Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Farmer Group of Cabe Bakul (Lada Katokkon) in Rantepao District, North Toraja Regency: Kelompok Tani Cabe Bakul (Cabe Katokkon) Di Kecamatan Rantepao Kabupaten Toraja Utara Iryani, A. Sry; Bali, Agustina Deka Minggu
Mattawang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.116 KB) | DOI: 10.35877/454RI.mattawang204

Abstract

Chili is one of the most important foods for traditional Indonesian food. One of the chilies that have a very high Scoville rating from Toraja Utara and Tana Toraja is Cabe Bakul or Lada Katokkon. This chili is different from other peppers ranging from the shape that resembles a pabrika but the size is small, it is sweet taste turned hot and good smelled. . The disadvantage of this chili is the condition of chilies that have a very high water content so it is easy to rot and wrestle so that the price quickly goes down and sometimes thrown away. To avoid the problem, the team proposes to process chili into a product but does not change the taste, color, and smell. This activity helps the chili farmers to process their crops into processed products that have higher economic value. There are two types of products produced are Chili powder (Bon Cabe) and sauce. Chili sauce is made there are four variants of flavors are: original, onion, terasi, and fish. Through this training, the farmer group partners can cultivate the harvest and its products can compete in the Toraja market and outside Toraja. Abstrak Cabe merupakan salah satu makanan terpenting untuk makanan tradisional Indonesia. Salah satu cabai yang memiliki rating Scoville sangat tinggi dari Toraja Utara dan Tana Toraja adalah Cabe Bakul atau Cabe Katokkon. Cabe ini berbeda dengan cabe lainnya mulai dari bentuknya yang menyerupai pabrika namun ukurannya kecil, rasanya manis berubah menjadi panas dan harum. Kekurangan dari cabe ini adalah kondisi buah cabe yang memiliki kandungan air yang sangat tinggi sehingga mudah membusuk dan bergelut sehingga harganya cepat turun dan kadang dibuang begitu saja. Untuk menghindari masalah tersebut, tim mengusulkan untuk mengolah cabe menjadi sebuah produk namun tidak merubah rasa, warna dan baunya. Kegiatan ini membantu petani cabe mengolah hasil panennya menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Ada dua jenis produk yang dihasilkan yaitu bubuk cabe (Bon Cabe) dan saos. Kuah sambal yang dibuat ada empat varian rasa yaitu: original, bawang, terasi dan ikan. Melalui pelatihan ini para mitra kelompok tani dapat membudidayakan hasil panen dan produknya dapat bersaing di pasar Toraja dan luar Toraja.
PKM-Produksi Abon Ikan Asin Jenis Kerapu (Epinephelus fuscogut-tatus) Sebagai Inovasi Olahan Berdaya Jual Tinggi Marzuki, Ismail; Pratama, Irham; Amaliah, Fauzia; Iryani, Andi Sry; Gala, Selvina
MATAPPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : STKIP Andi Matappa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31100/matappa.v4i1.903

Abstract

The purpose of this PKM is to improve the welfare of target housewives through management, production, marketing and community assistance in making shredded salted fish made from grouper fish. The method applied is in the form of production technology transfer, packaging, marketing, business financial accounting management, website creation and business partnerships with users. PKM is carried out in production houses owned by the community independently. The results of the PKM are in the form of production of shredded salted fish made from grouper by housewives with the skills and capabilities of production, marketing, and financial management that are carried out independently. The group already has marketing partners and permanent raw material sourcing partners. Their product of shredded salted grouper is named Assahra. This business has at least provided new jobs for ± 7 housewives, including additional income for them. The conclusion from this PKM activity is that the production of shredded Assahra grouper is feasible to continue and can be managed independently by the target community, providing new work barriers, additional income and the product of shredded salted grouper is favored by consumers.
Farmer Group of Cabe Bakul (Lada Katokkon) in Rantepao District, North Toraja Regency: Kelompok Tani Cabe Bakul (Cabe Katokkon) Di Kecamatan Rantepao Kabupaten Toraja Utara A. Sry Iryani; Agustina Deka Minggu Bali
Mattawang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.116 KB) | DOI: 10.35877/454RI.mattawang204

