Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Perancangan Jaringan Backhaul 4g/lte Menggunakan Serat Optik Di Kecamatan Loksado, Kandangan, Dan Kalumpang Valendira Putri; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerataan pembangunan jaringan 4G/LTE pada Tugas Akhir ini dilakukan di Kecamatan Loksado, Kandangan, dan Kalumpang Kalimantan Selatan. Perancangan jaringan eNodeB dilakukan dengan memperhitungkan trafik user yang diperlukan berdasarkan capacity planning untuk mengetahui jumlah eNodeB yang akan diterapkan ke sistem sebagai backhaul. Sistem menggunakan teknologi GPON pada link akses dan STM-16 pada link backhaul didapatkan nilai parameter sesuai standart pada sistem. Dengan nilai Q-factor terburuk pada sisi upstream untuk masing-masing kecamatan yaitu 17,0924, 15,6667, 17,357, dan pada sisi downstream untuk masing-masing kecamatan yaitu 22,7433, 21,0777, 23,0496. Dengan nilai BER terburuk pada sisi upstream untuk masing-masing kecamatan yaitu 7,33x10-66, 1,12x10-55, 7,57x10-68, dan pada sisi downstream untuk masing-masing kecamatan yaitu 0, 5,77x10-99, 6,6x10-118. Dengan nilai Power Received terburuk pada sisi upstream untuk masing-masing kecamatan yaitu -19,022 dBm, -19,757 dBm, -18,882 dBm, dan pada sisi downstream untuk masing-masing kecamatan yaitu - 13,022 dBm, -13,756 dBm, -12,881 dBm. Pada sistem STM-16 didapatkan nilai terburuk untuk Q-factor = 62,4385, BER = 0 dan Power Received = -15,641 dBm.
Analisis Perencanaan Jaringan In-building Coverage (ibc) Lte Di Bandara Hang Nadim Adnan Rachman; Uke Kurniawan Usman; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Layanan jaringan seluler LTE untuk area indoor yang memiliki kualitas kurang baik apabila hanya mengandalkan jaringan outdoor dari macrocell. Diperlukan suatu perencanaan Indoor Building Coverage (IBC) yang diterapkan pada bangunan publik yang sering dikunjungi banyak orang untuk memperbaiki kualitas layanan jaringan LTE area indoor yang kurang baik. Salah satu area indoor publik tersebut adalah Bandara Hang Nadim Batam. Perencanaan dilakukan dengan melakukan walktest, survei denah dan data pengunjung, perhitungan jumlah site, penentuan DAS, dan simulasi. Untuk memenuhi target perencanaan IBC LTE dari sisi coverage maupun capacity secara optimal, dibutuhkan sebanyak 4 antenna site di tiap lantainya. Melalui hasil simulasi dari software RPS 5.4 nilai RSRP untuk tiap lantai dasar, lantai 1, serta simulasi ketika di gabungkan seluruh lantai bernilai -82.33 dBm, -75.81 dBm, dan - 74.49 dBm. Untuk nilai SIR dari lantai dasar, lantai 1, serta simulasi ketika di gabungkan seluruh lantai bernilai 23.79 dB, 22.66, 12.07 dB. Hasil dari simulasi yang diperoleh perencanaan jaringan IBC LTE ini telah memenuhi standar KPI (Key Performance Indicator) dari operator Indosat Ooredoo.
