Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PROGRAM IPTEK BAGI DESA BINAAN UNDIP PRODUKSI TAMBAK TERDAMPAK ABRASI DENGAN PENERAPAN LEISA DAN IMTA Restiana Wisnu Ariyati; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati; Tri Winarni Agustini; Indah Susilowati
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produksi budidaya tambak tradisional terdampak abrasi merupakan masalah utama di Desa Tambak Bulusan Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak kerena tambak mengalami kerusakan fisik. Selain itu, kegiatan budidaya intensif pada, yaitu penggunaan bahan kimia ataupun inovasi lainnya mengakibatkan penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan ikan/udang yang dibudidayakan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat Program Iptek Bagi Desa Binaan Undipbermitra dengan Kelompok Petambak Jaya Bakti dan Rizqua adalah menerapkan konsep Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA), yakni budidaya dengan teknologi yang ramah lingkungan dan Intergated Multi Thropic Aquaculture (IMTA), yaitu budidaya terintegrasi beberapa komoditas organisme budidaya, sebagai upaya pemulihan produksi tambak. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan efiseiensi yang semula hanya dibudidayakan bandeng dan udang dengan hasil panen udang yang kurang memuaskan. Konsep LEISA dan IMTA yang mengintegrasikan budidaya udang, bandeng, kerang darah dan rumput laut. Hasil panen menunjukkan: udang (± size 40) = 235 kg; bandeng (± size 5) = 2.078 kg dan kerang darah (± size 135) = 437 kg. Pada saat pengabdian berakhir, Sebagian bandeng dan kerang darah masih ada di tambak dan masih bisa dipanen.
PEMULIHAN PRODUKSI TAMBAK PADA LAHAN TERABRASI DENGAN PENERAPAN LOW EXTERNAL INPUT FOR SUSTAINABLE AQUACULTURE (LEISA) Sri Rejeki; Tri Winarni Agustini; Indah Susilowati; Lestari Lakhsmi Widowati; Restiana Wisnu Ariyati
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 4 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produksi budidaya tambak tradisional terdampak abrasi merupakan masalah utama di Desa Tambak Bulusan Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak kerena tambak mengalami kerusakan fisik. Selain itu, kegiatan budidaya intensif pada, yaitu penggunaan bahan kimia ataupun inovasi lainnya mengakibatkan penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan ikan/udang yang dibudidayakan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat Program Iptek Bagi Desa Binaan Undipbermitra dengan Kelompok Petambak Jaya Bakti dan Rizqua adalah menerapkan konsep Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA), yakni budidaya dengan teknologi yang ramah lingkungan dengan menggunakan kompos dan pupuk cair organik yang disebut Mikro organisme Lokal (MOL) dan dibuat oleh para petambak dengan bahan baku local yaiti limbah sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai upaya pemulihan produksi tambak. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan  peningkatan produksi tambak  yang signifikan:  udang (± size 20-30) = 140 kg; bandeng (± size 4-5) = 1.850 kg dan kerang darah (± size 115-135) = 305 kg; rumput laut 785 kg. Petambak memanen rumput laut ,d ikeringkan  untuk pakan bandeng
ANALISA KESESUAIAN LAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA Gracilaria sp. DI AREA TAMBAK DI KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Muhammad Zulfa Zain; Fajar Basuki; Sri Rejeki
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.9114

Abstract

The Purpose of this research was (1) to examine the suitability areas of brackish water pond for Gracilaria sp.culture (2) to examine the carrying capacity of brackish water pond for Gracilaria sp.culture development, and (3) to arrange the development strategy of Gracilaria sp.culture in brackish water pond areas. This research was done quantitative descriptively by collecting data. A survey method was applied in this research. The data of Gracilaria sp. culture development at Ulujami District were collected and analysed descriptively by using an area suitability method. The sampling location and respondents were based on a purposive sampling method. The carrying capacity of the total area of the brackish water pond and the Gracilaria sp. total production were analysed both descriptively as well as using SWOT analysis. The results show that based on the area suitability 6,315 Ha or 1% of the total brackish water pond were very suitable (S1) for Gracilaria sp. culture; 605,25 Ha or 99% was suitable and there was no area where was not suitable  for Gracilaria sp. culture. However, there was 5,052 Ha brackishwater pond which was very suitable and effective for Gracilaria sp. culture. The Gracilaria sp. yield from those area was 20,208 ton/year. Development strategy of Gracilaria sp. culture at Ulujami district are partner enterprises development, empower comunities organization in economy sector as well as Gracilaria sp. culture  technology, technical service in seed selection guidance and postharvest and enterprise management, financials and infrastructures improvement, design of culture areas development, involvement of stakeholders, development of processing home industry and market expansion.
PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) PADA STADIA CRAB MUDA Sri Rejeki; Citra Ayu Furi; Restiana Wisnu Ariyati
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 1 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.55 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i1.712

Abstract

ABSTRAK                                                                                                                                                                         Rajungan (P. pelagicus) merupakan hasil perikanan yang sangat potensial dan menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan. Faktor lain yang menjadi kunci kesuksesan dalam budidaya di tambak adalah pengelolaan budidaya selama pelaksanaan di tambak. Hasil pemantauan lingkungan budidaya tambak dapat dijadikan dasar dalam menentukan  tindakan yang akan dilaksanakan dalam pengelolaan budidaya tambak. Kualitas air merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak karena komoditas yang dibudidayakan di tambak hidup dalam badan air. Salinitas berhubungan erat dengan osmoregulasi hewan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh salinitas yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan rajungan (P. pelagicus). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017 – Juli 2017 di Desa Tambak Bulusan, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hewan uji adalah crab muda rajungan yang berukuran 5 cm. Padat tebar yang digunakan adalah 10 ekor/m. Pakan yang diberikan adalah udang rebon yang diberikan secara fix feeding rate 5%.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan salinitas yang digunakan yaitu 15 ppt, 20 ppt, 25 ppt, dan 30 ppt. Pemeliharaan dilakukan selama 42 hari dan dilakukan pengukuran kualitas air setiap  hari. Perbedaan salinitas memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan RGR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kelulushidupan rajungan (P. pelagicus) yaitu pada perlakuan D sebesar 83,33±5,77%. Pertumbuhan bobot mutlak terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 81,87±2,42 g. Laju pertumbuhan relatif rajungan (P. pelagicus) terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 9,11±0,70%/hari. Perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan D dibandingkan dengan perlakuan A, B dan C.                Kata kunci: Kelulushidupan, Pertumbuhan, Rajungan, Salinitas, Osmoregulasi ABSTRACT                     Blue swimming crab (P. pelagicus) is a potential fishery comodity and has become the leading export. Another factor that becomes the key to success in the cultivation in the pond is the management of cultivation during the implementation in the pond. The results of environmental monitoring of pond farming can be used as a basis in determining the actions to be implemented in the management of pond farming. Water quality is a critical determinant of the success of the cultivation in the ponds because of the commodities cultivated in live ponds in water bodies. Salinity is closely related to the osmoregulation of aquatic animals, in the event of a sudden drop in salinity and within a considerable range. The objectives of this research was to find out the effects of different salinity levels the survival rate and growth of blue swimming crab. This reaserch was conducted in Bulusan village, Karang Tengah districts, Demak district, Central Java start from Mei until July 2017. Theof blue swimming crab with average size of 5 cm/ind with stocking density was 10 individuals/tank. The feed given was shrimp rebon. This research was conducted by experimental method using Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. There were salinity from treatments A with 15ppt, B with 20ppt, C with 25 ppt, and D with 30 ppt. The maintenance performed for 42 days and water quality monitored daily. The different salinity gave sicnificant effect of survival rate, growth and RGR. The results showed that the best absolute value survival rate of  Blue swimming crab (P. pelagicus) that is at treatment D equal to 83,33 ± 5,77%. The weight growth value was in treatment D of 81.87 ± 2.42 g. The relative growth rate of Blue swimming crab (P. pelagicus) is best at treatment D equal to 9,11 ± 0,70% / day. The best treatment was treatment D compared to treatments A, B and C. Keyword: Survival Rate, Growth, Blue Swimming Crab, Salinity, Osmoregulation
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Gracilaria sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI PERAIRAN TAMBAK TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Muhammad Rizky Hasan; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.459 KB)

Abstract

