Ira Pramudawardhani
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERJUANGAN DAN PEMIKIRAN R.A. KARTINI TENTANG PENDIDIKAN PEREMPUAN Ira Pramudawardhani; Eni Estiana
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v1i1.322

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perjuangan dan pemikiran RA. Kartini dalam bidang pendidikan bagi kaum wanita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang terdiri dari heuristik, kritik ekstern dan intern, interpretasi, historiografi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa R.A. Kartini memandang pendidikan adalah suatu hal sangat penting. Pendidikan akan kuasa mengangkat derajat dan martabat bangsa. Pendidikan yang ia maksudkan juga merupakan pendidikan yang dapat diterima oleh semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan. Pendidikan yang dicita-citakan Kartini ialah pendidikan yang mengedepankan pendidikan budi pekerti dan pembinaan watak, dan dijalankan dengan sistem peraturan yang dibuat Kartini sendiri.
Integrasi Nilai Kewirausahaan dalam Pembelajaran Sejarah: Analisis Model Pembelajaran Berbasis Tokoh Wirausahawan Sejarah Indonesia Andriyanto, Andriyanto; Muslikh; Ira Pramudawardhani
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 6 No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v6i2.5334

Abstract

Transformasi pendidikan menuntut pembelajaran sejarah yang lebih relevan dengan tantangan abad ke-21. Integrasi nilai kewirausahaan dalam pembelajaran sejarah bertujuan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha peserta didik dengan mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh wirausahawan sejarah Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis model pembelajaran berbasis tokoh wirausahawan sebagai strategi integrasi nilai kewirausahaan dalam sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh-tokoh seperti Haji Samanhudi, Tirto Adhi Soerjo, dan Nitisemito memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi Indonesia. Nilai-nilai kewirausahaan seperti kreativitas, inovasi, kegigihan, dan kepemimpinan dapat diidentifikasi dalam biografi mereka dan diintegrasikan dalam pembelajaran sejarah melalui pendekatan kontekstual. Model pembelajaran berbasis tokoh ini dirancang untuk menghubungkan sejarah dengan keterampilan praktis, mendorong refleksi kritis, serta meningkatkan minat peserta didik terhadap kewirausahaan. Kesimpulannya, model ini berpotensi meningkatkan relevansi pembelajaran sejarah dan membekali peserta didik dengan wawasan kewirausahaan yang aplikatif. Disarankan adanya pengembangan kurikulum yang lebih fleksibel, pelatihan guru interdisipliner, serta penelitian lebih lanjut mengenai dampak model ini terhadap pemahaman sejarah dan minat kewirausahaan peserta didik.
Candi Sebagai Representasi Kekuasaan dan Studi Arsitektur Politik Masa Hindu-Buddha di Jawa Ira Pramudawardhani
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 6 No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v6i2.7336

Abstract

Candi-candi yang tersebar di wilayah Jawa pada masa Hindu-Buddha bukan hanya sekadar bangunan religius, melainkan juga sebagai simbol politik yang merepresentasikan kekuasaan raja dan legitimasi ideologi kerajaan. Arsitektur candi menjadi sebuah sarana ekspresi kekuasaan spiritual dan temporal yang saling terhubung.Artikel/ Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana candi bisa juga digunakan sebagai Instrumen Representasi Kekuasaan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, khususnya dalam Aspek Arsitektural dan tata letaknya Metode yang digunakan adalah Pendekatan Kualitatif Historis dengan Studi Pustaka dan Analisis Visual terhadap beberapa Candi besar seperti Borobudur, Prambanan, dan Penataran. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Candi menyiratkan Struktur Sosial-Politik, Ideologi Kerajaan, serta hubungan antara Raja, Dewa, dan Rakyat. Simbolisme Vertikal, Orientasi Kosmologis, Serta Relief-relief mitologis adalah bagian dari Strategi Visualisasi Kekuasaan. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa candi merupakan Manifestasi Politik sekaligus Religius dalam lanskap Budaya Jawa klasik.
TRACING THE EARLY EMERGENCE AND DEVELOPMENT OF THE CONCEPT OF HISTORICAL LITERACY IN THE 20TH CENTURY: Menelusuri Awal Kemunculan dan Perkembangan Konsep Literasi Sejarah Pada Abad ke-20 Wildhan Ichzha Maulana; I Made Ratih Rosanawati; Fauzi Rachman; Ira Pramudawardhani; Miskawi
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.7657

Abstract

Historical literacy studies have so far tended to focus on its implementation in schools, but the emergence and theoretical development of this concept in the 20th century have not been widely discussed. In fact, the conceptualization of historical literacy in the 20th century serves as a reference its implementation of historical literacy today in almost all schools worldwide, including in Indonesia. It adopts a qualitative library research method, then analyzes the data using Klaus Krippendorff's content analysis model, and strengthens the credibility of the data through source triangulation. The results illustrate that the concept of historical literacy was first formulated by Harry Scheiber in 1978, emphasizing the importance of in-depth knowledge of historical content. In 1989, Diane Ravitch also formulated a similar concept, emphasizing the importance of understanding and remembering the accumulation of historical facts (especially those related to official American history) to improve students' historical knowledge in America, which had declined drastically. In 1991, the concept of historical literacy was refined by Sam Wineburg, emphasizing the strengthening of historical methodological skills such as heuristics, verification, and contextualization. Meanwhile, in the context of current history learning in Indonesia, the concept of historical literacy formulated by Sam Wineburg is apparently relevant to the objectives of history learning in the ‘2013 Curriculum’ and the ‘Merdeka Curriculum’, which both emphasize historical thinking skills through research-based inquiry processes and strengthening historical literacy.