Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Jejak Kegemilangan Intelektualisme Islam dalam Pentas Sejarah Dunia: Kontribusi Ilmiah Kaum Mawali Persia pada Periode Klasik Muh. Ikhsan
Shautut Tarbiyah Vol 21, No 2 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.665 KB) | DOI: 10.31332/str.v21i2.371

Abstract

Sejarah dan peradaban Islam senantiasa melibatkan etnis dalam setiaptahapan kemunculan, perkembangan, kemajuan hinggakemundurannya. Artinya sepanjang sejarahnya, dari masa klasiksampai masa modern, peradaban Islam tidak terlepas dari peran etnisdi dalamnya, baik etnis Arab maupun non Arab. Etnis dalam maknasemantiknya dapat mengacu kepada suku, kabilah, klan ataukomunitas sosial yang diikat oleh kesamaan-kesamaan priomordial;kesamaan keturunan atau genealogi (berasal dari darah yang sama)dan kesamaan geografis (wilayah). Secara operasional, etnis jugabermakna suatu entitas kebangsaan, perwujudan dari kesamaanprimordial di atas. Selain etnis Arab, pada kenyataannya etnis nonArab juga ikut berperan secara signifikan dalam proses peradabanIslam tersebut. Bahkan menurut Ibn Khaldun, meskipun pada awalkemunculan dan perkembangannya peradaban Islam itu berada diJazirah Arab, namun bangsa yang lebih banyak perperan dalam prosesperkembangan dan kemajuan peradaban tersebut adalah etnis nonArab. Etnis non Arab inidalam sejarah dan peradaban Islam dikenaldengan al-mawali, khususnya etnis non Arab yang menganut agamaIslam. Di antara al-mawali yang berperan dalam proses peradabantersebut adalah etnis Mawali (Persia), Turki, Afrika dan lainnya. Padamasa Daulah Abbasiyah, peran al-Mawali sangat signifikan. Bahkanberkat kontribusi dan peran signifikan etnis al-mawali, masa daulahini dalam sejarah dan peradaban Islam sering disebut sebagai masapuncak kegemilangan peradaban Islam dan masa keemasan (thegolden age). Masa khalifah al-Ma’mun merupakan masa puncakperadaban Islam, khususnya dalam ilmu pengetahuan dankebudayaan, sehingga memberikan pengaruh konstruktif terhadapkemajuan ilmu pengetahuan awal abad pertengahan dalam dunia Islamdan dalam dunia Barat modern secara umum.Kata kunci: peradaban Islam, intelektualisme Islam, Mawali Persia.
Mahdiisme Syi’ah : Akar Sejarah dan Implikasinya dalam Perkembangan Sosial Politik Muh. Ikhsan AR.
Shautut Tarbiyah Vol 19, No 2 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.4 KB) | DOI: 10.31332/str.v19i2.52

Abstract

Keanekaragaman aspirasi politik dan doktrin yang dibawa oleh berbagai sekte (kalam) dalam Islam—tak terkecuali Syi’ah—berdampak negatif sebagai akibat terjadinya akulturasi budaya dan keyakinan, sesudah meluasnya daerah kekuasaan Islam. Rupanya al-Qur’an dan Sunnah Rasul tidak lagi dijadikan sebagai rujukan oleh sekian banyak aliran yang muncul waktu itu guna mencari titik temu. Akan tetapi sebaliknya, justru keduanya mereka jadikan sebagai dasar untuk menguatkan doktrin atau  paham mereka  masing-masing. Sikap demikian ini mendorong mereka kepada tindakan-tindakan yang ekstrem dan permusuhan dengan sesama Muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh golongan Syi'ah dalam mewujudkan dan menyebarkan ide serta pengaruh mereka masing-masing.Syi’ah sebagai sebuah aliran yang berkembang dalam sejarah pemikiran Islam memiliki keunikan—yang khas tipikal—tersendiri dengan kemajuan yang cukup signifikan. Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun eksistensi kaum Syi’ah terus terjaga dan terus berkembang. Melalui doktirn keagamaan mahdiisme yang memiliki ciri khas tersendiri, menjadikan Syi’ah berbeda dengan tradisi lainnya.Untuk mendudukkan Syi’ah dalam koridor yang ada maka perlu dikemukakan doktrin keagamaan dan sosial yang ada dalam tradisi tersebut. Dari konteks keagamaan kemudian diturunkan ke dalam konteks sosial. Berbagai kegiatan sosial selalu mengacu kepada doktrinitas yang ada seperti dalam bidang ekonomi dan politik.Kata Kunci: syi’ah, imamiyah, mahdiisme.
Menelusuri Jejak Kesatuan Nubuwwah (Telaah Historis atas Surat al-Mu’min ayat 78) Muh. Ikhsan AR.
Shautut Tarbiyah Vol 20, No 1 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.935 KB) | DOI: 10.31332/str.v20i1.40