Pertambakan di desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes mengalami abrasi sehingga berubah menjadi perairan terbuka dan tidak termamfaatkan. Perairan tambak terabrasi tersebut masih berpotensi memberikan peluang untuk dimanfaatkan kegiatan budidaya. Salah satu bentuk pemanfaatan perairan tambak terabrasi tersebut adalah untuk kegiatan budidaya laut antara lain untuk budidaya rumput laut Gracilaria sp. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bobot awal yang memberikan pertumbuhan terbaik bagi Gracilaria sp dan mengetahui pengaruh bobot awal yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria sp yang dibudidayakan dengan metode longline. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode longline. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (bobot 50 g), B (bobot 100 g), dan C (bobot 150 g).  Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan harian, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RGR terbaik pada perlakuan A (50 g) 26.79% , perlakuan B (100 g) 19.85% ,dan perlakuan C (150 g) 17.45%. Nilai SGR pada perlakuan A (50 g) 14.16%, perlakuan B (100 g) 12.41%, dan perlakuan C (150 g)  11.63%. Kesimpulan yang didapat adalah pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp  dengan bobot awal 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik yaitu sebesar (26.79 0.36) dan SGR terbaik (14.16 0.07) dan di rekomendasikan untuk dibudidayakan. Fishpond in the Kaliwlingi village of Brebes District has been abraded, so that to turned into open water and not utilized. Abraded fishpond water is still potentially provide opportunities to be utilized aquaculture. One of the alternative uses fishpond water abraded is for marine culture activities among others for the cultivation of seaweed Gracilaria sp. The objective of research were to discover the initial weight that gives the best growth and different initial weights on the growth of Gracilaria sp cultivated with longline method. This study was conducted in May-June, 2014. The seaweed used in this study is the seaweed of Gracilaria sp. cultivated with longline method. The experimental design used was a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications: treatment A (weight 50 g), treatment B (weight 100 g) and treatment C (weight 150 g). Variables observed were relative growth rate, daily growth rate, and water quality. The results showed that the value of RGR treatment A (50 g) 26.79%, treatment B (100 g) 19.85%, and treatment C (150 g) 17.45%. SGR value treatment A (50 g) 14.16%, treatment B (100 g) 12.41%, and treatment C (150 g) 11.63%. The conclusion is the growth of seaweed Gracilaria sp cultivated with longline method of initial weight of 50 g (treatment  A) gives the best RGR value 26.79 0.36 and the best value SGR 14.16 0.07 and recommended for cultivation.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN NILA LARASATI (Oreochromis niloticus) Iman Ihsanudin; Sri Rejeki; Tristiana Yuniarti
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.921 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interval waktu yang terbaik dan pengaruh pemberian rGH secara oral terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan benih ikan nila larasati. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Janti, Klaten, pada bulan Agustus-November 2013. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva nila larasati yang kuning telurnya telah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pemberian rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan dengan interval waktu yang berbeda perlakuan (A) tanpa rGH, (B) 3 hari sekali, (C) 4 hari sekali,dan (D) 5 hari sekali. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi SGR, Panjang Mutlak, FCR dan SR. Hasil pengamatan SGR didapat nilai pada perlakuan A sebesar 9.728±0.084, B sebesar 10.917±0.057, C sebesar 10.618±0.055, D sebesar 10.250±0.066. Pada pengukuran panjang mutlak didapat hasil pada perlakuan A sebesar 6.77±0.12, B sebesar 9.07±0.51, C sebesar 8.57±0.52, dan D 7.37±0.27. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15. Hasil dari analisis ragam adanya pengaruh rGH pada pertumbuhan SGR, panjang mutlak, FCR, dan SR. Hasil pertumbuhan terbaik dengan perlakuan 3 kali sehari (B) karena dapat meningkatkan SGR sebesar 12.34%/hari, panjang mutlak 33.97%, kelulushidupan 18.61%. Pada nilai FCR mampu menurunkan sebesar 89.7%. The purpose of this research was determine the optimal time interval of rGH administration and the effect of rGH feed on growth and survival rate’s Larasati tilapia fish. This research took place in central of Freshwater Fish Hatchery and Aquaculture Unit, Janti, Klaten, Central Java from August-November 2013. The sample in this study was first feeding tilapia fish larvae. A completely randomized design was applied int his research with four treatments an the treatments was replicated three times, the treatments were by giving pelles (A) without rGH 2mg/kg pellet (B) once for three days, (C) once four days then (D) once for five days. The rGH used from giant grouper fish (relGH). Observational parameters were SGR, absolute length, FCR and SR. The value of SGR observed for treatment A was 9.728±0.084, B 10.917±0.057, C 10.618±0.055, and D 10.250±0.066. In absolute length measurement results obtained in the treatment of A 6.77±0.12, B of 9.07±0.51, 8.57±0.52 C, and D 7.37±0.27. Feed conversion value for treatment A1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR value obtained during the maintenance for treatment A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15.The resultsof variance on SGR growth, the absolute length, FCR, and SR. The best growth results with treatment 3 times a day (B) because it may increase the SGR at 12:34% /day, the absolute length of 33.97%, 18.61% survival rate. In the FCR can lower the value of 89.7%.
