Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Adaptasi pelayanan di Perpustakaan Universitas Padjadjaran dalam menghadapi pandemi covid-19 Indira Adiadwi Putri; Dian Sinaga; Rizki Nurislaminingsih
Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 1 No. 5 (2022): Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/nautical.v1i5.333

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana adaptasi pelayanan di Perpustakaan Universitas Padjadjaran dalam menghadapi pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Objek penelitian ini adalah layanan Perpustakaan Universitas Padjadjaran dalam menghadapi pandemi covid-19 sedangkan subjek penelitian terdiri dari empat orang narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses adaptasi, layanan fisik yang ada di Perpustakaan Universitas Padjadjaran sempat mengalami kemunduran selama perpustakaan di tutup total pada awal pandemi karena proses digitalisasi yang berjalan cukup lambat dan terhambat. Layanan perpustakaan kemudian dialihkan menjadi layanan daring melalui repositori, e-journal, dan koleksi karya ilmiah lainnya sebagai alternatif bagi mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan informasi. Selama perpustakaan di tutup, pustakawan berupaya untuk mengoptimalkan baik layanan daring maupun layanan fisik agar dapat kembali melayani dengan prima selama masa pandemi.
SUNDANESE INDIGENOUS KNOWLEDGE IN SINDANG BARANG CULTURAL VILLAGE – BOGOR Rizki Nurislaminingsih; Arido Laksono; Eka Purna Yudha
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 6, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v6i1.4758

Abstract

The Sindang Barang Cultural Village was formed by the descendants of customary holders who live in Bogor to revitalize Sundanese culture. This is useful for preserving customs so that people can continue to live the Sundanese way (using indigenous knowledge and sticking to local wisdom) even though they live in the modern era. This study aims to identify the Sundanese indigenous knowledge possessed by them. This study uses a qualitative thematic analysis approach to identify it. The results of this study indicate that the themes of indigenous knowledge owned by the society are village landscape, agriculture, natural signs, health, and batik. The village landscape has sub-themes landscape of land and building position. The sub-themes of agriculture are the type of paddy, fertilizer, planting time, magic guard, and granary. Natural signs have the sub-themes of changing days and signs of calamity and disaster. The sub-theme of health is herbs. Batik has a sub-theme of motifs and natural dyes. This study found that some of the indigenous knowledge about herbs and batik had been lost from the people's memory.
Kegiatan mendongeng oleh Kang Idon dalam menumbuhkan ketertarikan anak-anak pada cerita Gilang Yudha Kusuma; Agus Rusmana; Rizki Nurislaminingsih
Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 1 No. 10 (2023): Nautical: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai kegiatan mendongeng oleh Kang Idon yang dilakukan di Perpustakaan Hayu Maca Kota Cimahi dalam menumbuhkan ketertarikan anak-anak pada cerita. Berbagai macam tipe, karakter dan gaya belajar anak dapat menimbulkan munculnya masalah dalam proses mendongeng. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai proses kegiatan mendongeng dan nilai-nilai yang ditanamkan serta mengidentifikasi kendala-kendala yang terjadi dalam proses kegiatan mendongeng di Perpustakaan Hayu Maca Kota Cimahi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menyatakan bahwa dalam upaya menumbuhkan ketertarikan anak-anak pada cerita, proses kegiatan mendongeng yang dilakukan kurang berjalan lancar karena adanya berbagai kendala yang muncul yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman orang-orang tentang pentingya kegiatan mendongeng ini diadakan sehingga Perpustakaan perlu melakukan pendekatan atau sosialisasi dengan masyarakat sekitar.
Kolaborasi Sebagai Upaya Peningkatan Kinerja Perpustakaan di Telkom University Open Library Neneng Komariah; Encang Saepudin; Rizki Nurislaminingsih
Pustakaloka Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.819 KB) | DOI: 10.21154/pustakaloka.v13i2.3285

Abstract

Kolaborasi perpustakaan merupakan keharusan karena dapat meningkatkan kinerja para individu yang ada di dalamnya. Telkom University Open Library merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang menyelenggarakan berbagai acara sebagai hasil kolaborasi dengan berbagai institusi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui latar belakang, strategi, jenis kegiatan, proses evaluasi, dan kendala dalam membangun kolaborasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Open Library melakukan kolaborasi dengan tujuan meningkatkan layanan perpustakaan dan sebagai upaya branding agar perpustakaan lebih diakui keberadaannya. Kolaborasi dibangun dengan mengacu pada strategi khusus. Penentuan mitra kolaborasi mengacu pada kesamaan misi dan nilai. Jenis kegiatan berbasis kolaborasi adalah menyelenggarakan berbagai event literasi untuk civitas dan masyarakat, dan peningkatan akses sumber informasi. Proses evaluasi dengan mengadakan pertemuan setelah selesai acara dan memberikan kuesioner pada peserta. Kendala yang dihadapai sering terjadinya kesalahpahaman, sehingga harus dibangun komunikasi dan hubungan baik dengan semua mitra. Open Library memiliki pustakawan public relations yang berperan aktif membangun kolaborasi. Kesimpulan perpustakaan harus membangun kolaborasi agar dapat meningkatkan layanan dan lebih dikenal. Keberhasilan kolaborasi dipengaruhi komitmen, dedikasi, keterampilan komunikasi dan membangun hubungan dari staf perpustakaan.  Disarankan perpustakaan memiliki staf sebagai public relations.
Peningkatan Daya Inovatif Pustakawan Melalui Repacking Information Isi Intelektual Koleksi RIZKI NURISLAMININGSIH
Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 7, No 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam FTK UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/pk.v7i13.3145

