Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DENGAN PEMERIKSAAN PAYUDARA KLINIS (SADANIS) PADA WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS KALASAN, SLEMAN, DIY Nonik Ayu Wantini; Novi Indrayani
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 9, No 2 (2018): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.183 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v9i2.204

Abstract

Berdasarkan data Globocan (IARC/ International Agency for Research on Cancer) 2012, kanker payudara menempati urutan pertama seluruh kanker pada perempuan (incidence rate 40 per 100.000). Sampai dengan tahun 2016, cakupan SADANIS di Indonesia sebesar 4,34% yang masih jauh dari target nasional sebesar 10% pada akhir tahun 2015. Pemeriksaan SADANIS dapat dilakukan di Puskesmas dan salah satu tantangan adalah belum optimalnya kesadaran masyarakat untuk deteksi dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan SADANIS. Desain penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 350 wanita, dipilih dengan teknik consecutive sampling. Waktu penelitian Maret sd Mei 2018.Teknik pengambilan data dengan wawancara terstruktur, instrumen kuesioner. Uji analisis menggunakan chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan sebagian besar rendah (94%), sikap positif (97,4%), 91,1% yakin bahwa kanker payudara akan sembuh jika ditemukan lebih dini, 90% tidak melakukan SADANIS dalam 3 tahun terakhir. Terdapat hubungan pengetahuan (p-value = 0,012), tidak terdapat hubungan sikap dengan SADANIS (p-value = 0,607), tidak terdapat hubungan kepercayaan dengan SADANIS (p-value = 0,341). Kesimpulan : faktor yang berhubungan dengan deteksi dini adalah pengetahuan tentang kanker payudara. Kata kunci : pengetahuan, sikap, kepercayaan, SADANIS
The Relationship Between Pregnant Women’s Perceptions Of Family Support And The Motivation For HIV/AIDS Examination In Gedong Tengen Public Health Center. Yogyakarta City Maria Wiwin I.H. Lende; Setyo Mahanani Nugroho; Nonik Ayu Wantini
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 6, No 2 (2018): JULI 2018
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.629 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2018.6(2).21-28

Abstract

In 2016 the number of pregnant woman who required the prevention of transmission trough sexual reached 278 pregnant women. Efforts that have been made by government to prevent mother-to-child transmission of HIV/AIDS are HIV/AIDS comprehensive service which are sustainable that cover all froms of services for HIV and sexual transmitted infections. In 2015, the lowest coverage of HIV/AIDS  examination in Yogyakarta City was at Gedong Tengen Public Health  Center, which was 3,7%. In addition to medical efforts, pregnant women need psychological and social support from people around the family and surronding environment, and motivation to have HIV/AIDS examinations. The purpose of study is to find out the relationship between pregnant women’s perceptions of family support and the motivation for the HIV/AIDS examination in Gedong Tengen Public Health Center, Yogyakarta City. The study used the analytical descriptive method with the cross-sectional design. The research population comprised 48 pregnant women and the sampel consisted of 43 pregnant women. The sampling thecnique was accidental sampling technique. The data analysis in the study used Kendall tau. The results of the data analysis showed thats most of the pregnat women were 20-35 years old (86%), had secondary education (60.5%), unemployed (74.4%), and were multiparae (62.8%). Perceptions of family support were negative (58.1%), and their motivation for the HIV/AIDS examination was moderate (72.1%). The result of the analysis using Kendall tau test showed p-value = 0.001 and z table = 4.35. There is relationship between pregnant women’s perceptions of family support and the motivation for the HIV/AIDS examination in Gedong Tengen Public Health  Center, Yogyakarta City. Keywords: Perceptions; motivation; HIV/AIDS
EDUKASI PERIKSA PAYUDARA SENDIRI DAN PEMERIKSAAN PAYUDARA KLINIS DI DUSUN SENTIKAN, YOGYAKARTA Novi Indrayani; Nonik Ayu Wantini
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.245 KB) | DOI: 10.34035/jk.v10i1.333

