Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

POTENTIAL OF ENDOPHYTIC FUNGI DERIVING FROM ASIATIC PENNYWORTH TO PRODUCE ANTIOXIDANTS Dwi Ningsih Susilowati; Nani Radiastuti; Nurhasni Nurhasni; Lisca Puji Rustanti; Ika Roostika Tambunan
Indonesian Journal of Agricultural Science Vol 22, No 2 (2021): DECEMBER 2021
Publisher : Indonesian Agency for Agricultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/ijas.v22n2.2021.p58-65

Abstract

Asiatic pennyworth is a medicinal plant that contains triterpenoids, saponin, flavonoids, and tannins which possess antioxidants. Endophytic fungi from the plant could produce a similar compound; therefore, antioxidants could be made in the laboratory if the fungi are isolated. This study aimed to evaluate the potential of endophytic fungi isolated from Asiatic pennyworth to produce antioxidants. The study used 34 endophytic fungal isolates from Asiatic pennyworth accessions of Malaysia (17 isolates) and Bengkulu, Indonesia (17 isolates) collected by the Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development. The fungi were propagated in a potato dextrose broth medium, then mycelia mats and filtrates were separated and then freeze-dried. The antioxidant activities were first tested with 1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl (DPPH) using thin layer chromatography (TLC), then UV-Vis spectrophotometry λ517 nm with five variations of concentration. Results showed all 34 fungal isolates have antioxidant activities based on a yellowish-white color change after applying 0.002% DPPH solution of the TLC method and IC50 value of the UV-Vis spectrophotometer. The highest antioxidant activity was shown by Aspergillus austroafricanus MB 1 (IC50 = 12.08 ppm) from Bengkulu accession and A. oryzae MM 13 (IC50 = 10.29 ppm) from Malaysia accession. A. austroafricanus MB 1 produced more antioxidant compounds (seven) than A. oryzae MM 13 (six). The antioxidant compounds produced by both endophytic fungi included in the group of flavonoids, fatty acids, and carboxylic acids. The research implies that A. austroafricanus MB 1 and A. oryzae MM 13 could be further developed as sources of antioxidants.
ANALISIS STRUKTUR DAN POROSITAS KOMPSOSIT Fe3O4-KARBON AKTIF DARI LIMBAH KERTAS SEBAGAI ADSORBEN MAGNETIK Adel Fisli; Rahma Dina Safitri; Nurhasni Nurhasni; Deswita Deswita
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 19, No 4: JULI 2018
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.498 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2018.19.4.4886

