Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN DAN METODE MANUAL DESAIN PERKERASAN 2013 (STUDI KASUS: RUAS JALAN BANDARA REMBELE KABUPATEN BENER MERIAH – BATAS KABUPATEN ACEH TENGAH Syammaun, Tamalkhani; Rachman, Firmansyah; Wahyuni, Tya
Tameh Vol. 7 No. 2 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/yegj9k60

Abstract

Perencanaan tebal suatu struktur perkerasan jalan merupakan salah satu bagian dari rekayasa jalan yang bertujuan memberikan pelayanan terhadap arus lalu lintas sehingga memberikan rasa aman dan nyaman terhadap pengguna jalan. Kesesuaian dan ketetapan dalam menentukan parameter pendukung dan metode perencanaan tebal perkerasan yang digunakan, sangat mempengaruhi efesiensi penggunaan biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan. Pada proses perencanaan tebal lapis perkerasan jalan raya ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain metode AASHTO 93, metode Asphalt institute, Metode Analisa Komponen (MAK) dan Metode Manual Desain Perkerasan (MDP) 2013. Masing-masing dari metode tersebut telah diaplikasikan dalam perhitungan tebal perkerasan jalan di Indonesia. Dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan untuk menganalisa dua dari metode tersebut agar didapatkan perencanaan tebal perkerasan yang lebih efisien dan ekonomis dan sesuai dengan kondisi lapangan dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan tebal perkerasan lentur yang dihitung dengan menggunakan metode MAK dan metode MDP 2013 pada ruas jalan Bandara Rembele Kabupaten Bener Meriah. Dari hasil penelitian didapatkan tebal perkerasan masing-masing metode perhitungan yaitu tebal perkerasan dengan Metode MAK untuk lapis permukaan atas (surface) adalah 8 cm, lapis pondasi atas (base course) 40 cm, pondasi bawah (subbase course) 20 cm, dan untuk tebal timbunan pilihan sebesar 50 cm. Sedangkan tebal perkerasan dengan metode MDP 2013 untuk lapisan AC-WC adalah 4 cm, lapis AC-BC 6 cm, dan lapisan AC-Base 14,5 cm, serta untuk tebal lapisan LPA sebesar 30 cm. Hasil tebal perkerasan lentur dari kedua metode menunjukkan metode MDP 2013 lebih efisien dan ekonomis, dilihat dari segi biaya dan umur rencana yang telah diperhitungkan.
PENGARUH LIMBAH BATU BARA SEBAGAI FILLER TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL DAN INDEK KEKUATAN SISA (IKS) PADA CAMPURAN ASPAL BETON AC-WC Rachman, Firmansyah; Syammaun, Tamalkhani; Heikal, Fadjra
Tameh Vol. 8 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jv3xze23

Abstract

Penambangan batubara di Indonesia banyak menghasilkan limbah berupa abu batubara. Salah satunya ialah Batubara yang terdapat di Nagan Raya, memiliki kandungan silika (Si O2) lebih banyak daripada jenis lainnya. Berdasarkan literatur, penggunaan sulfur dalam campuran beraspal dapat meningkatkan stabilitas Marshall. Penelitian ini dilakukan untuk mendukung penelitian sebelumnya tentang filler dan untuk memperbaik mutu dalam campuran beraspal. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh abu batubara sebagai filler terhadap karakteristik dan indeks kekuatan sisa pada campuran aspal beton AC-WC. Penelitian ini menggunakan metode marshall dan indeks kekuatan sisa (IKS). Aspal yang digunakan penelitian ini merupakan aspal pertamina Pen 60/70 dengan penambahan limbah abu batubara pada variasi 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% sebagai filler. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pengambilan material lalu dilanjutkan dengan sifat-sifat fisis agregat sehingga dapat diketahui apakah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Pada penelitian ini banyak benda uji/sampel KAO sebanyak 25 buah benda uji. Dengan memperoleh kadar aspal 6,1 yang bakal dipakai pada 6 variasi dimana pervariasi 5 sampel benda uji. Untuk variasi yang menggunakan abu batubara yaitu sebanyak 30 buah benda uji satu diantara benda uji akan dilakukan indek kekuatan sisa (IKS). Jadi jumlah total benda uji yang dibuat yaitu sebanyak 55 benda uji. Hasi penelitian menunjukkan peggunaan abu batubara sebagai filler pada parameter marshall semuanya memenuhi spesifikasi begitu juga dengan indeks kekuatan sisa (IKS) dimana > 80 sehingga hasil nilai tertinggi pada IKS yaitu pada variasi 3% dengan nilai 102.50.
PERBANDINGAN METODE GREENSHIELD DAN GREENBERG PADA RUAS JALAN JENDERAL AHMAD YANI TERHADAP PENGARUH KARAKTERISTIK LALU LINTAS Syammaun, Tamalkhani; Rachman, Firmansyah; Nanditha, Dwi Murza Nanditha
Tameh Vol. 9 No. 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/b4t43754