Abstract

ABSTRACTCreativity librarians as a conduit of information officers need to be increased in order to later be able to provide the best possible information to patrons. One of the activities that can be done is repackaging intellectual content collections. These activities are not only limited change the packaging of information from print to electronic form, but also summarize the information content of the collections become more easily understood information. Librarians can learn from the activities of repackaging information in the library of and then modified packaging adapted to fit the needs of information patrons.Keyword: repacking information, innovation, librarian ABSTRAKKreativitas pustakawan sebagai pihak yang bertugas memenuhi kebutuhan informasi perlu terus ditingkatkan. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah kemas ulang informasi. Aktivitas tersebut tidak hanya sebatas pada mengalih media kertas ke elektronik, tetapi juga mencarikan isi intelektual koleksi agar lebih mudah dipahami pemustaka. Pustakawan dapat belajar kemas ulang informasi di perpustakaan LIPI dan kemudian dimodifikasi dan dibuat kedalam bentuk baru sesuai kebutuhan pemustaka.Kata Kunci: Repacking Information, Inovasi, Pustakawan
Indigenous literacy of local knowledge about the signs of natural disaster A case of Way Ela Natural Dam - Maluku Edwin Rizal; Rizki Nurislaminingsih
Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 19 No 2 (2023): December
Publisher : Perpustakaan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bip.v19i2.6830

Abstract

Introduction. Various natural disasters occurred in Maluku, with one of the impacts is changing the land surface. One example is a forest has changed into a hill or a river has changed into a natural dam. In Maluku, Way Ela natural dam was formed as a resultof the disaster in 2012 and was destroyed again by the disaster in 2013. This natural event that occurred in a relatively short period of time is still remembered by the community. This study aims to explore the types of local knowledge about dam disasters based on their memories. Data Collection Method. Data collection in this study was conducted by the interviews. Data Analysis. Data were analyzed by grouping the themes on natural signs of the formation and of the broken of the dam. Results and Discussion. The formation of dams begins with earthquakes, landslides, dry rivers, and strange animal behavior. Natural signs before a broken-down dam are earthquakes, heavy rain, cracked ground, strange behavior of animals, and changes in cooler air temperature. Conclusion. This study concludes that the community is aware of three types of disaster signs including the formation of a dam, before the dam breaks, and when the dam breaks.
Pengetahuan Lokal Sunda di Kampung Bareto Garut Rizki Nurislaminingsih; Samson CMS Samson; Lidya Christiani
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 9, No 4 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/anuva.9.4.805-819

Abstract

Kampung Bareto dibangun dengan tujuan sebagai sumber belajar bagi masyarakat yang hendak mengetahui budaya Sunda. Pada tempat ini tersedia berbagai fasilitas seperti rumah tradisional, museum, dan alat permainan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan lokal Sunda dari beragam fasilitas tersebut. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi tema pengetahuan lokal. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki beragam pengetahuan lokal. Bangunan merepresentasi pengetahuan tentang arsitektur, kesehatan, dan bencana. Koleksi senjata membuktikan pengetahuan tentang metalurgi. Koleksi peralatan pertanian mewakili pengetahuan tentang teknik bertani ramah lingkungan dan mesin penggiling padi tradisional. Permainan tradisional mencerminkan pengetahuan tentang psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Alat musik menyimpan pengetahuan tentang etnomatematika dan kesehatan. Peralatan dapur membuktikan adanya penguasaan teknik pengolahan tanah liat yang tidak merembeskan air, geometri, dan kesehatan. Lagu tradisional menyimpan pengetahuan tentang sosiologi, psikologi, ilmu budaya, ilmu komunikasi, dan ilmu ekonomi. Kesimpulan penelitian ini adalah pengetahuan lokal yang terepresentasi dari fasilitas di Kampung Bareto adalah arsitektur (bangunan tradisional), kesehatan (bangunan, musik), bencana (bangunan), pertanian (peralatan bertani), mesin tani tradisional (lesung, lumpang, alu), psikologi (permainan, alat musik, lagu), ilmu ekonomi (permainan dan lagu), sosiologi (permainan dan lagu), ilmu komunikasi (lagu), budaya (lagu), metalurgi (senjata), pengolahan tanah liat (gerabah), geometri (anyaman), dan etnomatematika (alat musik). Hasil dari penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi penelitian sejenis untuk mengidentifikasi pengetahuan lokal yang dimiliki oleh kampung adat dari berbagai etnis di Indonesia.
Indigenous Knowledge of Banyuwangi in Television Program “Bocah Petualang TRANS7” Rizki Nurislaminingsih; Zulisih Maryani; Saleha Rodiah
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i2.14395

