Satriya Wahyu Firmandhani
Department Of Architecture, Faculty Of Engineering, Universitas Diponegoro

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KAJIAN PENGELOLAAN SAMPAH KAMPUS JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO Fadhilah, Arief; Sugianto, Heri; Hadi, Kuncoro; Firmandhani, Satriya Wahyu; Murtini, Titien Woro; Pandelaki, Edward Endrianto
MODUL Volume 11, Nomer 2, Tahun 2011
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.466 KB) | DOI: 10.14710/mdl.11.2.2011.%p

Abstract

Sampah merupakan material sisa yang sudah tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia tetapi bukan kegiatan biologis. Dalam berkegiatan, manusia memproduksi sampah. Karena semakin banyaknya sampah yang dihasilkan manusia perlu melakukan pengelolaan sampah, dengan tujuan mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis atau mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Metode pembahasan menggunakan metode deskriptif dengan mengambil studi kasus di kampus Jurusan Arsitektur UNDIP. Permasalahan sampah yang ada saat ini adalah mudahnya masyarakat untuk membuang sampah. Sehingga dalam menyikapi sampah, sering kali masyarakat tidak banyak berpikir ke mana sampah–sampah tersebut dibawa dan apa yang akan terjadi pada sampah tersebut.  Ini akan mendorong masyarakat untuk terus menghasilkan lebih banyak sampah. Sehingga untuk mengurangi jumlah sampah, manusia perlu memperhatikan mengenai jumlah sampah yang dihasilkan dan akibat–akibat yang ditimbulkan. Adanya sistem pengelolaan pengurangan, penggunaan kembali, dan pendaurulangan dalam penanganan sampah di Jurusan Arsitektur UNDIP.   Kata kunci : sampah, pengelolaan, dan 3P.
ORIENTASI BANGUNAN RUMAH SUSUN MENUJU HUNIAN VERTIKAL YANG EFISIEN ENERGI Studi Kasus Blok A dan B, Rumah Susun Kudu Semarang Firmandhani, Satriya Wahyu; Pandelaki, Edward Endrianto
MODUL Vol 20, No 01 (2020): MODUL vol 20 nomor 1 tahun 2020 (10 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.236 KB) | DOI: 10.14710/mdl.20.01.2020.37-43

Abstract

This research responded to environmental issues that arise related to green design as the responsibility of architectural actors. A building is now required to have environmentally friendly values, one of that can be reflected in the energy efficiency of the building. Kudu Flats is one of the towers in the city of Semarang which had several blocks with different orientations. Related to these environmental issues, this study aimed to determine the level of energy efficiency in the Kudu flats with consideration of building orientation, openings and shading devices using quantitative methods based on edge design. This study revealed that flats blocks that have smaller openings in the east-west direction are more energy efficient and rotating the building orientation 15 ° from the wind direction will make the building more energy efficient.
FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN LINGKUNGAN SEKITAR AKIBAT PEMBANGUNAN UNDERPASS STUDI KASUS : UNDERPASS MAKAMHAJI, SUKOHARJO Riza, Masyiana Arifah Alfia; Firmandhani, Satriya Wahyu; Iswardhani, Tanty KA
MODUL Vol 18, No 2 (2018): MODUL vol 18 no 2 tahun 2018 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.043 KB) | DOI: 10.14710/mdl.18.2.2018.97-100

Abstract

Perlintasan kereta api merupakan salah satu faktor penyebab adanya pemberhentian kendaraan di suatu ruas jalan yang bila kondisi padat akan menyebabkan kemacetan. Dalam rangka mengantisipasi kemacetan dan memperlancar pergerakan transportasi maka diadakan suatu alternatif solusi semisal pelebaran jalan, pembangunan fly over, ataupun pembangunan underpass. Underpass adalah jalan melintang di bawah jalan lain atau persilangan tidak sebidang dengan membuat terowongan di bawah muka tanah. Jl. Slamet Riyadi di kelurahan Makamhaji, kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo melakukan pembangunan underpass dimaksudkan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang sering terjadi karena memang merupakan ruas jalan padat ditambah dengan perlintasan kereta api. Namun setelah selesai pembangunan dan difungsikan justru menimbulkan masalah-masalah baru terkait social dan lingkungan Tujuan dalam melakukan penelitian ini adalah agar mengetahui tentang faktor apa saja yang menjadi penyebab masalah lingkungan dan sosial pada proyek underpass ini timbul. Dari hasil analisis didapatkan 4 faktor yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan oleh proyek underpass yaitu faktor pengetahuan dalam mengenal lokasi proyek, faktor pemanfaatan kelestarian alam dalam proyek underpass ini kurang bijaksana , faktor teknologi yang kurang memadai, dan faktor kerja sama antara pemerintah dengan warga .
PENGARUH IKLIM TROPIS LEMBAB TERHADAP KERUSAKAN FASADE BANGUNAN KOLONIAL DI KOTA LAMA SEMARANG Hardiman, Gagoek; Sukawi, Sukawi; Firmandhani, Satriya Wahyu
MODUL Vol 16, No 1 (2016): Modul Volume 16 Nomer 1 Tahun 2016 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.143 KB) | DOI: 10.14710/mdl.16.1.2016.29-34