Abstract

Salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh umat Islam adalah percayakepada para nabi yang telah diutus oleh Allah kepada umat manusia. Sebab,merekalah yang menyampaikan risalah ketuhanan dari Allah. Merekaberperan sebagai Hermes, yang menyampaikan dan menafsirkan pesan-pesanTuhan yang absolut dan mutlak kepada manusia sebagai makhluk relatifdengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. Dengandemikian, posisi seorang nabi sangat menentukan dalam agama, khususnyaagama Islam.Artikel ini mencoba mengkaji jejak kenabian yang terdapat dalam al-Qur’an,terutama dalam surah al-Mu’min ayat 78. Ayat yang memuat materi tentangnabi dan misinya berikut hubungan maknanya yang mengacu pada persoalanfungsi diutusnya seorang nabi dan rasul. Selain itu, dilihat bagaimanapenafsiran yang telah dilakukan oleh para mufasir terdahulu berkaitan denganayat-ayat tersebut.Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam membahas persoalanini. Pertama, nabi merupakan sosok sentral dalam agama yang menjadi figurperantara antara pikiran Tuhan dengan pikiran manusia. Kedua, ada berbagaipenafsiran tentang terma nabi sehingga memunculkan adanya perbedaanpendapat tentang apa dan siapa yang disebut nabi itu. Sebagai contohbeberapa pendapat menganggap bahwa Sang Budha adalah sebagai nabi,sementara yang lain menganggap tidak. Ketiga, dalam tubuh umat Islamsendiri pun ada aliran yang memaknai terma nabi secara berbeda. Sebagaimisal Gerakan Ahmadiyah Qadhiyan yang menganggap masih ada nabisetelah Muhammad, yakni Mirza Ghulam Ahmad. Dengan beberapapertimbangan tersebut, maka artikel ini akan mengkaji terma nabi/rasul yangterdapat dalam al-Qur’an.Kata kunci: nabi, rasul, jejak kenabian.
BAYT AL-MUQADDAS: PERSPEKTIF SEJARAH DAN SIYASAH MUH. IKHSAN
Al-MUNZIR No 2 (2017): VOL 10 NO.2 NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.82 KB) | DOI: 10.31332/am.v10i2.811

Abstract

Jerusalem  atau Yerushaláyim (Yahudi-Hebrew) , dikenal juga sebagai al-Quds atau Baitul Maqdis (Arab-al-Sharif],  adalah The Holy Sanctuary yang merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan 3 agama samawi besar di dunia yaitu: Yahudi, Nasrani dan Islam. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjidil Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.Dalam membicarakan kota Jerusalem atau Baitul Maqdis, tentu tak terlepas dari Masjidil Aqsa yang terdapat di dalamnya. Dalam keyakinan umat Islam, di Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yang kini berada dalam Dome of Rock tersebut, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak—berbeda dengan yang kita yakini anak yang diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah. Sementara menurut orang-orang Yahudi meyakini bahwa Luh-luh Nabi Musa—kitab Taurat yang asli—yang  dulu pernah hilang, berada tepat di bawah Dome of Rock. Bahkan, orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yang dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka meyakini bahwa mereka punya hak penuh atas tanah Jerusalem tersebut. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli dari tanah ini sebelum Bani Israil (orang Yahudi) datang ke tanah ini. Hal inilah yang menjadikan pergolakan antara bangsa Arab Palestina dan bangsa Yahudi Israel hingga sekarang. Kata kunci: bayt al-maqdis, yahudi, islam, kota suci. 
JEJAK KEGEMILANGAN INTELEKTUALISME ISLAM DALAM PENTAS SEJARAH DUNIA (Kontribusi Ilmiah Kaum Mawali Persia pada Periode Klasik) Muh. Ikhsan
Al-TA'DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Vol 8, No 1 (2015): Vol. 8 No. 1, Januari-Juni 2015
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/atdb.v8i1.397

