Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Lampuhyang

Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Wana Parwa I Wayan Gama
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.106

Abstract

Dewasa ini, masyarakat dunia telah mengalami perkembangan pesat, karena pengaruh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesejahteraan hidup masyarakat modern merupakan buah dari proses pendidikan. Hiruk pikuk pergaulan masyarakat sekarang ini, semakin lepas dari etika pergaulan dan norma kehidupan. Hal tersebut mewajibkan masyarakat Hindu menenggok kembali kisah-kisah cerita masa lampau yang tersurat pada epos Wana Parwa, untuk menyadari agar sejarah pahit masa lampau tidak terulang di masa yang akan datang. Masyarakat modern dengan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotor mampu mengantisipasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui isi pesan pendidikan Agama Hindu yang ada di dalam cerita Wana Parwa, (2) untuk mengetahui ajaran agama Hindu yang tersurat dalam epos Wana Parwa, dan (3) untuk mengetahui nilai pendidikan Agama Hindu yang tertuang di dalam kisah Wana Parwa. Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis yaitu dapat digunakan sebagai informasi awal para pembaca, berkenaan dengan isi pesan nilai pendidikan Agama Hindu di dalam cerita Wana Parwa. Kemudian, secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pegangan di dalam mengamalkan nilai-nilai pendidikan Agama Hindu, melalui refleksi kisah kehidupan masa lampau. Ajaran agama Hindu yang tersirat dalam epos Wana Parwa adalah ajaran etika, ahimsa, tat tuam asi, catur paramita, panca sradha, karmapala, nitisastra, dan dasa yama bratha. Nilai pendidikan Agama Hindu yang tertuang dalam cerita Wana Parwa meliputi nilai sopan santun, nilai kebenaran, nilai kesucian, nilai keindahan, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai penyadaran, nilai kebersihan hati, nilai kepercayaan, dan nilai kepahlawanan. Melalui penelitian ini, peneliti menyarankan kepada pendidik dan orang tua, untuk terus membaca cerita Ramayana dan Mahabrata, karena di dalam epos tersebut banyak ajaran agama Hindu yang menyimpan nilai-nilai pendidikan yang bisa digunakan sebagai pencerahan dan obor kehidupan kekinian.
Budaya Magibung Kearifan Lokal Masyarakat Karangasem dalam Menanamkan Rasa Kekeluargaan dan Persaudaraan I Wayan Gama
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.136

Abstract

Bali terkenal dengan adat istiadatnya. Setiap kabupaten memiliki budaya dan tardisi yang unik. Begitu pula Kabupaten Karangasem memiliki budaya yang unik yaitu megibung. Megibung pada dasarnya merukan makan secara bersama-sama pada satu wadah yang beranggotakan maksimal delapan orang dan minimal dua orang. Megibung dilaksanakan ketika masyarakat melaksanakan yadnya. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan megibung tentu akan melihat cara amakan ini terasa aneh dan terkesan berebutan. Akan tetapi pada bila dicermati lebih jauh kesen kesen berebutan itu tidak pernah terjadi pada budaya makan megibung. Megibung sangat sarat dengan nilai filosopi. Anggota megibung berjumlah delapan orang yang duduk melingkar sesuai dengan arah dewata nawa sanga. Posisi ini melambangkan keseimbangan. Megibung dapat menciptakan keseimbangan dalam hidup. Dengan budaya megibung menanamkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Tidak jarang peserta mengibung baru kenel ketika itu kareana sama – sama menghadiri undangan. Megibung sarat dengan sejumlah nilai seperti nilai disiplin, pendidikan sosial, toleransi. Semua anggota duduk bersama tanpa membedakan warna dan status sosial. Sehungga megibung merupakan media menanamkan konsep menyama braya. Seiring dengan perubahan zaman budaya megibung juga mengalami perubahan misalnya dari olahan yang disajikan. Seiring zaman ada kesan megibung ingin ditinggalakan karena sejumlah faktor antara lain: kurang efisien, bertele-tele, kurang ekonomis, dan terkesan makanan tidak higienis. Berdasarkan kenyataan ini maka penulis dapat menyarankan hendaknya budaya megibung pada masyarakat Karangasem tetap dilestarikan dan pelaksanaannya disesuikan dengan kondisi zaman. Disamping itu pengolahan dalam penyiapan gibungan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehtan makanan yang akan disajikan dalam acara megibung.
Model Penanggulangan Pemanasan Global Melalui Reaktualisasi I Wayan Gama; I Ketut Seken; I Gede Bandem; Ida Komang Wirnata
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.156

Abstract

Tujuan dari Penelitian ini adalah 1)menemukan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Tumpek Wariga dalam rangka penanggulangan pemanasan global. 2) menemukan cara masyarakat dalam mereaktualisasikan pelaksanaan TumpekWariga. 3) Menemukan Model Penangulangan Pemanasan Global melalui reaktualisasi Tumpek Wariga. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kubu dengan informan sebanyak 125 orang. Informan ditentukan secara purposisf. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi dan wawancara. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi masyarakat terkait perayaan Tumpek Wariga. Selanjutnya data tentang cara masyarakat mereaktualisasi pelaksanaan Tumpek Wariga dalam menanggulangi pemanasan global (global warming) dikumpulkan dengan cara obsevasi. Datahasil penelitian dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa masyarakat Kubu memiliki persepsi perayaan Tumpek Warigabukan hanya sebatas ritual melainkan menanam pohon juga merupaka wujud perayaan Tumpek Warigawalau keduanya memiliki perbedaan terkait sarana yang digunakan. Semua informan merayakan Tumpek Warigadengan mempersembahkan sesajen ditujuakan kehadapan Bhatara Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuan dari pelaksanan upacara tersebut adalah untuk memohon agar tumbuhan tersebut dapat hidup subur dan berbuah lebat. Dan masyarakat desa di Kecamatan Kubu memiliki pandangan perayaan Tumpek Warigadapat digunakan sebagai model penangulangan pemanasan global. Model penanggulangan pemanasan global melaui reaktualisasi Tumpek Wariga meliputi kegiatan reboisasi yang dilakukan secara kontinu. Sehingga tercipta keseimbangan secara horisontal dan vertikal sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.