Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

STUDI KARAKTERISTIK BIOFISIK HABITAT PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI PANTAI PALOH, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT Bima Anggara Putra; Edi Wibowo Kushartono; Sri Rejeki
Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.89 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5988

Abstract

Penyu hjau (Chelonia mydas) merupakan salah satu fauna yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah.Reptil laut ini mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Asia Tenggara.Pantai Paloh merupakan pantai peneluran penyu hijau terpanjang yang ada di Indonesia, dengan total panjang pantai 63 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Pantai Paloh sebagai habitat peneluran penyu hijau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang pantai lokasi penelitian adalah 15,1 km. Lebar total Pantai Paloh rata – rata 30,12 m (berkisar antara 13 – 40,4 m) dan lebar supratidal 15,27 m (berkisar antara 5,1 – 23,1 m). Kemiringan rata – rata 6,81° (berkisar antara 2,98° - 14,26°). Jenis substrat didominasi oleh jenis pasir sebesar 93,38% dan sisanya debu 5,36% dan liat1,26%. Hasil identifikasi vegetasi tingkat semai di lokasi penelitian ditemukan 9 spesies yakni Ipomoea pes-caprae, Acanthus ilicifolius , Derris trifoliate, Clerodendrominerma, Cyperus rotundus, Scaevola taccada, Pandanus tectorius, Calotropis gigantean, Casuarina equisetifolia. Ukuran panjang karapas rata-rata 97,47 cm (n=19) dengan kisaran antara 88 – 113 cm dan lebar karapas rata – rata 86,68 cm (n=19) yang berkisar antara 77 – 100 cm.
PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH KOTORAN SAPI PERAH DENGAN REAKTOR BIOGAS SISTEM BATCH DI DESA LEREP KABUPATEN UNGARAN Didik Wisnu Widjajanto; Heny Kusumayanti; Sri Rejeki
METANA Edisi Khusus Februari 2011
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4708.634 KB) | DOI: 10.14710/metana.v0i0.1643

