Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Deskriptif Preferensi Pemilihan Pasangan Hidup Antara Pria Dan Wanita Pada Dewasa Awal Indah Puji Ratnani; Mukhlis Mukhlis; Afni Benazir
Psikobuletin:Buletin Ilmiah Psikologi Vol 2, No 1 (2021): Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/pib.v2i1.10347

Abstract

Memasuki masa dewasa awal, setiap individu dihadapkan pada peran baru yaitu menikah. Untuk menjalankan peran tersebut, maka individu akan mencari hidup berdasarkan karakteristik yang dijadikan preferensi pemilihan pasangan hidup. Hal ini dilakukan untuk menghindari munculnya ketidakcocokan dalam pernikahan. Dengan demikian dilakukanlah penelitian desktriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran preferensi pemilihan pasangan hidup antara laki-laki dan perempuan dewasa yang beragam Islam. Jumlah subjek sebanyak 400 orang, yang terdiri dari 200 orang laki-laki dan 200 orang perempuan dengan karakteristik beragama Islam dan belum menikah yang dipilih menggunakan Teknik incidental random sampling. Instrumen penelitian berupa kuisoner preferensi pemilihan pasangan yang diadaptasi dari mate preference questioner oleh Buss (1989). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dengan metode cross tabulation dan distribusi frekuensi. Diperoleh hasil bahwa terdapat persamaan maupun perbedaan antara laki-laki danperempuan yang beragama Islam dalam memilih calon pasangan hidup terutama berkaitan dengan karakterisktik yang ada pada diri calon tersebut. Berkaitan dengan alasan dalam memilih calon pasagan hidup, kesamaannya ditemukan pada lima belas dari delapan belas karekteristik  pasangan hidup, sedangkan perbedaannya ditemukan pada tiga karekteristik. Sementara itu, berkaitan dengan prioritas karekteristik yang harus ada pada calon pasangan hidupnya, kesamaan urutan prioritas laki-laki dan perempuan hanya terjadi pada empat karekteristik dari tiga belas karekteristik pasangan hidup, sedangkan pada sembilan karekteritik lainnya laki-laki dan perempuan menempatkan urutan prioritas yang berbeda
Peran Religiusitas dan Dukungan Sosial terhadap Subjective Well-Being pada Remaja Khairudin Khairudin; Mukhlis Mukhlis
JURNAL PSIKOLOGI Vol 15, No 1 (2019): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v15i1.7128

