Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT LUTUNG KASARUNG Ima Siti Rahmawati; Deden Sutrisna; Aji Septiaji
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendeskripsikan cerita rakyat yang merupakan cerita dari zaman dahulu yang hidup dikalangan rakyat dan diwariskan secara lisan yaitu cerita rakyat Lutung Kasarung sebagai objek penelitian. Hal-hal yang akan menjadi pembahasan, diantaranya (1) nilai-nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Lutung Kasarung; (2) nilai-nilai pendidikan karakter dalam cerita rakyat Lutung Kasarung. Penelitian ini menarik karena menganalisis cerita rakyat Lutung Kasarung berdasarkan kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri, selain itu penelitian ini juga menganalisis berdasarkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nlai-nilai etis. Secara sederhana, pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis isi. Teknik yang digunakan adalah teknik dokumentasi catat dan simak. Tahap pertama yaitu pengambilan data dari sumber data dengan cara disimak dan dicatat. Tahap kedua adalah penganalisisan data yaitu dengan teknik dokumentasi simak dan catat, maksudnya adalah setiap data yang didapat disimak baik-baik kemudian dicatat dan dianalisis nilai-nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter dan struktur cerita dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.  Analisis cerita rakyat Lutung Kasarung ini mengacu pada teori kearifan lokal Sibarani, dan teori nilai-nilai pendidikan karakter Kemendiknas.Kata Kunci: kearifan lokal, pendidikan karakter, cerita rakyat, Lutung Kasarung This study aims to identify and describe folklore which is a story from ancient times that lived among the people and was passed down orally, namely the folklore of Lutung Kasarung as the object of research. Things that will be discussed, including (1) the values of local wisdom in the folklore of Lutung Kasarung; (2) the values of character education in the folklore of Lutung Kasarung. This research is interesting because it analyzes the folklore of Lutung Kasarung based on local wisdom which is part of the culture of a society that cannot be separated from the language of the community itself, besides that this research also analyzes based on the values of character education that can help someone understand, care, and act on the basis of core ethical values. In simple terms, character education is a deliberate effort to improve the character of students. The research method used is content analysis method. The technique used is a note-and-see documentation technique. The first stage is collecting data from data sources by being listened to and recorded. The second stage is data analysis, namely by listening and recording documentation techniques, meaning that every data obtained is carefully listened to and then recorded and analyzed the values of local wisdom and character education and story structure in the folklore of Lutung Kasarung. This analysis of the folklore of Lutung Kasarung refers to the theory of local wisdom of Sibarani, and the theory of values of character education from the Ministry of National Education.Keywords: local wisdom, character education, folklore, Lutung Kasarung
Nilai-nilai Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Lutung Kasarung Ima Siti Rahmawati; Deden Sutrisna; Risma Khairun Nisya
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 9 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v9i2.4397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita rakyat Lutung Kasarung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan wawancara dengan narasumber yang kompeten dalam bidang cerita rakyat dan pendidikan karakter. Analisis dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Lutung Kasarung mengandung nilai-nilai kearifan lokal seperti keadilan, kebenaran, ketabahan, keberanian, empati, kebaikan hati, tanggung jawab, dan pengabdian. Selain itu, cerita ini juga dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran karakter yang efektif dalam konteks pendidikan. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran karakter yang berbasis cerita rakyat dalam upaya memperkuat kearifan lokal dan pendidikan karakter dalam masyarakat.
RAGAM BAHASA DAN UNGKAPAN TRADISIONAL MELALUI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL KAMPUNG NAGA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK SEBAGAI MATERI AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA Asteka, Pipik; Sutrisna, Deden; Lasari, Nirma
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i2.5314

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal Kampung Naga melalui ragam bahasa dan ungkapan tradisonal sebagai materi ajar Bahasa Indonesia di SMA. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui wawancara dan observasi terhadap masyarakat Kampung Naga untuk mengidentifikasi ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang mencerminkan nilai-nilai kearifan budaya lokal serta aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, data tersebut dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Kampung Naga memiliki nilai-nilai kearifan lokal dalam hal sopan santun dan menghormati orang lain, nilai keakraban dan kebersamaan. Nilai-nilai bersyukur, berbagi, solidaritas, menjaga hubungan baik, menerima takdir dengan ikhlas, dan hidup sederhana. Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Naga, seperti gotong royong dalam membantu satu sama lain, membagikan hasil panen dan hidup dengan sederhana. Oleh karena itu, ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang ada di Kampung Naga dapat dijadikan materi ajar Bahasa Indonesia di SMA untuk memperkenalkan nilai-nilai kearifan budaya lokal kepada siswa. Hal ini diharapkan dapat membantu siswa memahami dan menghargai budaya lokal serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya melestarikan kearifan budaya lokal di Indonesia.Kata kunci : Nilai-nilai kearifan budaya lokal, ragam bahasa, ungkapan tradisional, sosiolinguistik, bahan ajar SMA.
ANALISIS PRAGMATIK KONSEP MENGHILANGKAN MUKA SERTA PELANGGARAN MAKSIM PADA GELAR WICARA DAN KOMEDI Sutrisna, Deden; Rahmawati, Ima Siti
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i1.4008