Abstract

Abstract   Biogas is mixed gas of methane(CH4),  carbondioxide (CO2) and others which is produced as a result of moterial degradation of organic material such as animal and humon feces or plant byproduct by methanagen bacterial activity in biodigester. The present work is aimed to produce biogas fromfeces of milk cow. Biogas reactor used is built by IbM team of "IbM Peternak sapi Perah Penghasil Biogas di larep-Ungaran" (batch system). Result of present work revealed that 4 m3 biogas reactor with batch system is able to produce biogas starting doy 4. ln the following day, the biogas production increase and reach peak on day seven which is produce 42,85 liter of mix gas or 25,71 liter of methana gas   Keywords : biogas. batch system, cow feces http://ejournal.undip.ac.id/index.php/metana/editor/viewMetadata/1643
PRODUKSI DAN KUALITAS RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN KEDALAMAN BERBEDA DI PERAIRAN BULU KABUPATEN JEPARA Muhamad Fikri; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.187 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah pesisir. Dalam rangka pengembangan potensi ini diperlukan salah satu teknik budidaya yang dapat mengoptimalkan kolom perairan sehingga hasil produksi maupun kualitas rumput laut Eucheuma cottonii dapat optimal. Kedalaman yang berbeda pada rumput laut E.cottonii dapat menyerap cahaya serta unsur hara yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh kedalaman yang berbeda terhadap produksi dan kualitas rumput laut Eucheuma cottonii, dan mengetahui kedalaman yang memberikan produksi dan kualitas rumput laut E.cottonii terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Eucheuma cottonii dengan bobot awal 100 gram pada setiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 12 kali ulangan. perlakuan A (kedalaman 30 cm), B (kedalaman 60 cm), dan C (kedalaman 90 cm). Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan harian, dan kandungan karaginan rumput laut E. cottonii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman yang berbeda berpengaruh nyata terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii. Perlakuan A (kedalaman 30 cm)  menunjukkan pertumbuhan relatif (176,67 %), laju pertumbuhan harian (2,26 %/hari), dan kandungan karagenan (87,70%) . Sedangkan pada perlakuan B (kedalaman 60 cm) pertumbuhan relatif (157,50 %), laju pertumbuhan harian (2,10 %/hari), dan kandungan karagenan (71,20 %). Perlakuan C (kedalaman 90 cm) pertumbuhan relatif (111, 25 %), laju pertumbuhan harian (1,66 %/hari), dan kandungan karagenan (70,01 %). Kesimpulan yang didapat ialah kedalaman berbeda berpengaruh terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii dan perlakuan A (kedalaman  30 cm) memberikan produksi serta kualitas rumput laut E.cottonii terbaik dan direkomendasikan untuk dibudidayakan. Seaweed is one of very potential comodity to be developed in coastal areas. In order to increase this potential can required cultivation techniques by optimize in water column production and quality of the seaweed Eucheuma cottonii. Seaweed E. cottonii can absorb light and different nutrient at different depth. The objective of was research were to know the effects of different depths on the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii, and the depth that gives the best production and quality seaweed E. cottonii. The research was conducted from July to August 2014. Seaweed used in this study was the seaweed Eucheuma cottonii with initial weight of 100 g in each treatment. The experimental design used was a completely randomized design with 3 treatments and 12 replications. Treatment A (30 cm depth), treatment B (60 cm depth), and treatment C (90 cm depth). Data collected are daily growth rate and the content of carrageenan. The results showed that different depths significantly affect the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii. Treatment A (30 cm depth) showed relative growth (176.67 %), daily growth rate (2.26%/day), and carrageenan content (87.70%). Treatment B (60 cm depth) relative growth (157.50%), daily growth rate (2.10%/day), and carrageenan content (71.20%). Treatment C (90 cm depth) relative growth (111, 25%), daily growth rate (1.66% / day), and carrageenan content (70.01%). The conclusion is a different depths significantly affect the production and quality of seaweed E. Cottonii, and treatment A (30 cm depth) provide production and the best quality of seaweed E. cottonii and recommended for cultivated.
PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP PROFIL DARAH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Fahmi Royan; Sri Rejeki; Alfabetian Harjuno Condro Haditomo
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.519 KB)

