Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The Implication of Studentification To Community’s Physical And Social Economicaspects In Tembalang Higher Education Area Dewi, Santy Paulla; Ristianti, Novia Sari
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v21i1.19027

Abstract

Abstract. Studentification is a neighbourhood changes caused by the students’ presence in the permanent settlement then influence the area; students accomodation supply and community’s social economic aspects. This research revealed the influence of studentification in Tembalang higher education area to the physical and social economic aspects. Qualitative research method was used to explain more about the studentification influence and the Tembalang development trend. Interview conducted to some key figures in the community such as Lurah, community leaders, and students to find out their perception regarding the neighbourhood transformation. Based on analysis, it showed that studentification emerged since the Pleburan campus moved to Tembalang campus which students accomodation demand increased significantly. Moreover, the studentification influences seen from the increasing of land price, land use conversion, and students’ life style that affected the community’s job-shifting. However, the development of Tembalang higher education area still on the track based on the guidance and spatial pattern structure recommendation of Semarang Spatial Plan 2011-2030.
Sustainable Rural Tourism Meaning for Community Livelihood Dewi, Santy Paulla; Ristianti, Novia Sari
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v23i2.29320

Abstract

The Sangiran is a national tourism strategic area as well as the most important ancient site established by UNESCO. Hence, its existence can contribute to the community livelihood which is dominated as poor. Meanwhile, having World Heritage Sites (WHS) status gives many restrictions to the local community such as restriction to soil excavation. Focusing on the agricultural sector as their main job was relatively difficult because of the physical aspect. The community chose the possible way to gain income that the job did not relate with tourism activity. Therefore, this study examines the meaning of sustainable rural tourism for community livelihood using the sustainable livelihood approach. Two rounds of Focus Group Discussions and interviews with some experts were conducted to find out issues in the development of Sangiran tourism and stakeholder perceptions. The community considered that they could not rely on the tourism sector so that they adjusted to the situation by doing another job. Indeed, the WHS status of Sangiran had not given impacts on the community; they prefer to conduct their previous activities. The development of rural tourism was not sustained; the community was still vulnerable that pointed out by their low economic capacity
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat sebagai Upaya Mewujudkan Kota Layak Huni di Kelurahan Bulusan, Tembalang, Semarang Dewi, Santy Paulla; nurini, Nurini; Dewi, Diah Intan Kusumo; Wungo, Grandy Lorenessa
WARTA LPM WARTA LPM, Vol. 25, No. 2, April 2022 (in Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v25i2.16345

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk berimplikasi terhadap peningkatan timbulan sampah sehingga membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak terjadi persoalan lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik akan menentukan tingkat kenyamanan bertempat tinggal dan kualitas lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep kota layak huni, dimana salah satu indikatornya adalah terkait penyediaan fasilitas perkotaan. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman mengenai konsep kota layak huni sebagai wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan masyarakat. Tim pengabdian masyarakat dari Laboratorium Perancangan Kota dan Pembangunan, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro yang terdiri atas empat dosen dan dua mahasiswa mendesiminasikan konsep kota layak huni di Kelurahan Bulusan melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengurangan volume sampah dimana membutuhkan peran aktif dan komitmen masyarakat. Tujuan diseminasi ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat hingga pada akhirnya menyadari pentingnya turut berperan dalam implementasinya. Metode yang digunakan pada kegiatan ini mengidentifikasi potensi dan masalah pengelolaan sampah di Bulusan, identifikasi karakteristik masyarakat, menganalisis pengelolaan sampah eksisting, yang selanjutnya dihasilkan beberapa arahan pengelolaan sampah dalam konteks Kota Layak Huni. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi lapangan.Output pengabdian masyarakat ini adalah strategi pengelolaan sampah berbasis masyarakat dalam kerangka konsep kota layak huni berdasarkan pembelajaran dari best practice serta teori yang relevan melalui pelibatan mahasiswa, pemilik kos, dan masyarakat dalam pemilahan sampah, peran pemerintah dalam menjembatani dengan pengepul sampah. Output dari pengabdian masyarakat ini adalah adanya komitmen dari pemilik kos untuk menyediakan tempat sampah yang berbeda sesuai dengan jenisnya.
Sustainable Tourism Strategy for the City of Kupang's Lasiana Coastal Area Rulina Yismaya Titu E; Santy Paulla Dewi
TATALOKA Vol 22, No 2 (2020): Volume 22 No. 2, May 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.22.2.299-307

Abstract

The integrated and sustainable coastal tourism development activities can contribute to an area both in increasing the income of the government and the local community. The Lasiana coastal area of Kupang City has both natural and cultural potential, location, but it has not been implemented optimally. This study aims to determine the development strategy of the Lasiana coastal area based on the opinion of tourists and local communities in supporting development. This research is quantitative descriptive. The approach in this study is a quantitative approach to describe respondents' responses to attractions based on the questionnaire given. The results showed that the perception of local people and tourists is very influential in determining the area development strategy. The strategies used include the provision of facilities and infrastructure, the provision of a master plan for regional tourism development, traffic management arrangements, human resource development, the development of attractions as well as for cooperation among parties in terms of promotion and maintaining the sustainability of tourism and the environment.
ANALISIS PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG KAWASAN BERSEJARAH KAMPUNG KAUMAN KOTA SEMARANG Ester Theresiana; Santy Paulla Dewi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1662.639 KB)

