Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Analisis Manfaat dan Risiko Bilik Asmara di Lembaga Pemasyarakatan sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Seksual Narapidana Utami Larasati, Nadia; Nurhadiyanto, Lucky; Zaky, Muhammad; Rozak, Abdur
Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Mahupiki Oktober 2023
Publisher : Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51370/jhpk.v4i2.142

Abstract

Tulisan ini mengkaji wacana seputar “bilik asmara” di lembaga pemasyarakatan serta perspektif yang muncul baik yang pro maupun kontra, dari sisi pemasyarakatan, narapidana maupun masyarakat. Tulisan ini akan berupaya memberikan gambaran keberadaan bilik asmara di Lapas melalui analisis manfaat dan risiko (cost-benefit analysis). Di satu sisi, lapas sebagai lembaga penghukuman yang mengedepankan filosofi reintegrasi sosial dituntut untuk memenuhi hak-hak asasi narapidana, termasuk salah satunya pemenuhan kebutuhan seksual. Hal ini sejalan dengan konsep The Pain of Imprisonment yang dikemukakan oleh Gresham M. Sykes yang menyatakan bahwa kebebasan bergerak adalah satu-satunya hak yang dapat dirampas dari seorang narapidana. menghukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan realitas terkini seputar kondisi pemenuhan kebutuhan seksual di lembaga pemasyarakatan. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada setiap lokasi penelitian dengan melakukan wawancara terhadap narapidana dan petugas pemasyarakatan. Para partisipan diminta menyampaikan pendapatnya mengenai manfaat dan risiko adanya “bilik asmara” di lapas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sudut pandang narapidana, wacana “bilik asmara” memiliki banyak dampak positif, yaitu dapat memenuhi hasrat seksual, menjaga keharmonisan keluarga, menghilangkan stres, mengatur emosi terhadap tekanan kehidupan di penjara serta memberikan motivasi untuk melakukan pembinaan di lapas. Namun, petugas pemasyarakatan memandang hal ini sebagai upaya yang berisiko tinggi, mengingat potensi penyalahgunaan fasilitas, perilaku menyimpang, dan persepsi negatif masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan.
Analisis Viktimisasi Struktural Terhadap Eksploitasi Anak Sebagai Pedagang Asongan di Ruang Publik Kreatif Jakarta Tiara Rainpina Putri Hutasoit; Nadia Utami Larasati
UNES Law Review Vol. 6 No. 4 (2024): UNES LAW REVIEW (Juni 2024)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i4.2043

Abstract

Anak sebagai pedagang asongan menjadi salah satu fenomena yang paling sering ditemui di beberapa lokasi Ruang Publik Kreatif (RPK) di Jakarta. Mayoritas mereka memilih untuk bekerja sebagai pedagang asongan dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi yang mencapai tahap kemiskinan, sehingga bekerja dengan berdagang diharapkan dapat membantu mereka untuk memenuhi kehidupan diri sendiri dan keluarga. Meskipun dilatar belakangi kondisi ekonomi, namun perilaku anak sebagai pedagang asongan merupakan hal yang melanggar hukum dan peraturan, terutama peraturan daerah DKI Jakarta karena dianggap tidak memenuhi kriteria kesejahteraan anak. Anak menjadi pedagang asongan dapat dikategorikan dalam viktimisasi struktural jika mengalami penyalahgunaan kekuasaan seperti eksploitasi, diskriminasi, dan penindasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif. Dalam melakukan analisis, peneliti menggunakan konsep viktimisasi struktural oleh Ezzat Fattah yang berasa dari teori viktimologi. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan, keempat subjek dalam penelitian ini mengalami viktimisasi struktural sebagai anak yang menjadi pedagang asongan di RPK Jakarta dengan analisis menggunakan empat faktor struktural yang diidentifikasi oleh Cameron dan Newmann yaitu, faktor ekonomi, faktor sosial, faktor ideologi, dan faktor geopolitik. Faktor-faktor ini turut menjadikan anak sebagai posisi rentan untuk dapat dieksploitasi oleh orang dewasa sebagai pekerja, salah satunya dengan menjadi pedagang asongan.
KATA PENGANTAR DEVIANCE JURNAL KRIMINOLOGI VOLUME 7 NOMOR 2 TAHUN 2023 Larasati, Nadia Utami
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2752

