Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN NILA LARASATI (Oreochromis niloticus) Puguh Karisma Ferry Setyawan; Sri Rejeki; Ristiawan Agung Nugroho
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.593 KB)

Abstract

Ikan nila memiliki prospek budidaya yang baik, karena peningkatan permintaan, seiring dengan penduduk dunia yang meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diadakannya rekayasa budidaya untuk memenuhi permintaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Recombinant Growth Hormone (rGH) melalui metode perendaman, dan mengetahui dosis pemberian pemberian rGH yang paling tepat dengan metode perendaman pada larva ikan nila larasati. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Janti, Klaten, pada 27 September – 29 November 2013.  Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan nila larasati umur 7 hari setelah habis kuning telur. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu A 2.5 mg/L, B 2 mg/L, C 1.5 mg/L, D (tanpa rGH), dan 3 ulangan untuk masing-masing perlakuan. Pemeliharaan dilakukan selama 63 hari. Variabel yang diukur meliputi kelulushidupan (SR), pertumbuhan ( panjang mutlak dan SGR bobot), efisiensi pemberian pakan (EPP), dan kualitas air. Nilai kelulushidupan (SR) pada perlakuan A 83.00 ± 2.00, B 83.58 ± 0.58, C 82.67 ± 4.58, dan D 73.67 ± 6.11. Panjang mutlak pada perlakuan A 8.18 ± 0.04, B 7.58 ± 0.11, C 7.42 ± 0.05, D 6.69 ± 0.15. SGR bobot pada perlakuan A 3.32 ± 0.017, B 2.85 ± 0.058, C 2.77 ± 0.010,  dan D 2.22 ± 0.098. EPP perlakuan A  1.40 ± 0.11, B 1.25 ± 0.02, C 1.21 ± 0.08, dan D 1.17 ± 0.06 . Dengan demikian , pemberian rGH  melalui metode perendaman dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan EPP  larva ikan nila larasati, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan.  Dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan nilai EPP yang baik adalah 2.5 mg/L. Tilapia “Larasati” is a fresh water fish which has a good prospect in aquaculture industry. The demand of both in local and international market due to the market of the world population. To fulfill those demand, the improvement of it’s aquaculture engineering. Application of rGH solution in the the tilapia larvae media is one of the method for aquaculture engineering improvement. The purpose of this research was to observe the effect of different dose rGH solution trough dipping method an the larvae media on the survival rate and  growth. A first feeding larvae of tilapia were the research experimental animal.This research was conducted in the Central of Freshwater Aquaculture Hatchery (BPBIAT) Janti, Klaten,  on 27 September – 29 November 2013.  The fish sample used larvae tilapia larasati aged 7 days or first feeding larvae. A completely randomized design were applied with 4 treatments, each treatment was replicated 3 times. The treatment were A 2.5 mg/L, B 2 mg/L, C 1.5 mg/L, and  D (control/without rGH). The research was out for 63 days. The collected were survival rate (SR), growth (length absolute and  SGR weight),  EPP, and water quality .The result show that the different dose of rGHthrought dipping method show a significant effect on the  survival rate value (SR) A 83.00 ± 2.00 , B 83.58 ± 0.58, C 82.67 ± 4.58, and D 73.67 ± 6.11. length absolute treatment A 8.18 ± 0.04, B 7.58 ± 0.11, C 7.42 ± 0.05, D 6.69 ± 0.15. SGR weight on treatment A 3.32 ± 0.017, B 2.85 ± 0.058, C 2.77 ± 0.010; D 2.22 ± 0.098. EPP treatment A 1.40 ± 0.11, B 1.25 ± 0.02, C 1.21 ± 0.08, and D 1.17 ± 0.06. Thus, gift of rGH through dipping methods with different dose  take effect real  toward growth, and EPP of the tilapia larvae fish larvae, but not real influential toward survival rate. The best dose to improve the growth and a good EPP value is 2.5 mg/L.
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) DENGAN INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA Nindya Kharisma Mahardhika; Sri Rejeki; Tita Elfitasari
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.805 KB)