Abstract

ANALISIS STRUKTUR DAN POROSITAS KOMPOSIT Fe3O4-KARBON AKTIF DARI LIMBAH KERTAS SEBAGAI ADSORBEN MAGNETIK. Komposit partikel magnet-karbon aktif dari limbah kertas telah berhasil dibuat. Karbon aktif dibuat dengan cara bahan kertas bekas dibakar dan selanjutnya direndam dalam asam kuat. Komposit Fe3O4-karbon aktif dibuat dengan mencampurkan garam besi Fe3+/Fe2+ (rasio mol 2 : 1) dengan suspensi karbon aktif dalam air. Larutan campuran garam besi-karbon aktif ditambahkan larutan NaOH tetes demi tetes pada kondisi suhu 70 oC. Analisis struktur, morfologi, ikatan kimia, sifat magnet dan porositas diselidiki dengan berbagai alat, berturut-turut menggunakan alat XRD, SEM, FTIR, VSM dan adsorpsi-desorpsi N2 Quantasorb. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa nanopartikel Fe3O4 telah berhasil tercangkok pada struktur karbon melalui interaksi gugus hidroksil. Bahan komposit mempunyai sifat magnetik berkelakuan superparamagnetik. Keberadaan nanopartikel Fe3O4 pada struktur karbon membentuk sistem mesopori baru, dimana volume pori meningkat dari 0,07 cc/g menjadi 0,464 cc/g (meningkat 6 kali untuk karbon tanpa aktivasi dan meningkat dari 0,1053 cc/g menjadi 0,525 cc/g (meningkat 5 kali) untuk karbon aktivasi dengan sebaran ukuran pori rata-rata 17,5 nm. Hasil uji adsorpsi menunjukkan bahwa senyawa fenol dan metil jingga hanya mampu diserap 30% dalam larutan air, tetapi untuk senyawa metilen biru mampu diserap 96,3% pada kondisi yang sama. Bahan komposit partikel magnet Fe3O4/karbon aktif limbah kertas dapat digunakan sebagai bahan alternatif menghilangkan zat warna metilena biru dalam limbah cair.
Peningkatan Aktivitas Enzim Selulase dan Produksi Glukosa Melalui Fermentasi Substrat Jerami Padi Dengan Fungi Aspergillus niger yang Dipapari Sinar Gamma Nana Mulyana; Tri Retno Dyah Larasati; Nurhasni Nurhasni; Meliana Ningrum
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.664 KB) | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas enzim selulase dan produksi glukosa dalam substrat jerami padi dengan fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma Chamber 4000A. Kaldu kentang dektrosa (PDB), garam mineral dengan substrat jerami padi 0 dan 5% berat/volum digunakan sebagai medium cair. Fungi Aspergillus niger dalam media agar miring (slent) dipapari dengan iradiasi gamma pada dosis 0 (kontrol),125, 250, 375, 500 dan 625 Gy. Fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma 500 Gy memiliki aktivitas selulase  lebih tinggi (2,5 kali) dibanding kontrol (0 Gy) yaitu 2,02 U/ml-2,28 U/ml untuk fungi yang dipapari iradiasi gamma dan 0,60 U/ml-1,12 U/ml untuk kontrol. Pada fermentasi fase padat substrat jerami padi dengan kadar kelembaban awal 81% selama 14 hari menggunakan fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma 500 Gy dan kontrol. Hasilnya menunjukkan bahwa  fungi Aspergillus niger 500 Gy memiliki aktivitas selulase lebih tinggi (3,9 kali) dibandingkan kontrol yaitu 31,01 U/g untuk fungi yang dipapari sinar gamma dan 7,85 U/g untuk kontrol. Di samping itu, fungi Aspergillus niger (500 Gy) mampu memproduksi glukosa lebih tinggi (2,6 kali) yaitu 125,79 mg/g sedangkan kontrol (0 Gy) adalah 48,00 mg/g. Penggunaan ekstrak enzim kasar yang dihasilkan oleh fungi Aspergillus niger yang dipapar sinar gamma 500 Gy sesuai untuk hidrolisis substrat jerami padi dalam memproduksi glukosa serta mampu meningkatkan aktivitas selulase. Kata kunci : Aspergillus niger, iradiasi gamma, aktivitas selulase, glukosa, fermentasi padat
Penggunaan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dan Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Sebagai Koagulan Alami Dalam Perbaikan Kualitas Air Tanah Hendrawati Hendrawati; Delsy Syamsumarsih; Nurhasni Nurhasni
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 3, No.1, Mei 2013
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.211 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v3i1.326

Abstract

AbstrakPenggunaan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dan Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Sebagai Koagulan Alami dalam Perbaikan Kualitas Air Tanah telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan serbuk biji asam jawa dan biji kecipir sebagai biokoagulan untuk memperbaiki kualitas air dan pengaruhnya terhadap parameter kualitas air, yang meliputi: temperatur, pH, konduktivitas, kekeruhan, oksigen terlarut, kandungan logam berat, dan total koliform. Hasil jar test diperoleh dosis optimum 0,009% (penurunan turbiditas 99,72%) untuk biji asam jawa dan 0,03% (penurunan turbiditas  92,03%) untuk ekstrak biji kecipir. Nilai pH optimum diperoleh pada pH 3 untuk kedua jenis biokoagulan. Penggunaan ekstrak biji asam jawa dan biji kecipir dan tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap parameter temperatur, pH, konduktivitas,dan logam berat. Penggunaan ekstrak biji kecipir dan biji asam jawa tidak menurunkan angka BOD. Ekstrak biji asam jawa mampu menurunkan angka total koliform sedangkan ekstrak biji kecipir tidak efektif dalam  menurunkan angka total koliform. Kata Kunci: Koagulasi, Asam jawa (Tamarindus indica L.), Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.), Jar test, Air tanah, MPN.Abstrack The Use of Tamarind Seeds (Tamarindus indica L.) and Winged Bean Seeds (Psophocarpus tetragonolobus L.) As Natural Coagulant in Groundwater Quality Improvementhas been done. The aims of this study is to determine the ability of tamarind seeds and winged bean seeds as biocoagulant to improve water quality and its effect on water quality parameters, which include: temperature, pH, conductivity, turbidity, dissolved oxygen, heavy metal content, and total coliform. Jar test results obtained optimum dose of 0.009% (99.72% reduction in turbidity) to tamarind seeds and 0.03% (92.03% reduction in turbidity) to winged bean seeds. The optimum pH obtained at pH 3 for both types of biocoagulant. The use of tamarind seeds and winged bean seeds does not have much influence on the parameters of temperature, pH, conductivity, and heavy metals. They also did not reduce the number of BOD. Tamarind seeds reduce the number of  total coliform while winged bean seeds are not effective in reducing the number of total coliform. Keywords: Coagulation, Tamarind (Tamarindus indica L.), Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus L.), Jar test, Groundwater, MPN. 
Pemanfaatan Kulit Kacang Tanah (Arachis hipogaea L.) sebagai Adsorben Zat Warna Metilen Biru Nurhasni Nurhasni, M.Si; Reski Mar'af; Hendrawati Hendrawati
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 4, No. 2, November 2018
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.499 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v4i2.8895

