Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

IDENTIFIKASI NARKOTIKA JENIS TETRAHYDROCANNABINOL (THC) PADA URINE REMAJA Rahmawati Rahmawati; Dewi Arisanti; Muhammad Rifo Rianto; Mardatillah Ahmad
Jurnal Medika Vol 6 No 2 (2021): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i2.228

Abstract

Narkotika meliputi cakupan drug yang berarti semua jenis zat yang apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh-pengaruh tertentu pada tubuh pemakai seperti menimbulkan gangguan pada sistem saraf, jantung, paru-paru, dan lain-lain. Faktor yang mempengaruhi terjadi penyalahgunaan narkotika pada remaja yaitu sebagian remaja yang orang tuanya sibuk pada urusan pekerjaan sehingga memberikan peluang anak merasa bebas (leluasa) untuk memasuki pergaulan atau perkumpulan yang diinginkan. Salah satu jenis narkotika yang sering disalahgunakan oleh para remaja adalah jenis obat tetrahydrocannabinol (THC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi narkotika jenis obat tetrahydrocannabinol (THC) pada remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampel dengan 15 sampel urine remaja dengan metode immunokromatografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 15 sampel diperoleh 2 hasil positif ditandai dengan terbentuknya satu garis pada garis control (C) dan 13 hasil negatif yang ditandai dengan terbentuknya dua garis merah pada garis control (C) dan garis test (T). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 2 sampel urine remaja mengandung narkotika dan 13 sampel urine lainnya tidak mengandung narkotika jenis obat tetrahydrocannabinol (THC).
IDENTIFIKASI Salmonella sp PADA AIR RENDAMAN SPONS CUCI PIRING BEKAS YANG DIRENDAM SELAMA 3 HARI Anita Anita; Muhammad Rifo Rianto; Dewi Arisanti; Anang H Radjak
Jurnal Medika Vol 6 No 2 (2021): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i2.233

Abstract

Spons cuci piring adalah alat yang sering digunakan sebagian besar masyarakat untuk membersihkan peralatan makan, namun tidak dicantumkan cara penggunaannya sehingga mengurangi pengetahuan konsumen dalam menjaga kebersihan serta kondisi spons yang dipakai. Spons cuci piring 200.000 kali lebih kotor dibandingkan dudukan toilet, sehingga pemakaian lebih dari 3 hari dan didiamkan dalam keadaan lembab dapat mendukung pertumbuhan bakteri diantaranya Salmonella sp. Bakteri Salmonella sp bersifat gram negatif, tidak membentuk spora, fakultatif anaerobik, berbentuk motil dan batang. Salmonella adalah bakteri mesofilik, dapat hidup pada kisaran suhu 5-46°C, dan suhu pertumbuhan terbaik adalah 35-37°C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella sp terdapat pada spons cuci piring bekas yang direndam selama 3 hari. Metode penelitian ini dilakukan terhadap 5 sampel spons cuci piring bekas dengan cara eksperimen dan dilakukan dengan cara uji kultur pada media. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua sampel spons positif adanya kontaminasi bakteri Salmonella sp. Sehingga dapat disimpulkan penelitian pada identifikasi Salmonella sp pada spons cuci piring bekas yang direndam selama 3 Hari ditemukan adanya bakteri Salmonella sp.
UJI EFEKTIVITAS PERASAN TEH (Camellia sinensis L.) CELUP TERHADAP Staphylococcusaureus Waode Rustiah; Andi Fatmawati; Dewi Arisanti; Muawanah Muawanah; Nuraedah Hasima
Jurnal Medika: Media Ilmiah Analis Kesehatan Vol 7 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v7i2.293

Abstract

Camellia sinensis L. atau yang lebih dikenal daun teh hijau sudah lama digunakan sebagai obat herbal dan juga bisa dijadikan olahan produk makanan maupun minuman. Kandungan polifenol, katekin, dan tanin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perasan teh celup (Camellia sinensis L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen laboratorik dengan variasi konsentrasi, yaitu 25%, 50%, dan 75% serta larutan pembanding kontrol positif (antibiotic tetracycline) dan larutan pembanding kontrol negatif (aquabides), dengan masa inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Sampel dalam penilitian ini adalah perasan teh hijau celup (Camellia sinensis L.) menggunakan metode difusi agar berlapis. Berdasarkan hasil penelitian pada konsentrasi 25%, 50% dan 75% tidak memiliki zona hambat. Pada kontrol negatif memiliki zona hambat 0 mm sedangkan kontrol positif memiliki zona hambat 20,2 mm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perasan teh celup tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus
DETEKSI C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS (DM) DI RSUD LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR Suardi suardi; Dewi Arisanti; Hasnah Hasnah; Kardina Widanda Kai
Jurnal Medika: Media Ilmiah Analis Kesehatan Vol 7 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v7i2.325

