Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Psychology Science

Hubungan Problematic Internet Use dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Pengguna Aktif Internet Novianti Nurfadilah; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.087 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.406

Abstract

Abstract. The internet has now become an inseparable part of life. The internet can be used as a media for socializing, entertainment, also in the fields of education, and professional. The ease of access can provide benefits for students to assist students in getting additional references when studying and doing assignments. Besides the benefits earned from the internet, unhealthy use of the internet can have a negative impact. Students who cannot regulate or limit internet use have an impact on neglect of assignments, and can lead to academic procrastination behavior. The use of the internet that produces a negative impact refers to the term problematic internet use. This study aims to find out the relationship between problematic internet use and academic procrastination. The sampling technique used cluster random sampling and involved 429 college students from four universities in Bandung. Data collected using Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS2) by Caplan (2010) and Academic Procrastination Scale (APS) by McCloskey and Scielzo (2015). Data were analyzed using Rank Spearman correlation technique and results showed that there is a positive relationship between problematic internet use and academic procrastination with a value of r = 0.448 and a significance of p = 0.000 < 0.01. Abstrak. Internet kini menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Internet dapat digunakan sebagai media bersosialisasi, hiburan, juga di bidang pendidikan, dan pekerjaan. Kemudahan aksesnya dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa untuk membantu mahasiswa dalam mendapatkan referensi tambahan saat belajar dan mengerjakan tugas. Terlepas dari manfaat yang didapatkan dari internet, penggunaan internet yang tidak bijak dapat menghasilkan dampak yang negatif. Mahasiswa yang tidak dapat mengatur atau membatasi penggunaan internet berdampak pada pengabaian tugas-tugas, dan dapat mengarahkan pada perilaku prokrastinasi akademik. Penggunaan internet yang menghasilkan dampak negatif merujuk pada istilah problematic internet use. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keeraatan hubungan antara problematic internet use dengan prokrastinasi akademik. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 429 mahasiswa yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat ukur menggunakan Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS2) yang disusun oleh Caplan (2010) dan Academic Procrastination Scale (APS) yang disusun oleh McCloskey dan Scielzo (2015). Teknik analisis data menggunakan metode korelasional Rank Spearman dan hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang moderat dan signifikan antara problematic internet use dan prokrastinasi akademik dengan nilai r = 0,448 dan taraf signifikansi p = 0,000 < 0,01.
Hubungan Celebrity Worship dengan Problematic Social Media Use pada Penggemar BTS di Kota Bandung Dinda Juwita Ratu Hapsari; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.812 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.523

Abstract

Abstract. Korean Wave is one of impact from social media. KPop fans Mostly use social media to find information about their idols. This situation shows how social media has become important for fans to support their fanatical behavior. Social media is also a bridge between fans and their idols. The interactions lead to parasocial relationships that develop into celebrity worship. Fans who feel they have an attachment to their idols will try to continue to access social media to get the latest information on their idols. Celebrity worship usually appears in adolescents and decreases with age, but the existing phenomenon shows that there are still individuals in early adulthood, who still perform celebrity worship behavior. The purpose of this study was to obtain empirical data the relationship between celebrity worship and problematic social media use on BTS fans in Bandung. In this study, the research method is correlational and the sampling technique used is purposive sampling with the number of respondents as many as 119 people. The measuring instruments used is Celebrity Attitude Scale (CAS) and Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). The analytical technique used is the rank spearman correlation test and obtained a correlation coefficient value of 0.127 and a significance value of 0.167, meaning p > 0.05, which means that there is no relationship between celebrity worship and problematic social media use. Abstrak. Korean Wave merupakan salah satu dampak dari media sosial. Penggemar K-Pop menggunakan media sosial untuk mencari informasi tentang idola mereka. Situasi ini menunjukkan media sosial penting bagi penggemar untuk mendukung perilaku fanatik mereka. Media sosial menjadi jembatan antara penggemar dan idolanya. Interaksi tersebut mengarah pada hubungan parasosial yang berkembang menjadi celebrity worship. Fans yang merasa memiliki keterikatan dengan idolanya akan berusaha terus mengakses media sosial untuk mendapatkan informasi terbaru idolanya. Celebrity worship biasanya muncul pada masa remaja dan menurun seiring bertambahnya usia, namun fenomena yang ada menunjukkan masih ada individu pada masa dewasa awal yang masih melakukan celebrity worship. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data empiris hubungan antara celebrity worship dan problematic social media use pada penggemar BTS di Bandung. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah korelasional dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 119 orang. Alat ukur yang digunakan yaitu Celebrity Attitude Scale (CAS) dan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Teknik analisis yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman dan diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,127 dan nilai signifikansi sebesar 0,167 yang berarti p > 0,05, artinya tidak ada hubungan antara celebrity worship dengan problematic social media use.
Pengaruh FOMO terhadap Problematic Social Media Use pada Dewasa Awal Pengguna TikTok di Kota Bandung Fani Apriliani Darusman; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.231 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.1034