Abstract

Kampung Kauman Semarang merupakan sebuah pusat permukiman pertama di Semarang yang tumbuh di sekitar Masjid Kauman dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Perkampungan ini tertata rapi dan memiliki pola perkampungan yang unik sehingga menjadikan toponim bagi perkampungan-perkampungan yang tersebar di kawasan ini sesuai dengan keadaan, sifat, maupun aktivitas masyarakat. Berdasarkan kebijakan RTRW Kota Semarang tahun 2010-2030 kawasan Kampung Kauman termasuk dalam Bagian Wilayah Kota I, yang diarahkan sebagai kawasan perkantoran, perdagangan jasa dan campuran. Hal tersebut menyebakan kawasan ini berkembang dengan sangat pesat. Terjadi perubahan aktivitas disekitar kawasan Kampung Kauman Semarang dari permukiman menjadi perdagangan dan jasa yang berdampak juga pada penggunaan lahan di kawasan ini, lahan-lahan permukiman yang ada berubah fungsi menjadi tempat usaha karena keterbatasan lahan di kawasan ini. Selain itu terdapat pula permasalahan banjir rob yang sering menggenangi kawasan ini ketika air laut pasang atau saat musim penghujan, hal tesebut mendorong masyarakat menciptakan hunian yang nyaman dengan menambah jumlah lantai bangunan. Dengan adanya berbagai permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di kawasan Kampung Kauman Kota Semarang pada tahun 2003 dan tahun 2013. Hasil dari analisis yang telah dilakukan adalah adanya pengalihfungsian guna lahan oleh masyarakat dari permukiman menjadi perdagangan jasa dikarenakan perubahan aktivitas yang terjadi, perluasan tempat usaha, penambahan jumlah lantai bangunan pada tempat usaha yang digunakan sebagai tempat usaha sekaligus sebagai hunian, dan penambahan jumlah lantai bangunan pada hunian untuk mengamankan harta benda dan keluarga dari ancaman banjir rob. Penambahan jumlah lantai bangunan ini menyebabkan perkembangan bangunan dikawasan ini secara vertikal atau berkembang ke atas. Kampung Kauman sebagai kawasan yang akan terus berkembang memerlukan pengarahan perkembangan yang khusus agar siap menerima peningkatan aktivitas yang sangat pesat. Rekomendasi yang diberikan antara lain penegasan izin pengendalian pembangunan baik luasan lahan terbangun maupun jumlah lantai bangunan, pendataan jumlah bangunan yang diperuntukkan sebagai perdagangan dan jasa secara berkala, serta pengoptimalan potensi ekomoni dan budaya. 
DAMPAK REVITALISASI TERHADAP KARAKTERISTIK BERLOKASI PKL DI KOTA LAMA SEMARANG Dwirantika Maharani Putri Susetya; Santy Paulla Dewi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 2: Desember 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.563 KB) | DOI: 10.14710/jpk.9.2.192-203

Abstract

Revitalisasi Kota Lama Semarang yang dilakukan dalam rangka menghidupkan kembali kawasan turut mempengaruhi PKL dalam berlokasi di Kawasan tersebut. Penataan PKL yang dilakukan pasca revitalisasi tidak membuat PKL berhenti berjualan dan justru membuat PKL menyesuaikan kegiatannya agar tetap dapat berjualan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik berlokasi PKL pasca revitalisasi Kota Lama Semarang. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis meliputi analisis deskriptif, analisis kebijakan penataan PKL pasca revitalisasi, dan analisis spasial berupa overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik berlokasi PKL adalah pada trotoar, persimpangan jalan, taman, jalan utama dan jalan penghubung kawasan yang terdapat kepadatan pejalan kaki, pada lokasi yang memiliki berbagai aktivitas di sekitarnya, terdapat akumulasi pengunjung dan terdapat kelonggaran pengawasan petugas yang mengawasi PKL. Perubahan karakteristik PKL sebelum dan sesudah revitalisasi terlihat pada adanya penyesuaian (perubahan) dalam hal jenis dagangan, sifat layanan, sarana usaha, dan waktu operasional berjualan. Mayoritas merupakan PKL keliling menggunakan sarana usaha yang mudah dibawa, serta berjualan makanan minuman siap konsumsi dan barang non-makanan, dengan waktu operasional yaitu pada sore hingga malam hari.
TRANSFORMASI SOSIO-SPASIAL KAWASAN PECINAN KOTA SEMARANG Tiara Rizkyvea Debby; Santy Paulla Dewi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 7, No 1: Juli 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4841.984 KB) | DOI: 10.14710/jpk.7.1.46-56