Analisis Migrasi Media Transmisi Radio Ke Fiber Optik Di Jaringan Backhaul Bts Perum Manglayang Jodie Satria Effendi; Sugito Sugito; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk meningkatkan performansi dalam melayani dan memenuhi pelanggan, PT.Telkomsel melakukan penggantian media transmisi. Dengan mengganti media microwave link ke jaringan akses FO melalui proyek Fiber modernization (FIMO) yang bekerja sama dengan PT.Telkom Dalam tugas akhir ini, dilakukan penelitian mengenai peningkatan packet loss pada BTS milik PT.Telkomsel. penentuan lokasi dilakukan pada site Perum Manglayang. Hasil analisa untuk data payload downlink setelah dilakukan FIMO naik menjadi 101.79 Gbps untuk 3G dan 197.46 untuk 4G, kemudian disisi uplink 14.41 Gbps untuk 3G dan 14.78 Gbps untuk 4G.Hasil analisa data throughput downlink setelah dilakukan FIMO naik menjadi 1848.56 Kbps untuk 3G dan 13.76 Mbps untuk 4G, pada disisi uplink 63.25 Kbps untuk 3G dan 1.72 Mbps untuk 4G. penurunan nilai rata-rata delay dalam pengiriman packet data sebesar 1.75 ms. Untuk nilai packet loss menurun hingga 0 atau tidak ada data yang hilang. Analisa perangkat dari hasil pengukuran kemampuan pengiriman jumlah packet pada perangkat sebesar 8000 packet untuk 3G dan 4G.
Pengaruh Noise Penguat Edfa Pada Performansi Sinyal Downstream Twdm Ng-pon2 Nabilla Aprilia; Akhmad Hambali; M.Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan standar yang sudah ditetapkan oleh ITU-T G.989.1-G.989.3 generasi terbaru dari PON yaitu NG-PON2. Teknologi NG-PON2 juga memiliki bandwidth yang lebih besar dan skalabilitas dengan menggunakan kombinasi Time Wavelength Division Multiplexing (TWDM). EDFA (Erbium Doped Amplifier) merupakan salah satu penguat optik yang dapat memberikan penguatan langsung pada sinyal optik, tetapi dengan tambahan noise. Noise yang dikuatkan oleh penguat EDFA pada sistem TWDM downstream dapat mengakibatkan performansi sinyal yang buruk karena noise dapat terjadi dalam penguat EDFA. Penelitian ini dilakukan dengan perencanaan dan simulasi dengan menggunakan jaringan NG-PON2 dengan Teknik TWDM yang memiliki total bitrate 80 Gbps pada link downstream. Sistem yang dibuat menggunakan delapan kanal TWDM dengan masing-masing kanal memiliki bitrate 5 Gbps. Kemudian, perencanaan sistem ini akan dilakukan dengan menggunakan 2 skenario dengan jarak transmisi terpendek 20 km dan jarak transmisi terjauh 40 km dengan tiga titik pembagi daya dengan total split ratio 1:128. Selain itu, sistem ini juga menggunakan EDFA sebagai booster amplifier yang memiliki panjang 1 sampai dengan 5 meter dengan Pump Laser Power sebesar 10 mW hingga 100 Mw. Setelah itu, dilakukanlah analisis terhadap sistem berdasarkan parameter pengukuran SNR,Q-Factor dan BER. Selanjutnya, dilakukan analisis Gain terhadap perubahan panjang EDFA dan daya pompa serta analisis Gain system dimana hasil dari parameter tersebut akan mempengaruhi nilai dari Noise Figure. Berdasarkan hasil dari simulasi, didapatkan pada pengunaan kabel EDFA 1 meter mempunyai karakteristik Gain dan Noise Figure yang relatif naik ketika Power Pump 10-50 mW. Kemudian hasil dari Simulasi performansi pada jarak link 20 km didapatkan nilai Link Power Budget sebesar -6.06 dBm nilai Q-factor 81,37, nilai SNR 44.23 dB dan nilai BER sebesar 0. Sedangkan, hasil dari Simulasi performansi pada jarak link 40 km didapatkan nilai Q-factor 51.04, nilai SNR 40.18 dB dan nilai BER sebesar 0. Kata kunci : Downstream, TWDM, NG-PON2, Noise Figure, Gain, Bit Error Rate, Q-factor,SNR, Link Power Budget, Rise Time Budget. ABSTRACT Based on standards he has set by itu-t g.989.1-g.989.3 the new generation of a pound namely NGPON2. Technology of NG-PON2 also has the bandwidth greater and scalability using a combination Time Wavelength Division Multiplexing (TWDM) .EDFA ( Erbium Doped Amplifiers ) is one of amplifier optical that can give