Abstract

Setiap tahun pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan terus meningkat sehingga menimbulkan persoalan terhadap tundaan pergerakan arus lalu lintas. Pada Jalan Jenderal Ahmad Yani Kota Langsa tundaan pergerakan terjadi karena jalan tersebut berada pada daerah perkotaan sehingga terdapat fasilitas umum seperti perkantoran, rumah sakit, sekolah dan lain-lain. Selain itu tundaan pergerakan juga terjadi karena adanya hambatan samping seperti kendaraan yang parkir pada badan jalan. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap karakteristik lalu lintas seperti bertambahnya volume lalu lintas, berkurangnya kecepatan dan meningkatnya kepadatan. Ketiga parameter tersebut yang menentukan nilai matematis kapasitas jalan yang dianalisis menggunakan metode Greenshield dan Greenberg. Dari pemodelan tersebut maka diperoleh nilai koefisien determinasi (R²) tertinggi yaitu 0,852 untuk hubungan kecepatan dengan kepadatan, kemudian diperoleh nilai R2 tertinggi 0,986 untuk hubungan volume dengan kepadatan dan nilai R2 tertinggi 0,750 untuk hubungan volume dengan kecepatan. Setelah mendapatakan nilai hubungan matematis antar kedua model, kemudian menentukan volume maksimum dari kedua model. Nilai volume maksimum (VM) menggunakan model Greenshield adalah sebesar 3652,95 smp/jam dan nilai volume maksimum (VM) menggunakan model Greenberg adalah sebesar 434033,692 smp/jam. sehingga dari nilai VM tersebut dapat disimpulkan bahwa model Greenberg lebih baik dibandingkan model Greenshield.
Optimization of Construction Material Inventory Using Material Requirement Planning Rani, Hafnidar A.; Syammaun, Tamalkhani; Rachman, Firmansyah; Amin, Jurisman; Mahzarullah, Mahzarullah
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17116