Abstract

Ikan nila dapat dibudidayakan ditambak bahkan dilaut melalui proses adaptasi. Ikan nila yang sukses beradaptasi dengan air asin dikenal dengan ikan nila salin.  Ikan nila bersifat eurihaline sehingga dapat hidup pada kisaran salinitas antara 0-35 %0 per mil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil darah ikan nila dalam beraklimasi pada salinitas yang berbeda. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan panjang 13,18±0,94 cm sebanyak 150 ekor. Penelitian ini menggunakan analisa metode eksperimen dan pengolahan data secara deskriptif, mengunakan 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (35 ppt), B (25 ppt), C (15 ppt), D (5 ppt), dan E (0 ppt). Ikan dipelihara, dan diambil darahnya selama 7 hari. Pengumpulan data selama penelitian meliputi profil darah (hematokrit, hemoglobin, eritrosit, leukosit, dan glukosa darah), kelulushidupan, dan kualitas air. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu hematokrit terendah 18% pada hari kedua perlakuan B dan tertinggi 25,33% pada hari keenam perlakuan E. Kadar hemoglobin terendah 3,1 g/dl pada hari ketujuh perlakuan C dan tertinggi 5,2 g/dl pada hari keenam perlakuan B. Total eritrosit terendah 1,62x106 sel/mm3 pada hari ketujuh perlakuan E dan tertinggi 4,71 x106 sel/mm3 pada hari keempat perlakuan B. Total leukosit terendah 0,36x104 sel/mm3 pada hari ketujuh perlakuan C dan tertinggi 3,14 x104 sel/mm3 pada hari kelima perlakuan C. Kadar glukusa darah terendah 44 mg/l pada hari keenam perlakuan B dan tertinggi 292 mg/l pada hari kedua perlakuan B. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pada hari pertama perlakuan A (35 ppt) mengalami stres yang paling tinggi dapat dilihat dari hasil glukosa darah dan ikan mengalami kematian keseluruhan pada hari pertama. Pada hari kedua stres meningakat dari hari pertama pada setiap perlakuan kecuali E (0 ppt) dan tertinggi pada perlakuan B (25 ppt). Pada hari berikutnya stres pada ikan pasca perubahan salinitas mengalami penurunan. Tilapia as a eurihaline fish can  live in the sanility range of 0-35 %0. The aims of this research were to determine the tilapia blood profiles at diffrent salinities. 150 Tilapia were used with a length of 13,18±0,94 cm. The research was done experientally with 5 treatment and eacs treatment was replicated 3 times, the treatment were : A treatment (35 ppt), B (25 ppt), C (15 ppt), D (5 ppt), and E(0 ppt). The tilapia maintained for 7 days and the blood was taken in the first until the last day. Data collection during the study includes profiles of blood (Hematocrit, Haemoglobin, Erythrocyte, Leukocyte, Blood glucose) survival, and the water quality. The data were analysed. The result from the research shows of stess that the lowest hematocrit is 18% in the second day at  treatment B and the highest 25,33% in the sixth day at treatment E. The lowest hemoglobin level was is 3,1 g/dl in the seventh day at treatment C and the highest 5,2 g/dl in the sixth day at treatment B. The lowest totall Red blood cell 1,62x106 cell/mm3 in the seventh day at treatment E and the highest 4,71x106 cell/mm3 in fourth day at treatment B. The lowest totall White Blood Cell 0,36x104 sel/mm3 in the seventh day at treatment C, the highest 3,14x104 cell/mm3 in the fifth day at treatment C. The lowest  level of blood glucose 44mg/l in the sixth day at treatment B and the highest 292 mg/l in the second days at treatment B. The conclusion from this research that in the first day treatment A (35 ppt) showed the highest stress levels can be looked at blood glucose and tilapia dead totally in the first day. On the second day, stress increased in the each treatment expect treatment E (0ppt) and the highest in the treatment B (25 ppt). In the next day tilapia stress decreased in the treatment changes.
PENGARUH CARA PEROLEHAN BIBIT HASIL SELEKSI, NON SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KANDUNGAN AGAR DAN Gel strength RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Broadcast DI TAMBAK Tegar Abdul Basith; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.505 KB)

Abstract

Budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di minati para pembudidaya karena dengan teknologi yang sederhana dapat menghasilkan produk yang tinggi dan biaya produksi rendah. Permasalahan yang dihadapi pembudidaya adalah pemilihan bibit rumput laut G. verrucosa berkualitas yang digunakan dalam budidaya belum seluruhnya diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kualitas produksi rumput laut G. verrucosa dari bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi. Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi dengan berat awal tanam sebesar 100 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, perlakuan A (Bibit hasil seleksi), B (Bibit kultur jaringan) dan perlakuan C (Bibit non seleksi),  masing – masing perlakuan di ulang 21 kali. Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi penimbangan berat dan pengukuran parameter kualitas air secara langsung meliputi (suhu, kecerahan, kedalaman, pH, salinitas) dan kandungan unsur hara yang di uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan G. verrucosa  bibit non seleksi mempunyai pertumbuhan yang paling baik (pertumbuhan relatif rata – rata  106,18%) dari pada G. verrucosa. Bibit hasil seleksi (pertumbuhan relatif rata – rata 90,95%) maupun bibit kultur jaringan (pertumbuhan relatif rata - rata 77,14%). Kandungan agar rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi mempunyai rendemen/kandungan agar terbaik rendemen agar 5,63%, sedangkan bibit dari kultur jaringan mempunyai Gel strength tertinggi yaitu 648, 312 g/f. G. verrucosa. culture becomes highly demanded by tambak farmers because by using simple technology and low production cost can  produce high yield. Good quality seed of G. verrucosa seems to be the main problem of its cultivation. The aims of this research were to find out the growth and quality of different seed of  G. verrucosa : the selection of seeds, tissue culture and non selection seeds with weigth of 100 gram. A completely randomaized design was applied in this research with 3 treatments : A (selection seed), B (tissue culture seed) and C (non selection seed.) each treatment replicated 21 times. Data collection in this study includes growth, water quality parameters (temperature, brightness, depth, pH, and salinity) and the nutrient content. The results show that the best growth was found at non selection seed (average relative growth rate 106,18%) but the best agar content found at the selection seed ( 5,63%) and the best gell strength was found at tissue culture seed (648,312% g/f).
PENGARUH KEPADATAN UDANG WINDU YANG BERBEDA PADA KONSEP IMTA (INTEGRATED MULTITROPHIC AQUACULTURE) TERHADAP RASIO C/N DALAM MEDIA AIR BUDIDAYA Asriani Atika Dewi; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 4, No 2 (2020): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v4i2.6876