STUDI ANALISA USAHA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) SISTEM INTENSIF DI DESA PESANTREN, KECAMATAN ULUJAMI, PEMALANG Rahmat Kurniawan Pasaribu; Tita Elfitasari; Sri Rejeki
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.921 KB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas unggulan yang ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Semakin meningkatnya permintaan akan udang vaname dari tahun ketahun didasari oleh pertumbuhan penduduk dunia yang pesat dan kesadaran akan pemenuhan kebutuhan nutrisi, dimana udang mengandung banyak protein. Dengan demikian industri udang semakin menjanjikan, terlebih lagi dengan adanya introduksi jenis udang vaname yang produktivitasnya mencapai 6-10 ton/ha/tahun. Studi ini bertujuan untuk mengetahui profil dan manajemen kegiatan budidaya udang vaname, analisa usaha,  dan menganalisa aspek pada budidaya udang vaname sistem intensif di Desa Pesantren. Metode penelitian adalah metode studi kasus, yaitu suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. Sampel yang terpilih dalam penelitian ini adalah 14 orang pembudidaya yang berada di Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah biaya investasi, biaya operasional, penerimaan, pendapatan, dan efisiensi usaha (R/C ratio). Berdasarkan variabel tersebut dapat diambil kesimpulan apakah budidaya udang vaname di Desa Pesantren dapat dikatakan efisien. Hasil dari penelitian ini ditinjau dari aspek ekonomi dalam satu siklus berupa rata-rata biaya investasi sebesar Rp. 200.298.000,-; rata-rata biaya operasional sebesar Rp. 382.429.000,-; rata-rata penerimaan sebesar Rp. 641.553.000,-; rata-rata pendapatan sebesar Rp. 58.826.000,-; dan rata-rata efisiensi usaha sebesar 1,35. Dari segi aspek ekonomis budidaya udang vaname sistem intensif di Desa Pesantren disimpulkan usaha budidaya ini efisien. Terbukti dari nilai R/C > 1, pendapatan rata-rata per siklus pada kegiatan budidaya udang vaname sistem intensif di Desa Pesantren yaitu Rp. 58.826.000,- dengan efisiensi usaha 1,35. Tingginya nilai efisiensi usaha menunjukkan bahwa kegiatan budidaya udang vaname di Desa Pesantren tergolong berhasil dengan baik. Shrimp is one of the leading commodities set by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries. The increasing demand for vaname shrimp from year to year is based on the rapid growth of the world population and awareness of the fulfillment of nutritional needs, where shrimp contain lots of protein. Thus the shrimp industry is more promising, especially with the introduction of vaname shrimp species whose productivity reaches 6-10 tons/ha/year. This study aims to determine the profile and management of vaname shrimp farming activities, business analysis, and analyze the economic aspect and business feasibility of intensive shrimp farming system in Pesantren Village. Research method is case study method, that is a research form aimed to describe phenomena that exist. The variables observed in this research are investment cost, operational cost, revenue, income, and business efficiency (R / C ratio). Based on these variables can be concluded whether the cultivation of vaname shrimp in the Village Pesantren can be said to be efficient. The results of this study in terms of economic aspects in a cycle of the average cost of investment of Rp. 200.298.000,-; average operational cost of  Rp. 317.951.000,-; average acceptance of  Rp. 641.553.000,-; average revenue of  Rp. 58.826.000,-; and the average business efficiency of 1,35. In terms of economic aspects of intensive shrimp farming intensive systems in the Village Pesantren concluded this efficient cultivation business. From the value of R / C> 1, the average income per cycle on the intensive shrimp farming system in the village of Pesantren is Rp. 58.826.000, - with a business efficiency of 1,35. The high value of business efficiency shows that the activity of vaname shrimp farming in Pesantren Village is quite successful.