Abstract

Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) merupakan salah satu ikan konsumsi yang diminati masyarakat Indonesia. Pemeliharaan benih ikan patin yang tepat dapat menghasilkan benih dengan performa pertumbuhan dan kelulushidupan yang optimal. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya yang berbeda terhadap performa pertumbuhan dan kelulushidupan dan menentukan intensitas cahaya terbaik pada pemeliharaan benih ikan patin. Bahan dan alat yang digunakan diantaranya benih ikan patin, pakan pelet komersil, wadah pemeliharaan, jaring seser, neraca digital, perlengkapan aerasi, lampu LED 5 watt, plastik mulsa sebagai penutup untuk menghindari masuknya cahaya di luar perlakuan, instalasi listrik yang memadai untuk kestabilan intensitas cahaya, lux meter untuk mengukur intensitas cahaya, alat tulis serta alat ukur kualitas air. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan April 2017 di Balai Benih Ikan (BBI) Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan intensitas cahaya, perlakuan A dengan intensitas cahaya 0-5 lx, perlakuan B dengan intensitas cahaya 20±5 lx, dan perlakuan C dengan intensitas cahaya 50±5 lx. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak (gram), laju pertumbuhan relatif (%/hari), kelulushidupan (%), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan intensitas cahaya tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan benih ikan patin. Kualitas air pada media pemeliharaan berada pada rentang yang masih dapat ditoleransi benih ikan patin. Kisaran intensitas cahaya terbaik bagi performa pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan patin tidak ditemukan dalam penelitian ini, namun pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan relatif tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan A (0-5 lx), sedangkan kelulushidupan tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan C (50±5 lx). Catfish (Pangasius hypophthalmus) is one of the favourite consumed fishes for Indonesian. Proper fingerling culture will generate optimal growth performance and high survival rate. The purposes of this research are to understand the effect of various light intensity on growth performance and survival rate in catfish fingerling culture and to determine the best light intensity for catfish fingerlings culture. Materials and instruments used in this research namely catfish fingerlings, fish commercial foods, containers, fishnets, digital scale, aeration equipments, 5 watt LED lights, mulsa plastics as a cover to prevent light’s entrance from the outside, sufficient electrical instalations for a stable light intensity, lux meter to measure the light intensity, stationeries and water quality measuring instruments. The research was conducted in March to April 2017 at Balai Benih Ikan (BBI) Boja, Kendal Regency, Central Javaby using completely randomized design experimental method with 3 treatments and 5 repetition. The treatment was light intensity variation namely treatment A with 0-5 lx light intensity, treatment B with 20±5 lx light intensity, and treatment C with 50±5 lx light intensity. The observed variable were absolute weight gain (W), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality. The result shows that the effect of light intencity variation on catfish fingerling's absolute weight gain, relative growth rate, and survival rate is insignificant (P>0.05). Water quality of culture media was in decent range for catfish culture. The best light intensity range for catfish fingerlings culture was not discovered in this research, however the highest absolute weight gain and relative growth rate found in treatment A (0-5 lx), while the highest survival rate found in treatment C (50±5 lx).
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera) Dewi Nurfebriani Nurfebriani; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.7 KB)

