Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Al-MUNZIR

METODOLOGI TAFSIR AL-MUNIR KARYA WAHBAH ZUHAILY Muhammad Hasdin Has
Al-MUNZIR No 2 (2014): Vol. 7 No. 2 November 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.074 KB) | DOI: 10.31332/am.v7i2.278

Abstract

Abstrak: Kitab tafsir al-Munir fi al-"Aqidah wa al-Syari'ah wa al al-Manhaj karya Syekh Wahba Zuhailyadalah sebuah tafsir modern yang menjawab tantanganzaman ini dan menjadi karya rujukan berbagai universitasdi dunia Islam.Corak dan warna penulisan kitab tafsir ini menawarkansebuah sistem penulisan yang sangat sederhana dan polasusunan redaksi kalimat yang mudah dipahami denganmempertahankan konsistensi serta pemaparan masalahyang sistematis dalam lingkup tema pembahasan yangdiurai dengan kemampuan dan kapabilitas pengetahuanpenulis, yang dimulai dengan menuliskan ayat ayatbahasan dengan tema sentral, mengurai ayat dalambentuk klausa dan frase yang dianggap penting pada subjudul I'rab, balagha, mufradat lugawy, menjelaskanasbab al-nuzul ayat (jika ada riwayat hadis sahih yangmendukung), tafsir dan bayan dan fiqh alhayat (konsephidup) atau hukum.Kata Kunci: Tafsir al-Munir
STUDI PENAFSIRAN SAYID QUTUB TENTANG NASAKH DALAM TAFSIR FĪ ZILĀL AL-QUR’ĀN Muh. Hasdin Has
Al-MUNZIR No 2 (2015): VOL 8 NO.2 NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.072 KB) | DOI: 10.31332/am.v8i2.755

Abstract

Sayid Qutub adalah seorang ulama kontemporer yang kaya ilmu dan pengalaman hidupnya, membuat dirinya tetap di bawah naungan al-Qur’an. Itulah sebabnya karya tafsir yang ditulisnya, diberinya judul Fī Zilāl al-Qur’ān.Tafsir Fī Zilāl al-Qur’ān menggunakan metode tahlīliy yang menjelaskan kandungan al-Qur’an dari berbagai aspeknya secara runtut sebagaimana yang tersusun dalam mushaf. Sumber penafsirannya adalah dalil-dalil ma’śūr dan ra’yu dengan menganalisis ayat berdasarkan cara tashwīr, tajsīm, juga mengungkap kisah, dan ayat-ayat tersebut yang diuraikannya dengan menggunakan sastra yang indah.Menurut Sayid Qutub, nasakh dalam Al-Qur’an bukan sebagai penghapus, tetapi nasakh adalah identik dengan teori al-munāsabah, yakni keterkaitan siyāq al-āyah yang turun sebelumnya dengan ayat yang datang sesudahnya, sebagai penyempurna kandungan hukum dalam upaya memperkuat akidah umat. Jadi, esensi teori nasakh adalah mendatangkan hukum yang lebih baik (na’ti bikhairin minhā). Kata Kunci: Nasakh, fī zilāl al-Qur’ān