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai ketidaksantunan berbahasa dan pelanggaran maksim pada gelar wicara dan komedi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalis ketidaksantunan berbahasa kategori kesembronoan pada komedi Lapor Pak dan menganalisis pelanggaran maksim pada gelar wicara Mata Najwa dan Kick Andy. Hasil penelitian ini terdapat 5 subkategori kesembronoan, dimana terdapat 2 data subkategori asosiasi dengan gurauan, 1 data subkategori sinisme dengan ejekan, 1 data subkategori kesombongan dengan gurauan, 1 data subkategori pelesetan dengan gurauan dan 2 data subkategori mmenggoda dengan gurauan. Sedangkan, pelanggaran maksim pada gelar wicara adalah 2 dialog masuk pelanggaram maksim kerendahhatian, 2 dialog pelanggaran maksim penerimaan, dan 1 dialog pelanggaran maksim
E-MODUL SINTAKSIS SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN KESADARAN SINTAKSIS MAHASISWA Sutrisna, Deden; Ansori, Yoyo Zakaria
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i2.5445

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan diperguruan tinggi wilayah 3 Cirebon. Tujuan penelitian iniadalah mengembangkan e-modul sintaksis bahasa Indonesiauntuk menumbuhkan kesadaran sintaksis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)di wilayah 3 Cirebon. Penelitian ini baru sampai pemaparan urgensi dikembangkannya e-modul sintaksis dari berbagai kajian literatur serta konsepkesadaranyang mendasari dikembangkannya e-modulsintaksis ini serta hasilpenelitian berupa tahapeksplorasi.Berdasarkan hasil eksplorasi studi pustaka,pengembangan kemampuan sintaksis dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang penting bagi mahasiswa. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan selama satu minggu, yaitu pada bulan November 2023 di perguruan tinggi di wilayah 3 Cirebon, diperoleh fakta bahwa belum ada modul elektronik pada mada kuliah sintaksis bahasa Indonesia yang digunakan sebagai acuan dalam proses belajar mengajardi perguruan tinggisehingga perlu dikembangkan e-modul sebagai upaya menumbuhkan kesadaran sintaksis mahasiswa.Kata kunci: e-modul, sintaksis, bahasa Indonesia, kesadaran sintaksisThis research was carried out in Cirebon Region 3 universities. The aim of this research is to develop an Indonesian syntax e-module to foster syntactic awareness in students of the Indonesian Language and Literature Education Study Program (PBSI) in region 3 Cirebon. This research has only just explained the urgency of developing a syntax e-module from various literature studies as well as the concept of awareness that underlies the development of this syntax e-module as well as the results of the research in the form of an exploration stage. Based on the results of the exploration of the study literature, developing syntactic abilities in Indonesian is an important thing for students. Based on the results of a survey that was carried out for one week, namely in November 2023 at universities in region 3 Cirebon, it was found that there were no electronic modules in Indonesian syntax courses that were used as a reference in the teaching and learning process at universities, so it was necessary to develop e- module as an effort to raise students' syntactic awareness.Key words: e-module, syntax, Indonesian, syntactic awareness
Transformasi cerita anak ke dalam bentuk digital mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Nisya, Risma Khairun; Sutrisna, Deden
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 6 No. 2 (2024): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v6i2.11597

Abstract

Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari semua aspek kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah pola pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan interaktif. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa dalam mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi adalah kemampuan menulis prosa fiksi. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya mengapresiasi prosa fiksi dari berbagai periode, tetapi juga mengembangkan kemampuan menulis prosa fiksi, termasuk cerita anak. Menulis cerita anak adalah seni yang memadukan kelembutan kata-kata. Cerita yang ditulis bertema keseharian untuk memudahkan dalam menemukan ide cerita yang berasal dari pengalaman sehari-hari mahasiswa. Adapun yang menjadi tema dalam menulis cerita anak yaitu permainan tradisional Jawa Barat. Cerita anak yang telah ditulis oleh mahasiswa kemudian diubah ke dalam bentuk digital. Transformasi ini bertujuan agar cerita anak yang telah ditulis dapat didokumentasikan dan dimanfaatkan sebagai alternatif media pembelajaran sastra anak.
Analisis Warna Lokal Sunda dalam Kumpulan Cerpen “Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya” Karya Ajip Rosidi Pipik Asteka; Deden Sutrisna
Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7 No 2 (2020): DEIKSIS: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/deiksis.v7i2.2761

Abstract

Abstrak. Warna lokal adalah warisan leluhur yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap alam dan lingkungan sekitar. Warisan ini amat disayangkan jika tidak diketahui oleh generasi muda. Oleh karena itu, melalui sastra diharapkan siswa bisa mengetahui warna lokal yang ada di daerahnya bahkan warna lokal yang ada di daerah lain sehingga mereka bisa menjadi manusia yang bijak. Penelitian ini mencoba menyajikan warna lokal Sunda sebagai bahan ajar apresiasi sastra bermuatan karakter di kelas XI SMA. Pemilihan warna lokal Sunda adalah sebagai alternatif bahan ajar yang menumbuhkan kesadaran pentingnya identitas lokal dalam mempelajari sastra karena dari identitas lokal itu akan muncul karakter yang membangun mental siswa. Penelitian ini akan mendeskripsikan warna lokal Sunda yang muncul dalam kumpulan cerpen Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya ditinjau dari lima sikap, yaitu religius, kepribadian, sosial, kekeluargaan, dan lingkungan.Kata kunci : warna lokal sunda,  kumpulan cerpen, dua orang dukun dan cerita                      pendek sunda lainnya.