Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : PIPER

Keanekaragaman Jenis Durian (Durio spp.) Pada Tembawang Desa Sungai Buluh Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang Ria Rosdiana Hutagaol; Andreas Sundrima
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 28 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i28.293

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis durian(Durio spp.) pada kawasan tembawang Desa Sungai Buluh Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang. Penelitian ini dilakukan pada bulan September – Oktober tahun 2018 di Desa Sungai Buluh pada areal Tembawang Sungai Peru dan Tembawang Jelimpau Hulu Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi atau penjelajahan yang digunakan untuk menjelajah lokasi penelitian yaitu Tembawang Sungai Peru dan Tembawang Jelimpau Hulu. Metode ini dimaksudkan untuk menemukan semua jenis durian lokal yang terdapat pada Tembawang Desa Sungai Buluh. Penelitian ini juga menggunakan metode wawancara terhadap masyarakat lokat untuk mendapatkan informasi mengenai nama lokal durian dan pemanfaatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua Tembawang ditemukan enam jenis durian atau dalam bahasa lokal disebut “Rian”, yaitu Durio kutajensis (Rian Tajau), Durio zibethinus (Rian Keban), Durio graveolens (Rian Teroung), Rian Tengka, Rian Adoun dan Rian Kelampai.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BUAH EDIBEL PADA AREAL AGROFORESTRI TEMBAWANG DESA BEDAYAN KABUPATEN SINTANG Ria Rosdiana Hutagaol; sundi sundi
Publikasi Informasi Pertanian Vol 17, No 2 (2021): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v17i2.542

Abstract

Tembawang merupakan suatu areal yang dimanfaatkan oleh masyarakat loal dan dikelolaberdasarkan kearifan lokal masyarakat. Tembawang merupakan suatu bentuk agroforestri khasKalimantan Barat, yang memiliki fungsi ekonomis dan ekologis. Suku Dayak di Kalimantan Barattermasuk di Desa Bedayan Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang juga memiliki suatu areal yangmereka kelola secara turun-temurun yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.Tembawang memiliki fungsi konservasi, karena struktur dankomposisinya yang menyerupai strtukturdan komposisi pada hutan alam, selain itu hasil dari tumbuhan yang diperoleh dari tembawangdimanfaatkan oleh masyarakat secara subsisten guna pemenuhan kehidupan sehari-hari, termasuk jenisbuah-buahan edibel. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi padajalur pengamatan di areal Tembawang, guna menemukan jenis tumbuhan penghasil buah edibel. Untukmelengkapi data nama jenis dalam bahasa setempat dan cara pengolahan buah oleh masyarakat makadilakukan wawancara mendalam dengan responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 (enam)jenis tumbuhan penghasil buah edible pada areal agroforestri tembawang Desa Bedayan, yaitu Durian(Durio zibethinus), Kemantan (Mangifera torquenda Kosterm), Manggis Rimak (Garciniamangostana L), Mentawak (Artocarpus lanceifolius), Panau (Garcinia forbesii), dan Tebedak(Artocarpus cempedens).
INVENTARISASI SERANGGA PADA POHON TEMBESU (Fragraea fragrans Roxb) Ria Rosdiana Hutagaol
Publikasi Informasi Pertanian Vol 12, No 23 (2016): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v12i23.19

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga diurnal (aktif di siang hari) yang terdapat pada Pohon Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif eksploratif. Lokasi penelitian adalah di Desa Jerora I dan Desa Kapuas Kiri Hulu Kabupaten Sintang, selama 2 minggu efektif di lapangan, yaitu bulan Juli 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik inventarisasi dan identifikasi. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui taksonomi serangga diurnal pada Pohon Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Analisis data untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga dilakukan dengan menggunakan index Margalef. Hasil analisis data menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis serangga tergolong rendah yaitu dengan nilai Indeks Keanekaragaman (D mg) sebesar 2,97 pada Lokasi Jerora I dan 2,39 pada Lokasi Kapuas Kiri Hulu.
PENGELOLAAN TEMBAWANG OLEH MASYARAKAT DESA BATU ONAP KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT Ria Rosdiana Hutagaol; Hendra Yanto
Publikasi Informasi Pertanian Vol 18, No 1 (2022): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v18i1.628

