Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

BENTUK-BENTUK TAKRĀR DALAM AL-QUR’AN MENURUT TINJAUAN BALAGAH (STUDI PADA JUZ AMMA) Amir Amir; M Rusydi Khalid; Sabaruddin Garancang; Amrah Kasim
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 3 (2017): December
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i3.7060

Abstract

Tulisan ini mengetengahkan mengenai ayat-ayat takrār d dalam Juz ‘Amma suatu  tinjauan  Bala>gah, dalam konteks bentuk-bentuk takrar. Penelitian ini dapat dikatagorikan ke dalam penelitian kepustakaan (libraryresearch). Sumber data primer mencakup buku-buku bala>gah, linguistik, mu’jam-mu’jam leksikal bahasa Arab yang diangap standar, kitab-kitab tafsir, dan bahan-bahan tertulis lainnya yang representatif yang ada relevansinya dengan penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner dalam penelitian ini, mengingat bahwa ilmu balagah memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah sub disiplin ilmu kebahasaan, meliputi ilmu nahwu, s}arf, semantik, linguistik, tafsir, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan bala>gah dijadikan sebagai pedoman untuk melihat pola perubahan komunikasi dalam sebuah alur pembicaraan dan efek makna yang ditimbulkan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan tehnik-tehnik survey kepustakaan, studi literatur, membaca ayat-ayat al-Qur’an secara berulang-ulang, mencatat ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap takār dan letaknya dalam surah dan nomor ayat, dan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang ada pada Juz ‘Amma (Juz 30) yang mengalami perulangan (takrar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam al-Qur’an yang mengalami perulangan (takrar) ternyata mengandung banyak bentuk takrar, Faedah takrar, makna takrar,  dan ide terpenting di dalamnya yang harus dipahami oleh manusia. Takrar pada dasarnya menunjukkan sebuah kata atau kelompok kata yang mendapat perulangan itu dianggap penting, karena merupakan fikiran inti yang harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur teks yang lain. Bentuk-bentuk takrar  yang banyak didapati dalam al-Qur’an adalah pada kisah-kisah.
EFEKTIVITAS FISH BOWL TECHNIQUE SEBAGAI SARANA SOSIAL TERHADAP KEMAMPUAN BERBAHASA DAN PEMAHAMAN KONSEP Athirah Athirah; Sabaruddin Garancang; Suhardiman Suhardiman
JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Vol 6 No 2 (2018): September
Publisher : Pendidikan Fisika UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.275 KB) | DOI: 10.24252/jpf.v6i2.3591

Abstract

Penelitian ini  bertujuan  untuk mengetahui kemampuan berbahasa dan pemahaman konsep siswa yang diajar dengan fish bowl technique (teknik cawan ikan) sebagai sarana sosial pada karakteristik, mengetahui kemampuan berbahasa dan pemahaman konsep siswa yang diajar dengan metode konvensional diskusi kelas pada materi karakteristik gelombang, mengetahui fish bowl technique (teknik cawan ikan) sebagai sarana sosial efektif terhadap kemampuan berbahasa dan pemahaman konsep. Desain  penelitian  yang  digunakan The Matching-Only Design. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  implementasi  fish bowl technique lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan pemahaman konsep pada kelas XI MIPA 2 dibandingkan dengan diskusi kelas pada kelas XI MIPA 1 MAN 1 Makassar.
Kata Tugas dalam Bahasa Arab Sabaruddin Garancang
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1252

Abstract

Huruf al-ma’ani dalam bahasa Arab dapat dipadankan dengan kata tugas dalam bhasa Indonesia, meskipun berbeda dalam hal jumlah kelas atau jenis kata. Dalam hal penentuan jumlah kata tugas dalam bahasa Arab, para ulama bahasa kadang-kadang berbeda, tergantung dari sudut mana mereka memandangnya. Dari sudut pandang jumlah  huruf, ada yang mengbaginya menjadi lima, dari sudut pandang tentang fungsi atau penerapan ada yang membaginya menjadi dua kategorisasi dan lain-lain sebagainya. Kata tugas tersebut mempunyai ciri yang sama dalam semua bahasa. Ciri yang dimaksud adalah: (1)  tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata, (2) keanggotaannya relative tetap, (3) merupakan kelas kata yang bersifat tertutup, dan (4) tidak dapat menempati fungsi-fungsi pokokdalam sebuah kalimat.
Makna-Makna Preposisi dalam Bahasa Arab Sabaruddin Garancang
Shaut al Arabiyyah Vol 9 No 1 (2021): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v9i1.21495

