Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS FISIK, KIMIA DAN SENSORIS TEH BUNGA KRISAN PUTIH (Chrysanthemum morifolium Ramat.) DENGAN PENGERINGAN KABINET Rofandi Hartanto; Skolastika RF Fitri; Kawiji Kawiji; Sigit Prabawa; Bambang Sigit; Bara Yudhistira
AGROINTEK Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v15i4.10531

Abstract

White chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium Ramat.) is widely used in medicine, popular drinks and as a functional food. White chrysanthemums are often used as health care products because they contain functional compounds such as phenolic compounds and antioxidant activity. Chrysanthemum is well known in Indonesia, but it has not been utilized optimally in daily life as functional food. This research is done in order to determine the effect of drying using cabinet dryer at temperatures of 40°C, 50°C, and 60°C on physical characteristics such as color and shrinkage, chemical characteristics such as moisture content, total phenol, antioxidant activity and water activity, and sensory characteristics such as color, aroma, taste, after taste and overall as well as the amount of heat required for the drying process. This research is conducted using completely randomized design. The results show that cabinet dryer at 60°C is the best drying method. Characteristics in white chrysanthemum tea are ∆E value is 39,51; long shrinkage value is 23,65%, width shrinkage is 28,46%; water content value is 6,81%; total phenol value is 15,99%; antioxidant activity value is 87,52%; water activity value is 0,25; with color 3,93 (like), aroma 3,30 (neutral), taste 3,03 (neutral), after taste 3,33(neutral) and overall 3,23 (neutral). The heat of drying at 60°C is 2.147,295kJ.
Pengaruh Minyak Atsiri Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Coating Terhadap Kualitas Fillet Ikan Patin Rohula Utami; Kawiji Kawiji; Edhi Nurhartadi; Muslika Kurniasih; Dedy Indianto
agriTECH Vol 33, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.255 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9535

Abstract

The effects of edible coating enriched with red ginger and red galangal essential oil on the quality of patin fillets during refrigerated storage of 8 days were examined. fish quality determined was based on microbiological (Total Plate Count /TPc) and physicochemical (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, and color) quality. Treatment variation of patin fillets were essential oil concentration enriched in edible coating (0 %, 0.1%, 1%). The results indicated that both red ginger and red galangal essential oil could affect patin fish fillets quality. Essential oilenrichment edible coating will retain the patin fillets quality. In terms of microbial quality and TVB value, 1% essential oil of red ginger and red galangal enrichment in edible coating could extend shelf life of patin fillets for 2-4 days.ABSTRAKPenentuan pengaruh penambahan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah dalam edible coating terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin dilakukan pada periode waktu 8 hari. Parameter kualitas ikan yang dianalisis adalah kualitas mikrobiologis (Total Plate Count/TPc), dan kualitas fisikokimia (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, dan warna). Variasi perlakuan fillet ikan patin yaitu konsentrasi minyak atsiri (0 %; 0,1%; 1%) yang ditambahkan dalam edible coating. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan minyak atsiri baik jahe merah maupun lengkuas merah berpengaruh terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin. Penambahan minyak atsiri dalam edible coating mampu mempertahankan kualitas fillet ikan patin lebih baik dibandingkan perlakuan edible coating tanpa minyak atsiri. Berdasarkan kualitas mikrobiologis dan nilai TVB, perlakuan minyak atsiri jahe merah 1% dan minyak atsiri lengkuas merah 1% mampu meningkatkan umur simpan fillet ikan patin selama 2-4 hari.
Ekstraksi Maserasi Oleoresin Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC): Optimasi Rendemen dan Pengujian Karakteristik Mutu Kawiji Kawiji; Lia Umi Khasanah; Rohula Utami; Novita Try Aryani
agriTECH Vol 35, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.254 KB) | DOI: 10.22146/agritech.13761

