Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

ISLAM DI AFRIKA UTARA BAGIAN BARAT AL-MURABITHUN DAN AL-MUWAHHIDUN Syahraeni, Andi
RIHLAH Vol 1, No 01 (2013): Oktober
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rise and fall of Umayyad caliphate occurred in the early of the eleventh century. During this period, the caliphate was governed by the minister council. Due to the absence of the control from the central government, many small kingdoms, governed by the Mulk clans, proclaimed their independence in the regions such as Sevilla, Cordova, and Toledo. Some of them were the Murabithun and the Muwahhidun dynasty. Yusuf bin Tasyin (1061-1106 M) was the king who was successful in developing the Murabithun dynasty. He expanded his territory to include some regions. This indicates that the Murabithun was the first barbarian tribe who colonized most of the areas in the west part of North Africa. The Muwahhidun dynasty was initially a religious movement but later known as a name of a Kingdom in Maghreb, North Africa. The weakening of the control and discipline of the local authorities was the reason for the fall of the great al-Mahdi Ibn Tumart.
Pendekatan Dakwah Kultural Dalam Masyarakat Plural Syahraeni, Andi
Jurnal Adabiyah Vol 14, No 1 (2014): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep dakwah kultural yang dilakukan oleh para ulama di awal-awal masuknya Islam ke wilayah Nusantara ini adalah membiarkannya budaya/adat setempat tetap berjalan seperti sebelum Islam datang, malah menggunakan budaya tersebut sebagai sarana untuk lebih lebih memberikan nuansa Islami di dalamnya. Kehadiran aroma islami pada budaya setempat tersebut sebagai pencerminan bahwa telah berlangsung suatu proses dakwah kultural pada masyarakat dan hal itu terus berlangsung sampai saat ini. Dakwah kultural teraplikasi dalam masyarakat dapat terlihat pada Dakwah melalui kesenian. Kesenian yang banyak digemari oleh mayoritas suku jawa ketika itu adalah pagelaran wayang. Dalam seni suara, Para wali tampaknya tidak ketinggalan untuk menggubah lagu-lagu yang bernafaskan Islam sebagai salah satu cara untuk menggugah hati sang pendengarnya sehingga mereka dapat tertarik dengan lirik dan syair yang dilantungkan melalui tarik suara. Sarak adalah unsur pangadakkang (adat dalam bahasa Makassar) yang terakhir diterima dalam kesatuan sistem pangadakkang. Adak dan sara’ selanjutnya berkembang serasi dalam kehidupan kerajaan Gowa. Hal ini dimungkinkan karena dalam sejarah pengislaman Sulawesi Selatan para rajalah yang mula-mula memeluk agama Islam baru kemudian diikuti oleh para pembesar kerajaan dan akhirnya oleh rakyat.
NIKAH DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN Andi Syahraeni
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-nikah dengan segala turunan bentuk katanya. Allah Swt. juga menjelaskannya dengan kata al-zawaj. Setelah dilakukan penelusuran, baik kosa kata dengan segala derivasinya dapat dinyatakan bahwa keduanya bersinonim, yakni sama-sama menerangkan tentang perkawinan menurut syariat Islam. Hanya saja satu kelebihan kata al-zawaj adalah menunjukkan nama yang berkawin dengan “  الزوج“ yang berarti suami, dan “الزوحة“ yang berarti isteri. Kata al-nikah tidak mengungkapkan hal ini, karena yang kawin itu adalah sebuah pasangan. Perkawinan menurut al-Qur’an memiliki beberapa aspek substansial, yaitu syarat dan prosedur menikah. Nikah tak boleh dilakukan, kecuali sesuai dengan ketentuan Allah Swt. untuk menghalalkan hubungan seksual laki-laki dan perempuan guna memperoleh keturunan sebagai hakikat dan urgensi nikah. 
