Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Shanan

MENGENAL PENULIS KITAB YAKOBUS DAN PENGAJARANNYA Demsy Jura
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 1 (2017): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.569 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i1.1482

Abstract

Salah satu kitab yang terdapat dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru adalah Kitab Yakobus, di mana kitab ini sempat menjadi pokok pembicaraan hangat di kalangan teolog Kristen berkaitan dengan keabsahannya. Informasi mengenai hal ini akan terungkap ketika seseorang melakukan kajian khusus mengenai Kitab Yakobus, dan haruslah diakui bahwa dari beberapa kitab yang ada dalam Alkitab, nyata sekali Kitab Yakobus menjadi salah satu kitab yang menjadi pokok perbincangan yang cukup serius berkaitan dengan keabsahan kitab ini. Apakah kitab ini bisa atau tidak masuk dalam bagian dari Alkitab yang telah diterima dalam kanonisasi1masa gereja mula-mula.
KAJIAN SOTERIOLOGI DALAM TEOLOGI UNIVERSALISME, CALVINISME, DAN ARMINIANISME SERTA KAITANNYA DENGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Demsy Jura
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.047 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i2.1484

Abstract

Soteriologi adalah konsep penting dalam kajian teologi Kristen. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu kata sótérios (ζωηήριον) yang artinya Keselamatan. Kata sótérios (ζωηήριον) ini berasal dari dua kata yaitu: sótér (ζωηήρ) yang berarti Penyelamat dan logia (λόγια) adalah Perkataan. Dengan demikian maka dalam segi etimologi, kata Soteriologi berarti ajaran tentang keselamatan manusia.Berdasarkan kajian hermeneutika, ada beberapa teori yang berkaitan dengan soteriologi. ikut memberi warna dalam kajian teologi tentang doktrin keselamatan ini. Walaupun doktrin Soteriologi Kristen terdiri atas beberapa kelompok dengan tekanan keyakinannya masing-masing, namun kesemuanya itu tidak mengabaikan peran Yesus Kristus sebagai juruselamat umat manusia.Kelompok Universalisme Kristen yang percaya bahwa keselamatan itu bersifat universal; artinya pada akhirnya semua orang diselamatkan. Kelompok Calvinisme yang menekankan aspek Kedaulatan Allah, sangat tegas menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah juruselamat dunia; dan melaluiNya, setiap orang yang terpilih sejak masa kekekalan itu akan diselamatkan karena iman dan kepercayaannya akan Tuhan Yesus Kristus, dan kaum Armenianisme dengan tekanan Kehendak Bebas, dimana aspek manusia dipandang menentukan keselamatannya namun jalannya tetap ada didalam Yesus Kristus. Kelompok Armenianisme percaya bahwa manusia berkehendak bebas dan itu asalnya dari Tuhan, dan dalam kehendak bebas itulah maka seseorang terselamatkan karena ia percaya kepada Kristus. Walaupun memiliki teori dan tekanan yang berbeda dalam argumentasi soteriologi-nya, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia.Soteriologi Kristen yang muncul sebagai bagian dari hasil kajian hermeneutika para ahli teologi itu, sesungguhnya mampu memperkaya nuansa teologi seseorang, termasuk para guru yang terlibat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Studi teologi Soteriologi yang beragam tersebut tidaklah perlu dipermasalahkan sebab intissari dari Soteriologi Kristen tidak digugat sama sekali. Keselamatan hanya ada dalam diri Yesus Kristus merupakan keputusan bersama dan final. Itulah sebabnya, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ajaran bahwa keselamatan hanya melalui Yesus Kristus menjadi pokok dalam studi Soteriologi dan hal itu wajib dijabarkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.Kata Kunci: Arminianisme, Calvinisme, Pendidikan Agama Kristen, Soteriologi, Teologi, Universalisme
TEOLOGI RELIGIONUM: DILEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENENTUKAN SIKAP KEIMANAN Demsy Jura
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 1 (2018): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.888 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i1.1501