Abstract

Abstract. Along with the development of the digital age, there are various application platforms that provide various interesting features on smartphones, one of which is the TikTok application which currently has the highest download rating. In the use of social media in early adulthood, they already have good self-control. Researchers conducted a survey where the use of TikTok social media at this age used 1-3 hours, sometimes even uncontrolled in 1 access. This can lead to new social anxiety, namely Fear of Missing Out, this behavior can also lead to other negative consequences known as Social Media Use Problems. The purpose of this study was to determine how much influence Fear of Missing Out Probelematic Social Media Use had on adult TikTok users in Bandung. Measurements were made using the Fear of Missing Out Scale (FOMOs) and the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). The sample in this study found 280 early adults using TikTok in the city of Bandung. The analysis used is the Simple Regression Test technique. Obtained a significance value of 0.000 <0.05, it can be said that there is a significant effect between Fear of Missing Out on Problematic Social Media Use on TikTok adults in Bandung. The results obtained show an R^2 value of 0.553 which means that 55.3% of Social Media Use Problems are influenced by the Fear of Missing Out variable. Abstrak. Seiring merajanya era digital terdapat kemunculan berbagai platform aplikasi yang menyediakan berbagai fitur menarik dalam smartphone, salah satunya terdapat aplikasi TikTok yang saat ini memiliki peringkat pengunduhan tertinggi. Dalam penggunaan sosmed pada usiadewasa awal sudah memiliki self control yang baik. Peneliti melakukan survei dimana penggunaan sosial media TikTok pada usia ini menggunakan 1-3 jam , bahkan terkadang tidak terkontrol dalam 1 kali pengaksesan. Hal tersebut dapat menimbulkan perilaku kecemasan sosial baru yaitu Fear of Missing Out, perilaku ini juga dapat menimbulkan konsekuensi negatif lain yang dikenal dengan Problematic Social Media Use. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Fear of Missing Out terhadap Probelematic Social Media Use pada dewasa awal pengguna TikTok di Kota Bandung. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Fear of Missing Out Scale (FOMOs) dan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 280 orang dewasa awal pengguna TikTok di Kota Bandung. Analisis yang digunakan yaitu teknik Uji Regresi Sederhana. Didapatkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Fear of Missing Out terhadap Problematic Social Media Use pada dewasa awal pengguna TikTok di Kota Bandung. Hasil yang diperoleh menunjukan nilai R^2 sebesar 0,553 yang memiliki arti bahwa 55,3% Problematic Social Media Use dipengaruhi oleh variabel Fear of Missing Out.
Pengaruh Self-esteem terhadap Fear of Missing Out pada Emerging Adulthood Pengguna Instagram Amanda Amalia; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.713 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2972

