Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Pengaruh Penggunaan Kompensator Dispersi Fiber Bragg Grating (fbg) Pada Sistem Komunikasi Optik Long Haul Muhamad Rizky Darmawansyah; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dispersi merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan performansi dari komunikasi optik khususnya di komunikasi yang jaraknya jauh (long haul). Hal tersebut mengakibatkan kualitas komunikasi yang buruk dan dapat menyebabkan kegagalan komunikasi. maka dari itu dibutuhkan tindakan untuk mengatasi hal tersebut. Di dalam ilmu teknik telekomunikasi ada beberapa tekhnik kompensasi untuk menaggulangi dispersi, dan salah satu yang bisa digunakan adalah teknik penggunaan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG). Penggunaan metode Fiber Bragg Grating (FBG) pada penelitian ini menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi dispersi di komunikasi optik. Penelitian ini dilakukan pada komunikasi long haul optik dengan jarak komunikasi sejauh 100 km – 300 km dengan bit rate 10 Gbps. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah perbandingan jaringan sebelum dan sesudah ditambahkan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG). Dengan penelitian pada 3 jarak yang berbeda yaitu 100 km, 200 km, dan 300 km dengan bit rate 10 Gbps. Hasil dari jarak terjauh yaitu 300 km, sebelum nilai performasnsi-nya adalah BER= 0,486, Q-factor= 1,64, dan setelah ditambahkan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG) hasil nilai performansi-nya adalah BER = 1,62x10 -91, dan Q-factor-nya = 20,26. Kata kunci: Komunikasi Longhaul, Dispersi, Kompensator, FBG, BER, Q-factor. ABSTRACT Dispersion is one of the factors that reduce the performance of fiber optic communication, especially in long haul communication which results in poor communication quality and can lead to communication failure. In the field of telecommunications engineering, there are several compensation techniques for preventing dispersion. The use of the Fiber Bragg Grating (FBG) method in this study is one solution to overcome dispersion in optical communication. This research was conducted on optical communication with a distance of 100 km - 300 km with a 10 Gbps bit rate. The Fiber Bragg Grating (FBG) compensator is added. By using 3 different distances, 100 km, 200 km and 300 km with 10 Gbps bit rate. The sample from the farthest distance is 300 km with the results before its performance is BER = 0,486, Q-factor = 1,64, and after adding the compensator of the Fiber Brag Grating dispersion (FBG) the performance result is BER = 1,62x10 -91, and the Q-factor = 20,26. Keywords: Longhaul Optic, Dispersion, FBG, BER, Q-factor
Perancangan Dan Realisasi Antena Biquad Yagi Dan Antena Biquad Omnidirectional Sebagai Repeater Pasif Untuk Meningkatkan Daya Terima Sinyal Wcdma Fakhrana Dhaifina; Bambang Setia Nugroho; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan BTS (Base Transceiver Station) untuk jaringan WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) atau jaringan generasi ketiga (3G) pada saat ini sudah lebih merata hingga ke daerah pedesaan. Akan tetapi, masih terdapat daerah-daerah di pedesaan yang level daya terimanya rendah, seperti daerah yang terdapat banyak sawah ataupun hutan dengan pepohonan besar (daerah rural). Salah satu penyebab level daya terima yang rendah yaitu jarak pelanggan yang cukup jauh dari BTS sehingga dapat memperbesar pathloss dan tentunya akan menurunkan level daya terima di pelanggan. Dan untuk mengatasi kendala tersebut dapat ditambahkan penggunaan repeater pada sisi penerima. Repeater terdiri dari dua jenis yaitu repeater aktif dan repeater pasif, dimana hal yang membedakannya yaitu dalam hal kebutuhan akan catuan dan ada tidaknya komponen aktif (amplifier). Jika repeater aktif membutuhkan catuan dan komponen aktif (amplifier), maka repeater pasif tidak membutuhkan catuan dan komponen aktif (amplifier). Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan dan realisasi antena serta pengujian repeater pasif terhadap penguatan sinyal radio pada frekuensi WCDMA pada ruangan indoor di daerah rural. Berdasarkan hasil pengukuran dari antena outdoor yang direalisasikan yaitu antena biquad yagi 10 elemen, antena bekerja pada frekuensi 2,02 GHz, gain sebesar 8,09 dBi, VSWR sebesar 1,182 dan pola radiasi unidirectional. Sedangkan berdasarkan hasil pengukuran dari antena indoor yang direalisasikan yaitu antena biquad omnidirectional, antena juga bekerja pada frekuensi 2,02 GHz, gain sebesar 1,39 dBi, VSWR sebesar 1,301 dan pola radiasi omnidirectional.Kata Kunci: Repeater Pasif, Antena Biquad Yagi, Antena Biquad Omnidirectional.