Abstract

    Budidaya udang windu dengan sistem IMTA yaitu mengkombinasikan dua atau tiga komoditas budidaya, dimana limbah nutrisi/pakan dari hewan tingkat tinggi dikonsumsi oleh hewan tingkat rendah. Budidaya sistem IMTA saat ini belum banyak diketahui nilai C/N dalam memenuhi persyaratan yang optimal. Bakteri heterotrof di perairan akan tumbuh dengan baik apabila rasio C/N bernilai 10 atau lebih. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis rasio C/N dalam air pada budidaya dengan sistem IMTA (Integrated Multitrophic Aquaculture). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan udang windu terhadap rasio C/N dalam air dan mengetahui kepadatan udang windu yang optimal untuk menghasilkan rasio C/N pada lingkungan budidaya. Udang windu dengan stadia PL-30 (0.092±0,84 cm) dibudidayakan pada sistem IMTA dengan menggunakan ikan nila dengan kepadatan 20 ekor/m3 (0.69±0,3 cm), rumput laut dengan kepadatan 100 g/m2 dan kerang hijau dengan kepadatan 90 g/m2 (3,32±0,79 cm). Pakan udang windu yang digunakan memiliki kandungan  protein 40% dengan metode pemberian pakan secara fix feeding rate. Pakan ikan nila yang digunakan memiliki kandungan  protein 30% dengan metode pemberian pakan yang diberikan secara ad satiation. Wadah yang digunakan adalah menggunakan bak fiber dengan ukuran panjang 1 m2dan lebar 1 m2dan kedalaman air 0,7 m2. Media yang digunakan untuk membuat sebuah ekosistem yang menyerupai ekosistem tambak ditambahkan substrat berupa pasir berlumpur. Substrat berupa lumpur berpasir mengacu pada penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan. Kepadatan yang digunakan yaitu perlakuan A (tanpa udang), B (60), C (80), dan D (100). Data yang diamati adalah rasio C/N, laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan udang windu yang berbeda pada sistem IMTA berpengaruh (P<0,05) terhadap kelulushidupan tetapi tidak berpengaruh terhadap rasio C/N dan laju pertumbuhan spesifik. Perlakuan kepadatan udang windu 60, 80 dan 100 ekor mempunyai hasil rasio C/N yang baik dalam persyaratan rasio C/N air.Kata Kunci : IMTA, Kepadatan, Rasio C/N, Udang windu.
PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI GRADING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Mohammad Aris Ni&#039;matulloh; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Aryati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 2, No 1 (2018): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v2i1.2464