Abstract

ABSTRAK: Pengelolaan persediaan material yang efisien sangat penting dalam proyek konstruksi untuk menghindari keterlambatan, pembengkakan biaya, serta kekurangan dan kelebihan material. Penelitian ini menyelidiki optimalisasi pengelolaan persediaan material menggunakan metode Material Requirements Planning (MRP), dengan fokus pada teknik Lot Sizing—Lot for Lot (LFL) dan Part Period Balancing (PPB). Studi kasus dilakukan pada pembangunan Kantor Kementerian Agama di Banda Aceh. Penelitian ini menargetkan material beton bertulang, seperti semen, pasir, dan besi tulangan, yang merupakan bahan penting bagi proyek tersebut. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara, sementara data sekunder diperoleh dari dokumentasi proyek, termasuk Bill of Materials (BOM), jadwal, dan rincian biaya. Dengan menggunakan MRP, penelitian ini menghitung kebutuhan material, jadwal pengadaan, dan biaya untuk teknik LFL dan PPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik LFL secara signifikan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi dibandingkan dengan metode PPB. Pada lantai pertama, teknik LFL menghasilkan penghematan biaya sekitar 51,9% dibandingkan dengan metode PPB. Demikian pula, untuk lantai kedua, penghematan biaya sekitar 72,2%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik LFL merupakan teknik yang optimal untuk pengelolaan persediaan material dalam proyek konstruksi, memastikan ketersediaan material tepat waktu dan biaya penyimpanan minimal. Temuan ini memberikan kerangka praktis untuk meningkatkan efisiensi pengadaan dan menawarkan wawasan berharga bagi proyek konstruksi di masa depan yang ingin mengurangi biaya dan meningkatkan keandalan penjadwalan.ABSTRACT: Efficient material inventory management is critical in construction projects to avoid delays, cost overruns, and both shortages and surpluses of materials. This study investigates the optimization of material inventory management using the Material Requirements Planning (MRP) method, focusing on Lot Sizing techniques—Lot for Lot (LFL) and Part Period Balancing (PPB). A case study was conducted on the construction of the Ministry of Religious Affairs Office in Banda Aceh. The research targeted reinforced concrete materials, such as cement, sand, and rebar, which are crucial for the project. Primary data was collected through field observations and interviews, while secondary data was obtained from project documentation, including the Bill of Materials (BOM), schedules, and cost breakdowns. Using MRP, the study calculated material requirements, procurement schedules, and costs for both LFL and PPB techniques. The findings revealed that the LFL technique significantly reduces costs and improves efficiency compared to the PPB method. For the first floor, the LFL technique resulted in a cost saving of approximately 51.9% compared to the PPB method. Similarly, for the second floor, the cost savings were around 72.2%. This study concluded that LFL is the optimal technique for material inventory management in construction projects, ensuring timely availability and minimal storage costs. These findings provided a practical framework for improving procurement efficiency and offered valuable insights for future construction projects seeking to reduce costs and enhance scheduling reliability.
Evaluating the Effects of Travel Time and Cost on Mode Choice in Transportation System Ruslan; Rachman, Firmansyah; Abdullah, Zulfhazli
Disaster in Civil Engineering and Architecture Vol. 2 No. 2: October 2025
Publisher : Popular Scientist

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70028/dcea.v2i2.59

Abstract

Mode choice in transportation is influenced by factors such as comfort, safety, travel time, cost, and reliability, with most commuters in Banda Aceh preferring private vehicles due to flexibility and efficiency. Travel time and travel cost are identified as major barriers preventing people from switching to public transport, which is often considered less attractive. While studies abroad examine elasticity from multiple perspectives, research in Indonesia has mainly focused on vehicle attributes. The objective of this paper is to analyze the elasticity of travel time and travel cost for users of private vehicles and public transportation. The study employs a binary probit model to estimate elasticity values, utilizing data from a Stated Preference survey of transportation users. The results show that both trip attributes and individual characteristics significantly influence transport mode choice. Longer travel distances, higher travel time, and increased operating costs raise the likelihood of choosing public transport, while being male and having higher education also increase the tendency to select it. Conversely, motorcycle ownership strongly favors private mode choice, and holding a valid driver’s license is an important determinant of travel behavior. The elasticity analysis further reveals that reducing travel and access times for the TransK bus could significantly increase its usage, while policies restricting private vehicle use, such as the odd-even system, may also encourage shifts toward public transport. The study concludes that mode choice in Banda Aceh is mainly driven by travel time, with TransK highly responsive to time improvements, while private vehicles dominate despite cost changes. Encouraging public transport use requires faster, more reliable bus services and restrictions on private vehicle advantages.
ASSESSING COMPLIANCE AND BARRIERS IN FUNCTIONAL FEASIBILITY CERTIFICATION OF PUBLIC BUILDINGS: CASE EVIDENCE FROM BANDA ACEH, INDONESIA Rani, Hafnidar Abdul; Syammaun, Tamalkhani; Rachman, Firmansyah; Amin, Jurisman; Fahlevi, Andi
Rang Teknik Journal Vol 9, No 1 (2026): Vol. 9 No. 1 Januari 2026
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/rtj.v9i1.7511