Abstract

Terima kasih dan apresiasi yang tinggi kami persembahkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi terhadap Deviance Jurnal Kriminologi Volume 7 Nomor 2 Tahun 2023 sehingga edisi ini dapat terbit tepat waktu untuk kembali menyapa para pembaca Jurnal Deviance. Dalam edisi kali ini, Deviance Jurnal Kriminologi menghadirkan tulisan dengan tema pemolisan, viktimisasi perempuan khususnya dalam kasus kekerasan oleh pasangan dan penipuan di media sosial, konflik narapidana, kejahatan lingkungan serta budaya kearifan lokal sebagai media kontrol sosial. “Strategi dan Tantangan Predictive Policing di Era Big Data bagi Masyarakat Modern” sebagai naskah pertama dibahas oleh Cynthia Ayu Windani. Artikel ini mengemukakan bahwa pemolisian prediktif berbasis big data memiliki risiko stigmatisasi lingkungan dan memiliki tantangan dalam penerapannya berkaitan dengan perlindungan data pribadi dan kebijakan privasi masyarakat. Naskah berikutnya mengkaji keadilan bagi perempuan korban kekerasan pasangan intim dari perspektif kerangka hukum dan faktor sosial budaya. Artikel berjudul “Reconsidering Justice for Female Victims of Intimate Partner Violence: A Sociocultural and Legal Framework” berargumen bahwa diperlukan perubahan transformatif dalam struktur hukum dan perspektif masyarakat, serta pentingnya advokasi daring dalam mengatasi masalah Intimate Partner Violence (IPV) yang terus berlanjut dan dampaknya terhadap upaya perempuan untuk mendapatkan keadilan. Masih dengan tema perempuan sebagai korban, naskah ketiga yang berjudul “Twitter Please Do Your Magic: The Vulnerability Of Fraud Victims On Social Media” ditulis oleh Azzahra Yahya, Muhammad Zaky. Dengan menggunakan kerangka Lifestyle Exposure Theory, artikel ini mengemukakan bahwa perempuan yang menjadi korban penipuan di twitter cenderung memiliki kesamaan karakteristik, diantaranya, kerap menjadikan twitter sebagai media sosial favorit, menyukai topik konten yang berkaitan dengan isu-isu sosial, mempunyai hak dan akses terhadap keuangannya, mempunyai “benang merah” dengan pelaku seperti rasa kedekatan dan persamaan serta cenderung mempercayai teman daring mereka di twitter. Konflik antar narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dikaji dalam naskah keempat yang ditulis oleh Adams Firdaus Mubarokah dan Nadia Utami Larasati. Artikel yang berjudul “Konflik Antar Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang dalam Perspektif Subkultur Penjara” ini membahas tentang konflik antar narapidana sebagai bagian dari subkultur penjara. Subkultur penjara merupakan sebuah fenomena yang terbentuk di dalam lingkungan penjara karena narapidana menyerap nilai-nilai dan pola perilaku yang terjadi di dalam Lapas. Subkultur penjara mempengaruhi narapidana dalam beradaptasi dengan kehidupan di dalam Lapas yang keras dan serba terbatas. Naskah kelima ditulis oleh Imam Suyudi, Ripa Oktari, Hesty Sekartaji. Artikel yang berjudul “Analisis Faktor Dukungan Komunitas Masyarakat terhadap Penanganan Illegal Waste Dumping di Situ Perigi dengan Pendekatan Conservation Criminology Theory” ini menggunakan pendekatan kriminologi konservasi. Dalam tulisannya dikemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam menghadapi fenomena penangan illegal waste dumping, seperti tingkat kesadaran lingkungan, penegakan hukum yang efektif, peran aktor-aktor lokal, dan upaya kolaboratif. Naskah terakhir berjudul “The Kabata Dutu (Local Wisdom) As a Means of Social Control of the People of Tidore”. Naskah yang ditulis oleh Abd. Chaidir Marasabessy, Amrizal Siagian, Muamar Abd. Halil ini bertujuan untuk menjelaskan tradisi kabata dutu (kearifan lokal) sebagai kontrol sosial masyarakat Tidore dan mendeskripsikan makna yang terkandung dalam tradisi kabata dutu. Melalui syair kabata, orang Tidore melakukan kontrol sosial dalam berperilaku di Masyarakat. Tiada gading yang tak retak, kami memohon maaf kepada segenap pihak jika masih terdapat kekurangan dalam hal substansi maupun penyajian naskah-naskah yang terbit dalam edisi kali ini. Masukan konstruktif dari para pembaca tentunya akan menjadi penyemangat yang berharga bagi kami untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut pada terbitan yang akan datang. Tidak lupa kami mengundang semua pihak dari berbagai kalangan untuk mengirimkan buah pemikirannya dalam bentuk naskah dengan topik beragam dalam ruang lingkup kajian kejahatan, pelaku, korban dan reaksi masyarakat yang bersinggungan dengan perspektif kriminologi. Salam hangat, Editor in Chief Jurnal Deviance Nadia Utami Larasati
KATA PENGANTAR DEVIANCE JURNAL KRIMINOLOGI VOLUME 8 NOMOR 1 TAHUN 2024 Larasati, Nadia Utami
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.3189