Abstract

Abstract. a lot of people consider internet as needs because it allow us to access any information in every situation and one of them via social media. Instagram is a social media platform that have a lot of users, with Instagram we can connect with other people without even facing each other real time. Although, it could cause a lot of problem and one of them is FoMO phenomenon. The most people who experience fomo is emerging adulthood, people with FoMO feel anxious and afraid of missing out on precious moments that others experience in their absence, which leads individuals to check their devices more frequently to stay up-to-date on other people's activities. One that indicates fomo is self-esteem, the purpose of this study was to find out the effect of self-esteem on FoMO on emerging adulthood instagram users in Bandung. The method used is a quantitative study using a simple linear regression analysis technique with 196 sampling of emerging adulthood. The instruments used to collect data are the Fear of Missing Out Scale (Przybylski et al., 2013) which has been adapted by Azmi (2019) and the Rosenberg Self-esteem scale (Rosenberg, 1965) which has been adapted by Maroqi (2018). The results of the study found that self-esteem has a significant effect on FoMO with a negative direction of influence and. the contribution of self-esteem to the FoMO variable is 6.8%. Abstrak. Banyak orang menganggap internet sebagai kebutuhan karena memungkin kita untuk mengakses informasi kapanpun dan dimanapun, dengan internet kita dapat mengakses informasi kapanpun dan di manapun salah satunya melalui sosial media. Instagram merupakan media sosial yang memiliki pengguna paling banyak, dengan instagram kita dapat terhubung dengan orang lain tanpa bertatap muka, namun hal itu dapat menimbulakan masalah salah satunya terjadinya fenomena FoMO. Emerging adulthood merupakan usia yang paling tinggi mengalami FoMO, individu yang mengalami FoMO merasa cemas dan takut tertinggal momen berharga yang dialami orang lain ketika dirinya tidak ada, yang membuat individu menjadi lebih sering mengecek gawai untuk tetap up to date terhadap kegiatan orang lain. salah satu faktor yang dapat mendorong munculnya FoMO adalah self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh self-esteem terhadap FoMO pada emerging adulthood pengguna instagram di kota Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana dengan sampling 196 emerging adulthood. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah Fear of missing out Scale (Przybylski et al., 2013) yang telah diadaptasi oleh Azmi (2019) dan Rosenberg Self-esteem scale (Rosenberg, 1965) yang telah diadaptasi oleh Maroqi (2018). Hasil penelitian menemukan bahwa self-esteem secara signifikan memiliki pengaruh terhadap FoMO dengan arah pengaruh negative. Kontribusi variabel self-esteem terhadap variabel FoMO sebesar 6.8%.
Pengaruh Celebrity Worship terhadap Compulsive Buying pada Penggemar K-Pop Dewasa Awal Bandung Anisa Sofwan; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.696 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2986

Abstract

Abstract. Korean waves in the form of Korean music or K-Pop have already occurred in Indonesia. K-Pop fans who do celebrity worship are dominated by early adults (Noer, 2021). Meanwhile, according to Raviv (1996), when entering the stage of early adult development, the celebrity worship experienced will decrease. K-Pop fans are famous for their loyalty, one way to do this is by buying merchandise related to idols (Barus, 2019), if they are not controlled, they tend to show compulsive buying behavior. The purpose of this study was to determine the effect of celebrity worship on compulsive buying on early adult kpop fans in Bandung. This research method is quantitative with causality research design. The theory used in this research is the celebrity worship theory from Maltby et al (2006) and the Compulsive Buying theory from Edward (1993). The measuring instrument used in this study to measure celebrity worship used the Celebrity Atitude Scale (CAS) compiled by Maltby et al (2006) adapted by Vera Novita Efathania and Aisyah (2019) and to measure compulsive buying using the Compulsive Buying Scale (CBS) compiled by Edwards (1993) adapted by Dinda Elmanda and Sita Rositawati (2020). This research was conducted on 200 early adult K-Pop fans domiciled in the city of Bandung. Data analysis used a simple linear regression model with SPSS version 26 for Windows application. The results of the study found that there was a significant influence of the celebrity worship variable on the compulsive buying variable of 38.4%. Abstrak. Korean waves dalam bentuk musik korea atau K-Pop sudah terjadi di Indonesia. Penggemar K-Pop yang melakukan celebrity worship di dominasi oleh dewasa awal (Noer, 2021). Sedangkan menurut Raviv (1996), ketika memasuki memasuki tahap perkembangan dewasa awal maka celebrity worship yang dialami akan berkurang. Penggemar K-Pop terkenal dengan loyalitasnya, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membeli merchandise terkait dengan idola (Barus, 2019), perilaku membeli merchandise jika tidak terkontrol maka cendurung memperlihatkan perilaku compulsive buying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh celebrity worship terhadap compulsive buying pada penggemar kpop dewasa awal di bandung. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah untuk teori celebrity worship dari Maltby et al (2006) dan teori Compulsive Buying dari Edward (1993). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur celebrity worship menggunakan Celebrity Atitude Scale (CAS) yang disusun oleh Maltby et al (2006) diadaptasi oleh Vera Novita Efathania dan Aisyah (2019) serta untuk mengukur compulsive buying menggunakan Compulsive Buying Scale (CBS) yang disusun oleh Edwards (1993) di adaptasi oleh Dinda Elmanda dan Sita Rositawati (2020). Penelitian ini dilakukan pada 200 penggemar K-Pop dewasa awal berdomisili di Kota Bandung. Analisis data mengunakan model regresi linear sederhana dengan aplikasi SPSS versi 26 for Windows. Hasil penelitian menemukan bahwa secara signifikan terdapat pengaruh variabel celebrity worship terhadap variabel compulsive buying sebesar 38,4%.
Pengaruh Fear Of Missing Out (FOMO) terhadap Social Connectedness pada Emerging Adulthood Naufal Rizky Darmansyah; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.961 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3054

