Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Social Construction of Women Holding the Position of Tunggu Tubang in South Sumatra Anzari, Prawinda Putri; Sarwono, Billy Kurniati
JURNAL KOMUNIKASI INDONESIA Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wanita Tunggu Tubang secara paradoks memegang baik posisi terhormat maupun subordinat dalam komunitas Semende. Mereka bekerja untuk melestarikan budaya dan melakukan tugas mereka, namun pada saat yang sama mereka harus menghadapi berbagai masalah di ruang publik. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana posisi ini secara sosial dibangun, dan teori yang diterapkan untuk menjawab pertanyaan adalah teori konstruksi realitas sosial. Pendekatan yang dipakai adalah kualitatif, dengan paradigma konstruksionisme kritis dan teknik sampling kriteria. Kegiatan para wanita dalam penelitian ini diamati dalam jangka waktu dua minggu, dan dua informan kunci dengan pekerjaan yang berbeda, kelas sosial, dan tempat tinggal diwawancarai. Studi ini menunjukkan bahwa konstruksi yang bias gender telah diproduksi dan direproduksi melalui penyebaran keyakinan seperti itu sejak kecil dan dominasi merajes di ranah sosial. Selain itu, perempuan Tunggu Tubang melihat posisi dan peran mereka sebagai takdir dan identitas budaya yang harus mereka terima. Namun, perspektif semacam itu tidak begitu luas di kalangan informan yang tinggal di daerah yang lebih maju karena gaya hidup mereka lebih berorientasi ekonomi dan praktis. The Tunggu Tubang women paradoxically hold both a respectable as well as subordinate position in the Semende community. They work to preserve the culture and perform their duties, yet at the same time they have to face various problems in the public sphere. The research question herein is how this position is socially constructed, and the theory applied to answer the question is that of the construction of social reality. The method chosen is that of the qualitative research, coupled with the critical constructionism paradigm and criterion sampling technique. The activities of the women in this study were observed in a period of two weeks, and two key informants with different jobs, social classes, and places of residence were interviewed. This study indicates that a gender-biased construction has been produced and reproduced through propagation of such belief since childhood and dominance of the Merajes in social realms. In addition, Tunggu Tubang women perceive their position and role as their destiny and a cultural identity which they have to assume. Such perspectives, however, are not as pervasive among informants living in more advanced areas as their lifestyle is more economy-oriented and practical
Memahami Pubertas dan Aturan Baju Renang Untuk Pencegahan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Anzari, Prawinda Putri; Santi Rozakiyah , Desy; Hutri Wicaksono, Leo
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 8 No 3 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kekerasan seksual pada anak merupakan fenomena gunung es karena seringkali jumlah kasus di lapangan lebih banyak daripada jumlah laporan yang masuk. Fenomena ini terjadi karena Sebagian besar kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang terdekat dengan korban, baik di lingkup sekolah, rumah, maupun masyarakat. Tingginya kasus kekerasan seksual juga merupakan bukti kurangnya edukasi dari orangtua serta Lembaga Pendidikan. Meskipun kurikulum Pendidikan seks dini tidak disampaikan pada sekolah informal, anak-anak harus mendapatkan pengetahuan yang mumpuni mengenai seks dini demi menjaga diri mereka dari kasus kekerasan seksual di luar sana. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah melakukan penyuluhan edukasi seksual dini yang terdiri dari persiapan mengalami masa pubertas, serta mengetahui jenis sentuhan baik dan sentuhan jahat yang diberikan orang lain kepada mereka. Target peserta adalah siswa kelas 4 hingga kelas 9 SD yang menjadi murid binaan Yayasan Al-Kahfi Kota Malang. Penyuluhan diberikan melalui metode games, ceramah, pembagian buku saku serta poster. Hasil dari penyuluhan menyatakan sebanyak 100% peserta sudah memahami apa itu edukasi seksual dini yang diberikan. DI samping itu orangtua dan guru tetap harus mendampingi dalam pemberian informasi yang tepat mengenai materi seks dini yang sesuai bagi usia anak
Political Gimmicks on Social Media in the 2024 Indonesian Presidential Election Aminulloh, Akhirul; Ananda, Kun Sila; Anzari, Prawinda Putri; Fianto, Latif; Qorib, Fathul
The Journal of Society and Media Vol. 9 No. 1 (2025): Social Media Bridged the Gap
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jsm.v9n1.p74-96

Abstract

Political gimmicks have become a trendy yet controversial term in the 2024 presidential election contest. Instead of conveying the vision and mission of presidential candidates, political gimmicks only present and show skin packaging rather than substance. This research aims to reveal the practices of political gimmicks on social media in the 2024 Indonesian presidential election contestation using critical discourse analysis as a method. This method is used to reveal ideology and power relations from gimmicks that appear on social media. Data collection in this study used documentation techniques, in the form of data collection from social media X during the period December 2023 - February 2024. The study's findings demonstrate that the Republic of Indonesia's 2024 presidential and vice-presidential candidates' political communication efforts on social media X are mired in creating symbols disconnected from meaningful and substantial ideas. Drawing on Erving Goffman’s dramaturgical theory, this study frames political gimmicks as "front stage" performances designed to manipulate voter perceptions, obscuring substantive political agendas. Political communication for presidential candidates has shifted from addressing social issues and strengthening democracy to becoming manipulative tactics aimed at winning votes