Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENYELENGGARAAN PERIZINAN PEMANFAATAN BAGIAN-BAGIAN JALAN NASIONAL Prayoga Luthfil Hadi; Tilaka Wasanta; Wimpy Santosa
Jurnal Transportasi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.064 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v18i2.3039.97-106

Abstract

Abstract The road is a land transportation infrastructure that is generally managed by the government. Often the Right of Way of roads is also used by other parties. Utilization of road space components requires licensing from the road operator. This licensing process is often constrained by limited information about licensing and licensing submission procedures that still use conventional methods. The disadvantage of this conventional method is the long time duration needed for the licensing process and the distance that must be taken by the applicant to the place of the road operator offices. This study was conducted to design an informative, accurate, complete and up-to-date licensing system in the form of road and bridge permit licensing databases. Keywords: road, right of way of roads, licensing database  Abstrak Jalan merupakan infrastruktur transportasi darat yang umumnya dikelola pemerintah. Seringkali ruang milik jalan turut dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Pemanfaatan komponen ruang milik jalan tersebut memerlukan perizinan dari penyelenggara jalan. Proses perizinan ini seringkali terkendala oleh terbatasnya informasi mengenai perizinan serta prosedur pengajuan perizinan yang masih menggunakan metode konvensional. Kelemahan metode konvensional ini adalah lamanya proses perizinan dan jarak yang harus ditempuh oleh pemohon ke tempat penyelenggara jalan yang jauh. Pada studi ini dilakukan kajian untuk merancang suatu sistem penyelenggaraan perizinan yang informatif, akurat, lengkap, dan mutakhir, berupa basis data perizinan bidang jalan dan jembatan. Kata-kata kunci: jalan, ruang milik jalan, basis data perizinan
KAJIAN PERUBAHAN STATUS JALAN JALAN LINGKAR LUAR GORONTALO Tilaka Wasanta; Bertho Orbain Sowolino; Zakaria Mujahid; Wimpy Santosa
Jurnal Transportasi Vol. 19 No. 3 (2019)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.934 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v19i3.3674.215-224

Abstract

Abstract A road, as the most important infrastructure on land transportation, plays a huge role on the movement of passengers and freight. According to its status, road is classified into national road, province road, city road, district road, and village road. The status of a road significantly affects the process of financing, planning, construction, and maintenance of that road. Therefore, a comprehensive study is needed before the status of a road is determined or changed. This paper discusses several aspects that are needed to be considered before the status of a road is determined or changed, with a case study of Gorontalo Outer Ring Road. These aspects are centre-of-activity hierarchy, road geometry, and the traffic volume. After all those aspects were discussed, the recommended status of Gorontalo Outer Ring Road is concluded. Keywords: rroad, land transportation, road status, centre-of-activity  Abstrak Jalan sebagai prasarana utama transportasi darat memegang peranan penting terhadap pergerakan barang maupun pergerakan orang. Menurut statusnya, jalan dikelompokkan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kota, jalan kabupaten, dan jalan desa. Penetapan status suatu jalan berdampak besar pada kegiatan pembiayaan, perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan jalan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam sebelum suatu jalan ditetapkan atau diubah statusnya. Pada studi ini dikaji aspek-aspek yang perlu diperhatikan ketika suatu ruas jalan akan ditetapkan atau diubah statusnya, dengan studi kasus Jalan Lingkar Luar Gorontalo. Aspek-aspek yang dibahas pada penelitian ini adalah aspek hierarki pusat kegiatan, aspek geometri jalan, dan aspek lalu lintas. Setelah semua aspek tersebut dibahas, dapat disimpulkan status jalan yang sesuai untuk Jalan Lingkar Luar Gorontalo. Kata-kata kunci: jalan, transportasi darat, status jalan, pusat kegiatan
TEGANGAN PADA TANAH DASAR PERKERASAN DI LAPANGAN PENUMPUKAN PETI KEMAS PELABUHAN TRISAKTI BANJARMASIN Tilaka Wasanta; Prayoga Luthfil Hadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 4 No. 2 (2018)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jh.v4i2.3025.%p