Abstract

AbstrakSejarah dan peradaban Islam senantiasa melibatkan etnis dalam setiaptahapan kemunculan, perkembangan, kemajuan hinggakemundurannya. Artinya sepanjang sejarahnya, dari masa klasiksampai masa modern, peradaban Islam tidak terlepas dari peran etnisdi dalamnya, baik etnis Arab maupun non Arab. Etnis dalam maknasemantiknya dapat mengacu kepada suku, kabilah, klan ataukomunitas sosial yang diikat oleh kesamaan-kesamaan priomordial;kesamaan keturunan atau genealogi (berasal dari darah yang sama)dan kesamaan geografis (wilayah). Secara operasional, etnis jugabermakna suatu entitas kebangsaan, perwujudan dari kesamaanprimordial di atas. Selain etnis Arab, pada kenyataannya etnis nonArab juga ikut berperan secara signifikan dalam proses peradabanIslam tersebut. Bahkan menurut Ibn Khaldun, meskipun pada awalkemunculan dan perkembangannya peradaban Islam itu berada diJazirah Arab, namun bangsa yang lebih banyak perperan dalam prosesperkembangan dan kemajuan peradaban tersebut adalah etnis nonArab. Etnis non Arab inidalam sejarah dan peradaban Islam dikenaldengan al-mawali, khususnya etnis non Arab yang menganut agamaIslam. Di antara al-mawali yang berperan dalam proses peradabantersebut adalah etnis Mawali (Persia), Turki, Afrika dan lainnya. Padamasa Daulah Abbasiyah, peran al-Mawali sangat signifikan. Bahkanberkat kontribusi dan peran signifikan etnis al-mawali, masa daulahini dalam sejarah dan peradaban Islam sering disebut sebagai masapuncak kegemilangan peradaban Islam dan masa keemasan (thegolden age). Masa khalifah al-Ma’mun merupakan masa puncakperadaban Islam, khususnya dalam ilmu pengetahuan dankebudayaan, sehingga memberikan pengaruh konstruktif terhadapkemajuan ilmu pengetahuan awal abad pertengahan dalam dunia Islamdan dalam dunia Barat modern secara umum.Kata kunci: peradaban Islam, intelektualisme Islam, Mawali Persia.
Revivalism and Exegetical Reception of Āyāt At-Taḥkīm in Islamic Higher Education Fatira Wahidah; Muh. Ikhsan; Yusrifah Halid; Abdul Muiz Amir
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 8, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.972 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5315

