni (2,13%), Cr (0,82% sebagai Cr₂O₃), Co (0,043%), dan Mn (0,26% sebagai MnO). Fe menjadi unsur dominan, diikuti oleh SiO₂ (43,02%) dan MgO (22,83%) yang merupakan komponen mineral utama. Kandungan logam berat ini relatif stabil selama penyimpanan hingga 5 bulan di dalam ruangan bersuhu konstan, meskipun terjadi sedikit penurunan rasio MgO/SiO₂ dari 0,53 menjadi 0,36. Jika dibandingkan dengan baku mutu limbah cair industri berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 1995, kadar Ni (batas 1 mg/L, sampel 21.300 mg/kg), Cr (batas 0,5 mg/L, sampel 8.200 mg/kg), dan Mn (batas 2 mg/L, sampel 2.600 mg/kg) jauh melebihi ambang batas. Hal ini menunjukkan bahwa apabila limbah kontak dengan air dan menghasilkan lindi, potensi pencemaran lingkungan sangat tinggi. Oleh karena itu, pengelolaan limbah perlu diarahkan pada konsep pemanfaatan kembali. Solusi yang dapat diterapkan antara lain ekstraksi logam bernilai (Ni, Fe, Co) dengan metode metalurgi, pemanfaatan sebagai bahan tambahan konstruksi setelah stabilisasi, pengolahan menjadi adsorben melalui aktivasi mineral oksida, serta penggunaan dalam industri semen. Dengan pendekatan ini, limbah tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menjadi sumber daya sekunder yang memiliki nilai ekonomis..
PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN DAN METODE PENGERINGAN TERHADAP STABILITAS PARAMETER PROKSIMAT BATUBARA: Indonesia Muhajir, Achmad; Iryani, A. Sry
Journal of Research and Education Chemistry Vol. 8 No. 1 (2026): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jrec.2026.vol8(1).27908

Abstract

This study aims to analyze the effect of storage time and drying methods on the stability of coal proximate parameters. The parameters observed include moisture, ash, volatile matter, and fixed carbon. The experiment was conducted using storage time variations (0, 1, 2, 3, and 4 weeks) and drying methods (oven at 105°C and microwave at 300–600 W). Proximate analysis was performed based on ASTM standards. Data were analyzed using two-way ANOVA to determine the significance of the variables. The results showed that storage time significantly affected all proximate parameters, particularly increasing moisture content and decreasing volatile matter. The microwave method reduced moisture more effectively but caused greater changes in volatile matter and fixed carbon. In contrast, the oven method produced more stable and representative results. Therefore, the oven method is recommended for coal proximate analysis..
STUDI VARIASI RASIO BATUBARA KALORI RENDAH DAN BIOMASSA SEKAM PADI DALAM PEMBUATAN BIO-BRIKET BERDASARKAN ANALISIS PROKSIMAT, TOTAL SULFUR, DAN NILAI KALOR muzakki; A. Sry Iryani
Journal of Research and Education Chemistry Vol. 8 No. 1 (2026): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jrec.2026.vol8(1).27927

Abstract

This study aims to examine the effect of different mixture ratios of low-calorie coal and rice husk biomass on bio-briquette characteristics and to determine the optimum ratio as a more environmentally friendly alternative fuel. The ratio variations were 0:1, 1:0, 1:2, 2:1, 3:1, 1:3, and 2:3 (coal: rice husk). The analyzed parameters included proximate analysis, namely moisture, ash, volatile matter, and fixed carbon, as well as total sulfur and calorific value. The data were evaluated descriptively using range, mean, standard deviation, and correlation with coal fraction; one-way ANOVA can be applied when replicated data are available for each treatment. The results showed that increasing the coal fraction increased fixed carbon and calorific value, but also increased ash and total sulfur. In contrast, increasing the rice husk fraction reduced sulfur and ash, but increased moisture and volatile matter. The 3:1 ratio was selected as the most balanced ratio because it produced a calorific value of 5,800 cal/g, a sulfur content of 0.60%, and a moisture content of about 5.50%. However, because ash and volatile matter remained relatively high and fixed carbon was still low compared with certain bio-briquette standards, this optimum ratio should be further validated through actual combustion tests, including ignition time, combustion duration, flame stability, and SO₂ emission.