Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Peningkatan Produksi dan Pengembangan Industri Rumah Tangga (IRT) Ikan Asap di Desa Banyuurip-Ujungpangkah - Gresik M. Arif Zainul Fuad
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v4i1.1059

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi para pengolah ikan asap di Desa Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah Kab Gresik. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra yaitu teknik pengasapan ikan yang membutuhkan waktu yang lama dan kualitas produk ikan asap yang tidak konsisten. Hal ini diduga karena sistem pengasapan dilakukan dengan tungku terbuka yang memiliki kelemahan yaitu  asap dan panas tidak bisa terpusat pada ikan karena masih dipengaruhi oleh angin. Selain itu asap pembakaran seringkali menimbulkan gangguan kesehatan terutama ISPA bagi pekerja. Hambatan lainnya adalah ketersediaan bahan baku yang tidak menentu pada saat musim paceklik ikan. Solusi yang ditawarkan dapat dikategorikan menjadi 2 aspek, yaitu aspek produksi dan manajemen. Aspek produksi ada beberapa kegiatan yaitu peningkatan kapasitas dan kualitas produk dengan memberikan bantuan berupa perbaikan ruang produksi, alat pengasap tipe tertutup, dan Freezer untuk menyimpan produk. Kegiatan selanjutnya yaitu pelatihan cara produksi pangan yang baik (CPPB) dan pelatihan pengemasan produk dengan alat portable sealer. Untuk aspek manajemen, kegiatan yang akan dilakukan yaitu  pelatihan manajemen usaha dan strategi pemasaran. Dengan adanya program ini pada akhir pelaksanaan kegiatan mitra mampu menguasai dan menerapkan teknologi yang diberikan. Bantuan penguatan produksi ikan asap mampu meningkatkan produksi mitra sampai dengan 50% yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan dan daya saing IRT.
Pemantauan Perubahan Garis Pantai Jangka Panjang dengan Teknologi Geo-Spasial di Pesisir Bagian Barat Kabupaten Tuban, Jawa Timur M. Arif Zainul Fuad; Nena Yunita; Rarasrum D. Kasitowati; Nurin Hidayati; Aida Sartimbul
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 1 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i1.11409

Abstract

AbstrakPesisir Tuban bagian barat berpotensi mengalami perubahan garis pantai yang dipengaruhi oleh adanya pembangunan di wilayah pesisir berupa pelabuhan, permukiman, budidaya perikanan, dan reklamasi. Oleh karena itu perlu adanya pemantauan dinamika pesisir, kerusakan pesisir, dan perencanaan pembangunan pada kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren perubahan garis pantai jangka panjang dalam kurun waktu 1973-2018 dan memprediksi garis pantai di Tuban bagian barat. Penelitian ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemantauan perubahan garis pantai di pantai dengan Citra Landsat tahun 1973, 1988, 1998, 2008, 2017, and U.S Army Map Service tahun 1964. Perhitungan perubahan garis pantai menggunakan aplikasi Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan menggunakan metode Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) untuk menganalisis perubahan garis pantai yang telah terjadi, sedangkan metode Linear Regression Rate (LRR) digunakan untuk memprediksi perubahan garis pantai pada 10 tahun mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pantai Tuban bagian barat akresi terbesar terjadi di Desa Remen yaitu sejauh 323 m dengan laju akresi sebesar 7,32 m/tahun. Sebaliknya abrasi tertinggi dialami oleh Desa Mentosa dengan rata-rata jarak abrasi sebesar 181,90 m dan rata-rata laju abrasi sejauh 4,11 m/tahun. Prediksi perubahan garis pantai untuk 10 tahun kedepan mengindikasikan terjadinya akresi di Desa Glodonggede dan abrasi di Desa Mentosa.Kata kunci: Garis Pantai, Akresi, Abrasi, Pemantauan, DSASAbstractThe western Tuban coast has the potential to experience shoreline changes influenced by the development in coastal areas in the form of ports, settlements, aquaculture and reclamation. Therefore, it is necessary to monitor coastal dynamics, coastal damage, and development planning in coastal areas. This study aims to determine the trend of long-term shoreline changes in the period 1973-2018 and predict coastlines in the western part of Tuban. This study uses remote sensing technology and Geographic Information System (GIS) to monitor changes in coastlines on the western coast of Tuban Regency with Landsat imagery in 1973, 1988, 1998, 2008, 2017, and US Army Map Service in 1964. Calculation of shoreline changes using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) application using Net Shoreline Movement (NSM) and End Point Rate (EPR) methods to determine shoreline changes, while the Linear Regression Rate (LRR) method is used to predict shoreline changes in the next 10 years. The results showed that in the western part of Tuban Beach the largest accretion occurred in the village of Remen which was 323 m with an accretion rate of 7.32 m / year. Conversely, the highest abrasion was experienced by Mentosa Village with an average abrasion distance of 181.90 m and an average abrasion rate of 4.11 m / year. Predictions of shoreline changes for the next 10 years indicate the occurrence of accretion in Glodonggede Village and abrasion in Mentosa Village Keywords: Shoreline, Accretion, Abrasion, Monitoring, DSAS 
Spatial Distribution of Heavy Metals in the Surface Sediments of the Southern Coast of Pacitan, Indonesia Defri Yona; Mochamad Arif Zainul Fuad; Nurin Hidayati
Indonesian Journal of Chemistry Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.848 KB) | DOI: 10.22146/ijc.22400