Abstract

Abstract. Physical distancing policies during the pandemic have had an impact on reducing feelings of social connectedness in emerging adulthood. The use of social media is one of their alternatives to stay connected. However, excessive use of social media can lead to FoMO. Not necessarily negative FoMO can on some occasions encourage a person's feelings of social connectedness. This study aims to determine how the effect of Fear of Missing Out (FoMO) on Social Connectedness on Emerging Adulthood Instagram social media users. The sample obtained is 300 emerging adults aged 18 to 25 years who have used Instagram social media for at least the last 12 months or one year. In this study the research method used is a quantitative method that uses an online questionnaire as a research instrument and the data analysis used is simple linear regression analysis. This study uses the Fear of Missing Out Scale which was developed by Przybylski, et al. (2013) adapted by Azmi (2019) and Social Connectedness Scale-Revised developed by Lee, R., Draper, M., & Lee, S. (2001) adapted by researchers and supervisors. The results in this study indicate that there is a significant and negative effect between FoMO and Social Connectedness in emerging adults in Bandung City with a significance value of .000 and Fear of Missing Out can explain Social Connectedness of 12.2% and 87.2% is explained by the variables others not investigated. Abstrak. Kebijakan jarak fisik selama pandemi telah berdampak pada penurunan perasaan keterhubungan sosial pada emerging adulthood. Penggunaan media sosial menjadi salah satu alternatif mereka untuk tetap terhubung. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan FoMO. Tidak selalu negatif, FoMO pada bebeapa kesempatan dapat mendorong perasaan keterhubungan sosial seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Social Connectedness pada Emerging Adulthood pengguna social media Instagram. Sampel yang diperoleh berjumlah 300 emerging adulthood berusia 18 hingga 25 tahun yang telah menggunakan social media Instagram selama minimal 12 bulan atau satu tahun terakhir. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif yang menggunakan kuesioner online sebagai instrumen penelitian serta analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Penelitian ini menggunakan alat ukur Fear of Missing Out Scale yang dikembangkan oleh Przybylski, et al. (2013) yang diadaptasi oleh Azmi (2019) dan Social Connectedness Scale-Revised yang dikembangkan oleh Lee, R., Draper, M., & Lee, S. (2001) yang diadaptasi oleh peneliti dan dosen pembimbing. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dan negatif antara FoMO dengan Social Connectedness pada emerging adulthood di Kota Bandung dengan nilai signifikansi .000 dan Fear of Missing Out dapat menjelaskan Social Connectedness sebesar 12.2% dan 87.2 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.
Pengaruh Tingkat Neuroticism terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada Mahasiswa Pengguna Instagram Tiara Rahayuningsih; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.519 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3096