Perencanaan Fronthaul Microwave Untuk Radio Komunikasi Pada Jaringan 4g Aries Priyadi Ramadhan; Arfianto Fahmi; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kota bandung sudah terdapat jaringan akses LTE, akan tetapi masih ada beberapa wilayah yang masih belum tercakupi untuk jaringan LTE, sehingga perlu adanya perancangan jaringan telekomunikasi yang tepat agar mendapatkan layanan komunikasi yang baik. Pada saat ini PT.Tri Indonesia sudah menyediakan layanan jaringan LTE untunk wilayah kota bandung, solusi yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menambah site existing yang kemudian dikuatkan kembali dengan menggunakan repeater untuk melayani layanan LTE di wilayah kota bandung. Akan tetapi solusi tersebut masih belum sepenuhnya mencakupi seluruh kota bandung. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis perencanaan fronthaul microwave menggunakan komunikasi microwave. Fronthaul microwave merupakan transmisi antara BBU yang berada pada eNodeB site existing menuju RRH yang berada pada new site. Untuk menganalisa perancangan akses data yang mencakupi area perencanaan, dilakukan perancangan microwave link, coverage planning dan capacity planning jaringan LTE. Selanjutnya disimulasikan menggunakan software pathloss 5.0 untuk microwave link dan atoll untuk coverage planning. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, dengan frekuensi kerja sebesar 70 Ghz dan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk gain antenna sebesar 40,6; 43,0 dan 50,0 dBi dan daya terima minimum sebesar -75 dBm. Mendapatkan hasil seluruh link fronthaul microwave mencapai avaibility sebesar > 99,99 % dengan nilai fade margin sebesar 28 dB sampai 45 dB , hal ini disebabkan oleh nilai daya terima tiap site lebih besar dari nilai daya terima minimum perangkat. Kemudian dari hasil perencanaan coverage pada salah satu wilayah perencanaan, menghasilkan nilai rata-rata RSRP sebesar - 82.48 dBm dan rata-rata SINR sebesar 6.07 dB dengan demikian simulasi perencanaan coverage parameter RSRP dan SINR di katakan berhasil karna termasuk dalam kondisi cukup bagus. Kata kunci : RRH, BBU, Fronthaul, Link Microwave, nilai daya terima,RSRP, SINR.
Perbandingan Bit Error Rate Dari Line Code Rz Dan Nrz Pada Ng-pon2 Mohammad Bima Putra Brayoga; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada era digitalisasi ini kebutuhan manusia akan layanan super cepat merupakan prioritas utama untuk dapat bersaing di pasar dunia. Layanan tersebut adalah kayanan untuk komunikai jarak jauh maupun dekat. Pertumbuhan pencakar langit pada kota besar membuat komunikasi radio frecuency menjadi tidak efektif untuk digunakan. NGPON2 merupakan pengembangan teknologi optik PON yang distandarisasikan oleh ITU-T pada tahun 2015. Teknologi ini dapat melakukan transfer data hingga 40Gbps. Teknologi broadband ini sangat cocok untuk melayani kebutuhan layanan voice, video, dan data dengan kualitas yang tinggi. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam mewujudkan layanan ini adalah memilih teknik modulasi atau line code yang tepat dan meminimalisir jumlah Bit Error yang mungkin terjadi pada proses pengirimannya. Penelitian ini akan dibuat beberapa skenario peneltian dimana Skenario 1 dibuat untuk menentukan sistem jaringan NG-PON2 yang akan dianalisa performansinya, skenario menggunakan bitrate total 40Gbps dengan menggunakan OLT 4 lambda, kemudian dari jaringan tersebut dibuatkan 2 skenario simulasi dengan jenis line code berbeda guna melihat pengaruh perbedaan penggunaan jenis line code terhadap performansi Bit Error Rate-nya. Penelitian ini menghasilkan jenis line code NRZ yang bekerja dengan optimal digunakan untuk NG-PON2 dengan jarak tranmit maksimal 60km dengan BER yang kecil sesuai dengna standar yang telah ditetapkan ITU-T. Sedangkan RZ hanya bekerja optimal pada 20km saja. Kata kunci : NG-PON2, ITU-T, Line code, NRZ, RZ, BER, OLT, PON. Abstract In this digitalization era, the community's need for super-fast service is a top priority to be able to compete in the world market. These services are the ability to