Abstract

This study was conducted to analyze the spatial distribution of heavy metals from four different coastal areas in southern Pacitan, Indonesia: Pantai Watu Karung (WK), Pantai Teleng Ria (TL), Pantai Pancer (TP) dan Pantai Soge (SG). Data collected in this study included: temperature, salinity, DO, pH, sediment, organic matter and heavy metals in the sediments (Pb, Hg and Cd). The results showed different distribution patterns of heavy metals. Heavy metal concentrations, especially Pb and Hg, were found to be higher in Pantai Soge, while the concentration of Cd was higher in Pantai Pancer. An ANOVA test showed the distributions of Pb and Cd were significantly different (p < 0.01) between sampling sites. Variability of the physicochemical parameters influenced the variabilities of heavy metal concentrations among sampling sites. Overall, heavy metal concentrations in the study areas are rather low; however, attention is still needed due to heavy activities in the coastal areas of southern Pacitan that can contribute to heavy metal pollution.
Introduction of appropriate technology for SMEs of fish cracker in Gresik City Mochamad Arif Zainul Fuad; Feni Iranawati; Hartati Kartikaningsih
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol 7, No 1 (2022): February 2022
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v7i1.5897

Abstract

This community service activity aims to improve the efficiency and competitiveness of Small, Micro, and Medium Enterprises (SMEs) of fish crackers in Pangkahkulon Village, Ujung Pangkah District, Gresik Regency through the introduction of appropriate technology or “Teknologi Tepat Guna” (TTG) in the form of an automatic cracker dough cutting machine. The problem experienced by community service partners is that the thickness of the crackers is not uniform and requires a long cutting time. Through this community service program, partners are provided with automatic cracker cutting machines. In contrast to the many different cutting machines on the market, this machine can directly cut 4-6 pieces at once in one cut, thus producing more slices and saving production time. The results of the practice of using this machine show that this machine can cut very well with a thickness of 1.5-4 mm according to the needs of partners. The thickness of the crackers produced is 2.5±0.3 mm and 2.9±0.3mm which is very in line with the partner's expectations, while if the partner cuts manually the slice thickness is 2.9±0.5 mm and 2.5±0.6mm. The use of this machine also cuts the time for cutting the cracker dough to less than half before, from 2 hours to 1 hour even with a larger amount of cracker dough. The application of appropriate technology can increase the quantity, quality and competitiveness of fish cracker SMEs in Pangkahkulon Village.
Pemodelan tumpahan minyak (oill spill) pada perairan Kepulauan Riau menggunakan perangkat lunak general NOAA oil modelling environment (GNOME) Najwa Tiara Maharani; Agus Setiawan; M. Arif Zainul Fuad
Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jikk.v5i1.4856

Abstract

Analysis of Coastline Changes in Palu Bay, Central Sulawesi after the 2018 Tsunami Based on Sentinel 1 Satellite Imagery Using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) Method Mochamad Arif Zainul Fuad; Fikri Hardiansyah; Bambang Semedi
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 27, No 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.304-312