Abstract

Abstract. There is a tendency of social media addiction behavior among college students in Bandung with a prevalence of 55.9%, students with high levels of neuroticism tend to waste plenty of time to be online. Thus, this leads to feelings anxiety and fear of being left behind while others people have more valuable experience than theirs. This phenomenon is called Fear of Missing Out (FoMO). Furthermore, the result has a negative impact on their education, mental health and well-being. Therefore, this study aims to obtain empirical data on how much the level of neuroticism affects FoMO, especially students in Bandung whom active on Instagram. This study uses a quantitative approach with a simple regression analysis method among research respondents with the criteria of students aged 18-25 years and actively using Instagram for at least 12 months, through convenience sampling as many as 300 respondents. The measuring tools is the Big Five Inventory from Oliver John in Ramdhani (2012) and the FoMO Scale from Przybylski, Murayama, DeHaan and Gladwell (2013) which have been adapted. Based on the research, it indicates that there is a significant and positive effect between the level of neuroticism and FoMO on Instagram users in Bandung where the Sig value is obtained. 0.000 and the level of neuroticism contributed 15% to the occurrence of FoMO among students. Abstrak. Ditemukan kecenderungan perilaku adiksi media sosial pada mahasiswa di Kota Bandung dengan prevalensi sebesar 55,9%, dimana mahasiswa dengan tingkat neuroticism tinggi cenderung menghabiskan banyak waktu untuk online. Hal ini mengakibatkan munculnya perasaan cemas dan takut tertinggal apabila individu lain mengalami aktivitas yang lebih berharga dari apa yang dialaminya. Fenomena tersebut dapat dikatakan sebagai FoMO. Lebih lanjut, apa yang dirasakan oleh mahasiswa tersebut dapat berdampak buruk pada pendidikan, kesehatan mental juga kesejahteraannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris mengenai seberapa besar pengaruh tingkat neuroticism terhadap FoMO pada mahasiswa pengguna Instagram di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi sederhana pada responden penelitian dengan kriteria mahasiswa, berusia 18-25 tahun dan aktif menggunakan Instagram minimal 12 bulan terakhir, serta melalui convenience sampling terjaring sebanyak 300 responden. Selain itu, alat ukur yang digunakan ialah Big Five Inventory dari Oliver John dalam Ramdhani (2012) dan FoMO Scale dari Przybylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell (2013) yang sudah diadaptasi. Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dan positif antara tingkat neuroticism dengan FoMO pada mahasiswa pengguna Instagram di Kota Bandung dimana diperoleh nilai Sig. 0,000 dan tingkat neuroticism memberikan kontribusi sebesar 15% dalam terjadinya FoMO pada mahasiswa.
Hubungan antara Keterampilan Sosial dengan Problematic Internet Use pada Mahasiswa Kota Bandung Reza Fairuz Hilmy; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5180

Abstract

Abstract. A person with problematic internet use cannot control their impulsive urge to use the internet. The majority of students show symptoms of problematic internet use, which include prolonged internet use for more than six hours and have low social skills. This study is a correlational study with a quantitative approach with Spearman Rank analysis. The purpose of this study is to see how close the relationship between problematic internet use and social skills. The sample in this study were 103 students in Bandung city. The measuring instrument used is social skills developed by Wu (2008), and the Generalised Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) measuring instrument constructed by Caplan (2010). The results showed that there is a relationship between social skills and problematic internet use which is at a weak level and there is a significant negative relationship between social skills variables and problematic internet use. Keywords: Social Skills, Problematic Internet Use, College Students. Abstrak. Seseorang dengan problematic internet use tidak dapat mengendalikan dorongan impulsif mereka untuk menggunakan internet. Mayoritas mahasiswa menunjukkan gejala problematic internet use, yang meliputi penggunaan internet yang berkepanjangan selama lebih dari enam jam dan memiliki keterampilan sosial yang rendah. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif dengan analisi Rank Spearman. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat seberapa erat hubungan antara problematic internet use dan keterampilan sosial. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kota Bandung yang berjumlah 103 orang. Alat ukur yang digunakan adalah keterampilan sosial yang dikembangkan oleh Wu (2008), dan alat ukur Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) yang dikonstruksikan oleh Caplan (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara keterampilan sosial dengan problematic internet use yang berada pada tingkat yang lemah dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel keterampilan sosial dengan problematic internet use. Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Problematic Internet Use, Mahasiswa.
Hubungan Loneliness dengan Adiksi Media Sosial pada Emerging Adulthood Pengguna Tiktok Kota Bandung Namira Permata; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5311