strengthening directly on a signal optical , but in addition to noise .Noise supported by amplifier edfa on a system twdm downstream can result in performansi signals bad because noise could also occur in amplifier EDFA. Research was conducted with the planning and simulations with use the network NG-PON2 TWDM technique that has a total of bitrate 80 gbps on link downstream .A system made using eight twdm canal with each canal having bitrate 5 gbps .Then , this system will be planning is performed by the use 2 scenario at a distance of 20 km away from the shortest transmission and the distance the transmission of farthest 40 km and ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 5219 2 three points a divider of power by the total split ratio 1: 128 .In addition , the system also use the edfa as booster an amplifier having long 1 through 5 meters with pump a laser power amounting to 10 mw up to 100 mw .After that , dilakukanlah system based on the analysis of the measurement of snr parameter , q-factor and rice w .Next , the Gain on changes in an analysis is long and the EDFA Pump and analysis system where the Gain is the result of the parameter will affect the value of noise figure . Based on the results of simulation , on use or on cable edfa 1 meter have characteristic of the gain and noise figure that is relatively up when the power pump 10-50 mw .The results of from simulation performansi at a distance link 20 km away from the link power or the value of a budget of -6.06 dbm 81,37 q-factor value , the value of snr 44.23 db and value of different shapes and name as much as 0 .While , the result of the simulation performansi at a distance link or the value of q-factor 51.04 40 km , the value of snr 40.18 db and value of different shapes and name as much as 0 . Keywords: Downstream, TWDM, NG-PON2, Noise Figure, Gain, Bit Error Rate, Q-factor, SNR, Link Power Budget, Rise Time Budget.
Analisis Kinerja Transmitter Optik Laser Pada Teknologi Xg-pon Yayan Fauzhi Nur Rosid; Sugito Sugito; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan pesatnya perkembangan kebutuhan masyarakat akan kecepatan data, maka diperlukan kapasitas yang besar juga untuk dapat melayani kebutuhan tersebut maka teknologi GPON saat ini yang berbasiskan kabel fiber optik sedang dikembangkan menjadi lebih baik, salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah teknologi XG-PON. Jenis transmiter pada sistem komunikasi serat optik ada dua yaitu laser dan LED. Pada penelitian ini akan membahas mengenai analisis performansi transmitter laser pada teknologi 10-Gigabit-capable Passive Optical Network (XG-PON) dengan menggunakan dua receiver yaitu APD dan PIN. Parameter yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain link power budget (LPB), rise time budget (RTB) dan bit error rate (BER) berdasarkan hasil simulasi. Hasil dari penelitian ini adalah daya terima downstream dan upstream mempunyai level daya terima diatas sensitivitas photodetector APD dan PIN. Nilai BER pada upstream dan downstream yang didapat pada photodetector APD dan PIN dengan jarak terjauh 60 km tidak ada nilai BER yang memenuhi batasan nilai yang diinginkan. Dari total 66 pengambilan data pada downstream dan upstream, dapat disimpulkan bahwa APD lebih bagus dari pada PIN. Kata Kunci : XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network), transmitter, software simulasi optik