Abstract

Kota Lama Semarang sebagai kawasan bangunan Kolonial Belanda, merupakan kawasan Cagar Budaya yang wajib dilestarikan dan dilindungi keberadaanya. Upaya pelestarian yang dilakukan dari berbagai pihak telah menunjukkan hasil dengan aktif dan terawatnya beberapa bangunan kolonial disana. Namun masih terdapat pula sejumlah bangunan yang berkondisi buruk. Kondisi bangunan yang rawan roboh, fasade bangunan yang rusak dengan cat yang mengelupas dan ditumbuhi tanaman liar. Hal itu merupakan bentuk pengaruh alami dari iklim di Indonesia. Menyikapi fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh iklim tropis lembab terhadap kerusakan fasade bangunan kolonial tersebut dengan metoda deskriptif kualitatif. Lokus penelitian difokuskan pada bangunan di koridor jl. Letjen Suprapto. Sebagian besar bangunan kolonial di Kota Lama Semarang telah direnovasi dan difungsikan kembali. Namun ada pula sejumlah bangunan yang tidak difungsikan, tidak terawat hingga rawan roboh dan bahkan sudah roboh. Begitu pula kondisi bangunan yang ada di Jl. Letjen Suprapto. Sebagian bangunan yang direnovasi masih mempertahankan bentuk awalnya (khas bangunan kolonial) dan difungsikan sebagai bangunan komersial. Kondisi fasade bangunan juga diperbaharui sehingga memperindah citra kawasan. Namun terdapat pula fasade bangunan yang tidak diperbaharui walaupun bangunan difungsikan kembali. Fasade bangunan tersebut berkondisi buruk dengan cat yang usang, mengelupas dan ditumbuhi tanaman liar. Sama halnya dengan bangunan yang tidak direnovasi dan tidak difungsikan. Kondisinya rawan roboh dan fasade bangunan usang tak terawat. Dalam pengamatan dari luar bangunan, dapat disimpulkan bahwa rusaknya fasade bangunan-bangunan kolonial di koridor jl. Letjen. Suprapto disebabkan kurangnya upaya perawatan sehingga elemen yang rusak karena lapuk disebabkan kondisi yang lembab, atau terkena air hujan selama bertahun tahun, tidak segera diatasi dengan perawatan yang memadai atau dengan penggantian elemen yang rusak dengan meterial yang sama tampilan arsitekturnya.
The Innovation of Glassfiber Reinforced Cement (GRC) Application in Buildings Mohammad Sahid Indraswara; A. A'isyah; Satriya Wahyu Firmandhani
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 2, No 1 (2019): October 2019
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1571.775 KB) | DOI: 10.14710/jadu.v2i1.5371

Abstract

One example of the innovation in building construction that is expansively used at present is Glassfiber Reinforced Cement (GRC). GRC is a cement product based on material mixed with fiberglass. GRC is one of the developments of concrete. This product easily and efficiently provides solutions to a variety of building designs. Additionally, its various forms can be applied to numerous types and functions of buildings. This research aimed to identify the suitability of GRC for several functions. The methods in this study employed a type of qualitative research, with data collection techniques in the form of observation and documentation in several examples of buildings that applied the GRC material innovation. Data analysis was obtained from observation related to GRC types, sizes, installation techniques, and functions in the building. Results showed that the GRC had various types, shapes, and sizes. It could be applied to the building exterior or interior. Each building used different GRC specifications tailored to meet needs and design of the building. GRC installation techniques could use the frame or without frames, adapted to the needs and types of GRC used
A Spatial Study of Waisai Central Business District, in response to Raja Ampat’s tourism potential, West Papua Satriya Wahyu Firmandhani; I. Indriastjario; Retno Susanti; Humaira M. Rahmi
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 1, No 2 (2019): March 2019
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2596.557 KB) | DOI: 10.14710/jadu.v1i2.4215

Abstract

This study aims to analyze the Waisai district in terms of spatial aspects, as an attempt to respond to tourism potential in Raja Ampat with descriptive qualitative methods using a built and architectural environment design approach responding to natural potential. The study successfully concluded that the Waisai District lacked tourism magnets that could attract tourists and support the Raja Ampat tourism sector, and recommended the revitalization of the tourism potential of Waisai city, such as beaches, pedestrian ways, and city parks, hence Raja Ampat can be known for not only its magnificent sea, but also the Waisai’s central business district (CBD).
A Study of Energy Efficiency in Flats, Case Study: The A-B-C Tower of Tambora Flats in Jakarta, Indonesia Eugineus Rivado Victor Laude; Satriya Wahyu Firmandhani
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 3, No 2 (2021): Volume 3 No 2, 2021
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v3i2.10915

