Tilaka Wasanta
Civil Engineering, Faculty Of Civil Engineering, Parahyangan Catholic University, Jl. Ciumbuleuit No. 94, Hegarmanah, Cidadap District, Bandung City, Bandung, East Java, 40141, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

STUDI KELAYAKAN JALAN PENGHUBUNG PELAWAN DAN BIATAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Wasanta , Tilaka; Tridamayanti, Alfina; Hadi, Prayoga Luthfil; Santosa, Wimpy
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i2.9516.113-126

Abstract

Abstract Road infrastructure development plays a crucial role in driving economic growth and equitable development. One effort to strengthen interregional connectivity in East Kalimantan Province is the construction of a connecting road between Pelawan (Nibung Bridge) and Biatan (Simpang KM. 46). This paper presents a feasibility study of the proposed connecting road, including a review of technical, economic, and spatial planning aspects. Three alternative routes are examined in this study. Furthermore, the study includes an analysis of the initial road design, including geometric and pavement design. This study indicates that alternative 2 is the best alternative and is recommended for designation as the selected route. Keywords: road infrastructure; feasibility study; connecting road; road route Abstrak Pembangunan infrastruktur jalan memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan. Suatu upaya untuk memperkuat konektivitas antarwilayah di Provinsi Kalimantan Timur adalah melaksanakan pembangunan jalan penghubung antara Pelawan (Jembatan Nibung) dan Biatan (Simpang KM. 46) di Provinsi Kalimantan Timur. Pada makalah ini dilakukan studi kelayakan terhadap ren-cana pembangunan jalan penghubung tersebut, yang mencakup tinjauan terhadap aspek-aspek teknis, ekonomi, dan kesesuaian tata ruang. Terdapat 3 trase alternatif yang dikaji pada studi ini. Selain itu, studi ini juga memuat analisis terhadap desain awal jalan, yang meliputi desain geometrik dan desain perkerasan Jalan. Studi ini menunjukkan bahwa alternatif 2 merupakan alternatif terbaik dan direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai trase terpilih. Kata-kata kunci: infrastruktur jalan; studi kelayakan; jalan penghubung; trase jalan
PEMODELAN TRANSPORTASI MAKRO PADA RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN DI PROVINSI JAWA BARAT Wasanta, Tilaka; Nainggolan, Fransiskus Ferdinand; Hadi, Prayoga Luthfil; Santosa, Wimpy
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i1.9064.27-38

Abstract

Abstract Along with economic growth, the mobility of transportation of people and goods to various regions has also increased. This is where the transportation sector plays a very important role to smooth the wheels of the economy and serve the need for transportation services for people and goods within cities, between cities, and throughout the country. Therefore, a macrosimulation transportation model is needed in order to have a well-connected road network system throughout the region. The study approach is based on road performance analysis using the PKJI 2023 method and macro modeling using the four-stage modeling method. By adding road network plans from Tatrawil, RUJJN, and RTRW documents to the do-something scenario, the road network of west java province has better performance. This shows that the road network plan developed in the previous documents can overcome future traffic problems. This is indicated by more road sections performing well in 2040 and 2045 compared to the do-nothing scenario. Keywords: road performance; modeling; road network; traffic Abstrak Seiring dengan pertumbuhan perekonomian, mobilitas angkutan orang dan barang ke berbagai wilayah juga turut meningkat. Di sinilah sektor transportasi memegang peranan yang sangat penting untuk memperlancar roda perekonomian dan melayani kebutuhan akan jasa angkutan orang dan barang di dalam kota, antarkota, dan keseluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu diperlukan pemodelan transportasi makro dalam rencana pengembangan jaringan jalan yang terkoneksi dengan baik ke seluruh wilayah. Pendekatan kajian didasari oleh analisis kinerja jalan dengan metode PKJI 2023 dan pemodelan makro dengan metode pemodelan empat tahap. Dengan menambahkan rencana jaringan jalan dari dokumen Tatrawil, RUJJN, dan RTRW pada skenario do something menyebabkan jaringan jalan Provinsi Jawa Barat memiliki kinerja yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa rencana jaringan jalan yang sudah disusun pada dokumen terdahulu dapat mengatasi masalah lalu lintas di masa mendatang. Hal ini ditunjukkan dengan lebih banyaknya ruas jalan berkinerja baik di tahun 2040 dan 2045 dibandingkan dengan skenario do nothing. Kata-kata kunci: kinerja jalan; pemodelan transportasi; jaringan jalan; lalu lintas
STUDI KELAYAKAN JALAN PENGHUBUNG PELAWAN DAN BIATAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Wasanta , Tilaka; Tridamayanti, Alfina; Hadi, Prayoga Luthfil; Santosa, Wimpy
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i2.9516.113-126