communicate long and near. Producing skyscrapers in big cities makes radio frecuency communication ineffective to use. NG-PON2 is the development of PON optical technology standardized by ITU-T in 2015. This technology can transfer data up to 40Gbps. This broadband technology is very suitable to serve the needs of high quality voice, video and data services. One important thing that must be considered in realizing this service is choosing the right modulation technique or line code and minimizing the number of Bit Errors that might occur in the sending process. This study will make several research scenarios where Scenario 1 is made to determine the NG-PON2 network system that will analyze its performance, the scenario uses a total bitrate of 40Gbps using OLT 4 lambda, then two scenarios are created from this network with different types of line codes to the Bit Error Rate performance. This research produces NRZ line code that works optimally to be used for NG-PON2 with a maximum transmit distance of 60 km with a small BER corresponding to the standards set by ITU-T. While the RZ only works optimally at 20km. Keywords: NG-PON2, ITU-T, Line Code, NRZ, RZ, BER, OLT, PON.
Simulasi Radio Over Fiber Menggunakan Gelombang Milimeter Frekuensi 60 Ghz Untuk Penggunaan Home Access Network Zehan Zulkarnaen; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada saat ini penggunaan teknologi pada berbagai perangkat dan aplikasi membutuhkan kecepatan tinggi dan mobilitas yang fleksibel, teknologi wireless-fidelity dapat menjadi solusi dari kebutuhan tersebut. Pada penelitian ini dilakukan analaisa jaringan home area network dengan menggunakan topologi jaringan Radio over Fiber - Wavelength Division Multiplexing pada tiga standar wifi, yakni standar IEEE 802.11n yang menggunakan frekuensi kerja 2.4 GHz dengan kecepatan data 300Mbit/s, standar IEEE 802.11ac yang menggunakan frekuensi kerja 5 GHz dengan kecepatan data 1350Mbit/s, dan standar IEEE 802.15.3c yang menggunakan frekuensi kerja 60 GHz dengan kecepatan data 6000 Mbit/s yang masing-masing skema simulasi tersebut diukur pada jarak 5 kilometer, 10 kilometer, 15 kilometer dan jarak terjauh 20 kilometer sesuai standar access network. Hasil yang diperoleh dari perhitungan ketiga skema tersebut adalah pada jarak terjauh yakni 20 km, pada standar IEEE 802.11n nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Pada standar IEEE 802.11ac nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Dan terakhir pada standar IEEE 802.15.3c diperoleh hasil dengan nilai BER 4,154×10-39 dan Q-factor sebesar 13,03. Ketiga skema simulasi tersebut memperoleh nilai parameter yang memenuhi standar BER yakni 10-9 dan Q-factor sebesar 6. Kata kunci : Radio over Fiber, wifi, Serat Optik, Sinyal Radio. Abstract Nowadaysthe use of technology in various devices and applications requires high speed and flexible mobility, wireless-fidelity technology can be a solution to those needs. In this study, there was an analysis of home area network networks using Radio over Fiber network topology - Wavelength Division Multiplexing on three WiFi standards, the IEEE 802.11n standard that uses a 2.4 GHz frequency with a data speed of 300Mbit/s, IEEE 802.11ac standard that uses 5 GHz frequency with data rates of 1350Mbit/s, and the IEEE 802.15.3c standard that uses a 60 GHz frequency with a data rate of 6000 Mbit/s, each of scheme is measured at a distance of 5 kilometers, 10 kilometers, 15 kilometers and the farthest distance 20 kilometers according to the standard access network. The results obtained from the calculation of the three schemes are at the farthest distance of 20 km, in the IEEE 802.11n standard the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. In the IEEE 802.11ac standard, the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. And the IEEE 802.15.3c standard the BER value is of 4.154 × 10-39 and Q-factor 13.03. The three simulation schemes have obtained parameter values that meet the BER standard of 10-9 and Q-factor of 6. Keywords: Radio over Fiber, wifi, Fiber Optic, Radio signal.
