Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

TABLET HISAP SARI BUAH TOMAT (LICOPERSICON ESCULENTUM MILL.) SEBAGAI PENANGKAL RADIKAL BEBAS Pujiastuti, Anasthasia; Octasari, Paulina Maya; Setyorini - Politeknik Katolik Mangunwijaya, Siska
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 6, No 2 (2019): IJMS 2019
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Free radicals are atoms or molecules that are unstable and very reactive because they contain one or more unpaired electrons in their outer orbitals. The body needs an important substance, an antioxidant that is capable of capturing free radicals so that it cannot induce a disease. Antioxidants are contained in various types of food, especially fruits and vegetables. One fruit that contains a lot of antioxidants is tomatoes (Lycopersicum esculentum Mill). Tomatoes have lycopene, flavonoids and vitamin C as antioxidants. Tomato pollen can be made lozenges. The most important material in determining the dissolution time of the lozenges after is the binder, among others, Polyinylpyrrolidone K-30 (PVP K-30). Making tomato lozenges using wet granulation method with the content of PVP K-30 binder used is 1%, 2%, and 3%. The evaluation results of physical characteristics of lozenges were analyzed statistically using ANOVA and Kruskall-Wallis test with a confidence level of 95%, then tested the antioxidant activity of tomato juice lozenges using the DPPH method. Based on the results of the study, it was found that the levels of PVP K-30 had an effect on the physical characteristics of tomato pollen lozenges which included organoleptic, hardness, friability, and dissolution time but had no effect on uniformity of weight and uniformity of size. Antioxidant activity produced by lozenges of tomato juice at a concentration of 300 ppm, formula I of 2.295%; formula II is 2.606%; and formula III 2,391%.Key words: tomato lozanges, tomato juice, PVP K-30, physical characteristics, antioxidant activity  Abstrak: Radikal bebas adalah atom atau molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Tubuh memerlukan suatu substansi penting yaitu antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas sehingga tidak dapat menginduksi suatu penyakit. Antioksidan terkandung dalam berbagai jenis makanan, terutama buah dan sayuran. Salah satu buah yang banyak mengandung antioksidan adalah tomat (Lycopersicum esculentum Mill). Buah tomat memiliki kandungan likopen, flavonoid dan vitamin C sebagai antioksidan. Serbuk sari buah tomat dapat dibuat sediaan tablet hisap. Bahan yang paling penting dalam penentuan waktu melarut dari tablet hisap setelah adalah bahan pengikat antara lain Polivinilpirolidon K-30 (PVP K-30). Pembuatan tablet hisap sari buah tomat dengan metode granulasi basah dengan kadar bahan pengikat PVP K-30 yang digunakan adalah 1%, 2%, dan 3%. Hasil evaluasi karakteristik fisik tablet hisap dianalisis statistik menggunakan uji anova dan Kruskall-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%, selanjutnya diuji aktivitas antioksidan tablet hisap sari buah tomat menggunakan metode DPPH. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kadar PVP K-30 berpengaruh terhadap karakteristik fisik tablet hisap serbuk sari buah tomat yang meliputi organoleptis, kekerasan, kerapuhan dan waktu melarut tetapi tidak berpengaruh pada keseragaman bobot dan keseragaman ukuran. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh tablet hisap sari buah tomat pada konsentrasi 300 ppm, formula I sebesar 2,295 % ; formula II sebesar 2,606 %; dan formula III sebesar 2,391 %. Kata kunci: tablet hisap, sari buah tomat, PVP K-30, karakteristik fisik, aktivitas antioksidan
KEPUASAN PASIEN POLI IBU TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT HERMINA PANDANARAN SEMARANG Octasari, Paulina Maya; Fatimah, Siti Nur
CENDEKIA EKSAKTA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v6i1.4124