Abstract

Abstrak Mencapai kepuasan hidup dan kebahagiaan merupakan sesuatu yang didambakan semua orang, termasuk remaja. Namun, pada kenyataannya sebagian remaja memiliki masalah dalam menyikapi tuntutan tugas perkembangan, perubahan berbagai aspek dalam kehidupannya, dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini berkaitan dengan subjective well-being pada remaja. Religiusitas dan dukungan sosial merupakan faktor yang memengaruhi subjective well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan religiusitas dan dukungan sosial dengan subjective well-being pada remaja. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 200 orang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala psikologis yaitu skala religiusitas, skala dukungan sosial, skala kepuasan hidup, dan skala PANAS. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi ganda. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara religiusitas dan dukungan sosial dengan subjective well-being pada remaja dengan signifikansi sebesar 0,016. Ini berarti semakin tinggi religiusitas dan dukungan sosial maka semakin tinggi subjective well-being pada remaja. Sumbangan efektif religiusitas dan dukungan sosial terhadap subjective well-being sebesar 3,2 %. Secara terpisah, religiusitas dan subjective well-being pada remaja menunjukkan hubungan yang signifikan sebesar p = 0,005. Ini berarti tinggi rendahnya religiusitas berkaitan dengan subjective well-being pada remaja. Sementara itu, dukungan sosial dan subjective well-being pada remaja juga menunjukkan hubungan yang signifikan sebesar p = 0,022. Hal ini berarti tinggi rendahnya dukungan sosial pada remaja juga berkaitan dengan subjective well-being. Kata Kunci: Religiusitas, dukungan sosial, subjective well-being AbstractAchieving life satisfaction and happiness is something that everyone desires, including teenagers. However, in reality some teenagers have problems in addressing the demands of developmental tasks, changing various aspects of their lives, and adjusting to the environment. This is related to subjective well-being in adolescents. Religiosity and social support are factors that influence subjective well-being. This study aims to examine the relationship of religiosity and social support with subjective well-being in adolescents. The number of subjects in this study was 200 people. The research data was obtained using a psychological scale, namely the scale of religiosity, social support scale, the statisfaction with life scale, and positive affect and negative affect scale (PANAS). Data of this study was analysed by using a multiple regression analysis. The results of the analysis show a significant relationship between religiosity and social support with subjective well-being in adolescents with p = 0.016 (p < 0.05). It means, by increasing the religiosity and social support, subjective well-being also will increase in adolescents. Effective contribution of religiosity and social support to subjective well-being is 3.2%. Separately, religiosity and subjective well-being in adolescents showed a significant relationship with p = 0.005 (p < 0.05). It means that high religiosity is related to subjective well-being in adolescents. Meanwhile, social support and subjective well-being in adolescents also showed a significant relationship with p = 0.022 (p < 0.05). It means that the high and low social support in adolescents is also related to subjective well-being. Keyword: Religiosity, social support, subjective well-being
HUBUNGAN MORAL DISENGAGMENT DENGAN CYBERBULLYING PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Nadila Sadinda Hasibuan; Salmiyati; Yuliana Intan Lestari; Mukhlis Mukhlis
Indonesian Psychological Research Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/ipr.v5i2.953

Abstract

The frequent use of social media can increase vulnerability of adolescents to cyberbullying. Moreover, adolescents often consider cyberbullying as a normal and natural phenomenon. Seeing cyberbully as normal behavior is known as moral disengagement. This study aimed to determine the relationship between moral disengagement and cyberbullying among adolescents that actively use social media and to test gender differences in moral disengagement and cyberbullying. This study used a quantitative correlational approach to determine the relationship between the two variables. Selected using a purposive sampling technique, a total of 265 adolescents who actively used smartphones and social media with an age range of 15-18 years participated in this study. They were recruited from a state high school in Pekanbaru, Riau. The  Hymel’s moral disengagement and the  Willard's cyberbullying behavior scale were used to measured moral disengagement and cyberbullying behavior, respectively. The result of linier regression analysis indicated a significant relationship between moral disengagement and cyberbullying among young social media users. Furthermore, it was found that the male adolescents significantly scored higher in moral disengagement and cyberbullying. Implication of this findings were further discussed.
Iddah dan ihdad sebagai pendidikan moral di era modern; issue emansipasi dan pemanfaatan media sosial Sofia Hardani; Mukhlis Mukhlis; Iqbal Prima Bratasena
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 9, No 2 (2023): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020232815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari makna filosofis dibalik adanya kewajiban menjalankan ketentuan iddah dan ihdad bagi kaum perempuan yang ditinggal wafat oleh suami. Penelitian ini ditulis dengan metode Kualitatif yang secara spesifik lebih diarahkan kepada penggunaan metode studi pustaka (library research). Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa iddah dan ihdad merupakan salah satu syariat yang meningkatkan Pendidikan moral islam khususnya pada Wanita yang ditinggalkan suami. Namun, perlu diketahui bahwa iddah akan berjalan lancar jika suami sudah memenuhi kewajiban nafkah dan hak untuk istri yang ditinggalkan yang diberikan selama menjalankan masa iddah. Dengan melakukan ihdad Wanita yang tersebut akan meningkatkan moral dan citra diri mereka sebagai seorang Wanita yang pernah menikah. Selain itu, diharapkan juga Wanita yang sedang melakukan iddah dan ihdad untuk menghindari kesunyian dengan menggunakan media sosial yang membuat rusaknya iddah dan ihdad mereka. Namun, penggunaan media sosial dengan tujuan mencari uang untuk menafkahi anaknya dengan berniaga dimedia sosial itu diperbolehkan dengan catatan profesional dalam menjalani masa iddah dan ihdad.
Akad Dalam Transaksi Keuangan Syari’ah (Sistem Keuangan Syari’ah) Mukhlis Mukhlis
Qonun Iqtishad EL Madani Journal Vol. 3 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Yayasan Marwah Madani Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55438/jqim.v3i2.114