Abstract

Ikan Patin siam (Pangasionodon hypophthalmus) merupakan ikan yang berasal dari Thailand yang telah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Menurut data kementrian perdagangan tahun 2013 bahwa produksi ikan patin siam dalam negeri mencapai 31.490 ton pada tahun 2006, pada tahun 2012 produksi ikan patin siam meningkat hingga mencapai 651.000 ton. Peningkatan tersebut harus diimbangi dengan stok benih yang melimpah. Grading merupakan salah satu proses untuk meningkatkan produksi dimana ikan dikelompokkan sesuai dengan ukurannya. Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan patin siam (P. hypophthalmus) yang baru menetas dengan bobot 0,73±0,01 (mg) dan panjang 0,66 ± 0,0012 (cm) dipelihara selama 35 hari dengan kepadatan 100 ekor/liter dengan metode pemberian pakan dan cara pemeliharaan larva ikan patin siam sesuai dengan SOP di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 kali ulangan. Perlakuan menggunakan frekuensi grading yang berbeda pada tiap perlakuan. Perlakuan A (tanpa grading), perlakuan B (1 x grading), perlakuan C (2 x grading) dan perlakuan D (3 x grading). Data yang didapatkan meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. Hasil menunjukan bahwa SR dan SGR bersifat normal, homogen dan addiktif. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan serta SR. Perlakuan C (2x grading) merupakan perlakuan terbaik dari perlakuan lainnya baik pertumbuhan maupun SR dengan nilaiSGR 20,75± 0,2%, kelangsungan hidup 90,27±2,88%, data kualitas air masih sesuai untuk budidaya ikan patin siam (P. hypophthalmus).
ANALISA KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA POLIKULTUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) DAN IKAN KOI (Cyprinus carpio) DI DESA BANGSRI, KABUPATEN BREBES Mohammad Zaenuddin Luthfi; Sri Rejeki; Tita Elfitasari
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 1, No 1 (2017): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v1i1.2457

Abstract

Kegiatan budidaya udang windu menjadi kegiatan budidaya yang banyak digemari masyarakat di daerah pesisir. Salah satunya penerapan budidaya polikultur dengan kultivan udang windu dan ikan koi. Produksi udangwindu mengalami peningkatan sejak tahun 2010 hingga 2015. Ikan koi merupakan salah satu ikan hias yang cukup potensial dibudidayakan di Indonesia. Habitat ikan koi yaitu di daerah beriklim sedang dan hidup padadaerah perairan tawar, akan tetapi ikan koi masih dapat hidup pada air dengan salinitas 10 ppt. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus. Sampel penelitian dipilih secara sengaja (purposive)karena alasan-alasan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Analisis data yang digunakan diantaranya analisis aspek teknis budidaya yang meliputi pemilihan lokasi, luas lahan, persiapan lahan, penebaran benih, pakan dan pemberian pakan, pengelolaan air, pemanenan dan pemasaran. Analisis aspek ekonomi yang meliputi, biaya, penerimaan, dan pendapatan. Analisis kelayakan usaha yang meliputi, Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio).  Hasil penelitian menunjukan bahwa aspek teknis yang diterapkan pada usaha budidaya polikultur udang windu dan ikan koi diantaranya menggunakan metode budidaya semi intensif. Kegiatan teknis budidaya yang dilakukan diantaranya pemilihan lokasi, persiapan lahan, penebaran benih, pemberian pakan, dan pemanenan.  Pemasaran yang digunakan untuk udang windu adalah melalui tengkulak dan pedagang lalu ke konsumen sedangkan pemasaran ikan koi adalah melalui PT. CP Prima selaku mitra kerjasama. Aspek ekonomi yang dianalisa diantaranya modal usaha sebesar Rp. 436.536.000,00/tahun biaya tetap sebesar Rp. 5.627.200,00/tahun, biaya operasional sebesar Rp. 105.080.000,00/tahun, pendapatan sebesar Rp. 271.725.000/tahun dan keuntungan dari usaha budidaya sebesar Rp. 182.621.000/tahun Hasil perhitungan analisa kelayakan usaha diantaranya nilai PP sebesar 2,61 tahun, nilai NPV Rp. 1.193.499.681, nilai B/C Ratio sebesar 1,90 dan nilai IRR sebesar 68%.