Analisis Perbandingan Migrasi Jaringan 4g Ke 5g Dengan Menggunakan Model Konfigurasi 3a Dan 7a Doni Bima Saputra; Uke Kurniawan Usman; M Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Migrasi terhadap jaringan 4G ke 5G merupakan sebuah perkembangan/kemajuan dari teknologi telekomunikasi saat ini. Terdapat beberapa opsi konfigurasi pada migrasi jaringan tersebut antara lain opsi 3a dan 7a. Kedua opsi tersebut merupakan model dari Non-standalone (NSA). Pada penelitan ini simulasi perbandingan yang dilakukan adalah untuk mengetahui mana yang terbaik dari kedua opsi tersebut pada saat dilakukan simulasi dengan menggunakan software matlab simulink. Analisa perbandingan ini dilakukan dengan cara merancang arsitektur jaringan pada model NSA opsi 3a dan opsi 7a dengan mengandalkan parameter-parameter yang sudah di tetapkan pada Release 15 3GPP. Perbandingan yang di dapatkan dari hasil simulasi adalah ketika di berikan nilai frekuensi 2300 MHz dan 27500 MHz pada tiap opsi, nilai yang dihasilkan dari simulasi pada simulink sudah sesuai dengan standar, untuk hasil nilai dari SNR memiliki kategori baik yaitu >10,9 dB dan keduanya memiliki nilai yang sama. Kemudian hasil dari parameter lain seperti jitter sudah menunjukan hasil dalam kategori baik yaitu <75 ms dan nilai paling baik adalah 33 ms, sedangkan delay dan troughput dalam kategori sangat baik yaitu pada troughput memiliki nilai >100 bps dan memiliki nilai paling baik sebesar 333.6 bps dan delay bernilai <150 ms yaitu hasil paling baik adalah 2.3 ms. Kata Kunci: Kajian migrasi jaringan 5G, EPC, 5G core, Non-standalone dan Release 15. Abstract Migration to 4G to 5G networks is a development / advancement of the current telecommunications technology. There are several configuration options for the network migration including options 3a and 7a. Both of these options are Non-Standalone (NSA) models.In this research, the comparative simulation carried out is to find out which is the best of both options at the time of simulation using matlab simulink software. This comparative analysis is done by designing the network architecture in NSA model options 3a and option 7a by relying on the parameters set in Release 15 3GPP.The comparison obtained from the simulation results is when given a frequency value of 2300 MHz and 27500 MHz for each option, the value generated from the simulink simulation is conform with the standard, for the results of the value of the SNR has a good category that is> 10, 9 dB and both have the same value. Then the results of other parameters such as jitter have shown results in the good category that is <75 ms and the best value is 33 ms, while the delay and throughput in the very good category that is throughput has a value> 100 bps and has the best value of 333.6 bps and delay <150 ms, the best result is 2.3 ms. Keywords: Study of 5G network migration, EPC, 5G core, Non-standalone and Release 15.