PENGARUH PERENDAMAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera) Ely Sufriyanti Ginting; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.412 KB)

Abstract

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi rumput laut pada tahun 2015 sebesar 10,3 juta ton. Salah satu jenis rumput yang sangat potensial untuk dikembangkan yaitu Caulerpa lentillifera. Rumput laut ini banyak digemari masyarakat dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki nilai ekonomis yang sangat penting yaitu sebagai bahan makanan segar dan bahan untuk obat-obatan. Namun produksi C. lentillifera sendiri belum dapat tercukupi karena bersifat musiman dan masih banyak mengandalkan hasil dari alam. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi C. lentillifera dengan  cara budidaya. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan  C. lentillifera dalam budidaya adalah ketersediaan nutrien yang biasanya dapat diperoleh dari pemberian pupuk. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian pengaruh perendaman pupuk organik cair dengan dosis yang berbeda dan dosis yang terbaik terhadap pertumbuhan C. lentillifera. Peneltian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Adapun perlakuan tersebut yaitu perlakuan A (0 mL), B (1,5 mL), C (2,5 mL) dan D (3,5 mL) dengan lama perendaman 6 jam. Data yang didapatkan selama penelitian yaitu laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kualitas air. Data dianalis dengan Anova dan dilakukan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan perendaman pupuk organik cair dengan dosis yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik C. lentillifera. Perlakuan D (perendaman dosis 3,5 mL) memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan laju pertumbuhan spesifik sebesar 3.29±0.06%/hari. Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) targets 10,3 million tons seaweed production in 2015. One of potential seaweed to be developed is Caulerpa lentillifera. This type of seaweed is preferred by many people in Indonesia and the world because it has high economic value as fresh produce and for medicine. However, production is still insufficient because it is seasonal variety and its production still depends on natural harvest. Therefore, it is needed to increase C. lentillifera production by cultivation. One factor that affects C. lentillifera growth in the cultivation is the availability of nutrient. Therefore, a study on difficult dosage of liquid fertilizer throught immertion method is needed. The aim of this research was to determine the effect of different dosage of liquid fertilizer on the growth of C. lentillifera and to find out the proper dosage which can produce the best growth of C. lentillifera. This study was done experimentally with Completely Randomised Design. There were 4 treatments: A (0 mL), B (1,5 mL), C (2,5 mL) and D (3,5 mL) with time of immersion of 6 hours. Each treatment was replicated 5 times. The data collected were specific growth rate (SGR) and water quality parameter. Data was analyzed using collected were Anova and followed by Duncan’s test. The result shows that different dosage of liquid organic fertilizer showed highly significantly effected the specific growth rate (SGR). Treatment D (dose of 3,5 mL) gives the best result compared with another treatments, with specific growth rate of 3.29±0.06%/day.
KUANTITAS DAN KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria sp. BIBIT HASIL SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN DENGAN BUDIDAYA METODE Longline DI TAMBAK Saesar Agung Trawanda; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.378 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas yang potensial dalam meningkatkan ekonomi rakyat, dan dapat di aplikasikan dengan cara budidaya yang mudah. Permintaan rumput laut semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini perlu diimbangi dengan kemajuan teknik budidaya rumput laut yaitu dengan menggunakan bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan dengan metode tanam longline. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas rumput laut, agar, dan gel strength dari bibit unggul kultur jaringan dan seleksi benih yang ditanam dengan metode longline. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan blok acak lengkap (RBAL). Rumput laut diberikan 2 perlakuan: bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan, serta dilakukan sebanyak 21 ulangan. Secara kuantitas hasil produksi bibit hasil seleksi memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dari pada bibit kultur jaringan dengan pertumbuhan mutlak 125,33 ± 4,87 gram bibit hasil seleksi dan 103,76 ± 2,12 gram kultur jaringan, sedangkan pertumbuhan harian 1,55 + 0,15 %  bobot/hari , bibit hasil seleksi dan 1,41 + 0,11 % bobot /hari untuk bibit kultur jaringan. Hasil ini berbeda bermakna dengan uji independent t-test p<0,05.  Secara kualitas bibit kultur jaringan lebih baik dari bibit hasil seleksi, ditunjukkan dengan kandungan agar bibit kultur jaringan memiliki jumlah yang lebih banyak dari pada bibit hasil seleksi dengan rendemen agar 3,70% bibit hasil seleksi dan 4,22% kultur jaringan, sedangkan gel strength sebesar 208,802 (g/f) bibit hasil seleksi dan 129,279 (g/f) untuk bibit kultur jaringan. Seaweeds are one of main commodities to improve the economy of people and coastal civilian, one of kinds of seaweeds is Gracilaria sp. The increasing of demand of seaweeds must be balanced by the improvement of seaweeds culture using tissue culture and seeds selection with longline culture method. This research aims to find out the quality and quantity of seaweeds, gel, and gel strength from both seeds cells those planted by longline method. This research was experimental study with randomize complete block design. Seaweeds was divided in 2 acts: cells culture seeds and selection seeds with 21 repetitions. The selection seeds has a better growth than cells culture with 125.33 ± 4.87 grams for seeds selection and 103.76 ± 2.12 grams for cells culture and the selection growth rate 1.55 + 0.15 %  mass/day for seeds selection and 1.41 + 0.11 % mass/day for cells culture. The tissue culture seeds has a better quality in agar contents and gel strength.  The agar contents of 3.70 % for seeds selection and 4.22% for tissue culture seeds, and gel strength 208.802 (g/f) for seeds selection and 129.279 (g/f) for tissue culture.
