Latar Belakang: Digitalisasi sistem akuntansi merupakan kebutuhan mendasar bagi UMKM untuk bertahan di era teknologi keuangan. Namun, banyak UMKM, seperti usaha kuliner "Ayam Bakar", masih mengandalkan pencatatan manual, yang menyebabkan ketidakakuratan data keuangan dan inefisiensi operasional. Tujuan: Program Pengabdian Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mentransformasi praktik akuntansi mitra melalui implementasi sistem Point of Sales (POS) terintegrasi dengan otomatisasi barcode, berdasarkan kerangka strategis dalam Setyawati dkk. (2023). Metode: Program ini menggunakan metode Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (ABCD) yang dikombinasikan dengan Model Fintech untuk akuntansi otomatis. Tahapannya meliputi penemuan aset, desain sistem, dan transfer teknologi melalui pendampingan intensif. Hasil: Implementasi pemindai barcode sebagai bentuk otomatisasi teknologi secara signifikan mengurangi waktu transaksi sebesar 50% dan menghilangkan kesalahan manusia dalam entri data. Lebih lanjut, mitra berhasil bertransisi ke sistem pelaporan digital, mencapai efisiensi 80% lebih tinggi dalam rekonsiliasi keuangan harian. Kesimpulan: Sinergi antara pemanfaatan aset internal dan intervensi teknologi keuangan memberikan landasan yang kredibel untuk transformasi akuntansi UMKM. Model ini berfungsi sebagai prototipe yang dapat diskalakan untuk digitalisasi bisnis kuliner tradisional di Indonesia. Background: The digitalization of accounting systems is a fundamental necessity for MSMEs to survive in the financial technology era. However, many MSMEs, such as the "Ayam Bakar" culinary business, still rely on manual recording, leading to financial data inaccuracy and operational inefficiency. Objective: This Community Service (PkM) program aims to transform the accounting practices of the partner through the implementation of a Point of Sales (POS) system integrated with barcode automation, based on the strategic framework in Setyawati et al. (2023) Methods: The program employed the Asset-Based Community Development (ABCD) method combined with the Fintech Model for automated accounting. The stages included asset discovery, system design, and technology transfer through intensive mentoring. Results: The implementation of barcode scanners as a form of technology automation significantly reduced transaction time by 50% and eliminated human error in data entry. Furthermore, the partner successfully transitioned to a digital reporting system, achieving 80% higher efficiency in daily financial reconciliation. Conclusion: The synergy between internal asset utilization and financial technology intervention provides a credible foundation for MSME accounting transformation. This model serves as a scalable prototype for digitalizing traditional culinary businesses in Indonesia.