Abstract

Deviance Jurnal Kriminologi kembali menyapa pembaca dengan terbitnya Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024 pada bulan Juni ini. Terima kasih dan apresiasi yang tinggi kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi sehingga edisi ini dapat terbit tepat waktu.Pada kesempatan kali ini, Deviance Jurnal Kriminologi menghadirkan tulisan dengan tema-tema yang cukup beragam sehingga pembahasan setiap isu menjadi semakin menarik dan berwarna. Isu pemberitaan media, pembinaan narapidana, kekerasan terhadap anak dan perjudian hadir menyapa pembaca.  Artikel pertama yang berjudul “Media Baru sebagai Ruang Emosional Publik: Diskursus Penyalahgunaan KIP-K di Media Sosial X PEriode April-Mei 2024” karya Vira Nurul Sayidah, Amaris Joella, Gregoria Maisy dan Regina Habibah mengenai platform media sosial X dalam merespons diskursus penyalahgunaan KIP-K (Kartu Indonesia Pintar-Kuliah) mengungkapkan bahwa dinamika interaksi antara emosi publik, menghasilkan ruang publik emosional yang ditunjukkan dengan berbagai reaksi negatif dari masyarakat seperti memunculkan hate speech hingga doxing, serta menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas program bantuan pemerintah, khususnya mengenai KIP-K.Artikel kedua dalam terbutan kali ini ditulis oleh Budi Arto dengan judul “Perubahan Perilaku Narapidana dengan Pembinaan Community-Based Treatment di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Terbuka Ciangir”. Tulisan ini berupaya menjelaskan bahwa pembinaan narapidana dilakukan untuk merubah perilaku terpidana dalam menjalani masa pidana. Oleh karenanya, perubahan perilaku Narapidana melalui pembinaan community-based treatment sangat diperlukan untuk membangun karakter yang mengarah kepada kemandirian agar narapidana dapat berreintegrasi secara utuh, juga membuka akses atau kesempatan untuk menjalin kembali kehidupan bermasyarakat, sehingga narapidana bertaubat, berusaha memperbaiki diri dan tidak mengulangi lagi tindak pidana.Isu pemberitaan berita kejahatan muncul pada edisi kali ini melalui artikel “Identitas Transpuan dalam Pusaran Berita Kriminal (Studi Kasus Framing Media terhadap LL dalam Kasus Narkotika di Tahun 2020)” yang ditulis oleh Devita Larasati, Elysa Anjarina, Intan Shabira Sumarsono, Jasmine Rizqi Kartika Setyaputri, Jessica Tjahyana, dan Reynee Joyvina Freeina Anthonia. Artikel ini mengemukakan bahwa dalam liputan mengenai kasus kriminal yang melibatkan individu queer sebagai pelaku, media cenderung menekankan identitas gender sebagai isu utama. Penggunaan diksi dan konten yang merendahkan individu dengan identitas gender dan orientasi seksual yang berbeda pun menciptakan framing berita yang bias. Artikel ini mencoba melihat sikap media terhadap LL, seorang transpuan yang terlibat dalam kasus narkotika pada tahun 2020 menggunakan kerangka queer criminology theory dan metode Analisis Framing Goffman.Artikel berikutnya “Fenomena Kekerasan Orangtua terhadap Anak dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Masa Pandemi COVID-19” ditulis oleh Nur Haliza dan Chazizah Gusnita. Tulisan ini mengkaji dan mendalami faktor penyebab maraknya fenomena kekerasan orang tua terhadap anak dalam penerapan PJJ di Masa Pandemi COVID-19. Peneliti juga berbicara mengenai reaksi orang tua, guru, dan anak dalam menghadapi penerapan PJJ; pengaplikasian sistem PJJ; hambatan, kendala, manfaat dan kerugian dalam penerapan PJJ; tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua; reaksi anak dan dampak dalam tindakan kekerasan pada anak yang dilakukan orang tuanya; peran lembaga sosial dan pihak sekolah dalam menyikapi fenomena ini; penyelesaian kasus dan jumlah kasus; pola asuh orang tua yang baik untuk anak tanpa melakukan kekerasan.Analisis film diangkat dalam artikel karya Devita Larasati, Inez Annabel Gabriella Siregar, Mutiara Syifa Arifianto, dan Theresia Roro yang berjudul :Analisis Semiotika terhadap Fenomena Online Identity Theft (OIT) dalam Film Searching (2018)”. Artikel ini menggunakan analisis semiotika terhadap film Searching (2018). Peneliti menyoroti representasi bentuk kejahatan Online Identity Theft yang tergambarkan dalam visual dan narasi film. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap adegan-adegan kunci dalam film yang menggambarkan aspek-aspek penting dari Online Identity Theft. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tanda dan makna yang digunakan dalam visual, audio, serta teks, dalam ada dalam film melalui konsep dan pendekatan kriminologi visual.Edisi kali ini ditutup oleh artikel yang ditulis oleh Kadek Tina Widhiatanti dan David Hizkia Tobing. Artikel yang berjudul “Dampak Judi Online pada Remaja Penjudi: Literature Review” ini melakukan sebuah metode narrative review yang bertujuan untuk mengetahui dampak yang dialami remaja penjudi akibat bermain judi online. Literature review ini mengkaji 10 jurnal kualitatif dengan rentang waktu 8 tahun terakhir (2015-2023). Hasil literature review menunjukkan bahwa judi online membawa berbagai dampak negatif pada remaja penjudi, diantaranya berdampak negatif pada finansial, sosial, psikis, kepribadian, kesehatan, akademik dan keagamaan.Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Kami memohon maaf kepada seluruh pihak jika masih terdapat kekurangan dalam hal substansi maupun penyajian artikel yang terbit dalam edisi kali ini. Masukan konstruktif dari para pembaca tentunya akan menjadi penyemangat yang berharga bagi kami untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut pada terbitan yang akan datang. Tidak lupa kami mengundang semua pihak dari berbagai kalangan untuk mengirimkan buah pemikirannya dalam bentuk naskah artikel dengan topik-topik dari berbagai disiplin ilmu yang bersinggungan dengan perspektif kriminologi. Salam hangat,Editor in Chief Jurnal DevianceNadia Utami Larasati    
Konflik Antar Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang dalam Perspektif Subkultur Penjara Mubarokah, Adams Firdaus; Larasati, Nadia Utami
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2708