Abstract

Banyuwangi is famous for its culture as proven by national and international awards. One of the components of culture is indigenous knowledge. The cultural elements of Banyuwangi have also been covered by television stations. TRANS7 created a program that raised the theme of Banyuwangi culture, for example Bocah Petualang. The program, which is known as Si Bolang, not only covered culture, but also practiced indigenous knowledge of Banyuwangi. This study aims to identify local knowledge of Banyuwangi represented by the Bocah Petualang television program. The results of the study show that the Banyuwangi community has local knowledge about traditional games (cars and river rafts), sources of animal protein (bibis, wader, and eel), cooking spices (kecombrang flower), healthy drinks (jamu cabe Jawa and wedang jahe susu), healthy food (watercress decoction and stir-fried durian flowers), livestock (freshwater fish and honey bees), plantations (ranti tomatoes and dragon fruit), handicrafts (bamboo weaving), and dance. The conclusion of this study is that the indigenous knowledge of Banyuwangi in the television program Bocah Petualang is about traditional games, high protein aquatic animals, the benefits of kecombrang, healthy beverages, healthy foods, animal husbandry, plantations, woven ethnomathematics, and motor stimuli in dance art. This study found that insects (spiders) can be used to eradicate pests. The results of this study can be a source of reference for studies about the nutrition of durian flowers. The results of this study can also be a source of inspiration for creative industry practitioners to innovate in creating contents based on local knowledge.
Ambon-Maluku Indigenous Knowledge About Tsunami in the Songs Air Turun Naik Di Hutumuri and Banjir Galala Rizki Nurislaminingsih; Yety Rochwulaningsih; Edwin Rizal
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purpose: Tsunami often occurs in Ambon–Maluku so that people know its characteristics. Ambonese share knowledge about it with their social environment through songs. The songs that tell the story are Air Turun Naik di Hutumuri (Water Recedes and Gushes into the Air in Hutumuri) and Banjir Galala (Flood in Galala). This study aimed to explore the Ambonese indigenous knowledge about the tsunami implied in the songs. Method: This research is qualitative with a Content-Driven Document Analysis approach. Result and Discussion: The results showed that the themes of indigenous knowledge about the tsunami in Ambon were signs of nature, the way to self-rescue, and post-disaster situations. The sub-themes of natural signs were bamboo floating in the sea, low tide, and flocks of Talang birds flying around the village. The sub-theme of self-rescue was running to the mountains. The sub-themes of the post-disaster situation described washed away houses, flooding, and disappearing villages. Implication: The findings showed that people also knew other tsunami characteristics: earthquakes, rumbling sounds on the hills, giant black and white waves, loose beach sand, thousands of fish and rocks stranded in the village. Another finding was that the Maluku people's culture carried out activities to manage indigenous knowledge through songs and singing. In conclusion, the songs contain local wisdom about tsunami characteristics (before, during, and after the disaster) and self-rescue.
ANALYSIS OF HISTORICAL INFORMATION AND INDIGENOUS KNOWLEDGE OF THE BLAMBANGAN KINGDOM IN THE OMAHSEUM MUSEUM COLLECTIONS: Analisis Informasi Sejarah dan Pengetahuan Lokal Kerajaan Blambangan dalam Koleksi Museum Omahseum Rizki Nurislaminingsih; Heriyanto; Wiwin Indiarti; Fitri Perdana
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.6462

Abstract

Banyuwangi is increasingly prominent with its annual cultural performances. A variety of cultural products are presented to the public, including rituals, dance, music, and literature. All these are believed to be the legacy of the Blambangan Kingdom. Museums can play a role in Banyuwangi's efforts to demonstrate its identity to the public by exploring the background of the community's ancestral kingdom, the Blambangan Kingdom. This also underlies the purpose of this research, which is to analyze information about the history and indigenous knowledge of the Blambangan Kingdom community in the collections at the Omahseum Museum. This museum houses artifacts left behind by the kingdom. We used qualitative research with a museum studies approach. Data collection was conducted through observation, interviews, collection analysis, text analysis, and documentation of artifacts. The results show that the Omahseum Museum collections contain historical information and holds narrative evidence of the formation of Blambangan into Banyuwangi. The collections also contain information about local knowledge about the creation of writing media from palm leaves, natural ink, literary arts, clay processing, and metallurgy. The conclusion of this research is that the collection at the Omahseum Museum contains historical information (locations, name of Banyuwangi, and war) and indigenous knowledge (written media, literary arts, clay processing, and metal processing). The collection has the potential to become a source of local history teaching and museum interpretations based on local knowledge. The results of this study can inspire museum managers to expand their information services on the local knowledge behind each collection.