Abstract

Dye waste is a major problem in controlling environmental impacts. Dyestuff waste is an organic compound that is difficult to decompose, resistant, and toxic. If the waste is discharged into the water, it will cause environmental pollution. Research on the absorption of dyestuff of methylene blue by activated peanut shells has been carried out. The purpose of this study was to determine the adsorption efficiency, adsorption capacity, optimum conditions of dye adsorption including variation of contact time, adsorbent concentration, pH, and dye concentration. Adsorption test is carried out by batch method using a shaker. The adsorbent was then analyzed using FT-IR and SEM instruments. The results showed that, after activating the adsorbent had a better character than before activated. Peanut skin that has been activated with optimum NaOH against methylene blue, optimum conditions for adsorption of methylene blue dyestuff with 60 minutes contact time with alkaline activation adsorbent, optimum adsorbent concentration 1%, 50 ppm dye concentration, adsorbent size <180 μm, pH 9 The adsorption isotherm pattern follows the Freundlich isotherm.  
Penyerapan Ion Aluminium dan Besi dalam Larutan Sodium Silikat Menggunakan Karbon aktif Nurhasni Nurhasni; Florentinus Firdiyono; Qosim Sya’ban
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.4, Mei 2012
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.968 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i4.269

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap kemampuan karbon aktif sebagai adsorben untukmenyerap ion Al dan Fe dalam larutan sodium silikat. Penelitian ini dilakukan dalamskala laboratorium menggunakan metode batch. Penentuan kondisi optimum meliputi massaadsorben, pH, waktu kontak dan temperatur larutan. Hasil analisis dengan Spektrofotometer SerapanAtom (SSA) menunjukkan efisiensi adsorpsi tertinggi oleh karbon aktif aktivasi HCl padalarutan sodium silikat mencapai 88,43% untuk ion Al dan 41,6% untuk ion Fe, sedangkan padakarbon aktif aktivasi H2SO4 57,09 % untuk ion Al dan 35 % untuk ion Fe dan karbon aktifkomersil menyerap ion Al sebesar 87,74% dan 11,35% untuk ion Fe.
Pengolahan Limbah Industri Elektroplating Dengan Proses Koagulasi Flokulasi Nurhasni Nurhasni; Zainus Salimin; Ita Nurfitriyani
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 3, No.1, Mei 2013
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.753 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v3i1.328