Analisis Performansi Pengaruh Non Linearitas Four Wave Mixing (fwm) Pada Sistem Komunikasi Jarak Jauh Berbasis Dwdm Tiara Mustika; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Teknologi dari sistem komunikasi serat optik yang berkembang sangat pesat adalah teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). DWDM mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dari teknologi terdahulu. Akan tetapi dibalik kelebihan yang dimiliki DWDM, terdapat kekurangan yang sangat mempengaruhi kinerja teknologi tersebut seperti efek non linearitas fiber yaitu Four Wave Mixing (FM). Pada pembuatan tugas akhir ini, dibuat pemodelan link DWDM pada perangkat lunak untuk mengetahui pengaruh dari FWM tersebut, dan terdapat dua skenario simulasi. Pada skenario pertama, variabel-variabel input yang dirubah adalah bitrate link dan jarak link. Pada skenario kedua yang dirubah adalah daya transmitter. Bitrate 10 Gbps dengan jarak dengan jarak 200 km memiliki performansi terbaik dengan q-Factor 3. Bitrate 40 Gbps dengan jarak 100 km memiliki performansi Q-factor 3,224. Bitrate 100 Gbps bahwa performansi terbaik pada jarak 100 km. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 10 Gbps memiliki performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 3,37157. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 40 Gbps , Perubahan pada daya transmitter pada link yang mengalami performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 4,0113. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 100 Gbps, performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter -2.9 dBm dengan daya q-factor sebesar 2,43272. Kata Kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Qfactor Abstract Nowadays, The development of the Optical Fiber Communication Systems (SKSO in indonesian) continued to progress from year to year. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) is one of technology of optical fiber communication systems which grows so fast. DWDM also has several advantages over previous technology. Besides the advantages of DWDM, there are deficiencies which greatly affect the performance of these technologies such as nonlinearity effects Four Wave Mixing (FWM). In this final assigment, there is a modelling of DWDM link was made from software that use the determine the effect of the FWM. And there are also two simulation scenario. In first scenario, the variable input that are changed is the bitrate links and link distance. The second scenario, the variable that is changed is the transmitter power. A 10 Gbps bitrate with a distance of 200 km has the best performance with q-Factor 3. A 40 Gbps bitrate with a distance of 100 km has a Q-factor performance of 3,224. Bitrate of 100 ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.6, No.2 Agustus 2019 | Page 3451 2 Gbps that the best performance at a distance of 100 km. The effect of transmitter power on 10 Gbps bitrate has the best performance in the previous scenario that the best performance on a link with 0 dBm transmitter power with q-factor power of 3.37157. Effect of transmitter power at 40 Gbps bitrate, Changes in transmitter power on the link that experiences the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is 0 dBm with a q-factor power of 4.0113. The effect of transmitter power on 100 Gbps bitrate, the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is -2.9 dBm with q-factor power of 2.43272. Keyword: Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Q-fact
Analisis Performansi Pengaruh Splitter Pada Sistem Ng-pon2 Muhammad Afrizal Muhammad Afrizal; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah NG-PON2. NG-PON2 diharapkan mampu menyalurkan data transmisi dengan lebih efisien dan handal. NG-PON2 merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T. NG-PON2 diharapkan mampu menyediakan layanan broadband yang semakin berkembang di masa depan untuk melayani kebutuhan pelanggan yang meningkat baik di layanan data, voice, dan video. Dalam penelitian ini penulis ingin mengembangkan penelitian dengan cara menganalisa performansi pengaruh splitter pada sistem NG-PON2 dengan menggunakan jarak 60 km. Dari hasil simulasi, dilakukan analisis sistem dengan parameter pengukuran link power budget, Q factor, dan BER serta mengacu pada standar ITU-T. Penelitian ini akan menggunakan software simulasi optik untuk mempermudah dalam proses analisa data. Berdasarkan hasil simulasi, 2 ONU, 4 ONU, 8 ONU, dan 16 ONU memiliki kelayakan karena telah memenuhi standar kelayakan operasi namun untuk 16 ONU memiliki kelayakan terbaik dengan Q-Factor = 7,4844 dan Power Received = -28,190 dBm serta BER = 𝟑, 𝟒𝟏𝟑𝟏𝒙𝟏𝟎−𝟏𝟒 disisi downstream dan Q-Factor = 6,4450 dan Power Received = -28,342 dBm serta BER = 𝟓, 𝟑𝟏𝟔𝟏𝒙𝟏𝟎−𝟏𝟏 disisi upstream. Kata kunci: NG-PON2, splitter, Link Power Budget, BER, Q-factor. ABSTRACT One of the technologies that is currently developing is NG-PON2. NG-PON2 is expected to be able to channel data transmission more efficiently and reliably. NG-PON2 is one of the technologies developed by ITU-T. In this study different from previous researchers who discussed the power consumption of splitters for next generation optical networks. In this study the author wants to develop research by analyzing the performance of the effect of splitters on NG-PON2 systems using a distance of 60 km. From the simulation results, a system analysis is carried out with measurement parameters of link power budget, Q factor, and BER and refers to the ITU-T standard. Based on the simulation, 2 ONU, 4 ONU, 8 ONU, dan 16 ONU have eligibility because they have met the operational feasibility standard but for 16 ONU has the best feasibility with Q-Factor = 7,4844 and Power Received = -28,190 dBm and BER = 𝟑, 𝟒𝟏𝟑𝟏𝐱𝟏𝟎−𝟏𝟒 on the downstream side and Q-Factor = 6,4450 and Power Received = -28,342 dBm and BER = 𝟓, 𝟑𝟏𝟔𝟏𝐱𝟏𝟎−𝟏𝟏 on the upstream side. Keywords: NG-PON2, splitter, Link Power Budget, BER, Q-factor.