Abstract

Kualitas pelayanan terhadap pasien di rumah sakit berdampak pada kepuasan pasien. Pada bulan Januari – September 2019, jumlah pasien di poli ibu Rumah Sakit Hermina Pandanaran Semarang mencapai 30% dari 123.536 total pasien. Kepuasan pasien dapat diukur melalui lima dimensi kepuasan yaitu, wujud nyata, perhatian, jaminan kepastian, kehandalan, dan ketanggapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan pasien poli ibu di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pandanaran Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross sectional. Data diambil secara prospektif melalui pengisian kuesioner tentang pelayanan farmasi kepada pasien. Usia responden berkisar 17 – 65 tahun. Data dianalisis berdasarkan karakteristik responden dan persentase kepuasan pasien di setiap dimensi. Hasil menunjukkan bahwa usia pasien paling banyak adalah 26 – 35 tahun (57%) dengan tingkat pendidikan terakhir pendidikan tinggi (63.3%). Kepuasan pasien menunjukkan hasil berurutan sebagai berikut: dimensi wujud nyata 94%, perhatian 90,7%, jaminan kepastian 99,5%, kehandalan 100%, dan ketanggapan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pasien telah melampaui standar yang ditentukan di RS Hermina Pandanaran Semarang, yaitu > 90%. Meskipun demikian terdapat satu pertanyaan dalam dimensi perhatian yang menghasilkan kepuasan sebesar 81.3%.
POTENSI HIDROGEL EKSTRAK ETANOLIK DAUN PECUT KUDA (Stachytarpheta Jamaicensis [L.] Vahl) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN ULKUS DIABETIKUM PADA Rattus Novergicus GALUR WISTAR Paulina Maya Octasari; Septiana Laksmi Ramayani
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang:  Terapi utama pada ulkus diabetikum adalah perawatan luka dan pemberian antibakteri. Senyawa fenolik dan flavonoid bersifat antibakteri yang terdapat pada tanaman. Tanaman pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis [L.] Vahl) memiliki senyawa tersebut. Tujuan:  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hidrogel ekstrak daun pecut kuda (EEDPK) terhadap proses penyembuhan ulkus diabetikum pada tikus. Metode:  Pembuatan hidrogel EEDPK  menggunakan bahan HPMC, propilenglikol dan metil paraben dengan  konsentrasi ekstrak sebesar 1%, 3%, dan 5%. Dilakukan penetuan kadar total fenolik dan flavonoid. Tikus diolesi povidon iodine, basis hidrogel, EEDPK 1%, 3%, dan 5% pada ulkus diabetikum pada hari ke-7 hingga ke-21. Proses penyembuhan luka dilihat dengan pemeriksaan leukosit dan makrofag pada hari ke-3, 7, 14, 21. Analisis data menggunakan One Way Anova dilanjutkan dengan Post Hoc (taraf kepercayaan  95%).  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrogel EEDPK mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Semakin tinggi konsentrasi EEDPK memiliki kandungan senyawa yang semakin besar. Semua tikus mengalami penyembuhan luka selama 21 hari. Semua sediaan dapat menurunkan kadar leukosit dan makrofag secara signifikan terhadap kontrol negatif (p<0.05) Simpulan dan saran:  Hidrogel EEDPK dapat menurunkan kadar leukosit dan makrofag pada hari ke-21.
Evaluasi Penggunaan Analgesik pada Pasien Sectio caesarea di Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang Paulina Maya Octasari
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 19 No 1 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v19i1.877

Abstract

Section caesarea (SC) is a one birth methods by surgery if the mother has a difficult way to take the baby out by vagina. At 2010 year, Indonesia have prevalence of section caesarea as 15.3% from 20.591 mother over five last year in 33 province. One of the most mother birth have symptoms, is pain. Ketorolac is the one of analgesic as a first choice for cesarean section patients. This research aims to evaluate the analgesic usage in cesarean section patients at St. Elisabeth Hospital, Semarang. This research is an observasional descriptive research with retrospektive data. Data was collected from sc patient who was given ketorolac after SC on July – December 2017 at St. Elisabeth Hospital, Semarang. The inclusion criteria were patient with JKN assurance and patients who had SC for the first time. The data were analyzed qualitatively and quantitavely The result shows that the most patients were 26 – 30 years old. The amount of the patients after was given ketorolac who had mild pain scale were 95.1% and moderate pain scale were 4.9%. The average pain scale was slightly decrease over 3 – 4 hours after injection, as 1,46 scale. The most kind of analgesic who used as an extra were tramadol (32.93%). Mefenamic acid and diclofenac natrium was the biggest amount to use at home.
Anti-inflammatory Effect of cream and ointment from 2,5- bis- (4-Nitrobenzilidine) cyclopentanoneagainst Edema in Mice Induced by Formalin Paulina Maya Octasari; Fransiska Ayuningtyas
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.869 KB) | DOI: 10.20961/jpscr.v1i2.1942