Abstract

Abstract This study discusses the analysis of flexible pavement structures in container stacking fields. The case study of this paper is in Trisakti Port in Banjarmasin. Modelling of the pavement structure was analyzed using ELSYM5 software. The results of pavement structure modelling are also made in the form of stress bulb diagrams to illustrate vertical stress distribution in each pavement layers. From the results of pavement modelling, it appears that the further horizontal distance (either in the X-axis or Y-axis direction) from the center of load, the smaller vertical stress occurs. Likewise on the Z-axis, the deeper a point from surface layer, the smaller vertical stress there is. From the results of the analysis using ELSYM5 software, the minimum subgrade load capacity must be able to withstand 60.37 kN/m2 for 8 inches base layer and 39.31 kN/m2 for 18 inches base layer. Based on results of the analysis with 6 data sets used in this study, it can be seen that thicker base layer in pavement structure would yield lower vertical stress that occurs in the top of subgrade. Keywords: pavement structure, flexible pavement, stress bulb, subgrade, stress distribution  Abstrak Penelitian ini membahas analisis struktur perkerasan lentur di lapangan penumpukan peti kemas. Studi kasus yang digunakan pada penelitian ini adalah Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin. Pemodelan struktur perkerasan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak ELSYM5. Hasil analisis pemodelan struktur perkerasan juga dibuat dalam bentuk diagram stress bulb untuk menggambarkan distribusi tegangan vertikal yang terjadi pada berbagai kedalaman di setiap lapisan struktur perkerasan. Dari hasil analisis pemodelan struktur perkerasan, terlihat bahwa semakin jauh jarak horizontal (baik di arah sumbu-X maupun sumbu-Y) dari pusat beban, semakin kecil tegangan yang terjadi. Begitu juga pada sumbu-Z, semakin jauh kedalaman lapis perkerasan dari pusat beban, semakin kecil tegangan yang terjadi. Dari hasil analisis menggunakan perangkat lunak ELSYM5, didapat bahwa tanah dasar harus dapat menahan tegangan minimum sebesar 60,37 kN/m2 untuk lapisan base setebal 8 inci dan sebesar 39,31 kN/m2 untuk lapisan base setebal 18 inci. Berdasarkan hasil analisis dengan 6 datasets yang digunakan pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa semakin tebal lapisan fondasi pada struktur perkerasan yang digunakan, semakin kecil tegangan yang terjadi pada tanah dasar. Kata-kata kunci: struktur perkerasan,  perkerasan lentur, stress bulb, tanah dasar, distribusi tegagan
PENGARUH JARAK SENSOR LENDUTAN TERHADAP MODULUS RESILIEN TANAH DASAR Tilaka Wasanta; Prayoga Luthfil Hadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jh.v5i1.3197.%p

Abstract

Abstract The back-calculation method is one of the non-destructive methods that has been widely used to determine or to evaluate the structural strength of a pavement that has been loaded by traffic. Evaluation of pavement characteristics should be determined for each layer, from the surface to the subgrade layers. The subgrade layer can be evaluated by its resilient modulus. The resilient modulus of the subgrade can be analysed using procedures and formulas developed by AASHTO in 1993. This study was conducted to see if the AASHTO procedure for determining the subgrade resilience modulus can be applied to all flexible pavements with various combinations of characteristics of pavement layers. This study was also conducted to see the effect of sensor deflection distance from the load center on the results of the analysis of subgrade resilient modulus. The results indicate that the AASHTO (1993) procedure can be used for all types of flexible pavement layers and the deflection sensor distance affects the resilient modulus value obtained. Keywords: back-calculation, subgrade resilient modulus, flexible pavement, pavement layer  Abstrak Metode back-calculation merupakan salah satu cara non-destructive yang telah banyak digunakan untuk mengetahui atau melakukan evaluasi terhadap kekuatan struktural suatu perkerasan jalan yang telah dibebani oleh lalu lintas. Evaluasi karakteristik perkerasan perlu ditentukan untuk setiap lapisannya, dari lapisan permukaan perkerasan, hingga lapisan tanah dasarnya. Evaluasi lapis tanah dasar dapat dilakukan dengan mencari nilai modulus resilien tanah dasar. Modulus resilien tanah dasar pada perkerasan lentur dapat dicari dengan menggunakan prosedur dan formula yang dikembangkan oleh AASHTO pada tahun 1993. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah prosedur penentuan modulus resilien tanah dasar yang dikeluarkan oleh AASHTO pada tahun 1993 tersebut dapat diterapkan untuk semua perkerasan lentur dengan berbagai kombinasi karakteristik lapis perkerasan. Penelitian ini juga dilakukan untuk melihat pengaruh jarak sensor lendutan dari pusat beban terhadap modulus resilien tanah dasar. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa prosedur AASHTO (1993) dapat digunakan untuk semua jenis lapisan perkerasan lentur dan jarak sensor lendutan mempengaruhi nilai modulus resilien yang diperoleh. Kata-kata kunci: back-calculation, modulus resilien tanah dasar, perkerasan lentur, lapisan perkerasan
USULAN SIRKULASI LALU LINTAS DI KAWASAN BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA Tilaka Wasanta; Harmein Rahman; Hansen Samuel Arberto Gultom; Prayoga Luthfil Hadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jh.v7i1.4551.33-42