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tentang Akad Dalam Transaksi Keuangan Syari’ah  (Sistem Keuangan Syari’ah). Penelitian ini disebut sebagai penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan melalui bahan-bahan pustaka atau literatur kepustakaan sebagai sumber tertulis. Dalam proses pengolahan data digunakan mode analisa interaktif melalui tiga alur, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deduksi. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa Dalam kehidupan sehari-hari akad merupakan unsur terpenting yang harus diperhatikan dalam bertransaksi, karenanya akad yang menentukan suatu transaksi yang dapat di nyatakan sah menurut syara’ atau batal sehingga akad harus diperhatikan dari berbagai aspeknya baik dari rukun dan syaratnya. Akad juga terjadi berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak atau lebih untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, yang dilakukan dengan suka rela, dan menimbulkan kewajiban atas masing-masing secara timbal balik. Ada 2 jenis akad yaitu: Akad tabarru’ (kebajikan) dan Akad tijaroh (bisnis). Akad tabarru’ adalah akad yang betujuan untuk saling tolong menolong tanpa mengharapkan imbalan ataupun meminta laba dari salah satu pihak. Yang termasuk akad-akad tabarru’ adalah qard, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah, wadi’ah, hibah, sedekah . Akad tijaroh adalah akad bisnis yang mengharapkan keuntungan dari salah satu pihak atas dasar suka sama suka dan ini adalah akad yang terjadi pada kehidupan bertransaksi keuangan. Yang termasuk akad tijarah adalah akad-akad investasi, jual beli, sewa-menyewa.
Hubungan Antara Kontrol Diri dan Penalaran Moral Dengan Kecurangan Akademik Pada Siswa SMA Siti Mahmuda; Cipto Hadi; Mukhlis Mukhlis
Jurnal Pendidikan Tuntas Vol. 2 No. 4 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Academic dishonesty is a phenomenon that is often encountered in the world of education and is considered normal and ignored by many people. Acts of cheating are certainly not in line with the values ​​instilled in character education which is the ultimate goal of education, namely to produce positive individuals. Two of the factors that can influence academic dishonesty are self-control and the level of moral reasoning. This study aims to determine the relationship between self-control and moral reasoning at the pre-conventional, conventional, and post-conventional levels, with academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. The subjects of this study were 271 students in grades X and XI. The sampling technique was probability sampling with cluster random sampling. The data collection method used a scale of academic dishonesty, self-control, and moral reasoning. Data were analyzed using multiple linear regression analysis. The results of the study showed that together there was no significant relationship between self-control and moral reasoning at the pre-conventional, conventional, and post-conventional levels with academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. Furthermore, there was no negative relationship between self-control and academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. There is no negative relationship between pre-conventional level moral reasoning and academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. There is no negative relationship between conventional level moral reasoning and academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. There is no negative relationship between post-conventional level moral reasoning and academic dishonesty in students at SMAN X, Tambang District. This research on self-control and level of moral reasoning has not been proven to have an effect on reducing students' academic dishonesty.  
The Innovation of Market Structure and Sharia Governance Model of Islamic Financial Institutions Fradini Brillyandra; Muflihul Fadhil; Mukhlis Mukhlis; Nanda Suryadi; Astri Ayu Purwati
International Journal of Information System and Innovation Management (IJISIM) Vol. 2 No. 1 (2024): International Journal of Information System and Innovation Management
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam Al-Matani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/ijisim.v2i1.950