Abstract

:المقدمةالهدف من هذه الدراسة هو التعبير عن المعانى لحروف الجر الثلاثة خاصة وهي من و الي و في. و تلك حروف الجر الثلاثة تسمي عادة بالحروف التي تتصل باسم المكان او باسم يماثله في الجملة. معاني حروف الجر متنوعة وحرف "من" اولا وهي ما يدل علي ابتداء الغاية والتبعيض و التبيين والتعليل والبدل والفصل والمجاوزة والاصاق و الظرف و الاستعلاء والقسم والتجريد والتاكيد.وحرف الجر "الي" لها معان كذالك وهي انتهاء الغاية والمصاحبة واللام والظرفية و التبيين والتأكيد والتأدية اي ما يسبب الفعل اللازم الي المعني المتعدى.واما حرف الجر "في" فمعناه هو ما يدل علي الظرفية والمصاحبة والتعليل والاستعلاء والمقايسة والاستعانة وانتهاء الغاية والتأكيد و معني "عن". والتعمق في هذه المعاني مهم جدا في فهم المتون العربية المتنوعة وترجمتها.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan makna dari tiga preposisi, terutama dari, ke, dan di. Dan ketiga preposisi ini biasanya disebut dengan huruf-huruf yang menghubungkan nama tempat atau nama yang mirip dalam kalimat. Arti dari preposisi bervariasi, dan huruf "dari" pertama, yang menunjukkan awal dari akhir, subdivisi, penjelasan, penalaran, substitusi, pemisahan, pelanggaran, adhesi, kata keterangan, superioritas, sumpah, abstraksi, dan penekanan. Kata depan “untuk” memiliki arti yang sama, yaitu akhir dari akhir, yang menyertai, menyalahkan, keadaan, klarifikasi, penegasan dan kinerja, yaitu apa yang menyebabkan tindakan yang diperlukan untuk makna transitif. Adapun preposisi “dalam” artinya adalah yang menunjukkan keadaan, pengiring, penalaran, keunggulan, analogi, mencari pertolongan, tujuan akhir, penekanan, dan makna “tentang”. Dan menggali makna ini sangat penting dalam memahami dan menerjemahkan berbagai teks Arab.          
Metode dan Instrumen Pengumpulan Data (Kualitatif dan Kuantitatif) Muhammad Yasin; Sabaruddin Garancang; Andi Abdul Hamzah
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 3 (2024): Maret 2024
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/zhnv9724

Abstract

Penelitian ini tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana metode dan instrument pengumpulan data yang benar untuk kualtitatif dan kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif kualitatif, dengan pendekatan komparatif yaitu melibatkan perbandinagan antara dua atau lebih elemen atau temuan. Maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah pertama: Bagaiamana Metode Pengumpulan Data Pada Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif?, kedua: Bagaimana Instrumen Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif?, ketiga: Bagaimana Instrumen Pengumpulan Data Penelitian Kuantitatif?, Keempat: Bagaimana Kriteria Instrumen Penelitian Yang Baik?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian baik kualitatif maupun kuantitatif. (2) Proses pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan terjun langsung ke lapangan. Hal ini dapat dilakukan melalui observasi atau kuesioner, wawancara mendalam dengan subjek survei, survei dokumenter, dan diskusi kelompok terfokus. Dalam metode pengumpulan data kuantitatif, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh peneliti, yakni survei kuisioner atau angket, wawancara, dan dokumentasi. (3) Penelitian Kualitatif dalam pengumpulan datanya, instrument yang dapat digunakan anatara lain; Instrument wawancara, instrument Observasi atau pengamatan, Fokus Group Discussion (FGD), Instrumen dokumen. Penelitian kuantitatif dalam mengambil data menggunakan instrumen yang berupa: Instrumen Tes dan Investori, Instrumen Angket atau Kuisioner, Instrumen Lembar Observasi, Instrumen Dokumen dan Data Sekunder. (4) Kriteria pokok yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen penelitian agar dapat dinyatakan memiliki kualitas yang baik yaitu validitas, reliabilitas, dan praktikabilitas.
Arabic Teaching at Islamic Boarding School from The Perspective of Post-Method Era Parameters/Ta’lim al-Lughoh al-‘Arabiyah fi al-Ma‘ahid Min Mandzur Ma‘ayir Ashr Ma Ba‘da al-Thariqah Wahida, Besse; Sabaruddin Garancang; Amrah Kasim; Hania
Jurnal Al Bayan : Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Vol 17 No 1 (2025): Jurnal Al Bayan: Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jjy7ky06

Abstract

This research examined the analysis the process of Arabic teaching from the post method era perspective at Islamic boarding schools. The post-method era concept introduces three post-method parameters that guide teachers to develop their own teaching methods and techniques by synthesizing knowledge and teaching experiences without depending on a particular method. This is different from the reality of Arabic teaching in some traditional or modern Islamic boarding schools that still rely on the use of particular method. Therefore, the researchers chose the research place in public Islamic boarding schools that provide formal and non-formal teaching. The importance of this research lies in the fact that the concept of post method has been widely studied and researched in the other foreign languages teaching. While in Arabic education, it is still in limited studies. A qualitative research was used with case study approach in three Islamic boarding schools in Pontianak City. The data were collected by participatory observation in the formal and non-formal Arabic teaching process in grades XI and XII of Aliyah, in-depth interviews with all teachers of Arabic subject, and documentation, then analyzed using descriptive analysis and pattern-matching techniques. The research found that the Arabic teaching at Islamic boarding schools had applied the three post-method parameters in many instruction activities that can be seen in exploratory, collaborative, interactive, and reflective instruction activities. The result of research was expected to provide an overview and information about several Arabic teaching activities in Islamic boarding schools that are suitable for post method teaching.