Abstract

Abstract Jasamarga Kunciran-Cengkareng Toll Road causes a change in the configuration of the access system to Soekarno-Hatta International Airport. This requires a study to ensure the smooth traffic circulation at the airport. This study uses an approach based on road performance, using the Indonesian Road Capacity Manual 1997 method, and simulating traffic movements according to the origin and destination of these movements. This study shows that the existing weaving segment can still serve traffic needs, while the modeling carried out provides a performance indicators of Delay Average 36.45 seconds, Stop Average 1.97 vehicles per hour, Speed Average 47.84 km/hour, and Total Travel Time 2,392,331 seconds. Keywords: road capacity; access system; traffic circulation; road performance; weaving.  Abstrak Jalan Tol Jasamarga Kunciran-Cengkareng menyebabkan perubahan konfigurasi sistem akses menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Hal ini memerlukan suatu kajian untuk menjamin kelancaran sirkulasi lalu lintas di bandara. Studi ini menggunakan pendekatan yang didasarkan pada kinerja jalan, dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997, dan simulasi pergerakan lalu lintas yang sesuai dengan asal dan tujuan pergerakan tersebut. Kajian ini menunjukkan bahwa segmen jalinan yang ada masih dapat melayani kebutuhan lalu lintas, sedangkan pemodelan yang dilakukan memberikan besaran kinerja Delay Average 36,45 detik, Stop Average 1,97 kendaraan per jam, Speed Average 47,84 km/jam, dan Total Travel Time 2.392.331 detik. Kata-kata kunci: kapasitas jalan; sistem akses; sirkulasi lalu lintas; kinerja jalan; jalinan.
PENGARUH INDEKS INFRASTRUKTUR JALAN TERHADAP INDIKATOR EKONOMI DI INDONESIA Prayoga Luthfil Hadi; Tilaka Wasanta; Wimpy Santosa
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v7i2.5058.143-152