Abstract

Creams and ointments are topical dosage forms used in the manufacture of drugs. Topical anti-inflammatory drug is a solution to problems of gastrointestinal side effects caused by taking nonsteroidal anti-inflammatory drug orally. The compound 2,5-bis (4-nitrobenzilidine) cyclopentanone is an analog of curcumin which has better anti-inflammatory activity than curcumin. This study aimed to determine the antiinflammatory effect of cream and ointment from 2,5-bis (4-nitrobenzilidine) cyclopentanoneagainst edema in mice induced by formalin. This research were experimental randomized complete design using a single factor. Twenty mice were divided into 4 groups: group I were given a cream base, the group II were given ointment base, group III were given cream compound 0.25% and group IV were given ointment compound 0.25%. The data were processed into AUC values and the percentage of anti-inflammatory effectwere calculated. Results were analyzed using ANOVA and T-test statistics. The results showed that between the dosage form had statistically difference of anti-inflammatory effect (p<0.05). The ointmentshowed a greater value of antiinflammatory activity rather than cream.
KESESUAIAN NILAI INR (INTERNATIONAL NORMALIZED RATIO) PASIEN KARDIOVASKULER DENGAN TERAPI WARFARIN DI POLI SPESIALIS JANTUNG RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG Paulina Maya Octasari; Nova Silvianingsih
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 6, No 1 (2022): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v6i1.126

Abstract

Penyakit kardiovaskular didefinisikan sebagai penyakit akibat adanya gangguan fungsi jantung dan vaskuler. Salah satu terapi yang digunakan untuk penyakit kardiovaskular adalah warfarin. Penggunaan warfarin pada penyakit kardiovaskular diukur dengan parameter waktu prothrombin melalui nilai INR (International Normalized Ratio) dengan nilai target INR 2-3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian nilai INR pada pasien kardiovaskular dengan terapi warfarin di Poli Spesialis Jantung RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif observasional  dengan data retrospektif. Data rekam medis pasien kardiovaskular yang mendapatkan terapi warfarin periode bulan Juli sampai Desember 2019. Kriteria inklusi pasien penyakit kardiovaskular yang mendapatkan terapi warfarin, pasien dengan usia 26-65 tahun dengan atau penyakit penyerta dan pasien yang mempunyai hasil pemeriksaan nilai INR selama 2 bulan berurutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sampel sebanyak 69 pasien. Pasien dengan terapi warfarin lebih banyak pasien laki-laki, yaitu 35 pasien (50,70%), rentang usia terbanyak adalah 56-65 tahun dan pasien yang paling banyak menggunakan warfarin adalah pasien CHF. Warfarin dengan dosis pemberian 2 mg perhari sebanyak 27 pasien. Hasil kesesuaian nilai INR pada pasien kardiovaskular yang  sesuai dengan target nilai INR 2 – 3 pada bulan pertama sebanyak 11 pasien (15,94%) dan pada bulan kedua sebanyak 8 pasien (11,59%).
Tablet Hisap Sari Buah Tomat (Licopersicon esculentum Mill.) sebagai Penangkal Radikal Bebas Anasthasia Pujiastuti; Paulina Maya Octasari; Siska Setyorini - Politeknik Katolik Mangunwijaya
Indonesian Journal on Medical Science Vol 6 No 2 (2019): IJMS 2019
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.615 KB)