Abstract

This research was aimed to find out the optimum yield condition on kaffir lime leaves oleoresin production at various temperature and contact time during maceration extraction and to find out the characteristics of kaffir lime leaves oleoresin such as citronella content, kaffir lime leaves oil content, and solvent residue levels at optimum yield. This research used the variations of extraction temperature (70, 75 and 80°C) and extraction time (4, 5 and 6 hours). Based on Response Surface Methodology (RSM), the equation of kaffir lime leaves oleoresin sample optimization as follow Y = 7,9333 + 1,2333X  + 0,5333X  - 1,0000X 2 - 0,7000X 2 + 0,1250X X . The optimum yield of kaffir lime leaves oleoresin (8,447%) was obtained at 78,221°C extraction temperature and 5,438 hour extraction time. The characteristics of kaffir lime leaves oleoresin quality at the optimum yield such as 25,66% citronella level, 9,638% kaffir lime leaves oil content and 5,8% solvent residue level.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rendemen optimum dalam proses produksi oleoresin daun jeruk purut pada variasi suhu dan waktu kontak selama proses ekstraksi maserasi dan mengetahui karakteristik mutu oleoresin daun jeruk purut yang meliputi kadar sitronelal, kadar minyak atsiri dan kadar sisa pelarut pada rendemen yang optimum. Penelitian ini menggunakan variasi suhu ekstraksi (70, 75 dan 80°C) dan waktu ekstraksi (4, 5 dan 6 jam). Pada pengolahan data dengan menggunakan (RSM) diketahui persamaan optimasi rendemen oleoresin daun jeruk purut yaitu Y = 7,9333 + 1,2333X 1+ 0,5333X 2- 1,0000X 1² - 0,7000X1² + 0,1250X. Rendemen optimum oleoresin daun jeruk purut diperoleh sebesar 8,447%, didapatkan pada kondisi suhu ekstraksi 78,221°C dan waktu ekstraksi 5,438 jam. Karakteristik mutu oleoresin daun jeruk purut pada rendemen optimum yaitu kadar sitronelal 25,66%, kadar minyak atsiri 9,638% dan kadar sisa pelarut 5,8%.
Karakterisasi Kemasan Kertas Aktif dengan Penambahan Oleoresin Ampas Destilasi Sereh Dapur (Cymbopogon citratus) Lia Umi Khasanah; Windi Atmaka; Dewi Kurniasari; Kawiji Kawiji; Danar Praseptiangga; Rohula Utami
agriTECH Vol 37, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.141 KB) | DOI: 10.22146/agritech.17011

Abstract

The aims of this research were to determine the effect of lemongrass distillation dregs oleoresin concentration (0 %, 2 %, 4 %, and 6 % b/b) on the active paper packaging characteristics (sensory, water content, thickness, tensile strength, fold endurance and antimicrobial activity), to determine the functional groups of the control and selected active paper packaging, to determine the effect of days of storage (0, 5, 10, 15, and 20 day) on the control and selected active paper packaging characteristics (tensile strength, and fold endurance), and to determine antimicrobial activity of the control and selected active paper packaging during 20 days storage. The result showed that the concentration of lemongrass distillation dregs oleoresin significantly affected the color, overall, tensile strength, fold endurance, and antimicrobial activity while did not significantly affected the flavor, texture, water content, and thickness of the active paper packaging. The addition of lemongrass distillation dregs oleoresin increased the water content, thickness, microbial activity, while decreased the panelists preference, tensile strength and fold endurance of the active paper packaging. The spectrum of functional groups of the active paper packaging showed the presence of chitosan, cellulose, tween 80, and lemongrass oleoresin. The storage days had no significant effect on tensile strength and fold endurance of the control and selected active paper packaging. The control and selected active paper packaging were significantly different at each 5 days storage. However the 20 day of storage showed no significant effect on the antimicrobial activity of the control and selected active paper packaging. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur (0 %, 2 %, 4 %, dan 6 % b/b) terhadap karakteristik kemasan kertas aktif (analisis sensoris, kadar air, ketebalan, ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan aktifitas antimikroba), mengetahui gugus fungsi kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih, mengetahui pengaruh waktu penyimpanan (0, 5, 10, 15, dan 20 hari) terhadap karakteristik kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih (uji ketahanan lipat dan ketahanan tarik), dan mengetahui aktivitas antimikroba kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi oleoresin ampas destilasi sereh dapur terpilih sebelum dan setelah penyimpanan selama 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi oleoresin berpengaruh nyata terhadap warna, overall (penerimaan keseluruhan), ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan aktivitas antimikroba tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap aroma, tekstur, kadar air, dan ketebalan kemasan kertas aktif. Penambahan oleoresin ampas destilasi sereh dapur meningkatkan kadar air, ketebalan, dan aktivitas antimikroba serta menurunkan ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan penerimaan panelis. Kemasan kertas aktif mengandung gugus fungsi selulosa, kitosan, dan tween 80 serta pada kemasan kertas aktif penambahan oleoresin konsentrasi 2 % terdapat gugus fungsi oleoresin sereh dapur. Waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara nyata terhadap ketahanan tarik dan ketahanan lipat kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi terpilih. Kemasan kertas aktif kontrol dengan kemasan kertas aktif penambahan oleoresin konsentrasi 2 % berbeda nyata di setiap 5 hari penyimpanan. Namun, penyimpanan selama 20 hari tidak berpengaruh secara nyata terhadap aktivitas antimikroba kemasan kertas aktif kontrol dan konsentrasi terpilih.
Karakterisasi Pengemas Kertas Aktif dengan Penambahan Oleoresin dari Ampas Pengepresan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Windi Atmaka; Godras Jati Manuhara; Noreka Destiana; K Kawiji; Lia Umi Khasanah; Rohula Utami
Reaktor Volume 16 No.1 Maret 2016
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.644 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.16.1.32-40