Analisis Dan Simulasi Pengaruh Dispersion Compensating Fiber Pada Link Optik Berdasarkan Jarak Dan Bit Rate Ade Rizki Ginanjar; Akhmad Hambali; Muhammad irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dispersi merupakan salahsatu faktor yang menurunkan performansi dari komunikasi serat optik. Dispersi kromatik adaah dispersi yang disebabkan oleh perubahan propagasi komponen frekuensi tertentu yang terkandung dalam pulsa optik yang menyebabkan pelebaran pulsa optik[6]. Salahsatu solusi yang digunakan untuk menanggulagi pelebaran pulsa adalah dengan menggunakan Dispersion Compensating Fiber (DCF). Penelitian penggunaan DCF ini sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti salah satuya adalah dengan menggunakan DCF skema Pre Compensation dan post compensation yang menghasilkan BER yang sangat baik[4]. Pada penelitian ini menggunakan jarak 150 km, 500 km, 1000 km dengan menggunakan bit rate 10 Gbps dan 40 Gbps dan menggunakan multipleksing DWDM dengan menggunakan skema DCF yaitu Mix- Compensation. Hasil akhir pada penelitian ini adalah optimasi pada link optik dengan jarak 150 km dengan bit rate 10 Gbps performansi link optik sudah layak tanpa menggunakan kompensator dispersi dengan Q-factor rata- rata = 11,717374, sementara pada bit rate 40 Gbps dengan kompensator DCF terjadi kenaikan performansi dari link optik yaitu nilai Q-factor rata- rata= 6,6431275. Jarak 500 km dengan bit rate 10 Gbps dengan kompensator DCF terjadi kenaikan performansi link optik dari nilai Q-factor rata- rata= 2,2341275 menjadi = 9,8901175. Pada bit rate 40 Gbps performansi link optik dari Q-fator rata- rata= 1,022676 menjadi = 3,3668025. Dan untuk jarak 1000 km sebelum dan setelah menggunakan kompensator dispersi DCF semua kanal baik dengan bit rate 10 Gbps ataupun 40 Gbps menghasilkan nilai Q- factor = 0. Nilai Q-factor optimal pada bit rate 10 Gbps maksimal 500 km, sementara pada bit rate 40 Gbps maksimal 80 km. Kata Kunci DCF, BER, Q-Factor, DWDM, Bit rate, Jarak
Perencanaan Backhaul Microwave Untuk Jaringan Radio Akses Long Term Evolution Di Kota Banyumas Akrom Khoerul Hakim; Achmad Ali Muayyadi; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi pada zaman sekarang sangat cepat. Oleh karena itu, diperlukan suatu layanan yang mampu mengirim informasi dengan cepat dan dapat menampung kapasitas yang besar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dapat menggunakan suatu model jaringan telekomunikasi Long Term Evolution (LTE). Sedangkan jika dilihat dari sisi lain, jaringan LTE membutuhkan suatu backhaul untuk mengakomodasi sistem jaringan akses dari LTE tersebut. Backhaul memiliki peran yang penting karena dapat mempengaruhi performansi dari jaringan LTE tersebut. Pada penelitian ini akan dilakukan perencanaan Link Backhaul Microwave untuk radio komunikasi pada daerah Kota Banyumas. Perencanaan ini dilakukan dengan meninjau kebutuhan kapasitas trafik jaringan LTE , setelah itu ditentukan frekuensi berdasarkan jarak dan bandwidth berdasarkan kapasitas link. Mengacu pada kebutuhan tersebut, pemilihan perangkat yang tepat juga dilakukan dalam perencanaan ini. Microwave dipilih sebagai media transport karena cocok untuk wilayah yang banyak terdapat pegunungan. Sedangkan performansi yang diinginkan pada penelitian ini adalah daya terima sebesar > -70.50 dBm, SES < 1 detik dan availability > 99,99%. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, perencanaan backhaul microwave pada daerah Kota Banyumas, telah ditentukan 9 link yang membutuhkan kapasitas link sebesar 160 Mbps serta menggunakan frekuensi kerja 7 GHz, 11 Ghz, 13 GHz dan 15 GHz yang ditentukan berdasarkan jarak dari site perencanaan. Dilihat berdasarkan kebutuhan kapasitas link serta frekuensi kerja yang ditentukan, maka spesifikasi yang digunakan adalah untuk gain antenna sebesar 31,2 dBi untuk frekuensi 7 GHz, 44 dBi untuk frekuensi 11 GHz, 35,60 dBi untuk frekuensi 13 GHz dan 36,80 dBi untuk frekuensi 15 GHz , serta kapasitas sebesar 265 Mbps, dan daya terima minimum sebesar - 70,50 dBm untuk frekuensi 7 GHz dan -70,50 dBm untuk frekuensi 11 GHz, 13 GHz, dan 15 GHz. Pada hasil simulasi, seluruh link backhaul microwave mencapai availability sebesar > 99,99%, hal ini disebabkan oleh level daya terima tiap site lebih besar dari level daya minimum perangkat. Kata kunci : Backhaul, Link Microwave