Abstract

Abstract. The tiktok platform is a social media application that is widely used, excessive use of social media can have a negative impact on its users, one of the negative impacts is the emergence of social media addiction. Excessive use of social media can increase addictive behavior, a factor of excessive use of social media is loneliness. The purpose of this study was to see how closely the relationship between loneliness and social media addiction of tiktok users was by obtaining 302 tiktok user respondents in the city of Bandung. This research is quantitative research. The measuring instrument used for variable 1 Loneliness is UCLA Loneliness Scale compiled by [1] and variable 2 Social Media Addiction is using Bergen Social Media Addiction compiled by [2]. This study uses the Pearson correlation method. The data was processed using the SPSS application, and obtained a p-value (Sig.) 0.000 < = 0.005. It can be concluded that there is a close relationship between loneliness and social media addiction. The correlation value is 0.571, the relationship between the two variables is positive or positive correlation, which means it is increasing. Abstrak. Platform tiktok adalah sebuah aplikasi media sosial yang banyak di gunakan, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif pada penggunanya, salah satu dampak negatifnya adalah timbulnya Adiksi media sosial. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan perilaku adiksi, faktor dari penggunaan media sosial yang berlebihan yaitu kesepian. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat seberapa erat hubungan antara kesepian dengan adiksi media sosial pengguna tiktok dengan memperoleh 302 responden pengguna tiktok di kota Bandung. Penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif. Alat ukur yang digunakan untuk variabel 1 Loneliness yaitu UCLA Loneliness Scale disusun oleh [1] dan variabel 2 Adiksi Media Sosial yaitu menggunakan Bergen Social Media Addiction yang disusun oleh [2]. Penelitian ini menggunakan metode korelasi pearson. Data diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS, dan diperolah nilai p-value (Sig.) 0.000 < α = 0. 005 dapat disimpulkan terdapat hubungan erat antara kesepian dengan adiksi media sosial. Nilai korelasinya adalah 0,571, hubungan antara kedua variabel tersebut adalah bersifat positif atau korelasi positif, yang artinya semakin meningkat.
Hubungan Stress Parenting dengan Regulasi Emosi Ayah pada Masa Pandemi Covid-19 SALSA ALTASYA ANDINIE; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5347

Abstract

Abstract. To reduce the impact of the COVID-19 pandemic, the PSBB was implemented, which included a temporary school closure policy. Since the implementation of the home study system, parents have become stressed in parenting, which is called Stress Parenting. This can lead to violence against children. And this child abuse can be caused by a lack of Emotion Regulation ability in dealing with parenting stress during the COVID-19 pandemic. The purpose of this study was to find out how closely the relationship between Stress Parenting and Father's Emotion Regulation was during the COVID-19 pandemic. This study has 112 respondents whose parents are male or fathers in the city of Bandung, West Java. This study uses the Parental Stress Scale (PSS) for Stress Parenting and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) for Emotion Regulation. This research is a quantitative research with the Sperman Rank correlation method, with the value of the correlation coefficient obtained is 0.928 > 0.05. Where it can be concluded that there is no relationship between Stress Parenting and father's emotional regulation during the COVID-19 pandemic. Abstrak. Untuk mengurangi dampak pandemi COVID-19 diberlakukanlah PSBB yang didalamnya terdapat kebijakan penutupan sekolah sementara. Sejak diberlakukannya sistem belajar di rumah, membuat orang tua menjadi stres dalam mengasuh anak yang disebut Stress Parenting. Hal itu dapat menimbulkan kekerasan pada anak. Dan kekerasan pada anak tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan Regulasi Emosi dalam menangani stres pengasuhan selama pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara Stress Parenting dengan Regulasi Emosi Ayah pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini memiliki 112 responden orang tua laki-laki atau Ayah di kota Bandung Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Alat ukur Parental Stress Scale (PSS) untuk Stress Parenting dan alat ukur Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk Regulasi Emosi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasi Rank Sperman, dengan nilai Koefisien Korelasi yang diperoleh sebesar 0,928 > 0,05. Dimana dapat disimpulkan Tidak terdapat hubungan antara Stress Parenting dengan regulasi emosi ayah pada masa pandemi COVID-19 ini.