Abstract

Flats are one of the government's solution to provide decent housing for low-income people. However, as mostly flats overlook energy efficiency aspects, residents must pay high rental and operational costs. Therefore, this paper aims to study the principles of green buildings, especially in the building envelope that can bear the operating costs of flats with the case study on the A-B-C Tower of Tambora Flats. The A-B-C Tower of Tambora Flats is one of the flats building in Jakarta that has rental cost issues. This study employed the EDGE application that provided energy saving values in the application of green building principles, such as building mass and orientation, wall and roof finishing materials, natural shading and ventilation elements. From these values, it was only the application of green building principles that was significant for the Tambora flats. The results of this study revealed that the optimization of natural ventilation for flats was still important and having a significant impact on energy savings
Typology of Additional Facilities at The Dock of Tambak Lorok Fisherman Settlement in Semarang, Indonesia Satriya Wahyu Firmandhani
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 3, No 1 (2020): Volume 3 No 1 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v3i1.9393

Abstract

This study aims to explore the typology of additional facilities at Tambak Lorok dock in Semarang, Indonesia. The revitalized dock is in an appropriate condition with permanent materials and additional facilities that naturally added by user. These facilities are intended as spaces to support fishing activities. This study employed a qualitative paradigm by collecting primary data in the form of interviews with related actors and physical data in the field. The results of this study revealed two categories of additional space properties, namely static and dynamic. The static additional space has a laying pattern at the edge of the dock bordering the settlement or the sea, whereas the dynamic additional space has a laying pattern at the center of the dock
Study of Building Facade in Fishing Industries Luqman Nashirudin Nafiq; Satriya Wahyu Firmandhani
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 4, No 1 (2021): Vol 4 No 1, 2021
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v4i1.12967

Abstract

Many industrial buildings are growing in Indonesia, one of them being the fishing industry. However, the industry has a monotonous and rigid facade. The facade is an essential element that makes the first impression. This study aims to evaluate how the facade of an ideal industrial building, especially in the fishing industry. The method used is descriptive qualitative on the several parameters of façade design. The results of the study are in the form of an evaluation and guidelines of the ideal facade, in terms of visuals, functions, and the requirements.
MAKNA KUBAH MASJID DI PULAU JAWA STUDI KASUS: MASJID AGUNG DI JAWA Shabrina Hasnadhiya Retnoasih; Satriya Wahyu Firmandhani
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.088 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v1i2.15

Abstract

bstract:.Mosque is a house of worship of Muslims and is a work of art and culture of architecture. The development of Islam is in line with the development of architecture, namely Mosque Architecture. As we often see today, the mosque is identical to the dome on its roof. In its use, the dome of the mosque is used as a structure and construction but some are only used as aesthetic ornaments. With the many uses of the dome on the building of the mosque, making some people think the dome that is used as a hallmark of this mosque is the ornament of the Islamic Architects. If noticed, the ancient mosque on the island of Java at first has no dome. Characteristic of the ancient mosque in Java, among others, the roof is in the form of overlapping two to five levels upwards. While the mosque building that we often encounter today is a mosque that has a dome roof. We need to learn more about the development of this mosque architecture in the context of roof overlap and domes. So we need to know whether the meaning of the dome applied to the mosque in Java. This study reveals that, the meaning of the dome evolved according to the needs of the mosque itself, such as political symbols, gratitude, and media of da'wah. Keyword: mosque, dome, meaning Abstrak: Masjid adalah rumah ibadah umat Islam dan merupakan suatu karya seni dan budaya dalam bidang arsitektur. Perkembangan Agama Islam sejalan dengan perkembangan arsitekturnya, yakni Arsitektur Masjid. Seperti yang sering kita lihat sekarang, Masjid sangat identik dengan kubah di bagian atapnya. Dalam penggunaannya, kubah masjid ada yang digunakan sebagai struktur dan konstruksi namun ada pula yang hanya digunakan sebagai ornamen estetika. Dengan banyaknya penggunaan kubah pada bangunan masjid, menjadikan sebagian orang beranggapan kubah yang dijadikan ciri khas masjid ini adalah ornamen dari Arsitekur Islam. Jika diperhatikan, masjid kuno di pulau Jawa pada awalnya tidak ada yang memiliki kubah. Ciri khas masjid kuno di Jawa antara lain atapnya yang berbentuk tumpang bersusun dua hingga lima tingkat keatas semakin mengecil. Sedangkan bangunan masjid yang sering kita temui saat ini adalah masjid yang memiliki atap kubah. Perkembangan arsitektur masjid ini dalam konteks atap tumpang dan kubah, perlu kita pelajari lebih lanjut. Sehingga perlu kita ketahui apakah makna kubah yang diterapkan pada masjid di Jawa. Penelitian ini mengungkap bahwa, pemaknaan kubah berkembang sesuai kebutuhan yang di capai masjid itu sendiri, seperti simbol politik, rasa syukur,dan media dakwah. Kata kunci: masjid, atap kubah, makna