Perancangan Jaringan Akses Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-capable Passive Optical Network (xgpon) Untuk Perumahan Benda Baru Viceroy Siregar; Kris Sujatmoko; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perumahan Benda Baru yang terletak di Jalan Cendana II, Tangerang Selatan merupakan konsep hunian yang membutuhkan layanan akses triple play yang cepat untuk mendukung kegiatan dan fasilitas yang disediakan.. PT Innovate Mas Indonesia berencana menggelar Fiber To The Home (FTTH) menggunakan teknologi 10-GigabitCapable Passive Optical Networks (XGPON) agar dapat memenuhi target tersebut. Pada Tugas Akhir ini dilakukan perhitungan untuk parameter-parameter kelayakan dan performansi sistem perancangan FTTH yang ingin diimplementasikan di Perumahan Benda Baru. Parameter-parameter tersebut adalah Link Power Budget dan Rise Time Budget untuk kelayakan sistem. Nilai parameter yang dihitung secara manual tersebut akan dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan Opti System. Selain itu, ada parameter lainnya yaitu Bit Error Rate (BER) untuk performansi sistem. BER ini dapat dilihat dengan membuat simulasi perancangan jaringan FTTH pada Opti System. Hasil perhitungan manual untuk link power budget, yaitu total redaman untuk jarak terjauh adalah sebesar 25,135 dB untuk link downstream dan 26,236 dB untuk link upstream. Hasil perhitungan tersebut masih memenuhi standar yang ditentukan oleh ITU-T G.987 yaitu sebesar -28 dBm. Berdasarkan nilai total redaman pada jarak terjauh didapatkan nilai daya terima sebesar -21,135 dBm untuk link downstream dan -23,236 dBm untuk link upstream. Sedangkan untuk nilai rise time budget didapatkan nilai waktu batasan adalah sebesar 0,07 ns untuk pengkodean NRZ dan 0,035 ns untuk pengkodean RZ. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 adalah sebesar 0,0156 ns untuk link downstream maupun link upstream. Hasil perhitungan rise time budget yang didapatkan bernilai baik karena 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 berada lebih kecil dari batasan waktu untuk tiap pengkodean. Untuk parameter performansi sistem yaitu BER yang dihasilkan dari simulasi Opti System adalah sebesar 1,86632 x 10-21 untuk link downstream dan sebesar 0 untuk link upstream. Kedua nilai tersebut memenuhi nilai minumum BER yang ditentukan untuk optik yaitu 10−9 . Kata kunci : FTTH, XGPON, Link Power Budget, Rise Time Budget, BER Abstract Benda Baru Residence is located on the Cendana II , South Tangerang is the concept dwelling that need access triple play to support the activities of and facilities provided. PT. Innovate Mas Indonesia plans to hold Fiber To The Home ( FTTH ) using technology 10-Gigabit-Capable Passive Optical Networks (XGPON) in order to meet the target. In this final assignment, the parameters of the feasibility and performance of the system design of FTTH which will be implemented in Benda Baru Residence has been calculated. Those parameters are Link Power Budget and Rise Time Budget for the feasibility of the system. The parameters values were manually calculated and have been compared to the results of using the Opti System software. Besides, the other parameter is Bit Error Rate (BER) for the performance of the system. BER can be seen by making a simulation of a network design FTTH in Opti System. The results of the manual calculation for link power budget parameters the total attenuation for the farthest distance is 25,135 dB for downstream link and 26,236 dB for upstream link. The results of those calculations are still meet the standard which determined by ITU-T G.987 which is -28 dBm. Based on the total attenuation value for the farthest distance, the result of power receiver is -21,135 dBm for downstream link and -23,236 dBm for upstream link. For rise time budget parameters, the result of limitation time is 0,07 ns for NRZ coding and 0,035 for RZ coding. Based on the calculation, the results of 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 is 0,0156 ns for both downstream and upstream link. The results of rise time budget considered to be good because the tsystem smaller than the limitiation time for each coding. For the parameter of the performance of the system, BER, which is simulated in Opti System, the result for the downstream link is 1,86632 x 10-21 and for the upstream link is zero (0). Both values are meet the minimum value of BER that is determined for optic which is 10−9 . Keywords : FTTH, XGPON, Link Power Budget, Rise Time Budget, BER
Perencanaan Dan Analisa Fronthaul Fiber Optik Untuk Komunikasi Radio Pada Jaringan Lte Muhammad Hawary; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Saat ini kota Pekanbaru sudah terdapat jaringan akses LTE, akan tetapi masih ada beberapa wilayah yang masih belum tercakupi untuk jaringan LTE, sehingga perlu adanya perancangan jaringan telekomunikasi yang tepat agar mendapatkan layanan komunikasi yang baik. Pada saat ini PT.Tri Indonesia sudah menyediakan layanan jaringan LTE untunk wilayah kota Pekanbaru, solusi yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menambah site existing untuk melayani layanan LTE di wilayah kota Pekanbaru. Akan tetapi solusi tersebut masih belum sepenuhnya mencakupi seluruh kota Pekanbaru. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis perencanaan fronthaul optic fiber menggunakan komunikasi fiber optic. Fronthaul fiber optik merupakan transmisi antara BBU yang berada pada eNodeB site existing menuju RRH yang berada pada new site. Untuk menganalisa perancangan akses data yang mencakupi area perencanaan, dilakukan perancangan fiber optic link, variasi daya dan jenis kabel jaringan LTE. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, dengan Bit rate sebesar 10 Gbps dan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk parameter OLT sebesar 1490, 1510, 1530 dan 1550 nm daya terima sebesar 3 - 8 dBm. Mendapatkan hasil seluruh link fronthaul fiber optic mencapai attenuation 0.22 dB/km , hal ini disebabkan oleh nilai daya terima tiap site. Kemudian dari hasil perencanaan, daya terima pada kabel SMF sebesar -18.05 dBm dan NZDSF sebesar -17.054 dBm, dengan demikian simulasi perencanaan denang parameter pada kabel SMF dan NZDSF di katakan berhasil karna termasuk dalam kondisi cukup bagus. Kata kunci : C-RAN, RRH, BBU, Fronthaul,Fiber Optic, BTS, Prx, Q Factor, BER. Abstract Nowdays, in Pekanbaru city already has a LTE access network, but there are some areas not covered for the LTE network, so that need a planning telecommunication network design to get good communication service. Now, Tri Indonesia company has a provide LTE netwotk service to Pekanbaru area, the solution already done to resolve that problem is add the site existing to serve LTE services in Pekanbaru areas. But that solution can’t covered all Pekanbaru areas. In this essay (last task) had been planning analysis Fronthaul Optic Fiber using Fiber Optic communication. Fronthaul fiber optic is transmission between BBU in eNodeB site existing towards RRH in new site. To analysis the design of data access to covered the planning area, doing the design fiber optic link, potency variations and LTE network cable types. Based on calculation and simulation, with a Bit rate of 10 Gbps and device specifications used for OLT parameters of 1490, 1510, 1530 and 1550 nm receiving power of 3 - 8 dBm. Getting the results of all fiber optic fronthaul links reaches attenuation 0.22 dB / km, cause receiving value potency power of each site. From result design, receiving potency in SMF cable of 18.05 dBm an NZDSF of -17 dBm, By somulation design with parameter in SMF cable and NZDSF is succes because included in good enough condition. Keywords : C-RAN, RRH, BBU, Fronthaul,Fiber Optic, BTS, Prx, Q Factor, BER.