Abstract

Pemeriksaan payudara berguna untuk memastikan bahwa payudara seseorang masih normal. Bila ada kelainan seperti infeksi, tumor, atau kanker dapat ditemukan lebih awal. Kanker payudara yang diobati pada stadium dini kemungkinan sembuh mendekati 95%. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri masih rendah dilihat dari jumlah kunjungan yaitu pasien cenderung datang untuk melakukan pemeriksaan IVA Test dan tidak ada yang melakukan kunjungan untuk SADANIS di Puskesmas Kalasan. Metode yang digunakan yaitu experimen semu dengan pendekatan “One Groups Pretest-Posttest Design”. Jumlah sampel yaitu 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling Accidental Sampling. Sebagian besar (53,3%) pre test pengetahuan SADARI dalam kategori kurang dan setelah diberi edukasi sebagian besar (70%) dalam kategori baik. Perilaku SADARI sebelum diberi edukasi sebagian besar (86,7%) dalam kategori tidak melakukan SADARI, sebagian besar (83,3%) melakukan SADARI setelah mendapatkan Edukasi dan sebagian besar (96,7%) tidak melakukan SADANIS setelah mendapatkan edukasi dikarenakan tidak ada keluhan. Diketahui p_value 0,000 < 0,05.Kesimpulan penelitian adalah ada perbedaan antara pengetahuan tentang SADARI sebelum diberi edukasi dan setelah diberi edukasi Kata Breast examination is useful to ensure that someone’s breast is still normal. If there are abnormalities such as infections, tumors, or cancer, it can be found earlier. Breast cancer treated in the early stages is likely to recover nearly 95%. Public awareness to do Breast Self-Examination (BSE) is still low. It can be seen from the number of visits, namely patients tend to come to do the IVA Test and no one visits for Clinical Breast Examination (CBE) at the Kalasan Health Center. The research applied quasiexperimental research using One Groups Pretest-Posttest Design. The number of samples was 30 people taken using Accidental Sampling technique. Most of the samples (53.3%) had BSE-knowledge in the low category on pretest. However, after being educated, most of them (70%) had BSE-knowledge in the good category. Based on BSE-behavior, before being given education, most of the samples (86.7%) did not do BSE. However, after getting education, most of them (83.3%) did BSE. Moreover, after getting education, most of the samples (96.7%) did not do CBE because there was no further complaint. Furthermore, p value in this research was 0.000 < 0.05. There is a difference in BSE-knowledge before and after being given education.
Pendidikan Kesehatan Tentang Akupresur Sebagai Upaya Pemeliharaan dan Peningkatan Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19 Nonik Ayu Wantini; Lenna Maydianasari; Silvia Dewi Styaningrum
Jurnal Kesehatan Global Vol 6, No 1 (2023): Edisi Januari
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatah Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jkg.v6i1.5469

Abstract

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat Pandemi Covid-19 berdampak terhadap pelaksanaan layanan kesehatan di masyarakat termasuk Posyandu. Sementara, upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan anggota masyarakat menjadi prioritas pada masa ini. Oleh karena itu masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan akupresur di dalam mengatasi masalah kesehatan ringan ataupun meningkatkan imunitas tubuh secara mandiri. Hasil studi pendahuluan di Dusun Setan, mayoritas (61,9%) masyarakat belum pernah mendengar tentang akupresur. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan tentang akupresur. Metode penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan rancangan one group pre test-post test. Adapun sampel berjumlah 21 orang anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dipilih dengan quota sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukkan nilai median sebelum pendidikan kesehatan (25), sesudah pendidikan kesehatan (80), 100% responden mengalami peningkatan pengetahuan setelah penkes, p-value = 0,000 (H0 ditolak, Ha diterima). Kesimpulannya adalah ada perbedaan antara pengetahuan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan tentang akupresur pada masa pandemi Covid-19 di Dusun Setan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, DIY.
Pendidikan Kesehatan dan Senam Pencegahan Osteoporosis pada Masa Menopause Lenna Maydianasari; Nonik Ayu Wantini; Jacoba Nugrahaningtyas Wahjuning Utami; Melani Maranressy; Fika Handayani
Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol 6, No 3 (2023): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v6i3.16681

Abstract

Wanita yang telah mengalami menopause berisiko tinggi 5,6 kali mengalami osteoporosis. Salah satu faktor resiko yaitu kurang olahraga yang akan menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblast) dan kepadatan massa tulang akan berkurang. Pembentukan massa tulang dapat dipacu oleh otot yang terjadi jika semakin banyak gerak dan olahraga. 9 dari 10 orang wanita pra menopause di Dusun Sentikan merasakan kualitas hidup sedang dan 80% wanita tersebut mengatakan jarang berolahraga, 60% berkurang kemampuan fisiknya dan tidak mengetahui pencegahan osteoporosis dengan berolahraga secara rutin. Oleh karena itu, tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang osteoporosis dan pencegahannya serta mengubah perilaku menjadi lebih sehat dengan senam pencegahan osteoporosis pada masa menopause. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan adalah participatory learning action (PLA) dengan pendidikan kesehatan yaitu penyuluhan dan sosialiasi. Instrumen pengukuran efektifitas kegiatan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan tes keseimbangan. Hasil kegiatan yang dicapai adalah peningkatan soft skill yaitu pengetahuan setelah diberikan penyuluhan dimana rerata nilai meningkat sebesar 20 dan hard skill yaitu kemampuan untuk melakukan senam pencegahan osteoporosis pada masa menopause. Hasil tes keseimbangan menunjukkan bahwa mayoritas wanita pra menopause di Dusun Sentikan memiliki keseimbangan tidak normal.
Faktor Penentu Berhenti Pakai (Drop Out) Alat Kontrasepsi pada Masa Pandemi Covid-19 Lenna Maydianasari; Nonik Ayu Wantini; Merita Eka Eka Rahmuniyati; Fika Handayani; Melani Maranressy
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v8i2.493

Abstract

Hambatan dalam mengakses pelayanan KB pada masa pandemi covid-19 berkontribusi terhadap jumlah akseptor yang berhenti pakai (drop out) alat kontrasepsi pada pandemi covid-19. Jumlah akseptor drop out tahun 2021 di wilayah kerja Puskesmas Berbah Kabupaten Sleman sebanyak 386 orang. Banyaknya akseptor yang berhenti pakai menjadi salah satu indikator penting untuk mengatur kualitas penggunaan kontrasepsi sehingga perlu diketahui faktor-faktor yang menyebabkan berhenti pakai alat kontrasepsi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor penentu berhenti pakai (drop out) alat kontrasepsi pada masa pandemi covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research) dengan rancangan cross-sectional. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif yang dikombinasikan dengan kualitatif (Mixed Method). Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Berbah dengan jumlah sampel sebanyak 88 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan panduan indepth interview. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penentu berhenti pakai alat kontrasepsi pada masa pandemi covid-19 karena faktor predisposisi adalah keinginan untuk hamil dan ketakutan mengunjungi layanan KB saat pandemi covid-19, sedangkan faktor pendorongnya adalah akses pelayanan KB sulit dan faktor penguat adalah masih takut efek samping alat kontrasepsi serta kurangnya dukungan suami. Mayoritas faktor penentu adalah masih takut akan efek samping pemakaian alat kontrasepsi namun tidak ada hubungan riwayat penggunaan alat kontrasepsi dengan faktor penentu masih takut efek samping pemakaian alat kontrasepsi.
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DENGAN STIGMA KEPALA KELUARGA TERHADAP ODHA DI NOTOYUDAN KOTA YOGYAKARTA Setyo Mahanani Nugroho; Casnuri Casnuri; Maratusholikhah Nurtyas; Nurulistyawan Tri Purnanto; Nonik Ayu Wantini
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol 6, No 02 (2021): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscs1kep.v6i02.318

Abstract

Latar Belakang: Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan Human Imunnodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrom (HIV/AIDS) di Indonesia adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap cara penularan HIV/AIDS, pencegahan HIV/AIDS. Semakin rendah tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tinggi kemungkinan memiliki stigma terhadap ODHA.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga terhadap ODHA.Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Teknik sampling dengan Accidental Sampling,jumlah sampel penelitian 41 kepala keluarga,  instrument penelitian menggunakan kuesioner.Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.Hasil: Hasil analisis univariat karakteristik umur responden mayoritas 31-49 tahun sebanyak 33 responden (80,5%), mayoritas responden mendapatkan informasi HIV/AIDS dari media masa sebanyak 22 orang (53,7%), rata-rata pengetahuan responden memiliki pengetahuan cukup tentang HIV/AIDS yaitu 20 orang (48,8%), mayoritas responden memiliki stigma rendah sebanyak 21 orang (51,2%). Analisis bivariat dilakukan dengan uji statistik Kendall Tau didapatkan nilai p-value=(0,138)>0,05, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga terhadap ODHA.Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga(KK) terhadap ODHA. Kata Kunci: HIV, AIDS, Kepala Keluarga, Stigma
Kesediaan Vaksinasi HPV pada Remaja Putri Ditinjau dari Faktor Orang Tua Nonik Ayu Wantini; Novi Indrayani
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i2.ART.p213-222