PENGARUH PEMBERIAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN NILA LARASATI (Oreochromis niloticus) Puguh Karisma Ferry Setyawan; Sri Rejeki; Ristiawan Agung Nugroho
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.593 KB)

Abstract

Ikan nila memiliki prospek budidaya yang baik, karena peningkatan permintaan, seiring dengan penduduk dunia yang meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diadakannya rekayasa budidaya untuk memenuhi permintaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Recombinant Growth Hormone (rGH) melalui metode perendaman, dan mengetahui dosis pemberian pemberian rGH yang paling tepat dengan metode perendaman pada larva ikan nila larasati. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Janti, Klaten, pada 27 September – 29 November 2013.  Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan nila larasati umur 7 hari setelah habis kuning telur. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu A 2.5 mg/L, B 2 mg/L, C 1.5 mg/L, D (tanpa rGH), dan 3 ulangan untuk masing-masing perlakuan. Pemeliharaan dilakukan selama 63 hari. Variabel yang diukur meliputi kelulushidupan (SR), pertumbuhan ( panjang mutlak dan SGR bobot), efisiensi pemberian pakan (EPP), dan kualitas air. Nilai kelulushidupan (SR) pada perlakuan A 83.00 ± 2.00, B 83.58 ± 0.58, C 82.67 ± 4.58, dan D 73.67 ± 6.11. Panjang mutlak pada perlakuan A 8.18 ± 0.04, B 7.58 ± 0.11, C 7.42 ± 0.05, D 6.69 ± 0.15. SGR bobot pada perlakuan A 3.32 ± 0.017, B 2.85 ± 0.058, C 2.77 ± 0.010,  dan D 2.22 ± 0.098. EPP perlakuan A  1.40 ± 0.11, B 1.25 ± 0.02, C 1.21 ± 0.08, dan D 1.17 ± 0.06 . Dengan demikian , pemberian rGH  melalui metode perendaman dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan EPP  larva ikan nila larasati, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan.  Dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan nilai EPP yang baik adalah 2.5 mg/L. Tilapia “Larasati” is a fresh water fish which has a good prospect in aquaculture industry. The demand of both in local and international market due to the market of the world population. To fulfill those demand, the improvement of it’s aquaculture engineering. Application of rGH solution in the the tilapia larvae media is one of the method for aquaculture engineering improvement. The purpose of this research was to observe the effect of different dose rGH solution trough dipping method an the larvae media on the survival rate and  growth. A first feeding larvae of tilapia were the research experimental animal.This research was conducted in the Central of Freshwater Aquaculture Hatchery (BPBIAT) Janti, Klaten,  on 27 September – 29 November 2013.  The fish sample used larvae tilapia larasati aged 7 days or first feeding larvae. A completely randomized design were applied with 4 treatments, each treatment was replicated 3 times. The treatment were A 2.5 mg/L, B 2 mg/L, C 1.5 mg/L, and  D (control/without rGH). The research was out for 63 days. The collected were survival rate (SR), growth (length absolute and  SGR weight),  EPP, and water quality .The result show that the different dose of rGHthrought dipping method show a significant effect on the  survival rate value (SR) A 83.00 ± 2.00 , B 83.58 ± 0.58, C 82.67 ± 4.58, and D 73.67 ± 6.11. length absolute treatment A 8.18 ± 0.04, B 7.58 ± 0.11, C 7.42 ± 0.05, D 6.69 ± 0.15. SGR weight on treatment A 3.32 ± 0.017, B 2.85 ± 0.058, C 2.77 ± 0.010; D 2.22 ± 0.098. EPP treatment A 1.40 ± 0.11, B 1.25 ± 0.02, C 1.21 ± 0.08, and D 1.17 ± 0.06. Thus, gift of rGH through dipping methods with different dose  take effect real  toward growth, and EPP of the tilapia larvae fish larvae, but not real influential toward survival rate. The best dose to improve the growth and a good EPP value is 2.5 mg/L.