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia, yang terjadi akibat kekurangan secara relatif dari kerja atau sekresi hormon insulin. Faktor penyebabnya yaitu glukosa yang menumpuk dalam darah sehingga dapat masuk ke dalam sel. Penderita diabtetes melitus memiliki sistem imun yang rendah, sehingga mudah terkena infeksi. Hal ini diperkuat dengan meningkatnya marker inflamasi. C- Reactive Protein (CRP) merupakan salah satu penanda inflamasi akut yang berasal dari hati dan sering ditemukan pada penderita diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular. CRP akan meningkat tinggi pada proses peradangan dan rusaknya jaringan. CRP dapat menjadi marker yang cukup sensitif untuk mendeteksi terdapatnya inflamasi yang berhubungan progress dari aterosklerosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran CRP pada penderita diabetes melitus di RSUD Labuang Baji Kota Makassar. Jenis penelitian ini, yaitu observasi laboratorik, dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Dengan menggunakan metode pemeriksaan yaitu metode uji aglutinasi pasif, dilakukan pada 10 sampel serum. Hasil penelitian diperoleh dari 10 sampel, sebanyak 8 sampel positif tejadi aglutinasi dan 2 sampel negatif tidak terjadi aglutinasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penderita diabetes melitus beresiko memicu peningkatan kadar CRP.
Identifikasi Senyawa Tanin Pada Ekstrak Sabut Buah Pinang (Areca catechu. L) Waode Rustiah; A. Fatmawati Muharram; Dewi Arisanti; Alfian Alfian
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol 2 No 1 (2021): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v2i1.187

Abstract

Areca catechu (Areca catechu. L) contains many chemical components, namely, pectin, cellulose, hemicellulose, lignin, pectin oxalate and flavonoids. Tannins are very complex organic substances and consist of phenolic compounds. Tannins are obtained by extraction with water and ethanol solvents because tannins can dissolve with these solvents. This study aims to identify tannin compounds in areca nut using ethanol as a solvent. This research is a laboratory experiment with an extraction process using the maceration method. The areca nut is dried and mashed and then sifted. Then the powder was macerated with 70% ethanol solvent for ± 24 hours, then evaporated and then tested qualitatively and determined the type of tannins. The results showed that areca nut extract was positive for tannins and the type of tannin was condensed tannins.
Pemeriksaan Kadar Zat Organik Dalam Air Minum Isi Ulang Jenis RO (Reverse Osmosis) Rahmawati Rahmawati; Dewi Arisanti; Nurhidayat Nurhidayat
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol 2 No 2 (2021): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v2i2.218

Abstract

Gallons of refilled drinking water usually don't run out in a single use but run out in a few days or even up to 1 to 2 weeks, depending on usage, and stored at room temperature (27-29 °C). Drinking water that is stored for a long time will allow the growth of microorganisms which are influenced by environmental factors, namely temperature conditions and oxygen supply during storage. This affects the pH and total organic content of drinking water. Inspection of the quality of water products according to the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 492/MENKES/PER/IV/2010, which is a maximum organic matter content of 10 mg/L. According to chemical parameters, drinking water must not contain inorganic and organic substances exceeding the standard with a pH value between 6.5-8.5. The purpose of this study was to determine the levels of organic substances in RO (Reverse Osmosis) refill drinking water. This type of research is a laboratory experiment using purposive sampling technique. The results showed that the average organic content of refilled drinking water with a storage period of 0 days was 1.839 mg/L, 3 days was 2.57 mg/L, and 6 days was 5.28 mg/L. Thus, the levels of organic substances in drinking water are based on storage time of 0, 3, and 6 days using the spectrophotometric method according to the maximum drinking water quality standard.