Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

THE SYSTEM OF SPIRITUAL EDUCATION OF TAREKAT SAMMANIYAH AT LEARNING ASSEMBLY OF IHYA ULUMUDDIN MEDAN Arifin Arifin; Hasan Asari; Amroeni Drajat
INTERNATIONAL JOURNAL ON LANGUAGE, RESEARCH AND EDUCATION STUDIES Vol 1, No 1 (2017): Language, Research and Education Studies
Publisher : State Islamic University of North Sumatra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to discover 1) the goal of spiritual education of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan, 2) the contents of spiritual education of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan, 3) The Method of spiritual education of Taretkat Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan, 4) The teachers/ Fasilitators of spiritual education of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan, 5) The Students of spiritual education of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan, 6) Facilities and infrastuctures of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan. This study used the qualitative research approach. The data was taken through intervew, observation and also takng documentation. The informan of this study was the principle concurently teacher (Called by Mursyid), Assistant of teacher (called by Khalifah), Students (Called by Salik) of Tarekat  Sammaniyah at Learning Assembly of Ihya Ulumuddin Medan. The data analysis was done by data reduction, presentation of the data and data verification. The results of this study were; 1) The aim of spiritual education was to know Allah, to remember, and also to look Allah by purification of the soul (Tazkiyatun Nafsi) and draw closer to the God (Allah) by cleansing the heart (Taqorrub Ilallah), 2) The contents of spiritual education were about Islam, faith, goodness, Syari’at, Hakikat, Ma’rifat and also Zikir (Remember of the God), 3) The method were bai’at, lecturing, remembering (rabithah, kafi’at, tawajjuh, khalwat /suluk), 4) The Mursyid was one who led and taught and also developed the Tarekat , he has an unbroken lineage up to Prophet, Jibril and Allah SWT. The level were; Syekh/Buya/Father, Vice Mursyid (Khalifah), Firstly, the Old Khalifah, Secondly, The young Khalifah. The qualities that must be possessed by the Mursyid / vice Mursyid were namely: pious, wise, be patient and merciful nature, able to keep secrets, trust, discipline, guarding the lust of the worldly desire, sincere heart, should not be disappointed seeing the students who have not succeeded yet, Maintaining self-esteem, prestige, may provide certain clues in certain circumstances, 5) The Students were people who have been sworn, and before being sworn, they should bathe taubat, pray taubat, and also pray hajat to study knowledge to Mursyid. The level of students/ Salik were mubtadi, mutawashithah, muntahi, 6) The facilities and infrastructures were Mosque, The Guest room for whom it may stay overnight, sound system, Suluk place, ablution place, tasbih, curtain for seclusion (khalwat).
Fauna Dalam Prespektif Ibnu Sina Mukhlis; Amroeni Drajat
Ability: Journal of Education and Social Analysis Volume 2 No 4 Oktober 2021
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian ini yaitu membahas mengenai Fauna Dalam Prespektif Islam, Metode penelitian ini yaitu Limbrary Risearch, kesimpulan dari penelitian ini yaitu Banyak ditemukan ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang berbicara tentang hewan, bahkan terdapat enam surat dalam surat-surat al-Qur’an yang dinisbatkan dengan nama hewan yakni, Al-Baqarah ( sapi betina ), al-An’am ( binatang ternak ), an-Nahl ( lebah ), an-Naml ( semut ), al-‘Ankabut ( laba-laba ) dan al-Fil ( gajah ). Jika dikumpulkan semua ayat yang berbicara tentang hewan berjumlah sekitar 140 ayat[2], jumlah ini tidaklah sedikit, maka kemudian banyak yang memahami bahwa al-Qur’an juga peduli terhadap kehidupan kerajaan binatang dengan melihat banyaknya ayat yang berbicara tentang hewan. Menurut Oxana Timofeeva (2016: 2), apa yang bukan manusia atau nonmanusia didefinisikan berdasarkan negativitas. Artinya, nonmanusia adalah apa yang bukan manusia. Mungkin itu adalah jawaban yang “superficial” dalam menjawab definisi nonmanusia. Namun, seperti yang akan dieksplorasi lebih lanjut, ini adalah definisi hewan dalam berbagai pemikiran filsuf dari Barat. Hewan adalah apa yang bukan manusia dan yang tidak memiliki sesuatu yang dimiliki secara spesial oleh manusia. Aristoteles membedakan manusia dan hewan berdasarkan kepemilikan bahasa. Manusia memiliki bahasa yang memungkinkannya berkomunikasi dalam polis dan membedakan baik-buruk. apa yang dilakukan Aristoteles adalah mencari tahu apa yang membuat sesuatu itu termasuk dalam sesuatu hal. Aristoteles mendefinisikan makhluk hidup sebagai sesuatu yang mempunyai fungsi nutritive. Artinya, makhluk itu bisa tumbuh dan mati (growth and decay). Segala sesuatu yang tidak punya kemampuan itu adalah bukan makhluk hidup. Di sinilah perbedaan makhluk hidup dan bukan hidup.
Sufism of Morality According to Ibn Sina Nelly Agustina; Siti Marisa; Amroeni Drajat; Salminawati Salminawati
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.3871