Abstract

Abstract : Free radicals are atoms or molecules that are unstable and very reactive because they contain one or more unpaired electrons in their outer orbitals. The body needs an important substance, an antioxidant that is capable of capturing free radicals so that it cannot induce a disease. Antioxidants are contained in various types of food, especially fruits and vegetables. One fruit that contains a lot of antioxidants is tomatoes (Lycopersicum esculentum Mill). Tomatoes have lycopene, flavonoids and vitamin C as antioxidants. Tomato pollen can be made lozenges. The most important material in determining the dissolution time of the lozenges after is the binder, among others, Polyinylpyrrolidone K-30 (PVP K-30). Making tomato lozenges using wet granulation method with the content of PVP K-30 binder used is 1%, 2%, and 3%. The evaluation results of physical characteristics of lozenges were analyzed statistically using ANOVA and Kruskall-Wallis test with a confidence level of 95%, then tested the antioxidant activity of tomato juice lozenges using the DPPH method. Based on the results of the study, it was found that the levels of PVP K-30 had an effect on the physical characteristics of tomato pollen lozenges which included organoleptic, hardness, friability, and dissolution time but had no effect on uniformity of weight and uniformity of size. Antioxidant activity produced by lozenges of tomato juice at a concentration of 300 ppm, formula I of 2.295%; formula II is 2.606%; and formula III 2,391%.Key words: tomato lozanges, tomato juice, PVP K-30, physical characteristics, antioxidant activity  Abstrak: Radikal bebas adalah atom atau molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Tubuh memerlukan suatu substansi penting yaitu antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas sehingga tidak dapat menginduksi suatu penyakit. Antioksidan terkandung dalam berbagai jenis makanan, terutama buah dan sayuran. Salah satu buah yang banyak mengandung antioksidan adalah tomat (Lycopersicum esculentum Mill). Buah tomat memiliki kandungan likopen, flavonoid dan vitamin C sebagai antioksidan. Serbuk sari buah tomat dapat dibuat sediaan tablet hisap. Bahan yang paling penting dalam penentuan waktu melarut dari tablet hisap setelah adalah bahan pengikat antara lain Polivinilpirolidon K-30 (PVP K-30). Pembuatan tablet hisap sari buah tomat dengan metode granulasi basah dengan kadar bahan pengikat PVP K-30 yang digunakan adalah 1%, 2%, dan 3%. Hasil evaluasi karakteristik fisik tablet hisap dianalisis statistik menggunakan uji anova dan Kruskall-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%, selanjutnya diuji aktivitas antioksidan tablet hisap sari buah tomat menggunakan metode DPPH. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kadar PVP K-30 berpengaruh terhadap karakteristik fisik tablet hisap serbuk sari buah tomat yang meliputi organoleptis, kekerasan, kerapuhan dan waktu melarut tetapi tidak berpengaruh pada keseragaman bobot dan keseragaman ukuran. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh tablet hisap sari buah tomat pada konsentrasi 300 ppm, formula I sebesar 2,295 % ; formula II sebesar 2,606 %; dan formula III sebesar 2,391 %. Kata kunci: tablet hisap, sari buah tomat, PVP K-30, karakteristik fisik, aktivitas antioksidan
Uji Efek Hipoglikemia Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L) pada Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Wistar Fef Rukminingsih; Paulina Maya Octasari; Oktavia Dwi Danira
Jurnal Akademi Farmasi Prayoga Vol 7 No 2 (2022): JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA
Publisher : Akademi Farmasi Prayoga Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56350/jafp.v7i2.83

Abstract

Abstrak Hipoglikemik adalah suatu keadaan yang menunjukkan kadar glukosa darah ≤ 70mg/dL. Daun bandotan (Ageratum conyzoidez L) mengandung senyawa flavonoid yang diduga memiliki aktivitas menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek hipoglikemik ekstrak daun bandotan (EDB) dan pengaruh variasi dosis EDB terhadap efek hipoglikemik pada tikus jantan galur Wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap pola searah satu faktor. Variabel yang diukur adalah kadar glukosa darah berupa efek hipoglikemik EDB pada tikus jantan galur Wistar. Sebanyak 25 ekor tikus dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Kelompok I kontrol negative CMC-Na 0,5%, kelompok II kontrol postif glibenklamid 0,04 mg/mL, kelompok III, IV, V diberi EDB dengan variasi dosis 100, 200, 300 mg/kgBB. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan setelah 2 jam pemberian senyawa selama 5 hari berturut – turut. Analisis data menggunakan uji Shapiro wilk, dikatakan terdistribusi normal jika p > 0,05 dan uji levene dengan uji homogenitas nilai p > 0,05. Dilanjutkan uji One Way Anova dan uji post hoc dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan EDB positif mengandung flavonoid. Kelompok kontrol positif memiliki efek hipoglikemik (≤ 70mg/dl). Variasi dosis EDB yang memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah tetapi tidak memiliki efek hipoglikemik karena kadar glukosa darah setelah perlakuan >70 mg/dL pada pada tikus normal.
UJI DAYA ANALGETIK DAN ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOLIK DAUN SINGKONG (Manihot utilissima Pohl.) PADA MENCIT GALUR SWISS Paulina Maya Octasari; Daniar Kusuma Wardani; Elisabeth Lionida Sari
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v9i2.615