Abstract

CHARACTERIZATION OF ACTIVE PAPER PACKAGING INCOORPORATED WITH OLEORESIN EXTRACTED FROMSOLID WASTE OF PRESSED Curcuma xanthorrhiza Roxb ROOT. Curcuma xanthorrhiza Roxb is the medicinal plant that is widely extracted for instant drinks by herbal industry. In producing this instant Curcuma xanthorrhiza Roxb, solid waste is also produced and then thrown away. The waste actually still contain oleoresin as an active material. In this study, active paper packaging were incorporated with oleoresin extraxted from the waste at 0, 2, 4, and 6% (w/w) level. The aims of this study was to determine the effect of oleoresin concentration on physical, chemical, and antimicrobial activity characteristics of active paper packaging. Based on this research, the incorporation of the oleoresin decreased moisture content, tensile strength, folding endurance and but increased antimicrobial activity of Aspergillus niger.   Keywords: active paper packaging; curcuma xanthorrhiza Roxb.; oleoresin; residue Abstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) adalah tanaman herbal yang lazim diolah industri herbal menjadi minuman instan. Produksi minuman instan temulawak menghasilkan limbah padat berupa ampas yang tidak dimanfaatkan dan biasanya hanya dibuang begitu saja. Padahal ampas temulawak masih mengandung oleoresin yang berperan sebagai senyawa aktif. Penelitian kertas aktif dilakukan dengan menambahkan oleoresin ampas temulawak dengan konsentrasi 0, 2, 4, dan 6% (b/b). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan oleoresin ampas temulawak terhadap karakter fisikokimia, aktivitas antimikroba dan sensoris pengemas kertas aktif. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan oleoresin ampas temulawak menurunkan kadar air, nilai ketahanan tarik, ketahanan lipat, dan karakter sensori (warna, tekstur dan overall), namun meningkatkan aktivitas antimikroba terhadap Aspergillus niger. Kata kunci: pengemas kertas aktif; temulawak; oleoresin; ampas  
Karakteristik Fisik dan Organoleptik MP-ASI Instan Diperkaya Ikan Patin dan Ikan Gabus Metode Freeze Dryer Choiroel Anam; Kawiji Kawiji; Usada Nur Ariyoga; Reyhan Farha
Jurnal Ilmiah Inovasi Vol 21 No 2 (2021): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jii.v21i2.2650

Abstract

Makanan Pendamping Air Susu Ibu atau selanjutnya ditulis MP–ASI merupakan produk bubur instan yang bahan penyusun bubur untuk bayi yang bersifat siap saji atau instan sehingga prinsip dalam penyajian mudah disajikan, mudah penyimpanan, dan kaya akan nutrisi. MP–ASI merupakan makanan yang berbentuk cair semi padat. Pada penelitian ini digunakan bahan pangan ikan patin dan ikan gabus sebagai bahan pembuatan bubur bayi MP–ASI instan. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui sifat karakteristik bubur bayi MP – ASI dari sifat fisik (kelarutan dan daya serap air) dan tingkat kesukaan dengan uji organoleptik. pada bubur bayi dengan penambahan ikan patin dan ikan gabus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), satu faktor yaitu konsentrasi ikan patin (7,5%; 10%; 12,5%) dan ikan gabus (7,5%; 10%; 12,5%). Sebagai kontrol yaitu tanpa penambahan ikan. Pengujian organoleptik, sampel bubur instan diseduh air hangat selanjutnya dilakukan pengamatan secara organoleptik dengan uji skoring dari 25 orang panelis. Pengolahan data secara statistik memakai one way anova  taraf signifikansi 5%. Pengamatan organoleptik dilakukan pada parameter tektur, rasa, warna, aroma, dan overall. Hasil penelitian karakteristik fisik untuk kelarutan memiliki rentang hasil 33 – 47 %. Untuk daya serap air memiliki rentang nilai 0,882 – 6,20 gr/gr. Untuk hasil uji organoleptik sampel bubur bayi instan paling terbaik berdasarkan nilai skor pada sampel ikan bubur bayi instan dengan penambahan ikan gabus 12,5%.
The Effect of Active Paper Packaging Enriched with Oleoresin from Solid Waste of Pressed Curcuma xanthorrhiza Roxb. Placement Methods on Quality of Refrigerated Strawberry (Fragaria x ananassa) Rohula Utami; Kawiji Kawiji; Windi Atmaka; Lulus Nurmaya; Lia Umi Khasanah; Godras Jati Manuhara
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 36, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/carakatani.v36i1.43027