Abstract

Chili is one of the most important foods for traditional Indonesian food. One of the chilies that have a very high Scoville rating from Toraja Utara and Tana Toraja is Cabe Bakul or Lada Katokkon. This chili is different from other peppers ranging from the shape that resembles a pabrika but the size is small, it is sweet taste turned hot and good smelled. . The disadvantage of this chili is the condition of chilies that have a very high water content so it is easy to rot and wrestle so that the price quickly goes down and sometimes thrown away. To avoid the problem, the team proposes to process chili into a product but does not change the taste, color, and smell. This activity helps the chili farmers to process their crops into processed products that have higher economic value. There are two types of products produced are Chili powder (Bon Cabe) and sauce. Chili sauce is made there are four variants of flavors are: original, onion, terasi, and fish. Through this training, the farmer group partners can cultivate the harvest and its products can compete in the Toraja market and outside Toraja. Abstrak Cabe merupakan salah satu makanan terpenting untuk makanan tradisional Indonesia. Salah satu cabai yang memiliki rating Scoville sangat tinggi dari Toraja Utara dan Tana Toraja adalah Cabe Bakul atau Cabe Katokkon. Cabe ini berbeda dengan cabe lainnya mulai dari bentuknya yang menyerupai pabrika namun ukurannya kecil, rasanya manis berubah menjadi panas dan harum. Kekurangan dari cabe ini adalah kondisi buah cabe yang memiliki kandungan air yang sangat tinggi sehingga mudah membusuk dan bergelut sehingga harganya cepat turun dan kadang dibuang begitu saja. Untuk menghindari masalah tersebut, tim mengusulkan untuk mengolah cabe menjadi sebuah produk namun tidak merubah rasa, warna dan baunya. Kegiatan ini membantu petani cabe mengolah hasil panennya menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Ada dua jenis produk yang dihasilkan yaitu bubuk cabe (Bon Cabe) dan saos. Kuah sambal yang dibuat ada empat varian rasa yaitu: original, bawang, terasi dan ikan. Melalui pelatihan ini para mitra kelompok tani dapat membudidayakan hasil panen dan produknya dapat bersaing di pasar Toraja dan luar Toraja.
Identifikasi senyawa antioksidan dari ekstrak abu pelepah sagu (Metroxylon sago) sebagai bahan pembantu dalam pembuatan bedak dingin A. Sry Iryani; Mardiana Mardiana
Agrokompleks Vol 22 No 1 (2022): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v22i1.379

Abstract

Tanaman sagu atau rumbia (Metroxylon sago) merupakan tanaman penghasil pati sagu yang dimana pati sagu menjadi sumber karbohidrat. Tanaman sagu memiliki banyak manfaat, daunnya dapat dijadikan atap, empulur dijadikan pati, kulit batang pohon sagu dijadikan briket, dan ampas empulur dijadikan pupuk organik. Selain itu abu dari pelepah pohon sagu dapat dijadikan bahan untuk bedak dingin. Antikoksidan dari abu pelepah sagu ini dapat diperoleh dengan melalui proses ekstraksi menggunakan pelarut etanol 70 % dalam alat ekstraktor soxhlet. Antioksidan dapat berfungsi untuk melindungi sel-sel dari kerusakan yang disebabkan oleh adanya molekul yang tidak stabil dimana dikenal sebagai radikal bebas. Antioksidan dapat menyumbangkan elektron kepada molekul radikal bebas, sehingga dapat menstabilkan radikal bebas dan dapat menghentikan reaksi berantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat dalam abu pelepah sagu. Pengujian dilakukan menggunakan abu pelepah sagu yang diekstrak menggunakan metode soxhlet dengan pelarut etanol 70 %, kemudian di lakukan pengujian GC-MS untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang terdapat dalam abu pelepah sagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa yang terdapat di dalam abu pelepah sagu yaitu senyawa antioksidan kurkumin yang merupakan senyawa turunan dari polifenol dengan rumus kimia C21H20O6.
BAKU MUTU BUANGAN AIR LIMBAH PENGOLAHAN FERONIKEL Nurul Musfiroh; A. Sry Iryani
Journal of Scientech Research and Development Vol 6 No 1 (2024): JSRD, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56670/jsrd.v6i1.515