Abstract

Tembawang merupakan suatu sistem agroforestri, yang juga sering diistilahkan dengan kebunhutan, karena struktur tajuknya menyerupai struktur hutan alam. Secara umum pengelolaannya dilakukanoleh masyarakat suku dayak secara turun temurun berdasarkan kearifan lokal. Areal tembawangditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terutama tumbuhankayu, buah-buahan serta tumbuhan obat dan pangan. Tembawang Desa Batu Onap merupakan salahsatu tembawang yang terletak di Kabupaten Melawi., yang dalam pengelolaannya dilaksanakanberdasarkan budaya dan pengetahuan masyarakat lokal. Penelitian dilaksanakan di areal TembawangDesa Batu Onap Kabupaten Melawi, pada Bulan Juni-Agustus 2021. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui pengelolaan tembawang oleh masyarakat Desa Batu Onap Kabupaten MelawiKalimantan Barat. Metode penelitian menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam untukmemperoleh gambaran tentang pengelolaan tembawang. Data dianalisis menggunakan analisis Strength,Weakness, Opportunity, Threat (SWOT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal berupakekuatan dan kelemahan memiliki nilai sebesar 0,1358, sedangkan faktor eksternal berupa peluangdan ancaman sebesar -0,0181. Dari hasil SWOT tersebut, maka penggelolaan tembawang beradapada kuadaran III atau strategi diversifikasi.
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYUDI AREAL TEMBAWANG SEMILAS DESA ENSAID PANJANG KABUPATEN SINTANG Ria Rosdiana Hutagaol; Maya Rostika
Publikasi Informasi Pertanian Vol 18, No 2 (2022): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v18i2.681

Abstract

Tembawang (Tawang) Semilas merupakan salah satu bentuk agroforestri tradisional di DesaEnsaid Panjang Kabupaten Sintang yang dikelola secara komunal. Penelitian ini dilaksanakan diTembawang Semilas Desa Ensaid Panjang Kabupaten Sintang yang bertujuan untuk mengetahui jenistumbuhan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan bagaimana pemanfaatannya oleh masyarakat di desatersebut. Metode penelitian menggunakaan eksplorasi dalam jalur dengan Panjang jalur 200 meter danlebar 40 meter, serta metode wawancara untuk mengetahui pemanfaatan tumbuhan hasil hutan bukankayu tersebut oleh masyarakat.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 9 (Sembilan) jenis tumbuhanHasil Hutan Bukan Kayu yang terdapat di areal Tembawang Semilas dan dimanfaatkan oleh masyarakatDesa Ensaid Panjang, yaitu Asam Maram (Eleidoxa conferta), Bajaka (Spatholobus littoralis Hassk),Rasau/Sendas (Pandanus helicopus), Akar entuyut/Kantong Semar (Nepenthes rafflensiana), UwiTunggal/Rotan Cacing (Calamus javensis Blume), Engkerjai, Uwi Segak/Rotan Sagak (Calamuscaesius Blume), Semukau/Pangka Rebah (Spatholobus sp) dan Akar tangkup/Bajakah Lamai(Spatholobus sp.)Jenis tumbuhan hasil hutan bukan kayu ini dimanfaatkan oleh masyarakat untukpemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti bahan obat-obatan tradisional, bahan makanan olahan danbahan kerajinan.
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN PADA SUB DAS SEPAUK DAS KAPUAS KALIMANTAN BARAT Hutagaol, Ria Rosdiana
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.918

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu ekosistem yang kompleks, dimana komponen didalamnya tidak hanya berupa komponen fisik biotik namun juga mencakup komponen sosial (masyarakat). DAS Kapuas merupakan DAS penting dan unik yang secara admisitratif terletak di Kalimantan Barat, dan salah satu Sub DAS yang terdapat didalamnya adalah Sub DAS Sepauk yang secara administratif sebagian besar wilayahnya terdapat di Kabupaten Sintang. Sub DAS Sepauk merupakan salah satu Sub DAS bagian hulu, dengan luas yaitu 123.238,33 hektar, berbentuk memanjang dengan pola aliran dendritik. Sub DAS Sepauk tidak terlepas dari berbagai aktivitas penggunaan lahan oleh masyarakat, yang cenderung merubah tutupan lahan yang berbentuk vegetasi hutan menjadi non-hutan. Penelitian ini dilaksanakan pada Sub DAS Sepauk Kalimantan Barat pada bulan Januari sampai dengan Maret 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe atau bentuk penggunaan lahan (land use) pada Sub DAS Sepauk, DAS Kapuas, Kalimantan Barat. Dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat berupa informasi aktual terkait penggunaan lahan khususnya pada Sub DAS Sepauk yang menjadi bagian dari DAS Kapuas, sehingga secara praktis dapat bermanfaat dalam rangka pengelolaan DAS Kapuas Kalimantan Barat. Analisis dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis spasial dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), untuk mendapatkan Peta Sub DAS Sepauk dan Peta Penggunaan Lahan pada Sub DAS Sepauk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada Sub DAS Sepauk didominasi oleh Pertanian Lahan Kering Campuran dengan luas 9.4231,41 ha (76,46 %), diikuti oleh Hutan Lahan Kering Primer dengan luas 10,350,90 ha ( 8,40 %) dan Hutan Lahan Kering Sekunder dengan luas 9.490,06 (7,70 %).