Abstract

Research on the essence of Akhlaki Sufism is a study centered on the sanctification of morals, character, which tries to present good behavior (commendable) and stay away from bad traits (despicable). The approach of this study is the documentation study model and library study. Furthermore, Akhlaki Sufism is related to the two sides of the same coin, there is no Sufism without morality, and there is no morality without Sufism. In practice, morality can regulate horizontal relationships between human beings, while Sufism regulates vertical communication between humans and their Lord. Morals are the basis of the implementation of Sufism so that in practice Sufism is concerned with morals. The study of Islamic education with moral Sufism is to build human beings with noble character.
Impact of Social Media on Child Morality in Indonesia Supardi Supardi; Amroeni Drajat; M, Reza Alfikri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 10 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7990930

Abstract

Bigo Live is a broadcast application in the form of the most popular live streaming video for IOS and ANDROID operating systems with the number of users in Indonesia reaching 10 million users. This research was carried out using the mixed method, which combines qualitative and quantitative methods. The case study of this study was carried out in 2 locations covering Indonesia, namely Medan and DKI Jakarta. The results showed that there was a significant impact between Pornography and Porn Content Action on Bigo Live on Child Morality in Indonesia. The picture of deviant morality in adolescents in Indonesia shows that there are deviant behaviors, although it is dominated by the light deviant behavior of 53 respondents (68.8%). Thus the results are accepted, so it can be said that the cultivation theory of exposure to mass media towards changes in the behavior of viewers is proven to have an effect between the frequency of watching pornography and pornography on Bigo Live social media on the deviant (sexual) morality of teenagers in Indonesia. Research implications, it is expected for teachers, parents, guardians and community leaders from the results of this study to be used as an evaluation material to build the personality of adolescents and teachers and lecturers always provide information to students to use the internet only for positive things. The existence of this research is expected to be one of the considerations for Bigo Live's Social Media to be disciplined again, by adding an automatic and applicable filter system for users who abuse Bigo Live's social media applications so as not to damage the morality of Indonesian children.
AKTUALISASI TAREKAT NAQSABANDIYAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM: Analisis Terhadap Tareqat Naqsabandi Jabal Hindi Sunggal Muhammad Rapono; Amroeni Drajat; Salminawati Salminawati
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 01 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i01.3797