Pendekatan Dakwah Kultural Dalam Masyarakat Plural Andi Syahraeni
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 14 No 1 (2014): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep dakwah kultural yang dilakukan oleh para ulama di awal-awal masuknya Islam ke wilayah Nusantara ini adalah membiarkannya budaya/adat setempat tetap berjalan seperti sebelum Islam datang, malah menggunakan budaya tersebut sebagai sarana untuk lebih lebih memberikan nuansa Islami di dalamnya. Kehadiran aroma islami pada budaya setempat tersebut sebagai pencerminan bahwa telah berlangsung suatu proses dakwah kultural pada masyarakat dan hal itu terus berlangsung sampai saat ini. Dakwah kultural teraplikasi dalam masyarakat dapat terlihat pada Dakwah melalui kesenian. Kesenian yang banyak digemari oleh mayoritas suku jawa ketika itu adalah pagelaran wayang. Dalam seni suara, Para wali tampaknya tidak ketinggalan untuk menggubah lagu-lagu yang bernafaskan Islam sebagai salah satu cara untuk menggugah hati sang pendengarnya sehingga mereka dapat tertarik dengan lirik dan syair yang dilantungkan melalui tarik suara. Sarak adalah unsur pangadakkang (adat dalam bahasa Makassar) yang terakhir diterima dalam kesatuan sistem pangadakkang. Adak dan sara’ selanjutnya berkembang serasi dalam kehidupan kerajaan Gowa. Hal ini dimungkinkan karena dalam sejarah pengislaman Sulawesi Selatan para rajalah yang mula-mula memeluk agama Islam baru kemudian diikuti oleh para pembesar kerajaan dan akhirnya oleh rakyat.
Islam di Filipina Andi Syahraeni
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 10 No 2 (2010): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moro Nation in Philippine has shown perseverance to stay exist as a Moslem nation. This struggle has shown to the world when the various interests who try to marginalize them. The problem is the unity within the Moro nation itself is not so strong that from this point, the parties who are not happy about his struggle exploit this weakness. Characteristics of top leadership in Philippines which has several times occurred turnover also showed varied solutions in addressing problems in the southern Philippines that the existence of the Moro nation also provide pluctuative atmosphere in its development. Issues that drive Moro Nation in to a corner from the outside world also provides a negative stigma after the existence of violence committed by cadres as alumni of the Southern Philippines fighters, but they should be more careful to peel the real root of the problem. Wallahu A’lam.
ISLAM DI AFRIKA UTARA BAGIAN BARAT AL-MURABITHUN DAN AL-MUWAHHIDUN Andi Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 1 No 01 (2013): Oktober
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v1i01.660