Abstract

Budidaya Caulerpa lentillifera masih terdapat kendala yaitu ketersediaaan bibit yang tidak kontinu.  Hal ini dikarenakan sifatnya yang musiman sehingga mengakibatkan tidak adanya kontuinitas produsi  C. lentillifera setiap waktu. Produksi C. lentillifera dapat ditingkatkan dengan adanya pengembangan teknologi budidaya. Teknologi budidaya yang dilakukan salah satunya dengan penambahan pupuk. Penambahan pupuk pada media pemeliharaan bertujuan untuk mencukupi nutrien yang dibutuhkan untuk rumput laut. Perlu dilakukan penelitian dengan penambahan pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda dan lama perendaman yang terbaik untuk pertumbuhan C. lentillifera  guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (0jam); B (2 jam); C (4 jam); D (6 jam) dan E (8 jam) dengan dosis pupuk 2,5 mL/L. Data yang didapatkan selama penelitian meliputi laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan pemberian dosis pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap l6 laju pertumbuhan spesifik. Uji Duncan memperlihatkan perlakuan D dengan lama perendaman 6 jam memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.27±5.12%/hari). Parameter kualitas air masih dalam kisaran yang tepat untuk pertumbuhan C. lentillifera. Discontinuity of seeds availability becomes an obstacle in Caulerpa lentillifera cultivation. C. lentillifera is a seasonal variety of seaweed, so that makes it has no continuity of production. C. lentillifera production can be increased by development cultivation technology. One of cultivation technologies can be done is by adding the fertilizer. The aim of fertilizer addition on rearing media is to add the nutrient the seaweed require. Thus, there is a need to study on the effect of immertion duration with liquid organic fertilizer. The aims of this investigation is to find out the effect of different time of liquid organic fertilizer immersion on the growth of C. lentillifera  and to find out the proper time of immersion that result in the best growth of C. lentiilifera. This study was done experimentally by applying a Completely Randomized Design with 5 treatments, namely  A (0 hour); B (2 hours); C (4 hours), D (6 hours) and E (8 hours) with fertilizer dose of 2,5mL/L. Each treatment was replicated 4 repititions. The data collected were specific growth rate and water quality parameters. Data parameters was analyzed using ANOVA  followed by Duncan’s test. The result shows that application of liquid organic fertilizer with different immersion duration  shows highly significantly  affect (P<0.01) on specific growth rate. The best growth was found in treatment D (6 hours) with specific growth rate (3.37±0.17%)/day.  The water quality parameters were still in the proper range for  C. lentillifera growth.
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Caulerpa lentillifera YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI TAMBAK BANDENGAN, JEPARA Sarah Nur Iskandar; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.004 KB)

Abstract

Caulerpa lentillifera termasuk kedalam alga hijau. Produksi C. lentillifera masih rendah karena mengandalkan hasil dari alam sehingga dibutukan teknologi budidaya untuk menunjang kontinuitas produksi C. lentillifera. Perbedaan biomassa awal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Hal ini sangat berkaitan dengan persaingan setiap individu rumput laut dalam mendapatkan unsur hara sebagai makanannya. Keberhasilan sistem penanaman dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang baik dan bobot yang sesuai akan meningkatkan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot awal penanaman terhadap pertumbuhan C. lentillifera yang dibudidayakan dengan metode longline dan bobot awal penanaman rumput laut yang memberikan pertumbuhan terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2015 - 22 April 2015 di Tambak Bandengan, Jepara, Jawa Tengah. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis C. lentillifera yang berasal dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi. Tanaman uji dibudidayakan dengan metode longline dan dipelihara selama 35 hari. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu perlakuan A (50 g), B (75 g), C (100 g), dan D (125 g). Variabel yang diamati adalah pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air. Hasil analisa ragam anova menunjukkan bahwa perbedaan bobot awal berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pertumbuhan C. lentillifera. Hasil uji wilayah ganda (Duncan) menunjukkan perlakuan A dengan bobot 50 g memberikan pertumbuhan terbaik. Kesimpulan yang diperoleh adalah pertumbuhan rumput laut C. lentillifera dengan bobot awal penanaman 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik sebesar 152.00±10.95%, dan pertumbuhan spesifik terbaik yaitu sebesar 2.64±0.13%/hari dan disarankan untuk dibudidayakan. Caulerpa lentillifera is belong to green algae species. C. lentillifera production is remains low and still depend on natural harvest, in other to cultivation technology is necessary to support the sustainable production of C. lentillifera. Initial weigh of biomass greatly affect the growth of seaweed. It is strongly associated with each individual seaweed competition in getting nutrients as food. The success of the culture system is affected by using a good seed and the appropriate weights will increase the growth. The aims of this study was to determine the effect of different initial weights on the growth of seaweed C. lentillifera and to find out the initial weight that gives the best growth during culture period with Long line method. This study was conducted from February 7th to April 22th 2015. The plants test used in this study was seaweed C. lentillifera that comes from Brackish Water Aquaculture Center (BPBAP) Takalar, Sulawesi. The tested of C. lentillifera cultivated by long line method and maintained for 35 days. This study using experimental design by Completely Randomized Design with 4 treatments and 5 replications. The treatments tested were A (50 g), B (75 g), C (100 g) and D (125 g). The variables measured were relative growth, specific growth rate, and water quality. ANOVA variance analysis results indicate that the initial weight difference was highly significant (P<0.01) on the growth of C. lentillifera, the result of the double region (Duncan) showed treatment A with 50 g in weight gave the best growth. The conclusion of this study that the growth of C. lentillifera with 50 g Initial weigh of planting gives the best result in relative growth rate about 152.00±10.95% and specific growth rate about 2.64±0.13%/day and it recommended to be cultured.
PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KERANG DARAH (Anadara granosa) YANG DIBUDIDAYA DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Bahari Sony Atmaja; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.041 KB)