Abstract

Infeksi HPV dan pre kanker serviks (sel-sel abnormal pada leher rahim yang dapat menyebabkan kanker) telah menurun secara signifikan sejak vaksin HPV digunakan.Cakupan vaksinasi HPV masih rendah di Indonesia.Orang tua adalah pemegang tanggung jawab dan kewajiban utama di dalam penjaminan pemenuhan hak dasar anak untuk mendapatkan vaksinasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan (sikap, kepercayaan, dukungan orang tua) dengan kesediaan vaksinasi pada remaja putri. Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah Macanan, Ngemplak dan SMPN 1 Berbah, Sleman pada Mei-Juli 2019. Jumlah sampel 127 remaja putri beserta orang tuanya dipilih dengan accidental sampling. Instrumen kuesioner dan telah dilakukan uji validitas. Analisis bivariat dengan uji chi square (dukungan instrumen, emosional, kepercayaan orang tua) dan uji fisher exact (dukungan informasi dan sikap). Hasil penelitian menunjukkan 92,9% orang tua tidak memberikan dukungan informasi, 85% tidak memberikan dukungan instrumen, 75,6% memberikan dukungan emosional kepada putrinya terkait vaksinasi. Faktor yang berhubungan dengan kesediaan vaksinasi adalah dukungan instrumen (p-value = 0,048). Faktor yang menjadi pertimbangan terbanyak orang tua untuk mengijinkan anaknya di vaksinasi adalah keamanan vaksin (81,1%). Kesimpulan: Ada hubungan dukungan instrumen orang tua dengan kesediaan vaksinasi HPV pada remaja putri. HPV infections and cervical precancers (abnormal cells on the cervix that can lead to cancer) have dropped significantly since HPV vaccine has been in use. HPV vaccination coverage is still low in Indonesia. Parents are the main responsibility and obligation in guaranteeing the fulfillment of the child's basic rights to get a vaccination. The purpose of this study was to determine the related factors (attitudes, beliefs, parental support) with the willingness to participate in HPV vaccination among adolescent girls. This type of the study was analytic survey with cross sectional approach. The study was conducted at SD Muhammadiyah Macanan, Ngemplak and SMPN 1 Berbah, Sleman in May-July 2019. The sample was 127 adolescent girl and their parents selected by accidental sampling. The instrument used questionnaire and already undergone validity test. The bivariate analysis used chi square test (instrument and emotional support, parental trust) and fisher exact test (information support and attitude). The results showed 92.9% of parents did not provide information support, 85% did not provide instrument support, 75.6% provided emotional support to their daughters related to vaccination. Factors related to the willingness of vaccinations were instrument support (p-value = 0.048). The factor that was considered by most parents to allow their children to be vaccinated was vaccine safety (81.1%). Conclusion: There was a correlation between parental instrument support and HPV vaccination willingness of adolescent girls.
The Improvement of Reproductive Health Knowledge (Vaginal Discharge and Menstrual Pain) of Women Nonik Ayu Wantini; Zahrah Zakiya; Silvia Dewi Styaningrum
Journal of Ners and Midwifery Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v8i1.ART.p055-063

Abstract

Vaginal discharge and menstrual pain are problems that are often faced by women. Women should be able to distinguish between physiological and pathological vaginal discharge, physiological and pathological menstrual pain. Based on the results of previous studies, most women have insufficient knowledge about vaginal discharge and menstrual pain. Health education is an effort to overcome these problems. The purpose of this study was to determine reproductive health care habits, history of menstrual pain and vaginal discharge, differences in knowledge about reproductive health, especially vaginal discharge and menstrual pain before and after health education was given. This study was a quasi-experimental design with one group pre test-post test. The sample was 27 women in Setan Hamlet, Maguwoharjo, Depok, Sleman who were selected by purposive sampling. The instrument used a questionnaire. The data analysis used paired sample t-test. The results showed that 66.7% had carried out routine genetalia care, 29.6% routinely used feminine cleansing soap, 25.9% experienced menstrual pain, vaginal discharge as much as 37%. The mean knowledge before health education was 48.70 (SD 23.59), while the mean knowledge after health education was 87.59 (SD 6.84). There is a difference between knowledge about reproductive health before and after health education is given (p-value = 0.000). The conclusion is that health education increases knowledge about reproductive health.