Abstract

The Functional Feasibility Certificate (SLF) is a legal requirement in Indonesia to ensure that buildings meet safety, health, and usability standards before being occupied, especially for public and commercial facilities. This study investigates the low adoption of SLF in public buildings in Banda Aceh, a mid-sized urban center in Indonesia. A qualitative case study approach was applied, involving direct observation and semi-structured interviews at four purposively selected sites: the BSI Landmark Building, Dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital (Polyclinic), Kyriad Muraya Hotel, and Suzuya Mall. Results showed that only one building, the BSI Landmark had a valid SLF certificate. The remaining three lacked critical components such as fire doors, smoke detectors, and evacuation plans, despite the presence of basic safety infrastructure. Thematic analysis revealed three dominant barriers to certification: procedural complexity, limited institutional capacity, and low awareness among building managers. These findings highlight the need for streamlined digital certification systems, improved municipal support, and targeted regulatory outreach. The study contributes to the literature on urban safety governance in Indonesia and offers practical insights for strengthening disaster risk resilience and building compliance frameworks in Indonesian cities. Keywords: Functional feasibility certificate, Public building safety, Building regulation
Evaluation of PET Waste-Modified Asphalt Performance Under Environmental Stress: A Multi-Scale Analysis of Rheological and Durability Properties Firmansyah Rachman; Cut Nawalul Azka; Tamalkhani Syammaun; Khairul Hamdi; T.M. Dandi
Elkawnie Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v11i2.29836

Abstract

Abstract: Diesel fuel spills can significantly accelerate asphalt binder softening and mixture deterioration, leading to reduced pavement durability. This study applies a multi-scale evaluation framework to quantify the effectiveness of polyethylene terephthalate (PET) waste in mitigating diesel-induced degradation of asphalt by comparing conventional asphalt (0% PET, control) with PET-modified binders and mixtures containing 6% and 8% PET. The primary objective is to determine whether PET modification can enhance asphalt resistance to diesel contamination by examining the relationship between molecular-level stability, rheological response, and mixture-level performance, using standardized procedures in accordance with the Indonesian Bina Marga 2018 specification and relevant SNI and ASTM standards. The results indicate that diesel exposure causes severe degradation in the control binder, with non-recoverable creep compliance (Jnr) increasing by up to 62% after six hours, reflecting a substantial loss of resistance to permanent deformation. In contrast, PET-modified binders show markedly improved stability, with the 8% PET binder limiting the Jnr increase to approximately 51% under the same exposure, indicating the highest resistance to diesel-induced rheological deterioration. This improvement is consistently reflected at the mixture scale, where the control asphalt mixture experiences a 47% reduction in Marshall stability, while the mixture containing 8% PET shows only an 11% reduction after diesel conditioning. Overall, the findings demonstrate that PET waste—particularly at an 8% dosage—significantly enhances asphalt resistance to diesel-related chemical and mechanical damage. This study provides clear mechanistic and performance-based evidence that PET upcycling is an effective and sustainable strategy for producing more fuel-resistant asphalt pavements. Abstrak: Tumpahan bahan bakar diesel dapat secara signifikan mempercepat pelunakan aspal dan degradasi campuran aspal, sehingga menurunkan daya tahan perkerasan jalan. Penelitian ini menerapkan kerangka evaluasi multi-skala untuk mengkuantifikasi efektivitas limbah polyethylene terephthalate (PET) dalam mengurangi degradasi aspal akibat paparan diesel dengan membandingkan aspal konvensional tanpa PET (0% sebagai kontrol) dan aspal termodifikasi PET dengan kadar 6% dan 8%. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menilai kemampuan modifikasi PET dalam meningkatkan ketahanan aspal terhadap kontaminasi diesel melalui keterkaitan antara stabilitas molekuler, respons reologi, dan kinerja mekanis campuran, dengan menggunakan prosedur pengujian yang mengacu pada spesifikasi Bina Marga 2018 serta standar SNI dan ASTM yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan diesel menyebabkan degradasi yang signifikan pada pengikat kontrol, yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai kepatuhan rangkak tidak pulih (Jnr) hingga 62% setelah 6 jam, menandakan penurunan ketahanan terhadap deformasi permanen. Sebaliknya, pengikat aspal termodifikasi PET menunjukkan stabilitas yang jauh lebih baik, di mana pengikat dengan 8% PET membatasi peningkatan Jnr hingga sekitar 51% pada kondisi paparan yang sama, sehingga memberikan ketahanan reologi tertinggi terhadap diesel. Peningkatan kinerja ini tercermin secara konsisten pada skala campuran, di mana campuran aspal konvensional mengalami penurunan stabilitas Marshall sebesar 47%, sementara campuran dengan 8% PET hanya mengalami penurunan sebesar 11% setelah pengkondisian diesel. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemanfaatan limbah PET—terutama pada kadar 8%—secara signifikan meningkatkan ketahanan aspal terhadap kerusakan kimia dan mekanis akibat paparan diesel. Temuan ini memberikan bukti mekanistik dan berbasis kinerja bahwa daur ulang PET merupakan strategi berkelanjutan yang efektif untuk menghasilkan perkerasan jalan yang lebih tahan terhadap kontaminasi bahan bakar.
Analysis of Dam Break Impacts and Mitigation Strategies Using HEC-RAS 2D Modeling Tasri Salam; Hafnidar A Rani; Firmansyah Rachman; Azmeri Azmeri
Elkawnie Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v11i2.31844