Abstract

Kawasan Pecinan adalah kawasan cagar budaya yang sejak awal terbentuknya di abad ke 18 hingga saat ini didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa. Di sisi lain, terjadi penurunan jumlah penduduk yang cukup signifikan selama 7 tahun terakhir. Singkatnya, transformasi demografi dan ekonomi mengakibatkan perubahan pola pemanfaatan ruang fungsional dan dikhawatirkan dapat mempengaruhi nilai budaya kawasan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis transformasi sosio-spasial Kawasan Pecinan Kota Semarang yang direncanakan sebagai salah satu lokasi wisata budaya. Metode kualitatif digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi sehingga dapat memahami isu-isu perkembangan kawasan Pecinan. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat migrasi masyarakat relatif tinggi yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas berdagang. Peningkatan aktvitas ini mempengaruhi kondisi fisik kawasan seperti pemanfaatan lahan dan fungsi bangunan. Namun demikian, perubahan fasade bangunan tidak banyak berubah, sehingga pola permukiman eksisting dapat dikatakan mengalami transformasi minor. Faktor kepercayaan dan memegang teguh prinsip adat juga melatarbelakangi masyarakat tetap mempertahankan desain bangunannya. Oleh karena itu, citra kawasan Pecinan sebagai kawasan cagar budaya tetap terjaga
PENGEMBANGAN WISATA PEDESAAN YANG BERKELANJUTAN DI KECAMATAN KARANGNONGKO KABUPATEN KLATEN Santy Paulla Dewi; Retno Widjajanti; Parfi Khadiyanta; novia sari ristianti
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 2, No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi konsep wisata yang berkelanjutan menjadi tantangan yang coba terus direalisasikan, termasuk di kawasan pedesaan. Kecamatan Karangnongko merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi wisata yang menawarkan atraksi wisata air dan budaya di Kabupaten Klaten. Namun dalam pengembangannya masih terdapat beberapa kendala seperti fasilitas yang belum memadai, partisipasi masyarakat, dan isu lingkungan. Oleh karena itu, tepat kiranya konsep pengembangan wisata pedesaan yang berkelanjutan disampaikan kepada semua stakeholder di Kabupaten Klaten, khususnya pemerintah dan masyarakat Kecamatan Karangnongko. Pengabdian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan observasi lapangan dan Focus Group Discussion yang melibatkan semua aktor tidak hanya dari pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa saja, tetapi juga perwakilan dari masyarakat. Pada kegiatan sosialisasi ini disampaikan beberapa arahan mengenai pengembangan wisata desa yang berkelanjutan serta identifikasi awal mengenai potensi wisata pedesaan eksisting.
PENGEMBANGAN DESA KARANGPELEM KABUPATEN SRAGEN SEBAGAI DESA WISATA Santy Paulla Dewi; Grandy Loranesssa Wungo
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 1, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Karangpelem merupakan salah satu desa yang memiliki potensi pertanian cukup tinggi di Kabupaten Sragen. Namun demikian, potensi ini belum dikembangkan secara maksimal, sehingga dampak aktivitas pertanian ini belum banyak terlihat dan dirasakan oleh masyarakat. Kemiskinan masih menjadi masalah yang ditemui di masyarakat. Selain itu adanya tantangan lain seperti dana, ketersediaan infrastruktur, dan kelembagaan juga menjadi penghambat pengembangan desa. Hal ini yang melatarbelakangi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dimana berupaya membantu dan memfasilitasi  pengembangan desa wisata berbasis pertanian di desa, dimana pemerintah Desa Karangpelem Kabupaten Sragen sebagai mitra. Metode yang digunakan pada pengabdian masyarakat ini adalah dengan melaksanakan FGD di awal kegiatan untuk menggali isu pengembangan desa, dan di akhir kegiatan untuk mensosialisasikan hasil diskusi dan kajian dilapangan. FGD dilakukan dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait dengan pengembangan desa wisata berbasis pertanian. Hasil dari sosialisasi ini adalah konsep pengembangan desa wisata beserta pemetaan peran masing-masing stakeholder.
PENERAPAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN UNTUK MEWUJUDKAN PERMUKIMAN PESISIR KOTA PEKALONGAN YANG TANGGUH Santy Paulla Dewi; Retno Widjajanti; Novia Sari Ristianti
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 20 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v20i2.223

Abstract

Coastal settlements are areas with a high level of vulnerability, both in terms of floods, tidal waves, land subsidence, and threats from climate change. Settlements in the North Pekalongan District are part of the coastal area, which is also struggling with flooding and tidal problems. Current efforts by the government tend to be responsive to current problems, and there are no adaptive efforts that look at long-term impacts. Therefore, the purpose of this research is to develop the application of the Water Sensitive Urban Design concept to realize resilient coastal settlements. The Water Sensitive Urban Design concept is one of the efforts that are based on coastal characteristics. The research method used quantitative descriptive, to identify the characteristics of the settlement and formulate design directions for the application of the Water Sensitive Urban Design concept. The results of this study showed that the application of the concept of Water Sensitive Urban Design are structuring river borders on the Loji River, providing air storage ponds downstream of the river, and installing rainwater harvesting systems.  Keywords: Water sensitive urban design, settlements, coastal area