Abstract

This research aims to determine whether or not revivalism ideology exists among academics in Islamic higher education institutes in the province of Southeast Sulawesi. It is accomplished through the use of an exegetical reception approach of their understanding of the Āyāt at-Taḥkīm (Qur’an chapter al-Mā’idah [5]:44-47). Data was gathered by combining survey technique development with in-depth interviews. The collected data was analyzed using a philosophical and phenomenological hermeneutic approach to assess the academic community’s understanding of Āyāt at-Taḥkīm. According to the survey results, Āyāt at-Taḥkīm is very popular among academics higher education institutes in Southeast Sulawesi. Most of the academic community’s information comes from religious studies on social media. They acknowledge and accept these verses as the foundation for the legitimacy of kāffah enforcement of Islamic law as the foundation for Indonesia’s political system. Meanwhile, the interviews show that most informants label those who disagree with the discourse with theological labels (kāfir and thāgūt). As a result, even though these characteristics have not reached an extreme level, their comprehension is included in the revivalism ideology’s characteristics.Penelitian ini bertujuan untuk menakar eksistensi karakteristik ideologi revivalisme di kalangan sivitas akademika, khususnya di perguruan tinggi yang berada di wilayah provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan resepsi eksegesis atas pemahaman mereka terhadap Āyāt at-Taḥkīm (Q. al-Mā’idah [5]:44-47). Data penelitian ini dikumpulkan melalui elaborasi antara teknik survey dan wawancara mendalam secara bersamaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis mengggunakan pendekatan hermeneutika filosofis dan fenomenologis guna menakar pemahaman sivitas akademika terhadap Āyāt at-Taḥkīm. Hasil survey membuktikan bahwa Āyāt at-Taḥkīm cukup populer bagi kalangan sivitas akademika di Sulawesi Tenggara. Informasi tentangnya mayoritas diakses oleh sivitas akademika dari kajian-kajian keagamaan di media sosial. Mereka mengenal dan memahami ayat-ayat itu sebagai basis legitimasi wajibnya penegakan syariat Islam secara kāffah sebagai basis sistem politik pemerintahan di Indonesia. Sedangkan hasil wawancara membuktikan bahwa mayoritas informan menggunakan label-label teologis (kāfir dan thāgūt) terhadap orang-orang yang menolak wacana tersebut. Meskipun pemahaman mereka dapat dikategorikan mengandung karakteristik ideologi revivalisme, tetapi belum termasuk level yang ekstrem, sehingga masih berpeluang bagi mereka untuk mendapatkan pembinaan. 
IMPLEMENTASI AYAT AL-QUR’AN DAN HADIS TERHADAP PENGAMALAN AKHLAK PADA KOMUNITAS FORDISMI (FORUM DISKUSI MAHASISWA ISLAM) IAIN KENDARI Adam AlBarki; Muh Ikhsan; Aminuddin Aminuddin; Ni’matu Zuhrah
EL-MAQRA' Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.407 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v1i1.3309

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode Living Qur’an, bertujuan untuk menganalisis bagaimana Implementasi Ayat Al-Qur’an dan Hadis Terhadap Pengamalan  Akhlak  Pada Komunitas FORDISMI (Forum Diskusi Mahasiswa Islam) IAIN Kendari. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian gabungan lapangan dan pustaka (combined field and library), sumber data berupa hasil wawancara, daftar kegiatan. Data di analisis berdasarkan kesamaan kategori kemudian disimpulkan. Dari hasil analisis peneliti menemukan 3 poin yaitu: 1) Dalil ayat al-Qur’an dan Hadis yang diterapkan berupa martabat seorang muslim, akhlak yang mulia, hak-hak seorang muslim, mempererat tali silaturrahim, ancaman bagi orang-orang yang mengganggu kaum musllim, mendamaikan perselisihan diantara orang Islam, menolong orang Islam. 2) Implementasi di realisasikan melalui kegiatan ta’lim, musyawarah, amalan infiradi dan laporan amal. 3) Kegiatan yang dimaksudkan komunitas ini berusaha untuk membentuk suatu kegiatan yang terus berulang setiap harinya dan berusaha mengamalkan ayat dan hadis dalam keseharian kehidupan anggota.Kata Kunci: Dalil, Akhlak, Fordismi
TELA’AH PENGAMALAN AYATUL HIRZI (STUDI LIVING QUR'AN DI PONDOK PESANTREN KASYIFUL ULUM KENDARI) Qubaela Alfaeni; Aminuddin Aminuddin; Abdul Gaffar; Muh. Ikhsan
EL-MAQRA' Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.838 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v1i1.3315

Abstract

AbstrakPenelitian ini tentang pengamalan a>yātul h}irzi (Studi Living Qur’ān di Pondok Pesantren Kasyiful Ulum Kendari) Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun Teknik analisis data yang digunakan yaitu: Reduksi data, Penyajian data, Penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pertama, a>yātul h}irzi adalah amalan wajib bagi santri Pondok Pesantren Kasyiful Ulum Kendari yang tersusun dari beberapa ayat-ayat dalam surah al-Qur’ān yang diyakini dapat menjadi proteksi bagi diri santri, anggota keluarga,  dan  seluruh  hal  yang  memiliki  hubungan  erat  oleh  santri. Kedua, Manfaat memberi ketenangan jiwa santri, menjauhkan diri dari maksiat, menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan, menjaga harta, menjauhkan diri dan sifat amarah, menjadi obat dan ruqyah, dan menyambung robitoh (sambung hati) kepada para kiai/guru.Kata Kunci: Āyātul Ḥirzi , Living Qur’ān, Pondok Pesantren
PRAKTIK ZIKIR DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ AL-JANNAH KONDA KABUPATEN KONAWE SELATAN (STUDI LIVING QUR’AN) Nur Jannah; Nasri Akib; Muh. Ikhsan; Samsu Samsu
EL-MAQRA' Vol 2, No 2 (2022): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.783 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v2i2.5266