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui kadar klorida (Cl-), Alkalinitas (OH-), kesadahan, nilai pH, dan konduktivitas (daya hantar listrik) dalam air skiming sisa pengolahan feronikel dan membandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah. Pengambilan sampel dilakukan satu kali melalui pompa keluaran (output) air dari penampungan air skiming. Pengujian kadar klorida (Cl-), Alkalinitas (OH-) dan kesadahan diukur menggunakan metode titrimetri dan untuk nilai PH dan konduktivitas menggunakan alat pH meter dan conductivity meter. Penelitian dilakukan di Laboratorium Testing Center Morowali. Hasil yang diperoleh adalah kadar Cl- berkisar 91.87 mg/L – 114.48 mg/L. Kadar alkalinitas sebesar 0.93 mmol/L – 2.06 mmol/L. Kadar kesadahan sebesar 1439.27 mg/L – 1779.64 mg/L. Nilai pH yang diperoleh 8.32 – 8.59. Untuk nilai konduksi didapatkan 2226 (µs/cm) – 2601 (µs/cm). Kandungan (Cl-), (OH-), dan nilai pH lebih rendah dari ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah, sedangkan untuk kadar kesadahan dan konduktivitas (daya hantar listrik) melebihi ambang batas. Oleh karena itu air skiming perlu dilakukan pengolahan untuk menurunkan nilai kesadahan dan konduktivitas sehingga air tersebut bisa digunakan kembali sebagai air pendinginan atau dapat dibuang ke lingkungan dengan aman.
Analysis of Chemical Parameters of Performance of Moringa Seed (Moringa oleifera) as Coagulant in Waste Water Treatment Sinardi, Sinardi; HT, ST. Ica; Iryani, A. Sry
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 9 No. 2 (2024): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v9i2.1273

Abstract

Household liquid waste, which is rich in organic matter such as detergents and food waste, is one of the main causes of water and soil pollution. Household waste contains organic substances that pollute water and soil. Moringa seeds, as a natural coagulant, effectively bind suspended particles in water to be clean and safe for the environment. Moringa seeds, with their high protein content, act as a natural coagulant that is effective in settling pollutants in water. In addition, moringa seeds are rich in polar groups which have been proven to be effective as natural coagulants in lowering pH, Biological Oxygen Demand (BOD), and Chemical Oxygen Demand (COD) in liquid waste. This study aims to analyze the chemical parameters of the influence of moringa seeds on pH changes, decrease in BOD and COD levels in household liquid waste. In this study, liquid waste samples obtained from households around Banta Bantaeng, Rappocini Village, Makassar City were used. The chemical parameters analyzed include pH, BOD, and COD. The research was conducted using the jar test method to measure parameter changes before and after the coagulation process. The concentration of moringa seed coagulant was optimal at a concentration of 2–15 gr/L with a decrease in BOD of 95% and COD of 86%. The results of the study show that moringa seeds are effective in reducing the level of organic matter in household liquid waste. With its effectiveness and environmentally friendly nature, moringa seeds can be a sustainable alternative solution for household liquid waste treatment.
Analisis Parameter Kimia Kinerja Koagulan Biji Kelor (Moringa oleifera) dalam Pengolahan Limbah Cair Sinardi, Sinardi; HT, ST. Ica.; Iryani, A. Sry
Prosiding TAU SNARS-TEK Seminar Nasional Rekayasa dan Teknologi Vol. 5 No. 1 (2025): Prosiding TAU SNARS-TEK Seminar Nasional Rekayasa dan Teknologi 2024
Publisher : Fakultas Teknik dan Teknologi - TANRI ABENG UNIVERSITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/snarstek.v2i1.778

Abstract

Limbah cair rumah tangga mengandung berbagai macam polutan, diantarnya bahan organik yang bisa menyebabkan pencemaran air dan pencemaran tanah. Salah satu metode pengolahan limbah cair rumah tangga yang efektif adalah dengan menggunakan koagulan yang berfungsi untuk menggumpalkan partikel-partikel tersuspensi dalam air. Partikel-partikel ini kemudian dapat diendapkan dan dibuang. Biji kelor merupakan salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai koagulan. karena mengandung senyawa aktif yang memiliki sifat koagulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kimia kinerja koagulan biji kelor dalam pengolahan limbah cair rumah tangga. Penelitian ini dilakukan di menggunakan limbah cair rumah tangga yang berasal dari rumah tangga di sekitar Jl. Banta Bantaeng Kelurahan Rappocini, Kota Makassar. Parameter kimia yang dianalisis adalah pH, BOD, dan COD. Metode yang digunakan adalah percobaan jart test dengan menganalisis perubahan parameter kimia sebelum dan setelah proses koagulasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa koagulan biji kelor merupakan alternatif yang efektif dan ramah lingkungan untuk pengolahan limbah cair rumah tangga.
Analisis Kandungan Nutrisi Bekas Maggot (Kasgot) Sebagai Pupuk Organik Berkualitas Alif Al Furqan, Muh.; Iryani, A. Sry
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia Vol 26, No 1 (2025): CHEMICA
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/chemica.v26i1.71439