Abstract

Abstract Road infrastructure development plays a crucial role in driving economic growth and equitable development. One effort to strengthen interregional connectivity in East Kalimantan Province is the construction of a connecting road between Pelawan (Nibung Bridge) and Biatan (Simpang KM. 46). This paper presents a feasibility study of the proposed connecting road, including a review of technical, economic, and spatial planning aspects. Three alternative routes are examined in this study. Furthermore, the study includes an analysis of the initial road design, including geometric and pavement design. This study indicates that alternative 2 is the best alternative and is recommended for designation as the selected route. Keywords: road infrastructure; feasibility study; connecting road; road route Abstrak Pembangunan infrastruktur jalan memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan. Suatu upaya untuk memperkuat konektivitas antarwilayah di Provinsi Kalimantan Timur adalah melaksanakan pembangunan jalan penghubung antara Pelawan (Jembatan Nibung) dan Biatan (Simpang KM. 46) di Provinsi Kalimantan Timur. Pada makalah ini dilakukan studi kelayakan terhadap ren-cana pembangunan jalan penghubung tersebut, yang mencakup tinjauan terhadap aspek-aspek teknis, ekonomi, dan kesesuaian tata ruang. Terdapat 3 trase alternatif yang dikaji pada studi ini. Selain itu, studi ini juga memuat analisis terhadap desain awal jalan, yang meliputi desain geometrik dan desain perkerasan Jalan. Studi ini menunjukkan bahwa alternatif 2 merupakan alternatif terbaik dan direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai trase terpilih. Kata-kata kunci: infrastruktur jalan; studi kelayakan; jalan penghubung; trase jalan
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN PERLINTASAN SEBIDANG JALAN REL DAN JALAN UMUM DI KOTA BANDUNG Tilaka Wasanta; Rifdah Puspita Sari; Alfina Tridamayanti; Wimpy Santosa
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i1.10030.23-34

Abstract

Abstract The problem of traffic congestion and the high risk of accidents at level crossings between railways and public roads in Bandung City requires urgent handling of these crossings. Ideally, the existence of these level crossings should be eliminated, to ensure the railway safety and the safety and smooth flow of traffic on public roads. Although handling level crossings to non-level crossings is a needed solution, its implementation requires high costs. Therefore, an objective analysis is needed to determine the level crossings that really need to be prioritized for handling. In this study, the handling of these level crossings is examined, using Multi-Criteria Analysis that integrates technical and non-technical aspects as determining parameters. This study shows that the level crossing on Jln. Laswi obtained the highest score, with a total score of 46.50, followed by the level crossing on Jln. Gedebage Selatan and the level crossing on Jln. A. Yani, with total scores of 42.50 and 39.00, respectively. Based on these results, it is recommended that these three level crossings be upgraded to non-level crossings. Keywords: level crossing; railroad; road; traffic congestion; traffic safety Abstrak Permasalahan kemacetan lalu lintas dan tingginya risiko kecelakaan pada perlintasan sebidang antara jalan rel dan jalan umum di Kota Bandung menuntut adanya penanganan yang mendesak terhadap perlintasan tersebut. Idealnya, keberadaan perlintasan sebidang ini ditiadakan, untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api serta keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas di jalan umum. Meskipun penanganan perlintasan sebidang menjadi perlintasan tidak sebidang merupakan solusi yang dibutuhkan, implementasinya memerlukan biaya yang tinggi. Karena itu, perlu dilakukan analisis yang objektif sehingga dapat ditentukan perlintasan-perlintasan sebidang yang memang perlu mendapat prioritas untuk ditangani. Pada studi ini dikaji penanganan perlintasan sebidang tersebut, dengan menggunakan Multi-Criteria Analysis yang mengintegrasikan aspek teknis dan aspek nonteknis sebagai parameter penentu. Studi ini menunjukkan bahwa perlintasan sebidang di Jln. Laswi memperoleh skor tertinggi, dengan nilai total 46,50, diikuti oleh perlintasan sebidang di Jln. Gedebage Selatan dan perlintasan sebidang di Jln. A. Yani, yang masing-masing bernilai total 42,50 dan 39,00. Berdasarkan hasil tersebut, ketiga perlintasan sebidang ini direkomendasikan untuk ditangani menjadi perlintasan tidak sebidang. Kata-kata kunci: perlintasan sebidang; jalan rel; jalan; kemacetan lalu lintas; keselamatan lalu lintas
PENGARUH ASPAL BUTON DAN PEREMAJA SC70 TERHADAP MODULUS RESILIEN CAMPURAN BETON ASPAL LAPIS AUS PADA BERBAGAI VARIASI TEMPERATUR Deshafa S. P. A. Putri; Atmy Verani Rouly Sihombing; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10727.91-100