Abstract

The Palu-Donggala earthquake that occurred on September 28, 2018 caused additional disasters in the form of liquefaction and tsunami. The tsunami that hit the coastal area of Palu Bay caused considerable damage, indicating a change in the coastline. The purpose of this study was to determine the changes in the coastline that occurred in Palu Bay, Palu City, Central Sulawesi as a result of the Tsunami. The data used in this study are Sentinel 1 satellite imagery before and after the Tsunami occurred. The coastline at each time is obtained from the extraction of Sentinel 1 satellite imagery. Analysis of shoreline change uses quantitative descriptive techniques with the help of the DSAS tool with change analysis based on the Net Shoreline Movement (NSM) method which is integrated with ArcGIS software. The results show that there has been a significant change in the coastline in Palu Bay, Palu City, Central Sulawesi. Coastline changes that occur are in the form of abrasion and accretion conditions, but are more dominated by abrasion. The highest abrasion of -167.53m is found on transect 309 which is located in the District of Mantikulore, and the lowest abrasion value of -0.43m is found on transect 242 which is located in the Ulujadi District. Meanwhile, the highest accretion value of 47.27m is found on transect 105 which is located in the West Palu District, and the lowest abrasion value of 0.56m is found on transect 68 which is also located in the West Palu District. The magnitude of the change in coastline that occurred in Palu Bay, Palu City, Central Sulawesi after the Tsunami was influenced by the openness of the coastal area to wave blows, the oval and narrow morphology of Palu Bay and the occurrence of ground deformation in the Palu-Koro Fault
PEMETAAN DAN PEMODELAN RIP CURRENT PADA KAWASAN WISATA PANTAI TELUK POPOH TULUNGAGUNG JAWA TIMUR M. Arif Zainul Fuad; Christian Harel; M. Furqon Azis Ismail
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 15, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/maspari.v15i1.16341

Abstract

Wilayah pantai merupakan area yang biasa digunakan oleh para wisatawan untuk rekreasi. Namun, kasus kecelakaan pada wilayah pantai sendiri masih sangat tinggi yang mana salah satu faktor penyebabnya adalah rip current. Berdasarkan data dari Kantor Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur bahwa terdapat 23 kasus korban terbawa arus dari tahun 2002 – 2012. Maka dari itu, diperlukan adanya observasi maupun prediksi terhadap kemunculan rip current pada Teluk Popoh. Penelitian ini bertujuan untuk menduga titik lokasi potensi kemunculan rip current; mengetahui karakteristik dan tipe rip current; dan mengetahui pengaruh parameter oseanografi terhadap potensi kemunculan rip current pada kawasan wisata Teluk Popoh. Data yang digunakan adalah data angin, gelombang, batimetri, pasang surut, kemiringan pantai, foto udara, dan citra satelit Digital Globe.  Penelitian dilakukan dari tanggal 19 Desember 2019 hingga 14 Februari 2020 yang terdiri dari survei lokasi; pengambilan data batimetri, pasang surut, dan foto udara di lapang; pengolahan data primer dan sekunder.  Identifikasi potensi kemunculan rip current dilakukan secara visual melalui citra satelit Digital Globe, foto udara dan pemodelan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi indikasi kemunculan rip current jika diidentifikasi berdasarkan ciri – cirinya.  Selain itu, titik lokasi dan waktu kemunculan serta karakteristik dari rip current pada Teluk Popoh bervariasi tergantung pada faktor – faktor yang mempengaruhinya seperti perubahan musim, tinggi gelombang, kemiringan pantai, batimetri, keberadaan beach cusps, bentuk pantai, dan tipe pantai.
Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java) M. Arif Zainul Fuad; Abu Bakar Sambah; Andik Isdianto; Awalrush Andira
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.58 KB) | DOI: 10.13170/depik.5.3.5655

Abstract

The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area  approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 Ha
Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java) M. Arif Zainul Fuad; Abu Bakar Sambah; Andik Isdianto; Awalrush Andira
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.5.3.5655

Abstract

The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area  approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 Ha
Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java) M. Arif Zainul Fuad; Abu Bakar Sambah; Andik Isdianto; Awalrush Andira
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.5.3.5655

Abstract

The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area  approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 Ha