Abstract

Pada dasarnya bertarikat melahirkan kondisi batin yang kurang tenang dan kurang stabil sehingga melahirkan perilaku sosialnya baik. Hal ini merupakan bagian terpenting dari pendidikan, pendidikan itu sendiri berujuan memperbaiki akhlaq atau adab yang di istilahkan dalam pendidikan dengan Ta’dib, sedangkan bertarikat menjunjung tinggi adab. Hal inilah yang menjadi kajian dalam artikel ini bahwa Tarikat Naqsabandy Jabal Hindi merupakan tarikat dengan sanad Syekh Bahauddin Naqsabandy. Metode penelitian dalam meproleh data menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fonomenologi. Berdasarkan uraian dan analisis data maka ditemukan dalam penelitian ini bahwa pengikutTarekat Naqsabandiyah sebelumnya merupakan orang-orang biasa seperti pada umumnya, mayoritas masih awam dengan ilmu agama, minim dalam pelaksanaan praktik-praktik ibadah baik ibadah khusus maupun ibadah umum. Mayoritas juga memiliki perilaku sosial yang kurang baik dan bahkan banyak sekali yang bersifat temperamental, merasa tidak tenang dan tidak mampu mengedalikan emosinya. Setelah mengikuti Tarekat Naqsabandiyah, banyak sekali perubahan-perubahan yang dirasakan oleh jamaah Tarekat Naqsabandiyah. Meraka menjadi lebih tekun beribadah, baik yang ibadah wajib maupun sunah, perilaku kesehariannya terhadap keluraga maupun masyarakat sekitar menjadi lebih baik, lebih sabar dan tidak lagi temperamental. Semakin gemar dan giat menuntut ilmu (ilmu-ilmu Agama), juga tetap bersemangat dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan dunia akhirat. Perubahan sifat dan sikap menuju ke arah yang semakin baik, baik dari segi pengetahuan agama, akhlak, ibadah, keimanan, ketenangan ruhaniah/mental merupakan indikasi adanya kontribusi Tarekat Naqsabandiyah terhadap Pendidikan Agama Islam dan perilaku social.
AKTUALISASI TAREKAT NAQSABANDIYAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM: Analisis Terhadap Tareqat Naqsabandi Jabal Hindi Sunggal Muhammad Rapono; Amroeni Drajat; Salminawati Salminawati
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 01 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i01.3797

Abstract

Pada dasarnya bertarikat melahirkan kondisi batin yang kurang tenang dan kurang stabil sehingga melahirkan perilaku sosialnya baik. Hal ini merupakan bagian terpenting dari pendidikan, pendidikan itu sendiri berujuan memperbaiki akhlaq atau adab yang di istilahkan dalam pendidikan dengan Ta’dib, sedangkan bertarikat menjunjung tinggi adab. Hal inilah yang menjadi kajian dalam artikel ini bahwa Tarikat Naqsabandy Jabal Hindi merupakan tarikat dengan sanad Syekh Bahauddin Naqsabandy. Metode penelitian dalam meproleh data menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fonomenologi. Berdasarkan uraian dan analisis data maka ditemukan dalam penelitian ini bahwa pengikutTarekat Naqsabandiyah sebelumnya merupakan orang-orang biasa seperti pada umumnya, mayoritas masih awam dengan ilmu agama, minim dalam pelaksanaan praktik-praktik ibadah baik ibadah khusus maupun ibadah umum. Mayoritas juga memiliki perilaku sosial yang kurang baik dan bahkan banyak sekali yang bersifat temperamental, merasa tidak tenang dan tidak mampu mengedalikan emosinya. Setelah mengikuti Tarekat Naqsabandiyah, banyak sekali perubahan-perubahan yang dirasakan oleh jamaah Tarekat Naqsabandiyah. Meraka menjadi lebih tekun beribadah, baik yang ibadah wajib maupun sunah, perilaku kesehariannya terhadap keluraga maupun masyarakat sekitar menjadi lebih baik, lebih sabar dan tidak lagi temperamental. Semakin gemar dan giat menuntut ilmu (ilmu-ilmu Agama), juga tetap bersemangat dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan dunia akhirat. Perubahan sifat dan sikap menuju ke arah yang semakin baik, baik dari segi pengetahuan agama, akhlak, ibadah, keimanan, ketenangan ruhaniah/mental merupakan indikasi adanya kontribusi Tarekat Naqsabandiyah terhadap Pendidikan Agama Islam dan perilaku social.
Metode Penalaran tentang Tuhan: Membaca Pemikiran 'Abdul Qahir al-Bagdadi (w. 429 H/ 1038 M) dalam Karyanya Kitāb Uṣūluddīn Ryandi Ryandi; Amroeni Drajat; Abdullah bin Long
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol. 22 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v22i1.12369