Abstract

Agriculture is a very important sector in the country's economy where one of the things that affects agricultural productivity is fertiliser. Fertiliser scarcity is a serious problem and has an impact on the agricultural sector. As an alternative, the community makes organic fertiliser by utilising maggot technology to decompose organic waste (leaves, fruit scraps, kitchen waste and others) from the decomposition results will produce food waste from maggot which is called kasgot where this kasgot is used as organic fertiliser for various agricultural plants. The purpose of this research was conducted to determine the nutritional content of the former maggot (kasgot). The methods used in this research are qualitative and quantitative as well as the instrument chemical analysis method in determining the nutrient content in fertiliser from ex-maggot (kasgot). The results concluded that the former maggot (kasgot) fertiliser contained quite high nutrients, namely C-Organic 4.19%; Moisture Content 42.71%; pH 7.50; C/N Ratio 0.34; Nitrogen (N) 12. 50%; Phosphorus (P2O5) 12.09%; Potassium (K2O) 17.25%; Iron (Fe) total 0.1526 ppm; Zinc (Zn) total 0.0521 ppm; Arsenic (As) < 0.001 ppm; Lead (Pb) 0.027 ppm; Mercury (Hg) < 0.008 ppm. This study concluded that spent maggot (kasgot) can be used as an economical and ecological alternative to organic fertiliser to increase crop productivity.
Karakterisasi Tanah Tambang dan Pengaruh Logam Mineral (Fe, SiO2, MgO, Al2O3) Terhadap Nikel (Ni) pada Kedalaman (Zona Gradasi) di Daerah Towara Misbawati; A. Sry Iryani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 4 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Agustus 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i04.22698

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi tanah tambang nikel berdasarkan zona gradasi serta menganalisis pengaruh logam mineral (Fe, SiO2. MgO, Al2O3) terhadap Nikel (Ni) pada kedalaman yang berbeda di daerah Towara. Sampel diperoleh dari dua titik bor dengan kedalaman hingga 17 dan 22 meter, kemudian dianalisis berdasarkan kadar air menggunakan metode oven dan kandungan unsur kimia menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil menunjukkan bahwa kadar air tertinggi berada di zona limonit (36–45%) dan terendah di zona bedrock (2–8%). Distribusi unsur menunjukkan pola khusus, di mana kadar Fe dan Ni tertinggi ditemukan di zona limonit dan saprolit. Analisis statistik menunjukkan korelasi positif antara kadar Fe dan Ni, dengan nilai korelasi kuat (r = 0,68) pada salah satu titik bor. Korelasi ini mendukung hipotesis bahwa Ni dalam zona limonit cenderung teradsorpsi bersama oksida besi (goethit dan hematit), sehingga peningkatan kadar Fe berkaitan langsung dengan peningkatan kadar Ni. Sebaliknya, di zona saprolit, korelasi ini lebih lemah karena keterikatan Ni lebih dominan pada mineral silikat. Temuan ini memberikan kontribusi penting untuk optimasi eksplorasi dan strategi pengolahan tambang nikel laterit.
Efektifitas Arang Serbuk Gergaji Kayu terhadap Pengaruh Penurunan Kadar Logam Berat Cadmiun (Cd), Cod dan Bod pada Sampel Air Sungai Azis, Siti Safira Nurul Maulia; Iryani, A. Sry
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 3 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i3.6333

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of activated carbon derived from sawdust waste, both unactivated and activated, in reducing extreme pH levels, high temperatures, and heavy metals (especially Pb and Cd) in wastewater. Sawdust was converted into charcoal through a carbonization process, then activated using ZnCl₂ solution to enhance its adsorption capacity. Adsorption tests were conducted with variations in adsorbent mass and environmental parameters such as pH and temperature. The results showed that sawdust-based activated carbon significantly reduced Cd concentration, particularly at the optimum mass of 150 mg. Activated carbon performed better compared to non-activated carbon. In addition to reducing heavy metals, the adsorption treatment effectively lowered COD values (from 134.3 mg/L to 67.94 mg/L) and BOD values (from 20.4 mg/L to 14.4 mg/L), demonstrating the adsorbent’s capability to absorb organic compounds. Activation increased surface area and pore volume, thereby making the adsorption process more efficient. Overall, this study concludes that activated carbon from sawdust waste, especially after activation, is a low-cost, effective, and environmentally friendly adsorbent alternative for treating wastewater contaminated with heavy metals and organic matter.