Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL SASI DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT BERKELANJUTAN DI KECAMATAN SELARU KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Hasriyanti Hasriyanti; Fitri Handayani; Anugerah Aulia Magfirah Ikhdar; Indra Syamsuddin
Jurnal Environmental Science Vol 6, No 1 (2023): Oktober
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/jes.v6i1.47764

Abstract

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia serta memiliki berbagai kearifan lokal yang didalamnya terdapat jutaan makna. Kearifan lokal menjadi salah satu sektor penting yang harus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia salah satunya adalah kearifan lokal sasi yang ada di Maluku yang dimana kearifan lokal tersebut telah dilakukan sejak lama di Maluku dalam pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam baik yang ada di darat maupun dilaut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal sasi dalam pengelolaan sumber daya laut di Desa Adaut Kecamatan Selaru Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi yakni menelusuri berbagai sumber berkaitan dengan tema dan topik yang dibahas. Data yang telah dikumpulkan tersebut selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya masyarakat adaut menerapkan kearifan lokal sasi dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut sehingga akan memberikan keuntungan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini akan tetapi juga bagi kehidupan generasi berikutnya.
Program Digitalisasi Peta Tanah Kalurahan dan Sultan Ground di Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Rini Fathoni Lestari; Galih Citra Yogyanti; Huwaida Nur Salsabila; Ease Arent; Fitri Handayani
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i1.1858

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perangkat kalurahan di Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul dalam memahami, mengelola, dan memanfaatkan data digital terkait Tanah Kalurahan dan Sultan Ground. Permasalahan utama yang dihadapi ialah data pertanahan yang masih berbentuk arsip manual, tidak terstandardisasi, serta belum terdigitalisasi sehingga menimbulkan potensi kesalahan administrasi, tumpang tindih pemanfaatan lahan, dan lemahnya pengawasan aset desa. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini dilaksanakan melalui identifikasi dokumen legal, survei lapangan, Focus Group Discussion (FGD), pengolahan data spasial, serta sosialisasi pemanfaatan peta digital. Hasil kegiatan berupa peta digital Tanah Kalurahan dan Sultan Ground untuk empat kalurahan, Gilangharjo, Wijirejo, Triharjo, dan Caturharjo, serta rekapitulasi persil yang lebih akurat dan mudah diverifikasi. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman perangkat desa mengenai pembacaan peta digital, verifikasi batas, dan pemanfaatan teknologi GIS sebagai instrumen tata kelola aset. Secara keseluruhan, digitalisasi peta terbukti mendukung transparansi, akuntabilitas, serta efektivitas pengelolaan tanah kalurahan dan Sultan Ground secara berkelanjutan.
Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Karst Melalui Pengelolaan Air dan Strategi Ketahan Pangan di Biraeng Salma Samputri; Badrizal Al Hazar; Fitri Handayani; Nurul Aulia Bohari; Muhammad Zulfi Al'Ghani; Atsari Rafi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v11i1.13306

Abstract

This community service activity aims to address the critical challenges of clean water availability and food security faced by communities in the karst area of Biraeng Village, Pangkep Regency, which is characterized by fragile geological conditions and rapid drainage. These conditions result in limited surface water availability and have a negative impact on agricultural productivity. Data was collected through field observations, in-depth interviews, and documentation to obtain a comprehensive understanding of the social and environmental conditions. The results show that the community relies on dug wells, seasonal springs, rainwater harvesting, and bore wells, whose discharge decreases during the dry season, thereby requiring a collective water distribution management system. Community empowerment through the establishment of water management groups has proven effective in improving more equitable and organized access to water. In addition, food diversification programs, such as cultivating corn, cassava, and utilizing home gardens, have been effective in maintaining local food availability despite environmental limitations. However, challenges such as limited technical knowledge and underdeveloped local institutions remain significant constraints. Therefore, this study recommends strengthening local institutions in a sustainable manner, integrating appropriate technology, and developing food diversification strategies based on local potential to achieve food security and sustainable water resource management in karst areas.
Pendampingan Pelestarian Budaya Upacara Mappalili Melalui Kegiatan Tudang Sipulung Dalam Menunjang Geopark Maros-Pangkep Badrizal Al Hazar; Muhammad Zulfi Al'Ghani; Nurul Aulia Bohari; Fitri Handayani
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): November
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v10i2.12999

Abstract

Mappalili Ceremony is a sacred tradition of the Bugis-Makassar community that embodies profound ecological, social, and spiritual values in agricultural management. The preservation of this cultural heritage was carried out through the Tudang Sipulung activity as a form of community engagement to support the development of the Maros-Pangkep Geopark. The activity took place at the Balla Kalompoang Traditional House, Labakkang District, Pangkep Regency, involving 35 participants consisting of traditional leaders, local government officials, geopark managers, and community members. The method employed a participatory approach through discussions, the distribution of monograph books, cultural preservation models, and pre-test and post-test evaluations to measure the participants’ understanding of Mappalili’s cultural values. The results indicated a significant improvement in participants’ comprehension, with the high category increasing from 0% to 71.43% after mentoring activities. Tudang Sipulung proved to be an effective medium for cultural communication and education, strengthening collective awareness in preserving local traditions and supporting the geopark as an integrated space between natural conservation and cultural heritage. This study recommends the involvement of younger generations and local government support to ensure the sustainability of the Mappalili Ceremony as a cultural legacy that contributes to the development of tourism based on local wisdom.