Abstract

Kerang darah merupakan salah satu kelompok hewan moluska dari kelas Bivalvia yang dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani dan bernilai ekonomis. Kondisi perairan terabrasi yang banyak ditumbuhi oleh pohon mangrove dalam upaya bioremediasi perairan tersebut dapat diikuti dengan kegiatan budidaya kerang darah sebagai solusi dari pemanfaatan lahan terabrasi dan juga permasalahan ekonomi masyarakat sekitar perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan Kerang darah (A.granosa), dan mengetahui padat tebar yang menghasilkan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah  kerang darah  dengan bobot individu rata-rata 4,87±1,46 gram yang diperoleh dari pengumpul di sekitar lokasi penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah), B (padat penebaran 30 ekor/wadah), C (padat penebaran 40 ekor/wadah), D (padat penebaran 50 ekor/wadah). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa padat tebar berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah (Anadara granosa) yang dibudidaya di perairan tambak terabrasi Kaliwlingi Kabupaten Brebes. Padat tebar yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah adalah 20 ekor/wadah yang menghasilkan laju pertumbuhan relatif (1,06%), dan kelulushidupan (73,33%). Blood cockles is one of a group of molluscs from the class of bivalvia that can be consumed as a source of animal protein and have economical value. The condition of eroded water territory which is overgrown by mangrove trees for water bioremediation that could followed by blood cockles culture activity to solution the economic problems for community around these area. The purpose of this research is to know the influence of different stocking density for growth and survival rate of blood cockles (A. granosa), and knowing the stocking density that giving the best of growth and best survival rate. The blood cockles obtained from the collector around these area. Experimental design that used in these research was complete randomied design with 4 treatment and 3 replication treatment that are A (stocking density 20/container), B (stocking density 30/container), C (stocking density 40/container), D (stocking density 50/container). Variable observed were relative growth rate,and survival rate. Based on the result can be concluded that the different stocking density effect for the growth and survival rate of blood cockle (A. granosa) that cultivated in the eroded waters teritory of Kaliwlingi Brebes Regency. The best stocking density for growth and survival rate of blood cockles are 20/container that produce relative growth rate (1,06%), and survival rate (73,33%).
PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT LATOH (Caulerpa lentillifera) DI LABORATORIUM PENGEMBANGAN WILAYAH PANTAI (LPWP) JEPARA Ana Yuliyana; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.385 KB)

Abstract

Budidaya rumput laut latoh (C. lentillifera) dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti salinitas. Salinitas terkait erat dengan tekanan osmotik yang mempengaruhi keseimbangan tubuh organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas yang berbeda pada tingkat pertumbuhan rumput laut latoh (C.lentillifera) dan untuk menentukan salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan terbaik dari rumput laut latoh  (C. lentillifera). Penelitian ini dilakukan dengan Metode yang digunakan  adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, perlakuan A (20 ppt), B (25 ppt ), C (30 ppt) dan D (35 ppt). Berat awal rumput laut yang digunakan adalah 25 g, penelitian ini dilakukan selama 35 hari. Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Hasil penelitian menujukan salinitas memberikan pengaruh sangat nyata, terhadap pertumbuhan rumput laut latoh (C. lentillifera), laju pertumbuhan spesifik menunjukan rata-rata perlakuan A sebesar (1.42%/hari),  perlakuan B yaitu (1.84%/hari), perlakuan C sebesar (3.53%/hari), sedangkan perlakuan  D yaitu (2.82 %/hari). Berdasarkan dari uji statistik didapat kesimpulan, perbedaan salinitas berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan rumput laut latoh  (C.lentillifera), laju pertumbuhan spesifik terbaik ditunjukkan oleh perlakuan 30 ppt, dengan laju pertumbuhan harian 3.59% / hari. parameter kualitas air masih dalam kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan rumput laut latoh  (C. lentillifera). Seaweed cultivation (C. lentillifera) is influenced by several parameters such as salinity. Salinity is closely related to the osmotic pressure that affects the body's balance of aquatic organisms. This study aims to determine the effect of different salinity on the growth rate (C.lentillifera) and to determine the salinity that can provide the best growth of seaweed (C. lentillifera). This research was conducted with the method used was completely randomized design with 4 treatments and 5 replications, treatment A (20 ppt), B (25 ppt), C (30 ppt) and D (35 ppt). Initial weight of the seaweed used is 25 g, the study was conducted over 35 days. The data collected is specific growth rate and water quality parameters. Results of research addressing salinity effect is very real, on the growth of seaweed (C. lentillifera), specific growth rate showed an average treatment A by (1.42% / day), which treatment B (1.84% / day) , treatment of C of (3.53% / day), whereas treatment D is (2.82% / day). Based on statistical test obtained conclusion, salinity differences very significant effect on the growth of seaweed latoh (C.lentillifera), specific growth rate best demonstrated by the treatment of 30 ppt, with a daily growth rate of 3.59% / day. parameter water quality is still in favorable conditions for the growth of seaweed (C.lentillifera).
ANALISA KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENERAPAN INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUACULTURE (IMTA) MELALUI PENDEKATAN SIG DI PESISIR KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH Devinda Arsandi; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Aryati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.45 KB)