Perancangan Jaringan Last Mile Berbasis Gpon Di Kecamatan Ciwidey Jawa Barat Kindi Alfitrandy; Akhmad Hambali; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 9, No 6 (2022): Desember 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak— Sistem komunikasi jarak jauh merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan layanan internet yang penting bagi umat manusia di zaman ini. Layanan video dan data dengan bandwidth yang tinggi sangat dibutuhkan seperti teknologi Long Term Evolution. Wilayah Ciwidey merupakan salah satu pusat wisata di jawa barat namun jaringan 4G LTE masih tidak baik di wilayah tersebut sehingga dibutuhkan pemerataan jaringan 4G/LTE. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan dengan penentuan wilayah untuk perancangan jaringan last mile berdasarkan letak geografis untuk dilakukan perhitungan user trafik. Dengan menggunakan ONU pada eNodeB dan ONT pada sekolah dan tempat wisata. Perancangan ini menggunakan teknologi GPON sesuai dengan standar ITU-T G.984 dimana 2,488 Gbps untuk downstream dan 1,244 Gbps untuk upstream. Hasil perhitungan perancangan untuk layanan komunikasi data di Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Rancangan ini terpenuhi dengan parameter terendah BER untuk link eNodeB pada sisi downstream bernilai 1,90 x 10-10 dan upstream 1,95 x 10-13 . Sedangkan untuk link ONT pada sekolah nilai parameter BER terendah pada link akses downstream bernilai 9,81 x 10-9 dan upstream bernilai 1,08 x 10-9 . Kata kunci— LTE, GPON, bit error rate
Perencanaan Jaringan 4g Lte 700 Mhz dan 900 Mhz Menggunakan Microwave Backhaul Di Kecamatan Sumba Tengah Daerah 3t Avenuto Detantra; Uke Kurniawan Usman; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 9, No 6 (2022): Desember 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menurut Badan Pusat Statistik Sumba Tengah merupakan daerah penduduk termiskin di Provinsi Nusa Tenggar Timur. Dikarenakann letak daerah yang berada jauh dari ibu kota provinsi menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat sehingga pembangunan infrastruktur yang belum merata. Sumba Tengah termasuk dalam daerah 3T, Daerah 3T merupakan daerah tingkat desa atau kelurahan terluar yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Pada perencanaan ini telah dilakukan perbandingan perancangan LTE frekuensi 700 MHz dan 900 MHz dengan menggunakan microwave link backhaul. Parameter yang akan dianalisis yaitu nilai RSRP, SINR, throughput disimulasikan menggunakan software Atoll. Selanjutnya dilakukan perencanaan microwave link backhaul dengan frekuensi kerja berdasarkan jarak link backhaul. Parameter pada perencanaan ini adalah availability dan level daya terima yang disimulasikan menggunakan software Pathloss 5.0. Berdasarkan hasil simulasi perencanaan LTE dengan frekuensi 700 MHz diperoleh hasil rata-rata untuk parameter RSRP sebesar -60,44 dBm, SINR sebesar 5,82 dB, dan throughput sebesar 13,38 Mbps. Sedangkan dengan frekuensi 900 MHz diperoleh hasil rata-rata untuk parameter RSRP sebesar -62,84 dBm, SINR sebesar 6,64 dB, dan throughput sebesar 15,48 Mbps. Berdasarkan simulasi microwave link backhaul terpenuhi pencapaian LoS dengan nilai rata-rata fade margin sebesar 41,87 dBm dan availability sebesar 100 %. Kata kunci: LTE, microwave backhaul, RSRP, SINR, throughput