Abstract

Abstract Flexible pavements in Indonesia are vulnerable to damage, such as fatigue cracking and rutting, due to repeated traffic loads and high temperatures. This study aims to evaluate the effect of using natural asphalt from Buton Island (Asbuton) and modifier SC-70, as a rejuvenating agent, on the resilient modulus of Asphalt Concrete-Wearing Course at various temperatures. Asbuton was added to the asphalt mixture at a 15% dosage to partially replace aggregate and petroleum asphalt, while SC-70 was used at a dosage of 2.3%. Resilient modulus testing was conducted using UMATTA equipment at temperatures of 20°C and 45°C. The results indicate that at 20 °C, both the control wearing course mixture and the mixture containing Asbuton exhibited high resilient modulus value, 1687.6 MPa and 1654.6 MPa, respectively, whereas the addition of the SC-70 rejuvenating agent reduced the resilient modulus value to 1202.4 MPa. The addition of Asbuton increased the resilient modulus at high temperatures, while the SC-70 rejuvenating agent enhanced the mixture's flexibility, thereby lowering the resilient modulus value. Keywords: asphalt concrete-wearing course; natural asphalt; Asbuton; SC-70 mofifier; resilient modulus Abstrak Perkerasan lentur di Indonesia rentan mengalami kerusakan, seperti retak lelah dan rutting, akibat beban lalu lintas berulang dan temperatur tinggi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan aspal alam Asbuton dan peremaja SC-70 terhadap modulus resilien campuran beraspal Lapis Aus pada berbagai tempe-ratur. Asbuton digunakan sebesar 15% pada campuran beraspal, sebagai substitusi agregat dan aspal minyak, sedangkan SC-70 digunakan sebagai peremaja, dengan kadar 2,3%. Pengujian modulus resilien dilakukan menggunakan alat UMATTA pada temperatur 20 °C dan 45 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tem-peratur 20 °C, campuran Lapis Aus kontrol dan campuran Lapis Aus dengan asbuton memiliki modulus resilien tinggi, yang masing-masing sebesar 1687,6 MPa dan 1654,6 MPa, sedangkan penambahan peremaja SC-70 menurunkan modulus resilien menjadi 1202,4 MPa. Penambahan asbuton meningkatkan modulus resilien pada temperatur tinggi, sedangkan peremaja SC-70 meningkatkan fleksibilitas campuran sehingga menurunkan nilai modulus resilien. Kata-kata kunci: Campuran beraspal lapis aus; aspal alam, asbuton; peremaja SC70; modulus resilien
EVALUASI PENGARUH JARAK ANTARSIMPANG DAN RASIO ARUS LALU LINTAS TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA KOORDINASI GREEN WAVE Bintang Adi Subagja; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10733.149-160