Abstract

Lahan masyarakat Brebes tergerus oleh arus laut yang terus masuk ke daratan sehingga mengurangi luasan daratan dan menenggelamkan wilayah pertambakan warga. Tambak warga menjadi salah satu mata pencaharian warga yang berada pada wilayah pesisir Kabupaten Brebes terkhusus di Desa Kaliwlingi. Wilayah tambak yang sudah terkena abrasi air laut, tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan budidaya.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luasan perairan Kabupaten Brebes yang dapat digunakan kegiatan budidaya berbasis IMTA, serta langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesesuaian lahan guna penerapan kegiatan budidaya berbasis IMTA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang didukung oleh data – data kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengambilan data pada lokasi penelitian seperti parameter fisika, biologi dan kimia perairan diperoleh dengan sampling di lapangan yang kemudian diolah pada citra satelit sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik dengan bantuan software ArcGis 10.3 dan Microsoft Excell. Peta dasar tematik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut, ikan bandeng serta kerang hijau. Hasil penelitian menunjukkan hanya terdapat area seluas seluas 24,5 ha yang dapat dilakukan budidaya berbasis IMTA terdapat pada titik sampling VI dan untuk 1.332,5 ha tergolong sesuai bersyarat. Wilayah yang tergolong dalam kategori sesuai bersyarat dapat ditingkatkan kelas kesesuaiannya dengan dilakukannya pemberian pakan buatan pada budidaya bandeng untuk meningkatan unsur hara tanah, pada budidaya rumput laut dapat menggunakan metode budidaya long line , sedangkan pada budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan penempatan bambu sebagai media penempelan yang ditancapkan pada saluran inlet tambak. The land of Brebes is eroded by ocean currents that continue to enter the mainland, reducing the land area and drowning the people's aquaculture area. Pond area that has been exposed to sea water abrasion, can no longer be utilized by the community for cultivation activities.  The growth of seaweed, mussels and milkfish depend on the environmental conditions. These seaweed, mussels and milkfish live properly when they get its own criteria on a good environmental conditions.  The purpose of this research were to analize the Brebes coastal area that can be used for IMTA and give some reasonable advice for the area that can’t be used for IMTA.This research was descriptive research that provided with some quantitative data.  The method used in this research is a case study with data collection at the research sites such as the parameters of physics, biology and chemistry obtained by sampling water in the field and then processed with satellite images to produce a basic model of thematic maps using ArcGis 10.3 and Microsoft Excell.  The thematic maps can be used to determine the appropriate location for the cultivation of seaweed, mussels and milkfish . The results showed that research locations covering 1,357 ha, there is only an area of 24.5 ha to do cultivation based on IMTA that located at  6°47'56.16" S ; 109° 2'7.44"  E and the rest 1.332,5 ha classified in appropriate conditional  .   The area that classified in appropriate conditional can be improved by giving artificial feed for the milkfish which is can improving nutrient on the water ; for the seaweed cultivation can be improved by change the cultivation method into long line method ; whereas the cultivation of mussels can be improved by placing bamboo as a media attachment that is placed to the water entrance (inlet) of the ponds
STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH Andi Sagita; Johannes Hutabarat; Sri Rejeki
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.029 KB)