Abstract

Penelitian ini tentang suatu pengamalan zikir di Ponpes Tahfidz al-Jannah, tujuan penelitian ini untuk mengetahui teks dan deskripsi zikir, mengetahui pemaknaan ayat-ayat yang dijadikan zikir dalam kitab-kitab tafsir,  juga untuk mengetahui dampak pemakain ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan zikir oleh masyarakat Ponpes Tahfidz al-Jannah. Penelitian ini menggunakan dua jenis penelitian di antaranya penelitian kualitatif atau kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Sumber utama dari penelitian ini yaitu ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca pada saat zikir. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Zikir yang diamalkan di Ponpes Tahfidz al-Jannah merupakan zikir yang bersambung sanadnya kepada K.H.Fakrur al-Razi. Isi zikir dikelompokkan menjadi tiga: pertama, ayat al-Qur’an yang memiliki kandungan makna doa dan renungan untuk introfeksi diri. Kedua, bacaan yang dibaca oleh Rasulullah Saw setelah Salat dan ketiga, bacaan yang memiliki manfaat terhadap pembacanya tetapi tidak dibaca Rasulullah Saw setelah salat. (2) Pemaknaan Ayat yang dijadikan zikir terbagi pada tiga klasifikasi: pertama, sebagai peringatan akan siksa Allah Swt kedua, mengingatkan untuk senantiasa berzikir dengan memohon ampun kepada Allah Swt ketiga, tentang harapan dan do’a kepada Allah Swt. (3) Zikir bagi masyarakat Ponpes Tahfidz al-Jannah selaku pengamal zikir berampak cukup beragam,  seperti ketenangan hati, rezeki yang dimudahkan, integritas yang baik dan menjadi kebiasaan baik bagi pengamal yang serius. Namun, terdapat pula beberapa santri yang tidak memperoleh manfaat zikir kecuali sedikit. Hal ini dialami oleh santri yang tidak serius dalam menjalankan zikir .Dan menurut hasil observasi peneliti, dampak secara psikologis juga terjadi pada sebagian pelaku zikir.
TRADISI PENGGUNAAN BUSANA HAJI DALAM SUKU BUGIS (STUDI LIVING QUR’AN TERHADAP PEREMPUAN DESA PUUREMA SUBUR KABUPATEN KONAWE SELATAN) Nirwanti Nirwanti; Hasdin Has; Muh. Ikhsan
EL-MAQRA' Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.389 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v1i1.3314

Abstract

Abstrak Penelitian ini mendeskripsikan praktik tradisi penggunaan busana haji dalam masyarakat Bugis dan mengaitkan dengan dalil QS. al-Nur [24] : 31. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode living Qur’an dengan pendekatan tafsir yaitu pendekatan kebahasaan, historis, fikih (hukum), dan sosial budaya (kemasyarakatan). Tekhnik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara partisipatif dan mendalam serta analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemahaman perempuan yang sudah berhaji perihal aurat dan batasannya terbagi menjadi dua jenis. Pertama, sebagian besar perempuan yang sudah berhaji di desa Puurema Subur Kabupaten Konawe Selatan memahami tentang aurat dan batasannya dalam syari’at Islam, akan tetapi status sosial menjadi perhatian yang paling penting bagi mereka daripada perolehan predikat haji mabrur yang sesungguhnya. Kedua, sebagian kecil dari mereka sama sekali tidak memahami perkara aurat dalam Islam.Kata Kunci: Busana, Haji, Bugis, Desa Puurema Subur.