Abstract

Abstract The green wave is a signal coordination method for adjacent intersections designed to allow vehicles traveling from one intersection to the next to encounter consecutive green lights. Implementing this method yields benefits, such as reduced delay and shorter vehicle queues. This study analyzes the impact of intersection spacing and traffic flow ratios on green wave coordination performance using PTV Vissim software. Simulation results indicate that at an intersection spacing of 200 m, with traffic flow ratios ranging from 0.5 to 0.9, the improvement in delay resulting from the green wave implementation ranges from 36% to 54%. Conversely, at a spacing of 2500 m with the same flow ratios, the level of improvement drops to approximately 20% or even to zero. Furthermore, at a traffic flow ratio of 0.5 with spacing varying from 200 m to 2500 m, delay improvements range from 20% to 54%; however, at a flow ratio of 0.9 within the same distance range, the maximum improvement reaches only 29%. This study demonstrates that the effectiveness of the green wave concept diminishes as intersection spacing increases and traffic conditions approach saturation. Keywords: Green wave; signal coordination; flow ratio; intersection spacing; delay; queue Abstrak Green wave adalah suatu metode koordinasi sinyal pada simpang-simpang yang berdekatan, dengan tujuan agar kendaraan yang melintas dari satu simpang ke simpang yang lain dapat memperoleh fase hijau secara berurutan. Penerapan metode ini memberi beberapa manfaat, seperti mengurangi tundaan dan mengurangi panjang antrean kendaraan. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap jarak antarsimpang dan rasio arus lalu lintas kinerja koordinasi green wave, dengan menggunakan perangkat lunak PTV Vissim. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada jarak antarsimpang 200 m dengan variasi rasio arus lalu lintas antara 0,5 hingga 0,9, tingkat perbaikan waktu tundaan akibat penerapan green wave berkisar antara 36% hingga 54%. Sementara itu, pada jarak antarsimpang 2500 m dengan rasio arus lalu lintas yang sama, tingkat perbaikannya menurun menjadi hanya sekitar 20% atau bahkan tidak ada atau 0%. Selain itu, pada rasio arus lalu lintas 0,5 dengan variasi jarak antarsimpang 200 m hingga 2500 m, tingkat perbaikan tundaan berada pada rentang 20% hingga 54%, sedangkan pada rasio arus lalu lintas 0,9 dengan variasi jarak antarsimpang yang sama, tingkat perbaikannya hanya berkisar paling banyak 29%. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penerapan konsep green wave semakin berkurang untuk jarak antarsimpang yang semakin jauh dan kondisi arus lalu lintas yang mendekati jenuh. Kata-kata kunci: Green Wave; koordinasi sinyal; rasio arus; jarak antarsimpang; tundaan; antrean
Case Sudy: Construction Of Soil Stabilization On Hauling Roads At A Nickel Mining Site In Souteast Sulawesi, Indonesia Tilaka Wasanta; Elshaan Helmmie; Edwin Laurencis
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 7 No 2 (2026): May
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51988/jtsc.v7i2.562

Abstract

Haul roads play an important role in supporting nickel mining operations, as their condition directly affects transportation efficiency and production performance. Inadequate road conditions can lead to reduced operational effectiveness. Thus, improving subgrade strength is necessary to ensure adequate pavement performance. This study investigated the use of cement as a soil stabilizing agent to enhance the engineering properties of haul road materials. The laboratory test results showed that the addition of 3.00% cement increased the California Bearing Ratio (CBR) from 55.87% to 168.80% after 3 days of curing. The stabilized material also achieved an Unconfined Compressive Strength (UCS) of 4.086 MPa after 28 days of curing. Pavement structural design subsequently evaluated using the Austroads (2017) method based on both laboratory test results and actual field conditions. The analysis indicated that the pavement structure could support traffic loading of up to 79.78 × 10? Equivalent Standard Axles (ESA) under laboratory conditions and 44.40 × 10? ESA under field conditions. The results demonstrate that cement stabilization can substantially improve subgrade strength and increase the structural capacity of haul road pavements, making it a viable alternative for supporting heavy mining traffic.