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas perikanan yang dikembangkan di Kabupaten Kendal, pengembangan budidaya udang vanname tersebut saat ini menggunakan cara pembudidayaan yang masih sederhana hingga teknologi intensif. Permasalahan dari penelitian ini adalah bahwa pengembangan yang sekarang dilakukan masih perlu penentuan strategi yang sesuai dengan potensi, daya dukung lingkungan dan kondisi wilayah pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji profil budidaya dan menentukan strategi pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal, kemudian menentukan prioritas strategi berdasarkan analisis Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) serta implikasi manajemen. Jenis penelitian  ini adalah penelitian deskriptif, dengan metode studi kasus (case study). Berdasarkan analisis SWOT kekuatan (S) yang paling besar pengaruhnya untuk pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal adalah tata lingkungan budidaya (0,33), sedangkan kelemahan terbesar adalah sumber daya manusia (SDM) dan produk hasil budidaya (0,23), serta peluang (O) terbesar adalah kegiatan  manajemen tambak (0,37), dan ancaman (T) terbesar adalah penyakit viral (0,25). Dalam persaingan keunggulan strategis Kabupaten Kendal berada pada posisi persaingan aman (favorable) dengan jumlah skor pembobotan variabel internal sebesar 3,11. Total skor pembobotan dari peluang yaitu sebesar 1,72 dan dari ancaman adalah 1,07. Berdasarkan matriks SWOT diperoleh rangking strategi alternatif yaitu berturut-turut strategi SO (3,92), ST (3,27), WO (2,64) dan WT (2,01),  sedangkan berdasarkan kuadran analisis berada pada kuadran 1 (Growth Oriented Strategy). Berdasarkan analisis QSPM, Total Attractive Score (TAS) diperoleh prioritas strategi utama yaitu Strategi WO1 (TAS = 6,964) yaitu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM melalui implikasi manajemen berupa kegiatan penyuluhan rutin dan berkala, sedangkan strategi pilihan terakhir adalah strategi WO3 (TAS = 6,678) yaitu memanfaatkan sumber dana yang ada untuk meningkatkan hasil produksi budidaya melalui kegiatan partisipatif, kerjasama dan kemitraan yang saling menguntungkan. Vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) is a commodity that is developed in Kendal, the development of vanname culture currently adapted was simple cultivation to intensive technology method. The problem of this study is that the development is now done still need to determine the appropriate strategy with  the potential,  carrying capacity of the environment and conditions of  development area. The purpose of this study is to assess profile and also development strategy of vanname shrimp brackishwater culture in Kendal, then  priorities  strategies based on Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) analysis and implication management. This study used descriptive method that is a case study. Based on SWOT analysis, the result showed that Strength (S) for developing vannamei shrimp brackishwater culture in Kendal Regency is environmental culture management as the most influence(0.33), but the biggest weakness are human resources and culture production (0.23), while the biggest opportunity (O) is pond management (0.37) and the biggest threat (T) is viral diseases (0.25). On the competitive strategic advantage, Kendal Regency is in a safe position (favorable), with the number of weighting internal variables about 3.11. Total score weighting of opportunities and threats are 1.72 and 1.07. Ranking of alternative strategy gained based on the SWOT matrix  are SO (3.92), ST (3.27), WO (2.64) and WT (2.01) while quadrant analysis is in 1stquadrant (Growth Oriented Strategy). Based on QSPM analysis, Total Attractive Score (TAS) obtained the key strategic priority is WO1 (TAS= 6,964) which is to improve human resource competence and professionalism through management implications in the form of routine and periodic extension activities, while the last strategy choice is WO3 (TAS=6,678) by utilize the existing funding sources to increase the aquaculture production  through participatory, cooperation and partnerships activities.
Hibridisasi Ikan Nila Pandu dan Kunti Generasi f5 Terhadap Efek Heterosis Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) Generasi F5 Pada Umur 5 bulan Arief Budianto; Fajar Basuki; Sri Rejeki
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.072 KB)