Abstract

Abstract Roads and bridges are the main infrastructure in supporting the realization of increased economic development. The relationship between the performance of road infrastructure provision and the improvement of economic performance is a very important aspect to understand. The magnitude of this relationship can be used as the basis for making decisions on road infrastructure development. The road infrastructure index is a parameter that can be used to measure road infrastructure services to the economy. The road infrastructure index used in this study is a comparison of road length with area and population. This infrastructure index is then analyzed in relation to economic indicators, such as Gross Regional Domestic Product and poverty index. This study shows that an increase in the area index helps improve socioeconomic indicators, such as an increase in GRDP and a decrease in the poverty index. Meanwhile, the increase in the value of the population index has a negative relationship with the growth of socioeconomic indicators, which means that the larger the population index, the worse the socioeconomic indicators. An increase in the population infrastructure index causes a decrease in the GRDP indicator and an increase in the poverty index, which means that longer roads are needed to serve the population. Keywords: road; infrastructure performance; road infrastructure index; economic indicators. Abstrak Jalan dan jembatan merupakan suatu infrastruktur utama dalam mendukung terwujudnya peningkatan pembangunan ekonomi. Hubungan antara kinerja penyediaan infrastruktur jalan dengan peningkatan kinerja ekonomi merupakan aspek yang sangat penting untuk dimengerti. Besaran hubungan ini dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan pembangunan infrastruktur jalan. Indeks infrastruktur jalan merupakan parameter yang dapat digunakan untuk mengukur layanan infrastruktur jalan terhadap ekonomi. Indeks infrastruktur jalan yang digunakan pada studi ini adalah perbandingan panjang jalan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk. Indeks infrastruktur ini kemudian dianalisis keterkaitannya dengan indikator ekonomi, seperti Produk Domestik Regional Bruto dan indeks kemiskinan. Studi ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks luas wilayah membantu perbaikan indikator sosioekonomi, seperti kenaikan PDRB dan penurunan indeks kemiskinan. Sedangkan kenaikan nilai indeks penduduk memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan indikator sosioekonomi, yang berarti semakin besar indeks penduduk, indikator sosioekonomi memburuk. Kenaikan indeks infrastruktur penduduk menyebabkan penurunan pada indikator PDRB dan kenaikan pada indeks kemiskinan, yang berarti diperlukan jalan yang lebih panjang untuk melayani penduduk. Kata-kata kunci: jalan; kinerja infrastruktur; indeks infrastruktur jalan; indikator ekonomi.
KAJIAN EKSPERIMENTAL UMUR LELAH CAMPURAN BERASPAL DI INDONESIA DENGAN ALAT FOUR-POINT LOADING Tilaka Wasanta; Bambang Sugeng Subagio; Sony Sulaksono Wibowo; Eri Susanto Hariyadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v9i2.7007.93-104

Abstract

Abstract Fatigue cracking is the most dominant type of distress in flexible pavements. In this research, an experimental study was conducted to determine the fatigue life and flexural stiffness curves for several types of asphalt mixtures commonly used in Indonesia, namely Asphalt Concrete Wearing Course, Hot Rolled Sheet, and Stone Mastic Asphalt. The fatigue life test was carried out using a four-point loading device with strain control. This study shows that the asphalt content for Asphalt Concrete Wearing Course mixture is in the range of 5.63% to 6.50%, for Hot Rolled Sheet mixture is in the range of 7.40% to 8.49%, and for Stone Mastic Asphalt mixture is the range of 6.60% to 7.31%. This study also produced a fatigue curve, with the higher the strain applied to the flexible pavement, the shorter the fatigue life of the flexible pavement, and vice versa. Keywords: flexible pavement; asphalt mixture; fatigue life; four-point loading Abstrak Retak lelah merupakan jenis kerusakan yang paling dominan pada perkerasan lentur. Pada penelitian ini dilakukan kajian eksperimental untuk menentukan umur lelah dan kurva kekakuan lentur pada beberapa jenis campuran beraspal yang umum digunakan di Indonesia, yaitu Asphalt Concrete Wearing Course, Hot Rolled Sheet, dan Stone Mastic Asphalt. Pengujian umur lelah dilakukan dengan menggunakan alat four-point loading dengan kontrol regangan. Studi ini menunjukkan bahwa kadar aspal untuk campuran Asphalt Concrete Wearing Course berada pada rentang 5,63% hingga 6,50%, untuk campuran Hot Rolled Sheet berada pada rentang 7,40% hingga 8,49%, dan untuk campuran Stone Mastic Asphalt berada pada rentang 6,60% hingga 7,31%. Pada studi ini juga dihasilkan kurva umur lelah, dengan semakin tinggi regangan yang diberikan pada perkerasan lentur, semakin pendek umur lelah perkerasan lentur tersebut, demikian pula sebaliknya. Kata-kata kunci: perkerasan lentur; campuran beraspal; umur lelah; pengujian empat titik
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN PERLINTASAN SEBIDANG JALAN REL DAN JALAN UMUM DI KOTA BANDUNG Tilaka Wasanta; Rifdah Puspita Sari; Alfina Tridamayanti; Wimpy Santosa
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i1.10030.23-34