Abstract

Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang memiliki kemampuan untuk mengenal hal yang berifat religius; kenyataan ini membuat ia menjadi mahluk yang berkemampuan dalam memahami Tuhan dengan segala aspek-aspek ilahi yang ada didalamnya. Hal ketuhanan pada akhirnya memberikan inspirasi kepada manusia dalam menjalani kehidupan yang lebih bermartabat, melalui keyakinan keagamaan yang dimilikinya. Dengan demikian maka kemampuan dalam memahami agama, telah menempatkan manusia poda posisi yang lebih tinggi dari mahluk lainnya.Keyakinan keagaman menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia; itulah sebbanya melalui hal keyakinan inilah maka seseorang perlu membangun hubungan yang harmonis diantara sesama. Upaya membangun hubungan yang harmonis diantara para pemeluk agama terus diupayakan ditengah-tengah gencarnya gerakan fundamentalisme dan fanatisme para pengikut atas agama yang dianutnya. Upaya dialog antar umat beragama merupakan salah satu cara untuk meredam kekisruan terebut.Teologi Religionum merupakan cabang ilmu teologi yang membahas bagaimana respons teologi kekristenan terhadap fakta pluralisme agama diluar agama Kristen. Tujuan dari teologi religionum ini adalah bagaimana kekristenan melihat dan memberikan penilaian teologis terhadap agama-agama lain. Masing-masing agama memiliki keunikannya tersendiri dan perlu dihargai eksistensinya; itulah sebabnya diperlukan suatu cara untuk hal yang dimaksud.Tipologi Tripolar merupakan sebuah istilah yang akrab dengan studi agama-agama, dan juga berkaitan dengan perkembangan teologi religionum. Tipologi Tripolar bermaksud memberikan penjelasan terperinci mengenai teologi religionum yang dimaksudkan tersebut. Tipologi yang dimaksudkan tersebut itu digunakan sebagai standar di dalam studi teologi agama-agama, dan hingga kini masih banyak dipakai dalam diskursus teologi agama-agama. Tipologi Tripolar digunakan untuk memetakan beragam pendekatan para teolog dan non-teolog Kristen mengenai relasi kekristenan dengan agama-agama lain. Pemetaan ini didasarkan pada kesamaan dan perbedaan cara pandang mereka terhadap agama-agama lain di luar Kristen. Alan Race mempopulerkan istilah Tipologi Tripolar yang menunjuk kepada tiga hal pokok dalam membahas teologi agama-agama yang dimaksud, yaitu: eksklusivisme, Inklusivisme dan Pluralisme.Berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen (PAK), maka kehadiran teologi religionum menjadi dilematika dalam pelaksanaan PAK; sebab PAK menuntut pengakuan mutlak bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia. Apapun alasan yang dipergunakan dalam membangun jembatan komunikasi dengan sesama pemeluk agama; PAK memberikan sikap yang jelas berkaitan dengan posisi keimanan orang percaya. Jadi hubungan dengan sesama pemeluk agama wajib dijaga dalam konteks fakta kemajemukan dalam masyarakat, namun keyakinan iman kepada Kristus tidak bisa diabaikan begitu saja.Kata Kunci: Dilematika, Keimanan, Pendidikan Agama Kristen, Teologi Religionum,
DESKRIPSI PRAKTIK OKULTISME DI KALANGAN REMAJA SUKU DAYAK MAANYAN DI GEREJA SIDANG-SIDANG JEMAAT ALLAH (GSJA) WILAYAH KABUPATEN BARITO TIMUR KALIMANTAN TENGAH Demsy Jura; Wellem Sairwona
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1534