Abstract

  The correct reasoning about God is important in Islamic faith. The value judgment of reasoning incorrectly about God is heresy. Al-Bagdadi was early Ash’arite (4th/5th AH), who compiled many correct reasoning arguments about God in his work Kitāb Uṣūluddīn. His arguments have influenced later Ash’arites such as Abu Muzaffar al-Isfaraini (w. 471 H/ 1078 M), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H/ 1085 M), and Hujjatul Islam al-Gazali (w. 505/ 1111 M). This article explores al-Bagdadi's reasoning arguments elaborated in his work Uṣūluddīn, to then be reduced to the three methods of reasoning commonly used by the Ashharite, namely dalīl al-tamānu’, qiyās al-gayb ’alā al-syāhid, and al-sabr wa al-taqsīm. After analyzing his Uṣūluddīn, it is concluded that al-Bagdadi uses these three methods of reasoning in his description of God. Dalīl al-tamānu’ is used by al-Bagdadi to prove the oneness of God (waḥdāniyyah). Qiyās al-gayb ’alā al-syāhid is used to prove the existence of God, and the perfection of His attributes. As for al-sabr wa al-taqsīm is used to prove the truth of seeing God in the hereafter (ru'yatullāh), and the negation of limitations on the God. In addition to strengthening the Islamic faith with correct reasoning, the logical arguments built by al-Bagdadi are also intended to criticize deviant views of God, both from outside and internal Islam.  Because it is reason-based, its arguments are universally applicable.
CRITIQUE OF THE CONCEPT OF GENDER FEMINIST INTERPRETATION: A REVIEW OF CONTEMPORARY INTERPRETATIONS: KRITIK KONSEP GENDER PENAFSIRAN FEMINIS: TELAAH TAFSIR-TAFSIR KONTEMPORER Rizqi Ramadhan; Amroeni Drajat; Mardian Idris Harahap
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6589

Abstract

This thesis aims to examine and critique the concept of gender in feminist interpretations of the Qur’an through a comparative (muqarran) study of contemporary exegeses. The study’s background highlights a shift in the meaning of “gender” from a biological category of sex to a social construct that can alter perceptions of a person’s sex, and the impact of this shift on the interpretation of Qur’anic verses concerning women specifically issues of leadership (Qur’an, an-Nisaʾ 4:34), polygyny (an-Nisaʾ 4:3), and inheritance distribution (an-Nisaʾ 4:11). The author analyzes contemporary tafsirs as an effort to clarify and counteract distortions in the interpretation of these Qur’anic verses related to the concept of gender. This research uses a qualitative method with a library-based approach and comparative (muqarran) analysis to contrast different interpretations. The study maps the methods and interpretive tendencies of feminist exegetes such as Amina Wadud, Zaitunah Subhan, and Nasaruddin Umar, and compares them with contemporary tafsirs including Tafsīr al-Munīr by Wahbah az-Zuhailī, Tafsīr al-Azhar by Buya Hamka, and Tafsīr al-Misbāḥ by Quraish Shihab. The findings identify several critiques of feminist interpretations of the gender concept: (1) feminist readings consistently emphasize that women are discriminated against by men in Islamic teachings and the Qur’an—portraying Islam as perpetuating patriarchal culture—which may create the misconception that Islam is discriminatory toward women; (2) there are misconceptions about the concept of gender from an Islamic perspective, such as treating gender as a form of relativism that precludes absolute truth, and using the gender concept to justify sexual deviations (e.g., the increasing visibility of LGBT cases); and (3) several negative social impacts of feminist exegesis on Muslim communities, for example: declining marriage rates due to women’s reluctance to accept male leadership in the household, widespread rejection and moves to prohibit polygyny, and resistance to Qur’anic inheritance rules. The thesis concludes by underlining the need for critical reading of feminist gender concepts in Qur’anic interpretation and for comparing them with other contemporary tafsirs. Such balanced readings—attending both to text and context—can correct conceptual and practical deviations in the discourse on gender among Muslim communities, and prevent Islam from being perceived as discriminatory toward women. Islam, in fact, upholds the dignity and worth of every human being, both male and female, and is rahmatan lil-ʿālamīn.