Abstract

Abstract The problem of traffic congestion and the high risk of accidents at level crossings between railways and public roads in Bandung City requires urgent handling of these crossings. Ideally, the existence of these level crossings should be eliminated, to ensure the railway safety and the safety and smooth flow of traffic on public roads. Although handling level crossings to non-level crossings is a needed solution, its implementation requires high costs. Therefore, an objective analysis is needed to determine the level crossings that really need to be prioritized for handling. In this study, the handling of these level crossings is examined, using Multi-Criteria Analysis that integrates technical and non-technical aspects as determining parameters. This study shows that the level crossing on Jln. Laswi obtained the highest score, with a total score of 46.50, followed by the level crossing on Jln. Gedebage Selatan and the level crossing on Jln. A. Yani, with total scores of 42.50 and 39.00, respectively. Based on these results, it is recommended that these three level crossings be upgraded to non-level crossings. Keywords: level crossing; railroad; road; traffic congestion; traffic safety Abstrak Permasalahan kemacetan lalu lintas dan tingginya risiko kecelakaan pada perlintasan sebidang antara jalan rel dan jalan umum di Kota Bandung menuntut adanya penanganan yang mendesak terhadap perlintasan tersebut. Idealnya, keberadaan perlintasan sebidang ini ditiadakan, untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api serta keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas di jalan umum. Meskipun penanganan perlintasan sebidang menjadi perlintasan tidak sebidang merupakan solusi yang dibutuhkan, implementasinya memerlukan biaya yang tinggi. Karena itu, perlu dilakukan analisis yang objektif sehingga dapat ditentukan perlintasan-perlintasan sebidang yang memang perlu mendapat prioritas untuk ditangani. Pada studi ini dikaji penanganan perlintasan sebidang tersebut, dengan menggunakan Multi-Criteria Analysis yang mengintegrasikan aspek teknis dan aspek nonteknis sebagai parameter penentu. Studi ini menunjukkan bahwa perlintasan sebidang di Jln. Laswi memperoleh skor tertinggi, dengan nilai total 46,50, diikuti oleh perlintasan sebidang di Jln. Gedebage Selatan dan perlintasan sebidang di Jln. A. Yani, yang masing-masing bernilai total 42,50 dan 39,00. Berdasarkan hasil tersebut, ketiga perlintasan sebidang ini direkomendasikan untuk ditangani menjadi perlintasan tidak sebidang. Kata-kata kunci: perlintasan sebidang; jalan rel; jalan; kemacetan lalu lintas; keselamatan lalu lintas
PENGARUH ASPAL BUTON DAN PEREMAJA SC70 TERHADAP MODULUS RESILIEN CAMPURAN BETON ASPAL LAPIS AUS PADA BERBAGAI VARIASI TEMPERATUR Deshafa S. P. A. Putri; Atmy Verani Rouly Sihombing; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10727.91-100