Abstract

The rise and fall of Umayyad caliphate occurred in the early of the eleventh century. During this period, the caliphate was governed by the minister council. Due to the absence of the control from the central government, many small kingdoms, governed by the Mulk clans, proclaimed their independence in the regions such as Sevilla, Cordova, and Toledo. Some of them were the Murabithun and the Muwahhidun dynasty. Yusuf bin Tasyin (1061-1106 M) was the king who was successful in developing the Murabithun dynasty. He expanded his territory to include some regions. This indicates that the Murabithun was the first barbarian tribe who colonized most of the areas in the west part of North Africa. The Muwahhidun dynasty was initially a religious movement but later known as a name of a Kingdom in Maghreb, North Africa. The weakening of the control and discipline of the local authorities was the reason for the fall of the great al-Mahdi Ibn Tumart.
DINASTI-DINASTI KECIL BANI ABBASIYAH Andi Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 1 (2016): JUNI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2587

Abstract

Dinasti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan Khalifah dari Barat. Pada masa kekuasaan bani Abbasiyah terdapat 5 dinasti kecil yang berada di sebelah barat Baghdad, yakni: Dinasti Idrisiyah, (789 M – 926 M) Dinasti Aghlabiyah, (800 M – 909 M) Dinasti Thuluniyah (868 M – 905 M) Dinasti Ikhsidiyah(935 M – 969 M) Dinasti Hamdaniyah(905 M – 1004 M) Saat dinasti-dinasti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan Khalifah dari Barat, proses yang sama telah terjadi di Timur terutama dilakukan oleh orang Turki dan Persia.Pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah terdapat 3 dinasti kecil yang berada di sebelah timur Baghdad, yakni: Dinasti Thahiriyah(820 M – 872 M) Dinasti Shaffariyah (867 M – 1495 M) Dinasti Samaniyyah (819 M – 1005 M) Pelepasan wilayah kekuasaan dinasti-dinasti kecil di barat dan timur Bagdad dari Dinasti Abbasiyah disebabkan beberapa factor; Pertama, Karena kebijakan penguasa Bani Abbasiyah yang lebih menitikberatkan kemajuan peradaban dibanding dengan mengadakan ekspansi dan politisasi, sehingga memberi peluang terhadap wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan untuk memerdekakan diri dari pemerintahan Abbasiyah. Kedua, Karena dinasti Abbasiyah tidak diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir, sehingga membuat daerah-daerah yang jauh mendirikan dinastidinasti kecil. Ketiga, Adanya pemberian hak otonom sehingga tidak terkontrol karena berjauhan dari pemerintahan pusat, dan terlalu luasnya kekuasaan Abbasiyah.
ISLAM DI SYRIA Andi Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2838

Abstract

Jatuhnya syria ketangan kaum Muslimin, ditandai dengan adanya perjanjian damai antara kedua belah pihak. Pada zaman dinasti Bani Umayyah. Islam di negeri ini berkembang pesat, hal ini dikarenakan Kota Damaskus (Ibu Kota Syria) menjadi pusat pemerintahan dari daulah Bani Umayyah. Pada masa ini Islam berkembang lebih maju dari pada masa sebelumnya dan Islam menjadi mercusuar peradaban dunia, pusat-pusat pengembangan keilmuan tersebar di berbagai penjuru kota-kota besar, seperti Damaskus, Cordova, Baghdad, Kairo, dan lain-lain. Berbeda dengan perkembangan Islam di masa selanjutnya, Syria mengalami banyak pergolakan. Hingga saat ini, Syria masih tidak aman dengan banyaknya konflik yang terjadi, antara lain keberadaan ISIS yang tengah menjadi kontroversi internasional dan konflik politik internal yang terjadi dalam negara tersebut.
SEJARAH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Andi Syahraeni Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 1 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3181

Abstract

The history of human beings is an invaluable lesson, for it is rich with wisdoms. History contains significant events in the past is systematically organized and widely circulated to the societies as a repertoire of knowledge. History is an inherent element of human life, for history is an essential product of human civilization as well as a basic need of the human life per se. The Qur’an as a source of guidance integrates history into the moral narratives to provide moral lessons to human beings. It tells the stories of the societies in the past, their culture, civilization, and morality to serve as moral lessons that the current societies need to learn to maintain the harmony of their life.
ISLAM DI JEPANG Andi Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 2 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i2.4163

Abstract

Sikap keberagamaan warga Jepang semakin meningkat dan bersikap lebih toleran terhadap keberadaan warga asing yang beragama lain. Mereka bebas melakukan ibadahnya. Ada berbagai macam pendapat tentang awal pertemuan Jepang dengan Islam, pada masa Restorasi Meiji lah terdapat suatu pertemuan antara Islam dan Jepang. Yaitu dengan masuknya berbagai macam buku terjemahan tentang kehidupan Nabi Muhammad saw. Yang lainnya adalah peristiwa Erthugrul (kapal perang Turki), Perkembangan Islam di Jepang dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara pernikahan dan dakwah. Dalam hal perkawinan, wanita tertarik kepada Islam karena mereka menginginkan kebebasan dan Islam memberikan mereka (wanita) kemerdekaan sebab mereka tidak akan menjadi budak lelaki manapun. Islam juga melawan agresi moral yang menyerang wanita. Kesucian dan kehormatan wanita dilindungi. Islam melarang hubungan haram. Semua ini menarik perhatian para wanita. Sedangkan dalam hal dakwah, para pelajar dan pekerja di berbagai bidang membentuk suatu komunitas ataupun berbagai organisasi Selain membentuk komunitas atau organisasi mereka juga mendirikan berbagai masjid dan mushala untuk melakukan ibadah dan berdakwah. Perkembang Islam di Jepang begitu lamban, hal ini dikarenakan masyarakat Jepang sangat terikat dengan kebiasaan dan adat istiadatnya serta kecenderungan pembangunan negara Jepang yang materialistik.