Abstract

Penelitian pengolahan limbah industri elektroplating dengan proses koagulasi flokulasi telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan dengan koagulan FeCl3 dalam menurunkan kandungan logam berat pada limbah elektroplating, rasio massa koagulan dan limbah, pH optimum dan massa KI optimum untuk mereduksi Cr6+ menjadi Cr3+. Hasil jar test diperoleh pH optimum yaitu pH 8. Massa optimum KI untuk mereduksi Cr6+ menjadi Cr3+ yaitu 0,3 g. Penurunan kadar krom dengan proses reduksi sebesar 83,36 mg/L atau persentase penyisihan sebesar 95,02 %  sedangkan penurunan optimal kadar Cr tanpa reduksi yaitu sebesar 87,32 mg/L atau 99,51 %. Penggunaan koagulan FeCl3 pada pengolahan limbah industri elektroplating dapat menurunkan kadar logam berat Fe, Cr, Zn, Cu, Ni dan Mn sampai pada nilai baku mutunya.   Kata Kunci : Koagulasi flokulasi, Ferri klorida, Limbah simulasi elektroplating, Jar test, SSA.
Monitoring and Evaluation of Student and Education Elements for Chemistry Undergraduate Program Based on National Accreditation (Monitoring dan Evaluasi Unsur Mahasiswa dan Pendidikan Program Studi Kimia Berbasis Akreditasi Nasional) La Ode Sumarlin; Nurhasni Nurhasni; Nur Ernita
Shautut Tarbiyah Vol 28, No 2 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v28i2.3559

Abstract

Monitoring and evaluation can help universities to better understand the exchange of information that occurs in their business processes. One of them is student activities and education as well as educational outcomes which are the criteria in the national accreditation process. This also happened to the Chemistry Study Program of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The results of a literature study through the Academic Information System (AIS) data of UIN Jakarta, field data collection and Focus Group Discussions (FGD) showed that the student element, as well as the balance of the ratio of students to lecturers and education staff, supported the implementation of effective and efficient learning. Elements of education such as policy and curriculum development, curriculum conformity with the field of study program science along with the strengths and advantages of the curriculum, academic culture, learning process, assessment system, and quality assurance system have also been running optimally, but need to be improved. Elements of educational outcomes in aspects of graduate GPA, study period, timely graduation, and study success are quite optimal with a score of 3.68 - 4.00. Elements of student achievement in academic and non-academic fields still need to be improved, especially the aspect of consistency in achievement every year. Meanwhile, elements such as waiting time, suitability of the field of work and the level of satisfaction of graduate users whose scores are still low, need to increase aspects of the number of respondents, the validity of the number of graduates each year, and the quality of implementation of activities.Keywords: Accreditation, Education, Monitoring and Evaluation, Quality Assurance, Student Affairs
Kadar Logam Merkuri (Hg) dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna viridis L.) di Kalibaru Timur dan Muara Kamal La Ode Sumarlin; Alfionita Octa Nur Zidni; Nurhasni Nurhasni; Hendrawati Hendrawati; Meyliana Wulandari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.264-269

Abstract

Kerang merupakan golongan Mollusca yaitu hewan lunak tidak memiliki organ hati untuk menghancurkan benda asing di dalam tubuhnya, sehingga kerang hijau bersifat filter feeder atau penyaring. Kerang hijau yang berasal dari perairan Jakarta diketahui sudah tercemar oleh logam merkuri. Merkuri pada kerang hijau merupakan salah satu logam berat yang berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia lebih dari 1,0 mg/kg berat badan. Oleh karena itu perlu diketahui kadar logam merkuri dan nilai batas aman konsumsi pada kerang hijau. Kerang hijau yang diambil dari Kalibaru Timur dan Muara Kamal diuji dengan metode sesuai SNI 2354.6:2016 menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom Uap Dingin (SSA-UD). Hasil analisis menunjukkan bahwa kerang hijau dari kedua lokasi memiliki nilai Target Hazard Quotient (THQ) < 1 sehingga tidak berpotensi terhadap risiko kesehatan individu yang mengonsumsi. Kadar merkuri kerang hijau yang berasal dari Kalibaru Timur memiliki rata-rata sebesar 0,0583 mg/kg dan dari Muara Kamal memiliki rata-rata sebesar 0,2994 mg/kg. Nilai Maximum Tolarable Intake (MTI) kerang hijau dari Kalibaru Timur untuk individu dengan berat badan 15 kg sebesar 1,0291 kg per minggu dan dari Muara Kamal sebesar 0,2004 kg per minggu. Nilai MTI kerang hijau dari Kalibaru Timur untuk individu dengan berat badan 60 kg sebesar 4,1166 kg per minggu dan dari Muara Kamal sebesar 0,8016 kg per minggu.