Abstract

Strawberry is a popular and nutritious fruit. However, its improper post-harvest handling leads to quality degradation. The aim of this study was to investigate the effects of active paper packaging placements methods on strawberry (Fragaria x ananassa) quality during refrigerated storage. Strawberry quality was determined based on the physical (weight loss, hardness, color), chemical (pH, total titratable acid, total soluble solids and vitamin C content) and microbiological (total plate count) properties. The results of this study indicated that different placement methods of active paper packaging had no significant effect on the physical and chemical qualities; but it did affect the microbiological quality of the strawberries. At the end of the experiment (12 days), the microbial content of C (the bottom and walls), D (covering all surfaces) and E (cut into pieces) samples were significantly lower than the A (without active paper packaging) and B (the bottom) samples. The Total Plate Count (TPC) values of the control and B samples were higher than the maximum acceptable limit of 6 log10 colony-forming units (CFU) g-1, while the other samples remained below the limit. These results indicated that a larger surface area of active paper that had contact with the strawberries provided better protection against microbes. Due to their microbial properties, C, D and E treatments maintained the strawberry quality for up to 12 days, compared with 9 days for control and B treatments. Active paper packaging containing oleoresin from solid waste of pressed Curcuma xanthorrhiza Roxb. can be applied to extend the shelf life of strawberries during refrigerated storage.
Kajian Teknis Alat Pengering Gabah dengan Aliran Udara Pengering Secara Horizontal Kawiji Kawiji
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 16, No 1 (2001): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3054.279 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v16i1.20356

Abstract

Penelitian ini, pertama bertujuan untuk memperoleh gambaran teknis kinerja (performance) dari alat pengering gabah yang menggunakan sekam sebagai sumber panasnya dan memanfaatkan aliran udara pengeringnya secara horizontal.Penelitian ini menggunakan percobaan laboratorium dan lapang yang diawali dengan mempersiapkan terlebih dahulu alat pengeringnya, baru dilakukan pengujian yang sebenarnya. Pengujian akan meliputi kinerja (performance) teknis, tingkat keseragaman suhu dan kecepatan aliran udara pengering serta keseragaman kadar air gabah setelah pengeringan. Besaran-besaran yang akan diamati dalam pengujian ini adalah kelembaban nisbi udara luar, debit aliran udara pengering, suhu udara pengering sebelum menembus gabah, suhu dan kelembaban udara setelah keluar dari gabah, kadar air gabah dan selang waktu pengamatan.Secara garis besar alat pengering ini mempunyai 4 (empat) subsistem yaitu subsistem pembangkit panas, subsistem pengaliran udara, subsistem penempatan produk, subsistem pengendali suhu tungku. Pada kondisi hujan dengan menggunkan blower berkapasitas 19m3/menit (0,5 HP); suhu udara luar 26-30oC; suhu udara pengering 50-60 oC; RH: 70-90%; kadar air gabah mula-mula 30%, kadar air gabah akhir 17%. Alat pengering mampu mengeringkan sebesar 40-50 kg gabah/jam dengan konsumsi sekam 4-6 kg/jam. Subsistem pengendali suhu tungku bekerja cukup baik dengan kisaran suhu 5oC. Suhu pengeringan relatif seragam dengan selisih suhu maksimum hanya 5%.
Pengaruh Perlakuan Pendahuluan Terhadap Karakteristik Mutu Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC) Lia Umi Khasanah; Kawiji Kawiji; Rohula Utami; Yoga Meidiantoro Aji
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.983 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi perlakuan pendahuluan (daun segar utuh, daun pemeraman, daun kering angin giling kasar (15 mesh), dan daun kering angin giling halus (60 mesh)) terhadap karakteristik mutu minyak atsiri daun jeruk purut yang meliputi rendemen, berat jenis, putaran optik, indeks bias, viskositas, dan kelarutan dalam alkohol 70% serta kandungan dan kadar senyawa aktif minyak atsiri daun jeruk purut terpilih. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa minyak atsiri daun jeruk purut dengan perlakuan pemeraman memiliki rendemen tertinggi sebesar 0,867%. Berat jenis, viskositas, indeks bias, putaran optik, dan kelarutan alkohol 70% berturut-turut sebesar 0,837-0,845 g/ml, 0,016-0,023 N.m/s2, 1,450-1,453 dan 1:3-1:4. Senyawa aktif minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix DC) terpilih yaitu Citronellal 64,15%, Beta-Citronelol 10,71%, Linalool 5,54%, dan Trans-Caryophyllene 5,31% yang didapat dari hasil destilasi daun jeruk purut dengan perlakuan pendahuluan pemeraman.