Abstract

Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau besar yang ada di Indonesia, dan wilayah yang didiami oleh masyarakat suku Dayak ini sangat kental dengan tradisi keyakinan tradisonal dengan berbagai upacara keagamaan yang ada. Agama asli orang Dayak adalah Kaharingan, dan dalam kepercayaan agama ini, sosok Tuhan berbeda sebutannya karena bergantung pada wilayah, misalnya untuk kawasan Barito, Tuhan Kaharingan disebut Yustu Ha Latalla, sedangkan di Kotawaringin Barat disebut Sanghyang Dewata. Namun demikian, mayoritas pemeluk Kaharingan menyebut pencipta sebagai Ranying Hatalla Langit yang kalau diartikan adalah Kuasa yang Maha Besar. Dalam kehidupan kesehariannya, masyarakat Dayak percaya kepada roh-roh inilah yang di-yakini dengan kuar; walaupun kekristenan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Orang Dayak yang terdiri dari sejumlah sub-suku; memiliki tradisi leluhur yang seringkali terhubung dengan penyembahan pada roh-roh leluhur. Secara khusus masyarakat Dayak Maayan, beberapa istilah yang berhubungan dengan penyembahan terhadap roh leluhur, diantaranya: Wadian atau Balian yaitu orang yang menjadi pemimpin ritual dalam beberapa upacara adat Dayak. Damang atau Damung adalah pemimpin atau tokoh masyarakat adat Dayak Maanyan. Mantir adalah tetua adat atau kepala suku atau kepala adat yang dihormati di tengah masyarakat Dayak Maanyan. Wadian Matei adalah pemimpin ritual dalam upacara kematian suku Dayak Maanyan. Wadian Welum adalah pemimpin ritual dalam upacara pengucapan syukur. Datu Tunyung adalah surga dalam kepercayaan suku Dayak Maanyan. Talamana Tuah Hukat adalah Tuhan dalam kepercayaan suku Dayak Maanyan dan juga sering di-sebut Alatala. Kariau adalah roh-roh atau makhluk halus. Adiau adalah roh orang yang sudah me-ninggal. Kebanyakan orang Dayak Maayan masih setia menjalankan tradisi leluhur itu. Demikian juga dengan sejumlah ritual keagamaan seperti Ipaket. Masyarakat Dayak Maanyan percaya bahwa kematian adalah sebuah awal perpindahan atau perjalanan roh (adiau atau amirue) ke kemuliaan dunia baru (tumpuk adiau) yang subur, damai, tentram, kaya raya di mana di sana ada kesempurnaan. Itulah sebabnya ada upacara khusus bagi mereka yang meninggal dunia. Upacara kematian yang lengkap dalam tradisi Suku Dayak Maanyan disebut Marabia, Ijambe dan Ngadatonuntuk. Upacara iniharus di-laksanakan secara lengkap menurut adat agar sampai ke Datu Tunyung atau sorga; dan jika tidak dilakukan secara lengkap, maka arwah atau adiau bisa gentayangan, dan hal inilah yang ditakuti oleh mereka yang masih hidup Kehadiran gereja di kalangan Dayak Maayan, sedikit memberi perubahan dalam pola pikir mereka. Upacara yang berkaitan dengan penyembahan terhadap leluhur mulai disentuh dengan kebenaran Alkitab. Bahaya akan praktik Okultisme terus disampaikan, namun hal itu juga terus berlangsung. Itulah sebabnya penelitian ini hendak menyampaikan data mengenai deskripsi praktik Okultisme yang dilakukan para remaja gereja di Gereja Sidang Jemaat Allah. Penelitian ini hendak membuktikan hal apa saja yang dipraktikkan dan seberapa besar peran gereja dalam membina kehidupan rohani anggota jemaatnya.Kata Kunci: Deskripsi, Okultisme, Agama Kaharingan, Remaja
DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK IBADAH YANG BERORIENTASI PADA ETOS KERJA KRISTEN BAGI PEGAWAI PEMERINTAH DI BALAI KOTA PROPINSI DKI JAKARTA Solmeriana Sinaga; Demsy Jura
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.69 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1577

Abstract

Kurikulum merupakan sebuah alat yang digunakan untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran yang mampu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Kurikulum tidak terlepas dari sebuah proses pembelajaran serta pengalaman dalam belajar itu sendiri. Dalam hal ini kurikulum tidak hanya diperlukan dalam pendidikan formal, namun dalam pendidikan informal sekalipun sangat dibutuhkan, sebab kurikulum juga merupakan pondasi yang kuat dalam sebuah pembelajaran di dunia pendidikan.Penelitian ini bertujuan untuk mendesain kurikulum pendidikan agama Kristen untuk ibadah yang berorientasi pada etos kerja Kristen bagi pegawai pemerintah di Balai Kota Propinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sampel ditetapkan menggunakan model sampel bertujuan (purposive sampling). Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang pegawai Kristen yang terdiri pengurus ibadah dan peserta ibadah. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, sedangkan teknik analisis data menggunakan model deskripsi analisis.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa pemahaman para pengurus tentang kurikulum pendidikan agama Kristen sudah memadai dan pemahaman pengurus ibadah dan peserta ibadah tentang etos kerja Kristen dan ibadah juga sudah memadai. Penelitian ini dapat memberi gambaran tentang desain kurikulum pendidikan agama Kristen untuk ibadah yang berorientasi dalam meningkatkan etos kerja Kristen. Hasil temuan penulis ialah kurikulum pendidikan agama Kristen sangat penting untuk diterapkan dalam ibadah yang berlangsung setiap hari Jumat pada pemerintah di Balai Kota Propinsi DKI Jakarta.Kata Kunci: Desain, Kurikulum, Pendidikan Agama Kristen (PAK), Ibadah, Etos Kerja Kristen.