Abstract

Market structure significantly affects price manipulation and economic efficiency. From an Islamic perspective, market structures should allow freedom but remain bound by rules that uphold responsibility and justice. Among the four primary market forms—perfect competition, monopoly, oligopoly, and monopolistic competition—the perfect competition market is deemed most ideal as it fosters balanced and efficient economic activity, aligning with Islamic principles of fairness. Sharia governance is crucial for ensuring that Islamic financial institutions (IFIs) adhere to Islamic laws, avoiding prohibited practices like riba and maintaining the halal nature of profits. This research, using descriptive analysis, examines the market structure in Islam and the Sharia governance model of Islamic Financial Institutions (LKS) within Indonesia's legal framework. The study, through literature reviews and legal document analysis, finds that Indonesian regulations comprehensively address Sharia governance, outlining aspects such as regulation, organizational structure, processes, and functions, thereby ensuring adherence to Sharia principles and promoting ethical financial practices.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERFEKSIONISME DENGAN KECENDERUNGAN BODY DYSMORPHIC PADA DEWASA AWAL DI KOTA PEKANBARU Azkya Afifah; Mukhlis Mukhlis; Indah Puji Ratnani
Persepsi: Jurnal Riset Mahasiswa Psikologi Vol. 4 No. 3 (2025): Persepsi: Jurnal Riset Mahasiswa Psikologi
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Suska Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Obsesi terhadap penampilan fisik yang sempurna dapat memicu munculnya kecenderungan body dysmorphic disorder, terutama pada masa dewasa awal ketika perhatian terhadap citra tubuh meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara body image dan perfeksionisme dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada dewasa awal di Kota Pekanbaru. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 386 responden berusia 20–39 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kecenderungan body dysmorphic disorder, skala body image, dan multidimensional perfectionism scale. Hasil analisis menunjukkan bahwa body image dan perfeksionisme secara simultan berhubungan signifikan dengan kecenderungan body dysmorphic disorder (p < 0,05). Secara parsial, body image berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan body dysmorphic disorder, menunjukkan bahwa individu dengan citra tubuh positif memiliki risiko yang lebih rendah. Perfeksionisme juga berpengaruh negatif signifikan, mengindikasikan bahwa tingkat perfeksionisme yang lebih adaptif berkaitan dengan kecenderungan gangguan yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi positif terhadap tubuh dan pengelolaan perfeksionisme berperan penting dalam meminimalkan risiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada dewasa awal. Implikasi penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perancangan program intervensi psikologis yang berfokus pada peningkatan citra tubuh dan regulasi perfeksionisme.   Abstract The obsession with perfect physical appearance can trigger the emergence of a tendency for body dysmorphic disorder, especially in early adulthood when attention to body image increases. This study aims to analyze the relationship between body image and perfectionism and the tendency of body dysmorphic disorder in early adulthood in the city of Pekanbaru. The study used a quantitative design with a purposive sampling technique on 386 respondents aged 20–39 years. Data collection was carried out using the body dysmorphic disorder tendency scale, body image scale, and multidimensional perfectionism scale. The results of the analysis showed that body image and perfectionism were simultaneously significantly related to the tendency to body dysmorphic disorder (p < 0.05). Partially, body image had a significant negative effect on the tendency to body dysmorphic disorder, suggesting that individuals with a positive body image had a lower risk. Perfectionism also had a significant negative effect, indicating that a more adaptive level of perfectionism was associated with a lower tendency to disorder. These findings confirm that positive perceptions of the body and the management of perfectionism play an important role in minimizing the risk of body dysmorphic disorder tendencies in early adulthood. The implications of this research may serve as a basis for designing psychological intervention programs that focus on improving body image and regulating perfectionism.