Abstract

Abstract: Dam failure is a critical hydrological hazard with potentially severe impacts on downstream communities and infrastructure. This study analyzes dam break impacts and mitigation strategies using two-dimensional hydraulic modeling with HEC-RAS 2D, integrated with Geographic Information System (GIS)-based spatial analysis, at the Kerinci Merangin Hydropower Dam in Jambi Province, Indonesia. Overtopping and piping failure scenarios were simulated to estimate peak discharge, inundation extent, flow velocity, and flood wave arrival time, which directly informed the design of a site-specific Emergency Action Plan (EAP). Simulation results indicate that a complete dam failure could generate a peak discharge of approximately 681.5 m³/s, with flood waves reaching high-risk downstream areas within only 15-20 minutes. GIS-based hazard mapping reveals that several critical access and evacuation routes are located within high-inundation zones, limiting conventional evacuation feasibility. A sensitivity analysis of key hydraulic parameters, including breach geometry and Manning’s roughness coefficient, demonstrates that small parameter variations significantly affect flood arrival time and evacuation lead-time reliability. The study’s contribution lies in demonstrating how sensitivity-informed dam break modeling can identify evacuation constraints and support the development of a highly localized, rapid-response EAP, moving beyond generic mitigation frameworks toward operationally feasible disaster preparedness. Abstrak: Kegagalan bendungan merupakan bahaya hidrologi yang kritis dengan potensi dampak yang serius terhadap masyarakat dan infrastruktur di wilayah hilir. Penelitian ini menganalisis dampak keruntuhan bendungan dan strategi mitigasi menggunakan pemodelan hidraulik dua dimensi dengan HEC-RAS 2D yang terintegrasi dengan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), dengan studi kasus Bendungan PLTA Kerinci Merangin di Provinsi Jambi, Indonesia. Skenario kegagalan akibat overtopping dan piping disimulasikan untuk mengestimasi debit puncak, luas genangan, kecepatan aliran, serta waktu kedatangan gelombang banjir yang secara langsung digunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Tindakan Darurat (Emergency Action Plan/EAP) yang bersifat spesifik lokasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kegagalan total bendungan dapat menghasilkan debit puncak sekitar 681,5 m³/detik, dengan gelombang banjir mencapai wilayah hilir berisiko tinggi hanya dalam waktu 15-20 menit. Pemetaan bahaya berbasis SIG mengungkap bahwa beberapa jalur akses dan evakuasi kritis berada dalam zona genangan tinggi, sehingga membatasi kelayakan evakuasi konvensional. Analisis sensitivitas terhadap parameter hidraulik utama, termasuk geometri rekahan dan koefisien kekasaran Manning, menunjukkan bahwa variasi parameter yang relatif kecil dapat secara signifikan memengaruhi waktu kedatangan banjir dan keandalan waktu evakuasi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada demonstrasi bagaimana pemodelan keruntuhan bendungan yang mempertimbangkan analisis sensitivitas dapat mengidentifikasi keterbatasan evakuasi dan mendukung penyusunan EAP yang sangat terlokalisasi dan berorientasi pada respons cepat, melampaui kerangka mitigasi generik menuju kesiapsiagaan bencana yang lebih operasional dan realistis.