Abstract

Abstract Flexible pavements in Indonesia are vulnerable to damage, such as fatigue cracking and rutting, due to repeated traffic loads and high temperatures. This study aims to evaluate the effect of using natural asphalt from Buton Island (Asbuton) and modifier SC-70, as a rejuvenating agent, on the resilient modulus of Asphalt Concrete-Wearing Course at various temperatures. Asbuton was added to the asphalt mixture at a 15% dosage to partially replace aggregate and petroleum asphalt, while SC-70 was used at a dosage of 2.3%. Resilient modulus testing was conducted using UMATTA equipment at temperatures of 20°C and 45°C. The results indicate that at 20 °C, both the control wearing course mixture and the mixture containing Asbuton exhibited high resilient modulus value, 1687.6 MPa and 1654.6 MPa, respectively, whereas the addition of the SC-70 rejuvenating agent reduced the resilient modulus value to 1202.4 MPa. The addition of Asbuton increased the resilient modulus at high temperatures, while the SC-70 rejuvenating agent enhanced the mixture's flexibility, thereby lowering the resilient modulus value. Keywords: asphalt concrete-wearing course; natural asphalt; Asbuton; SC-70 mofifier; resilient modulus Abstrak Perkerasan lentur di Indonesia rentan mengalami kerusakan, seperti retak lelah dan rutting, akibat beban lalu lintas berulang dan temperatur tinggi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan aspal alam Asbuton dan peremaja SC-70 terhadap modulus resilien campuran beraspal Lapis Aus pada berbagai tempe-ratur. Asbuton digunakan sebesar 15% pada campuran beraspal, sebagai substitusi agregat dan aspal minyak, sedangkan SC-70 digunakan sebagai peremaja, dengan kadar 2,3%. Pengujian modulus resilien dilakukan menggunakan alat UMATTA pada temperatur 20 °C dan 45 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tem-peratur 20 °C, campuran Lapis Aus kontrol dan campuran Lapis Aus dengan asbuton memiliki modulus resilien tinggi, yang masing-masing sebesar 1687,6 MPa dan 1654,6 MPa, sedangkan penambahan peremaja SC-70 menurunkan modulus resilien menjadi 1202,4 MPa. Penambahan asbuton meningkatkan modulus resilien pada temperatur tinggi, sedangkan peremaja SC-70 meningkatkan fleksibilitas campuran sehingga menurunkan nilai modulus resilien. Kata-kata kunci: Campuran beraspal lapis aus; aspal alam, asbuton; peremaja SC70; modulus resilien
EVALUASI PENGARUH JARAK ANTARSIMPANG DAN RASIO ARUS LALU LINTAS TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA KOORDINASI GREEN WAVE Bintang Adi Subagja; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10733.149-160

Abstract

Abstract The green wave is a signal coordination method for adjacent intersections designed to allow vehicles traveling from one intersection to the next to encounter consecutive green lights. Implementing this method yields benefits, such as reduced delay and shorter vehicle queues. This study analyzes the impact of intersection spacing and traffic flow ratios on green wave coordination performance using PTV Vissim software. Simulation results indicate that at an intersection spacing of 200 m, with traffic flow ratios ranging from 0.5 to 0.9, the improvement in delay resulting from the green wave implementation ranges from 36% to 54%. Conversely, at a spacing of 2500 m with the same flow ratios, the level of improvement drops to approximately 20% or even to zero. Furthermore, at a traffic flow ratio of 0.5 with spacing varying from 200 m to 2500 m, delay improvements range from 20% to 54%; however, at a flow ratio of 0.9 within the same distance range, the maximum improvement reaches only 29%. This study demonstrates that the effectiveness of the green wave concept diminishes as intersection spacing increases and traffic conditions approach saturation. Keywords: Green wave; signal coordination; flow ratio; intersection spacing; delay; queue Abstrak Green wave adalah suatu metode koordinasi sinyal pada simpang-simpang yang berdekatan, dengan tujuan agar kendaraan yang melintas dari satu simpang ke simpang yang lain dapat memperoleh fase hijau secara berurutan. Penerapan metode ini memberi beberapa manfaat, seperti mengurangi tundaan dan mengurangi panjang antrean kendaraan. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap jarak antarsimpang dan rasio arus lalu lintas kinerja koordinasi green wave, dengan menggunakan perangkat lunak PTV Vissim. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada jarak antarsimpang 200 m dengan variasi rasio arus lalu lintas antara 0,5 hingga 0,9, tingkat perbaikan waktu tundaan akibat penerapan green wave berkisar antara 36% hingga 54%. Sementara itu, pada jarak antarsimpang 2500 m dengan rasio arus lalu lintas yang sama, tingkat perbaikannya menurun menjadi hanya sekitar 20% atau bahkan tidak ada atau 0%. Selain itu, pada rasio arus lalu lintas 0,5 dengan variasi jarak antarsimpang 200 m hingga 2500 m, tingkat perbaikan tundaan berada pada rentang 20% hingga 54%, sedangkan pada rasio arus lalu lintas 0,9 dengan variasi jarak antarsimpang yang sama, tingkat perbaikannya hanya berkisar paling banyak 29%. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penerapan konsep green wave semakin berkurang untuk jarak antarsimpang yang semakin jauh dan kondisi arus lalu lintas yang mendekati jenuh. Kata-kata kunci: Green Wave; koordinasi sinyal; rasio arus; jarak antarsimpang; tundaan; antrean