Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

A Theory-Informed Conceptual Framework for Sustainable Intangible Cultural Heritage Preservation in the Digital Era through Immersive Information Systems Perwitasari, Ika Devi; Ariffin, Shamsul Arrieya; Jodi Hendrawan
Proceedings of The International Conference on Computer Science, Engineering, Social Science, and Multi-Disciplinary Studies Vol. 1 (2025)
Publisher : CV Raskha Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64803/cessmuds.v1.4

Abstract

The preservation of Intangible Cultural Heritage (ICH) faces significant challenges in the digital age, particularly regarding authentic representation, technology acceptance, and sustainability. This research aims to develop a theory-informed conceptual framework to support ICH preservation through immersive information systems. The approach used was conceptual, with a systematic literature review, theory synthesis, and framework development. The literature analyzed included cultural preservation theory, the Technology Acceptance Model (TAM), the User-Centered Design (UCD) approach, and the Culturally Appropriate Design Guidelines (CADG). The research results produced a framework consisting of three main dimensions: Cultural Appropriateness, Technological Acceptance, and Sustainability. These three dimensions lead to the development of Immersive Information Systems that incorporate VR, AR, and AI technologies as key enablers for the documentation, dissemination, and intergenerational transfer of cultural knowledge. The literature synthesis indicates that community engagement, user acceptance of technology, and social, technological, and economic sustainability strategies are key pillars of ICH preservation in the digital age. As an illustration, the case of the Toba Batak demonstrates how immersive technology can be used to document local cultural practices such as tortor, gondang sabangunan, and ulos. The study's conclusions emphasize that ICH preservation cannot be separated from the integration of preservation theory, technology adoption, and sustainable design. The resulting framework provides both theoretical contributions by broadening the horizons of cultural preservation studies and practical contributions as a guide for the ethical, inclusive, and sustainable implementation of immersive technology.
QR Code-Based Attendance Systems in Education: A Systematic Literature Review on Data Accuracy and Sustainable School Management Jodi Hendrawan; Perwitasari, Ika Devi; Fajar Maulana
Proceedings of The International Conference on Computer Science, Engineering, Social Science, and Multi-Disciplinary Studies Vol. 1 (2025)
Publisher : CV Raskha Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64803/cessmuds.v1.14

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of QR Code-based attendance systems in enhancing data accuracy and supporting sustainable school management. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted using the PRISMA framework to analyze 9 selected articles published between 2015 and 2025. The review process involved identification, screening, eligibility assessment, and inclusion, with data extracted regarding research objectives, methods, respondents, applied technologies, and findings. The results indicate four major themes. First, efficiency was the most consistent advantage, as QR Code systems significantly reduced the time required for attendance and minimized administrative workload. Second, accuracy and reliability improved through automated digital records, reducing human errors and enabling evidence-based decision-making in educational institutions. Third, security was enhanced with innovations such as randomized QR, animated QR, and dynamic QR codes integrated with geofencing and IMEI validation, effectively preventing fraudulent practices like proxy attendance and buddy punching. Fourth, QR Code attendance systems demonstrated clear contributions to sustainable school management, particularly through integration with academic and financial systems, thereby promoting transparency and institutional accountability. This review concludes that QR Code-based attendance systems represent a simple yet strategic innovation with significant academic and managerial implications. Future research should focus on comparative studies across different QR Code models, long-term evaluations, and wider applications in primary and secondary schools to further strengthen digital transformation in education.
Edukasi Digital Wellbeing sebagai Intervensi Berbasis Sekolah untuk Meningkatkan Literasi Digital dan Penggunaan Gadget Sehat Ika Devi Perwitasari; Jodi Hendrawan; Yusman, Yanti; Eriyan Pratama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Berdampak Vol. 2 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Raskha Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64803/jupemba.v2i2.184

Abstract

Penggunaan gadget yang semakin intensif di kalangan remaja memberikan berbagai manfaat dalam mendukung proses pembelajaran dan komunikasi, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila tidak disertai dengan pengelolaan yang bijaksana. Rendahnya kesadaran mengenai digital wellbeing dapat meningkatkan risiko kecanduan gadget, gangguan kesehatan fisik dan mental, serta paparan terhadap berbagai ancaman di ruang digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi digital dan mendorong perilaku penggunaan gadget yang sehat melalui program edukasi Digital Wellbeing bagi siswa SMAN 5 Binjai. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif yang meliputi tahap identifikasi kebutuhan, persiapan, seminar edukasi, workshop praktik penggunaan fitur Digital Wellbeing, simulasi kasus digital, pembuatan poster kampanye "Gadget Sehat", serta evaluasi melalui pre-test, post-test, observasi, dan umpan balik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mengelola screen time, memanfaatkan fitur Digital Wellbeing, menjaga keamanan data pribadi, serta menerapkan etika bermedia digital. Partisipasi aktif peserta selama seminar, workshop, dan simulasi menunjukkan tingginya antusiasme terhadap materi yang diberikan. Selain itu, peserta mampu menerapkan pengaturan penggunaan gadget secara lebih sehat dan menghasilkan poster edukasi sebagai media kampanye literasi digital di lingkungan sekolah. Program ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis sekolah melalui edukasi Digital Wellbeing merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi digital sekaligus membentuk budaya penggunaan teknologi yang lebih sehat dan bertanggung jawab di kalangan remaja.
Cerdas Bermedia, Aman Berinternet: Edukasi Literasi Keamanan Data bagi Pelajar SMAN 5 Binjai Jodi Hendrawan; Ika Devi Perwitasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Berdampak Vol. 2 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Raskha Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64803/jupemba.v2i2.192

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi digital telah meningkatkan intensitas penggunaan internet di kalangan pelajar, namun belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai keamanan data dan privasi online. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penyalahgunaan data pribadi, serangan phishing, pencurian identitas, serta berbagai ancaman siber lainnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keamanan data dan privasi online bagi pelajar SMAN 5 Binjai melalui program edukasi bertajuk "Cerdas Bermedia, Aman Berinternet." Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif yang melibatkan 80 siswa melalui seminar interaktif, workshop praktik, diskusi, serta evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar keamanan data, perlindungan data pribadi, ancaman siber, pengelolaan kata sandi yang aman, penerapan two-factor authentication, pengaturan privasi media sosial, serta pengenalan teknik phishing dan social engineering. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata nilai dari 45% pada pre-test menjadi 82% pada post-test. Selain itu, lebih dari 90% peserta mampu menerapkan praktik keamanan digital, seperti membuat kata sandi yang kuat, mengaktifkan two-factor authentication, mengatur privasi akun media sosial, dan mengenali karakteristik pesan phishing. Kegiatan ini juga memperoleh respons positif dari guru pendamping yang menilai program relevan dengan kebutuhan literasi digital di sekolah. Program pengabdian ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif yang dipadukan dengan praktik langsung efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran pelajar terhadap keamanan data dan privasi online. Keberlanjutan program melalui integrasi materi ke dalam kegiatan literasi digital sekolah diharapkan mampu membentuk budaya penggunaan teknologi yang lebih aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.