Abstract

This article explores the issue of conflicts that frequently arise among prisoners in correctional institutions. It seems that such conflicts have become common within the prison culture. The inmates have to live in overcrowded conditions, often beyond the capacity of the facilities, with inadequate provision of basic rights and being away from their families, which can worsen their situation. All of this can lead to increased stress levels, making it difficult to avoid conflicts. In this article, we will describe the types of conflicts that often occur in prisons and the factors that cause them. We carried out a qualitative approach using a structured interview method with two prisoners and two correctional officers. We used prison subculture theory to analyze existing problems. Our research results show that prison subculture is a phenomenon that forms in the prison environment because prisoners adopt the values and behavior patterns that occur in prison. This subculture influences prisoners in adapting to life in prison, which is harsh and limited. Conflict between inmates is a characteristic inherent in prison subculture. In prisons, there is competition, power, and differences in gangs and groups that often trigger serious conflicts between prisoners. This conflict can lead to physical violence, threats, and insecurity in prisons.
Agresivitas Remaja Kebayoran Lama Selatan Dalam Tawuran Antar Geng Melalui Prespektif Differential Association Theory Muhammad Ikhsan Alfaridzi; Nadia Utami Larasati
Anomie Vol. 5 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study investigated the presence of criminal problems caused by a variety of elements such asgroup solidarity, the social environment, family, and the economy. The study attempts to explainwhat variables encourage students to bid and what motivates a student to act as a result of socialmedia. The researchers interviewed four sources for this study: two kids from separate gangs, oneWartul gang alumni, and the Head of the Criminal Resort Unit, Polsek Kebayoran Lama. Theresearchers expected to get a picture of what happened to students who performed the offer actiondue to the presence of paroses imitating and learning from social media from its predecessor inthe Southern Jakarta Boengkem gang by using a qualitative research approach with a descriptivetype. Factors that contribute to the occurrence of a conflict between school gangs or bands are classified as 2 (two), one of which is an internal element relating to adolescents' emotional well- being. External elements such as the home environment, the school environment, and the surrounding environment are also considered. Teen aggression, offer, differential association theory are all keywords.
KONFLIK ANTAR NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I CIPINANG DALAM PERSPEKTIF SUBKULTUR PENJARA Adams Firdaus Mubarokah; Nadia Utami Larasati
Anomie Vol. 6 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik antar narapidana yang terjadi di dalam Lembaga Pemasyarakatan bisa dikatakan sudah menjadi bagian dari subkultur di Lapas itu sendiri. Kehidupan narapidana di dalam Lapas yang keras dan kejam sering kali menimbulkan berbagai permasalahan, masalah apapun yang terjadi di antara narapidana berpotensi menimbulkan konflik antar narapidana seperti cekcok, perkelahian, bahkan kerusuhan. Kemudian masalah overcrowding, jumlah narapidana yang jauh melebihi daya tampung Lapas juga menjadi masalah bagi narapidana, ditambah lagi dengan deprivasi yang dialami narapidana semakin membuat narapidana merasa stres. Dari beragam permasalahan di dalam Lapas akhirnya memaksa narapidana untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mulai bertindak seperti itu juga, atau disebut dengan prisonisasi. Peneliti membahas lebih dalam terkait fenomena subkultur penjara dan konflik narapidana. Lokasi penelitian ini dilakukan di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif untuk memberikan gambaran dan pemahaman terkait subkultur penjara dan konflik narapidana, dan menggunakan pendekatan tipe deskriptif yang akan mendeskripsikan hasil temuan data di lapangan dan sumber literatur.