Abstract

This research aimed to compare the heterosis effect of Larasati Tilapia from F5 generation the growth variable weight, length, thickness, survival rate and food convertion ratio, for ♂ Larasati F5, ♂ Pandu F5, ♂ Kunti F5; and ♀ Larasati F5, ♀ Pandu F5, ♀ Kunti F5 at the age of 5 month. This research was conducted in Freshwater Hatchery and Aquaculture Unit Janti, Klaten. Larasati Tilapia F5 generation, Pandu Tilapia F5 generation, and Kunti Tilapia F5 generation at the age of 4 months. This research were used 3 treatments and 3 replications for each sex. The treatment used was Larasati Tilapia F5, Pandu Tilapia F5, and Kunti Tilapia F5 generation. The result show that growth of Tilapia Larasati F5 generation was better than the parent generation Tilapia Pandu F5 generations and Tilapia Kunti F5 generations. Heterosis value of Larasati Tilapia F5 generation at the age of 5 months were, weight of (♂) 31.45% and (♀) 26.94% . Length of (♂) 22.90% and (♀) 19.96%. Thick of (♂) 22.84% and (♀) 19.88%. Survival rate of (♂) 1.33% and (♀) 1.48%. Food convertion ratio of (♂) -0.76% and (♀) -0.68%.
PENGARUH DOSIS PUPUK DAN SUBSTRAT YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Caulerpa lentillifera Iis Dahlia; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.731 KB)

Abstract

Produksi rumput laut  jenis Caulerpa tergolong masih  rendah, sebab sampai saat ini produksi Caulerpa masih mengandalkan hasil dari alam sehingga bergantung pada musim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan interaksi dosis pupuk dengan substrat dasar yang berbeda terhadap pertumbuhan C. lentillifera serta untuk mengetahui dosis pupuk dan substrat yang dapat memberikan pertumbuhan terbaik bagi C. lentillifera. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, menggunakan analisa Faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang digunakan terdiri dari faktor A: dosis pupuk dalam media perendaman terdiri dari 4 taraf: A1: 0 ml, A2: 1,5 ml, A3: 2,5 ml dan A4: 3,5 ml, dan faktor B (substrat dasar) terdiri dari 2 taraf: B1: lumpur  berpasir dan B2: pecahan karang mati. Sehingga didapat 8 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Berat awal rumput laut yang digunakan adalah 25±0,12 g. Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Data laju pertumbuhan spesifik dianalisis menggunakan dua taraf ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa dosis pupuk dan substrat dasar yang berbeda memberikan pengaruh dan interaksi yang sangat nyata (Fhitung > Ftabel (5% dan 1%)) terhadap laju pertumbuhan spesifik C. lentillifera. Perlakuan A1B1 (0 ml, lumpur berpasir) memberikan pertumbuhan terbaik dibandingkan perlakuan yang lain, dengan laju pertumbuhan spesifik = 3,65±0,17 %/hari. Parameter kualitas air yang terukur selama pemeliharaan berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan C. lentillifera. Caulerpa seaweed production is still low, because until now the production of Caulerpa still relies on the natural harvest of that depends on the season. This study aims to determine the effect and interaction of fertilizers and different bottom substrates on the growth of C. lentillifera as well as to determine the dosage of fertilizers and substrates that can provide the best growth of C. lentillifera. This research was done experimentally, using a factorial analysis with a completely randomized design. Factors used consisted of factors: A: dose of fertilizer WIR 4 levels: A1: 0 ml, A2: 1.5 ml, A3: 2.5 ml and A4: 3.5 ml, and factor B (substrate) consisted of two levels: B1: sandy mud and B2: fragmented of dead coral. Therefore there were 8 treatment combinations, each was repeated 3 times. Initial weight of seaweed used was 25±0.12 g. The data collected were specific growth rate and water quality parameters. The data of specific growth rate was analyzed using two levels ANOVA and followed by Duncan’s test. The ANOVA result shows that different dosage and different bottom substrates highly significantly by (Fcount > Ftable (5% and 1%)) affected and interaction the specific growth rate of C. lentillifera. Treatment A1B1 (0 ml, sandy mud) gives the best result compared with another treatments, with specific growth rate = 3.65±0.17 %/day. The Water quality parameters were still in the proper range for C.lentillifera life.