Simulasi Jaringan Radio Over Fiber (rof) Dengan Mengimplementasikan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (ofdm) Pada Arsitektur Pon Winda Ika Syukrina; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sistem komunikasi serat optik mengalami perkembangan yang sangat pesat begitu juga dengan sistem komunikasi nirkabel, perpaduan antara Radio over Fiber (RoF) dan Ortogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dapat menghasilkan data rate yang tinggi dengan bandwidth yang rendah dalam teknologi jaringan nirkabel.Pada Tugas Akhir ini perancangan sistem mencakup tiga bagian utama yaitu bagian transmitter, link transmitter dan bagian receiver yang disimulasikan menggunakan perangkat lunak simulator. Didalam penelitian ini analisis dilakukan hanya pada sisi downstream dengan bitrate sebesar 10Gbps, modulasi yang digunakan 4 - QAM dengan menggunakan radio frekuensi sebesar 7,5 GHz sinyal radio dimodulasi menggunakan Mach Zehnder Modulator (MZM) dengan jarak maksimum link sistem ditransmisikan sejauh 100 Km menggunakan serat Single Mode Fiber(SMF). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jarak serat optik dan variasi Power Splitter (PS) mempengaruhi performansi, dimana semakin panjang jarak dan besarnya jumlah variasi PS maka nilai BER semakin besar. Dimana hasil simulasi menggunakan PS 1:2 dengan nilai BER 5,3x10-9 memenuhi sampai pada jarak 60 km, PS 1:4 dengan nilai BER 7,645x10-13 memenuhi sampai pada jarak 40 km, PS 1:8 dengan nilai BER 1,49x10-14 memenuhi sampai pada jarak 20 km, PS 1:16 dengan nilai BER 1,8x10-9 memenuhi sampai pada jarak 20 km. Diagram konstelasi mengalami penurunan amplitudo dan penyebaran simbol pada nilai Real (Q) dan Imajiner (I) dalam setiap penambahan jarak. Kata kunci : RoF, OFDM , PON ABSTRACT Fiber optic communication systems are experiencing rapid growth, as well as wireless communication systems. The combination of Radio over Fiber (RoF) and Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) can generate high data rate with low bandwidth in the latest wireless network technology. In this Final Project, the system design includes three main parts, namely transmitter section, link transmitter and receiver section which are simulated using simulator software. In this study analysis is carried out only on the downstream side with a bitrate of 10Gbps, the modulation used by 4-QAM using a radio frequency of 7.5 GHz, radio signals modulated using Mach Zehnder Modulator (MZM) with a maximum link distance system transmitted as far as 100 Km using Single Mode Fiber (SMF) fiber. Based on the results of the study it can be concluded that the distance of optical fibers and variations in Power Splitter (PS) affect performance, where the longer the distance and the number of variations of PS, the greater the BER value. Where the simulation results using PS 1: 2 with a BER value of 5.3x10-9 meets up to a distance of 60 km, PS 1: 4 with a BER value of 7.645x10-13 meets up to a distance of 40 km, PS 1: 8 with a BER value of 1, 49x10-14 meets up to a distance of 20 km, PS 1:16 with a BER value of 1.8x10-9 meets up to a distance of 20 km. The constellation diagram has a decrease in the amplitude and spread of symbols in the Real (Q) and Imaginary (I) values in each additional distance. Keywords: RoF, OFDM, PON