Suwarno ,
Faculty Of Social And Political Sciences, Universitas Lampung, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Penguatan Kelembagaan Tim Percepatan Penurunan Stunting dan Tim Pendamping Keluarga Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan Damar Wibisono; Suwarno Suwarno; Pairul Syah; Anita Damayantie; Asnani
Nengah Nyappur Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Nengah Nyappur: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nengahnyappur.v4i1.72

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memetakan aktor dan bentuk program percepatan penurunan stunting dalam upaya membangun desa anti stunting di Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dilaksanakan melalui metode ceramah dan diskusi aktif yang melibatkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Desa Way Huwi. Materi yang disampaikan mencakup kebijakan penurunan stunting, program percepatan, mekanisme kerja TPPS, peran TPK, serta penguatan kelembagaan. Kegiatan ini dihadiri oleh 23 peserta dari TPPS dan TPK. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Sebelum kegiatan, rata-rata pemahaman peserta adalah 76,95 dan meningkat menjadi 96,95 setelah sosialisasi, atau naik sebesar 20%. Selain peningkatan pemahaman, peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam diskusi dan tanya jawab. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kelembagaan TPPS dan TPK serta mendukung target zero new stunting di Desa Way Huwi. Kata Kunci: Stunting, Penguatan Kelembagaan, Tim Percepatan, Tim Pendamping Keluarga
Penguatan Peran Penyimbang Adat dalam Pelayanan bagi Kesejahteraan Masyarakat Adat Buwai Khunjung di Pekon Maja, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan Damar Wibisono; Suwarno Suwarno; Pairul Syah; Yuni Ratna Sari; Dewi Ayu Hidayati; Ifaty Fadliliana Sari; Erna Rochana
Nengah Nyappur Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Nengah Nyappur: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nengahnyappur.v5i1.106

Abstract

This community service activity aims to strengthen the role of the Penyimbang Adat (traditional leaders) in delivering services for the welfare of the Buwai Khunjung Indigenous Community at the Central Secretariat of Pekon Maja, Kalianda Subdistrict, South Lampung. The Saibatin traditional governance structure in this area still faces problems, including the limited understanding of some Penyimbang Adat regarding their roles, stagnation in the renewal of the customary institutional structure, and the low effectiveness of the penyimbang's role in promoting the economic welfare of indigenous communities. The activity was carried out through a sociological approach involving preliminary observation and interviews, brainstorming and focus group discussion (FGD), as well as socialization and training delivered through lectures, discussions, and simulations to 15 traditional leaders and community members in Pekon Maja. Evaluation was conducted using pre-test and post-test instruments to measure changes in participants' understanding, complemented by an impact evaluation through questionnaires. The results showed an increase in participants' understanding of customary governance leadership, the functions and roles of traditional government heads, and the role of the penyimbang in services for indigenous community welfare, with the average score increasing from 62.67 in the pre-test to 76.00 in the post-test, or a 13.33% increase. Participants also demonstrated strong enthusiasm through active involvement in discussions and simulations. This activity contributes to strengthening collective understanding of an ideal model of customary governance structure that can be replicated in other Saibatin indigenous communities in Lampung Province, while also providing a foundation for the sustainability of local-wisdom-based customary institutional mentoring programs