Kajian Penologi Terhadap Pembinaan Narapidana Lanjut Usia di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Serang Heru Pauzi; Nadia Utami Larasati
Anomie Vol. 5 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembinaan merupakan proses rehabilitasi karakter dan perilaku narapidana dalam melaksanakan masa hukuman penjara, agar saat bebas, mereka siap bergabung dengan masyarakat. Sekarang sistem pidana penjara tidak lagi terkesan tidak jelas atau tanpa tujuan. Salah satu cara untuk membina dan mengembalikan ke jalan yang benar adalah dengan menerapkan program pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Selama ini, pembinaan di penjara hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan narapidana, seperti mengisi waktu luang, dan membantu mereka menjadi lebih mandiri. Selain itu, karena ketergantungan petugas pada fasilitas pemasyarakatan dan penjara, petugas lapas sering mengabaikan bahwa narapidana lanjut usia menerima pembinaan dan perawatan yang sama seperti narapidana lainnya. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai pembinaan khusus Narapidana lanjut usia. Pembinaan yang menjadi pembahasan penelitian dalam penelitian ini adalah program pembinaan kemandirian dan kepribadian dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Serang dengan tujuan mengetahui proses pembinaan narapidana lanjut usia serta faktor yang menghambat proses pembinaannya.  
Analisis Penyebab Penyalahgunaan Tramadol oleh Remaja di Johar Baru Jakarta Pusat Berdasarkan Differential Association Theory Riska Syaira Kinsi; Nadia Utami Larasati
Anomie Vol. 1 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This thesis discusses teenagers who abused tramadol. Where in doing the abuse of tramadol drugs, teenagers do voluntarily. Tramadol is one of narcotic analgesic drugs. The theory that is used by researchers to conduct analysis is Differential Association Theory. The theory states that the abuse of tramadol is learned. This research use qualitative method because researchers want to understand the phenomena that occured holistically and by describing events in the form of words and languages. The result of the data obtained by the researchers showed that the abuse of tramadol by adolescents is learned through personal communication and general learning techniques.
Upaya Diversi terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Kepolisian Resort Jakarta Selatan Halimatu Sa'diah Palupi; Nadia Utami Larasati
Anomie Vol. 1 No. 3 (2019): Desember
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the children who are conflicted with the law or the perpetrator’s child. Psychologically, the child who committed a criminal act is still labile and can not responsibility to what he has done. Incorporating a child into a prison environment is the last solution. Another effect that occurs when the child enters the jail is a labelling as a convict committed by the public against a criminal offense. There are now regulations governing the children criminal justice system, LAW No 11 year 2012, in which there is an diversion. The data collection techniques used in this study were interviews. The concept of restorative justice defines that criminal settlement involves perpetrators, victims, families of victims/perpetrators, and other related parties to jointly seek a fair settlement by emphasizing recovery on the state of And not retaliation. The implementation of the diversion provides protection against children in order not to be in direct contact with formal criminal justice, it is the main principle of restorative justice and diversion.