Abstract

Background: Flavonoids are compounds that can function as analgesics and anti-inflammatory. Cassava leaves are known to contain flavonoids with the main content of rutin. The routine flavonoid content in the ethanolic extract of cassava leaves is 4.987% so that it has the potential to be developed as traditional medicine. Objective: This study aimed to determine the analgesic and anti-inflammatory properties of cassava leaf ethanolic extract (EEDS) and the effect of varying doses of EEDS on analgesic and anti-inflammatory properties. Methods: This study was a completely randomized experimental study with a unidirectional pattern in mice aged 2-3 months and weighing 20-30 grams. Analgesic testing method used the stretching method with 1% acetic acid as the induction, while the anti-inflammatory test used the edema thickness measurement method with 1% carrageenin induction. The results of the percentage of protection, the change in the percentage of protection, and the percentage of anti-inflammatory power were statistically analyzed. Results: The results showed that EEDS was green-black in color, bitter in taste, 7% drying loss, 12.31% w/w yield and positive for flavonoids. EEDS has analgesic power at a dose of 70; 140; and 280 (mg/kgBB) with a percentage of protection of 26.59%; 24.45%; and 21.96%; change in percentage of protection by 65.75%; 68.51%; and 71.72%. EEDS at a dose of 35; 70; and 140 (mg/kgBW) has a percentage of anti-inflammatory power of 44.93%; 37.34%; and 30.75%. Conclusion: The higher the dose of EEDS, the higher the analgesic power but the lower the anti-inflammatory power
Peresepan Obat Dispepsia di Apotek Kharisma Semarang Pasca Gelombang Kedua Covid-19 Daisy Ariani; Fef Rukminingsih; Paulina Maya Octasari
Jurnal Akademi Farmasi Prayoga Vol 8 No 1 (2023): JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA
Publisher : Akademi Farmasi Prayoga Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dispepsia dideskripsikan sebagai gejala gangguan pencernaan yang menyebabkan rasa tidak nyaman, mual dan muntah. Gejala umum yang juga muncul adalah rasa perih, kembung, dan panas di daerah perut bagian atas. Pasca pandemic Covid-19 gelombang kedua, terjadi peningkatan resep untuk pasien dyspepsia di Apotek Kharisma Semarang. Apotek Kharisma merupakan salah satu apotek besar di Kota Semarang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola peresepan obat dispepsia di Apotek Kharisma Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan data retrospektif. Data yang digunakan adalah lembar resep pasien dispepsia yang berumur 18-65 tahun, periode Agustus - Desember 2021. Data yang diambil meliputi umur, jenis kelamin, nama obat dan pemakaiannya. Data kemudian di analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Jumlah resep yang diperoleh sebanyak 495 lembar resep. Jumlah pasien perempuan sebanyak 322 (65,05%). Sebagian besar berumur lebih dari 36 tahun sebanyak 338 pasien (68,28%). Sebanyak 409 pasien (82,63%) mendapat terapi tunggal, sebanyak 26 pasien (5,25%) mendapat terapi kombinasi 2 obat dan sebanyak 60 pasien (12,12%) mendapat terapi kombinasi 3 obat. Ada 14 jenis obat dyspepsia yang diresepkan yang berasal dari 7 golongan obat. Jenis obat yang paling banyak diresepkan adalah antasida baik untuk pemakaian tunggal maupun kombinasi. Kombinasi 2 obat yang paling banyakdigunakan adalah antasida dan golongan prokinetik. Antasida juga dikombinasikan dengan penghambat pompa H+ dan H2 blocker sebagai jenis 3 kombinasi obat terbanyak digunakan. Abstract Dyspepsia is a set of clinical symptoms consisting of stinging, bloating, heat, nausea, vomiting, and discomfort in the upper abdomen. After the second wave of the Covid-19 pandemic, there was an increase in prescriptions for dyspeptic patients at the Kharisma Pharmacy Semarang. This study aims to determine the pattern of prescribing dyspepsia drugs at the Kharisma Pharmacy Semarang. This study is an observational descriptive study using retrospective data. The data used are prescription sheets for dyspepsia patients aged 18-65 years, the period August-December 2021.The data taken include age, gender, name of the drug and its use. The data is then analyzed qualitatively and quantitatively. The number of recipes obtained as many as 495 recipe sheets. The number of female patients was 322 (65.05%). Most of them were more than 36 years old as many as 338 patients (68.28%). A total of 409 patients (82.63%) received single therapy, as many as 26 patients (5.25%) received combination therapy with 2 drugs and as many as 60 patients (12.12%) received combination therapy with 3 drugs. There are 14 types of dyspepsia drugs that are prescribed from 7 drug classes. The type of drug that is most widely prescribed is antacid either for single use or in combination. The most widely used combination of 2 drugs are antacids and prokinetic groups. While the combination of the 3 drugs most widely used are antacids, proton pump inhibitors and H2 receptor antagonists.