Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PEMBERIAN GELAR ADAT KEPADA KEPALA DAERAH DI KABUPATEN BUNGO: PROSES, STRUKTUR YANG MEMPENGARUHI DAN KENDALA Iwan Ridwan; Mulia Jaya; Een Siskawati Dewi
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.198 KB) | DOI: 10.38043/jids.v3i2.2176

Abstract

Kabupaten bungo yang di pimpin oleh bupati bungo Mashuri dan wakil bupati bungo Syafrudin Dwi Apriyanto juga di beri gelar oleh LAM-J kabupaten Bungo pada tahun 2016, gelar yang di berikan pada bupati bungo yaitu Datuk Putro Arif Bijaksono Setioardjo dan wakil bupati Datuk Pemangku Setio Mandaliko. Dari  paparan latar  diatas dapat ada beberapa merumuskan masalah dalam  penelitian ini yatu bagaimana proses pemberian gelar adat kepada kepala daerah Kabupaten Bungo sebagai wujud kesepakatan sosial etnis melayu bungo?, struktur-struktur apa saja yang mempengaruhi dalam pemberian gelar adat kepada kepala daerah Kabupaten Bungo sebagai wujud kesepakatan sosial etnis melayu Bungo, apa saja kendala dalam pemberian gelar adat kepada kepala daerah Kabupaten Bungo sebagai wujud kesepakatan sosial etnis melayu Bungo? Penelitian ini akan dilaksanakan di Lembaga Adat Melayu Jambi Kabupaten Bungo. Mengenai Analis pemberian gelar adat kepada tokoh masyarakat oleh Lembaga Adat Melayu Jambi Kabupaten Bungo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan cara melakukan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian yaitu pemberian gelar adat kepada kepala daerah oleh Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bungo, merupakan hasil Rapat Kerja Daerah (Rakerda), Pemberian gelar adat yang diberikan kepada kepala daerah merupakan hasil keputusan Rapat Kerja Daerah Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bungo Nomor 01/LAD/2008 dan Nomor 12/KEP-LAM/2016, yang dituangkan dalam dalam program kerja tahunan,Surat Keputusan Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bungo merupakan suatu kebijakan. Dasar pelaksanaan Pembentukan Panitia Pengukuhan Gelar Adat, yaitu berdasarkan Keputusan Bupati Bungo Nomor 485/BPMPD/Tahun 2009 tanggal 28 Desember 2009 tentang Pembentukan Panitia Pengukuhan Gelar Adat dan bekerjasama dengan Lembaga Adat Melayu Kab.Bungo. Struktur-struktur yang mempengaruhi dalam pemberian gelar adat kepada kepala daerah Kabupaten Bungo, sepenuhnya diurus oleh Lembaga Adat Melayu Kab.Bungo.Kendala-kendala Dalam Pelaksanaan Pemberian Gelar Adat yaitu kendala dalam proses ceremony atau pengukuhan karena financial, tidak adanya keikutsertaan seluruh anggota Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bungo Dalam Perumusan Gelar Adat, panduan  atau pedoman pemberian gelar adat kepada kepala daerah  belum di bukukan secara legal.
NILAI-NILAI KEKUASAAN DALAM UKIRAN RUMAH TUO DI KELURAHAN KAMPUNG BARUH KECAMATAN TABIR KABUPATEN MERANGIN Mulia Jaya; Dwi Pradana Ariska
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 7 No. 4 (2021): 2021 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/governance.v7i4.12

Abstract

The values ​​of power possessed by traditional holders or ninik mamak in the Bungo Malay community can be seen from their position in the tuo house. Tuo's house is one of the cultural relics of ancient Malay, Jambi's house is synonymous with Old Malay customs. The method used in this research is a qualitative research method which is a case study. Research informants were selected by purposive sampling method. The results of the study found that the values ​​of power in the carving of the tuo house in Kampung Baruh Village, Tabir District, Merangin Regency, can be seen from the carvings on the tuo house ornaments, including: Carving of Keluk Paku (Pakis Wood) means that every development actor (leader) must be able to protect the The function and role it carries, Tampuk Manggis Carving means that the inner tribe shows politeness, sweet-faced hospitality to any guests who come. Carved Rope Philosophy of a strong bond and close kinship in the family, Carving Mensinding Gulung Paku (Pakis) showing the boundaries between mamak grandmothers, traditional elders, religious leaders with family and guest rooms, Carving Roots related to inner tribes if married their children from elements (matched) from their own family or from the same tribe. The efforts of the Merangin Regency Government in preserving the existence of tuo houses in Kampung Baruh Village, Tabir District, Merangin Regency, include making the area attractive, improving facilities and infrastructure and increasing accessibility.
SOSIALISASI, KRITERIA DAN MEKANISME SASARAN PENERIMA BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA DI DUSUN SUNGAI MANCUR KECAMATAN TANAH SEPENGGAL LINTAS KABUPATEN BUNGO Mulia Jaya; Ediyanto Ediyanto
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 8 No. 2 (2021): 2021 Desember
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/governance.v8i2.45

Abstract

The location of the research was carried out in Sungai Mancur Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas District, Bungo Regency. The research aims to find out the Socialization, Criteria and Target Mechanisms for the Recipients of Direct Village Fund Cash Assistance (BLT-DD), to analyze the obstacles in socialization, Criteria and Mechanisms of Targeting Recipients of Village Fund Direct Cash Assistance (BLT-DD), knowing the efforts made by the village government against the obstacles faced in the Socialization, Criteria and Mechanisms of Targeting Recipients of Village Cash Direct Assistance (BLT-DD). This study uses a qualitative method. The results showed that the Socialization, Criteria and Target Mechanisms for Recipients of Direct Village Fund Cash Assistance (BLT-DD) for Victims of Non-Natural Disasters in the form of a Corona Virus Disease (Covid-19) Pandemic in Sungai Mancur Hamlet, Tanah Sepenggal Lintas District, Bungo Regency were as follows includes (a) the stages of socialization, (b) the stages of determining the criteria for the recipients of the BLT-DD, (c) the target recipients of the Village Fund Direct Cash Assistance (BLT-DD). -DD) for Victims of Non-Natural Disasters in the form of a Corona Virus Disease (Covid-19) Pandemic in Sungai Mancur Hamlet, Tanah Sepenggal Lintas District, Bungo Regency, namely: a) Less than optimal socialization carried out by the hamlet government, b) Hamlet Government Difficult to Determine Criteria Prospective Recipients, c) There is a Negative Perception of the Community towards the Hamlet Government in Determining the Criteria for Candidates for BLT-DD Recipients and the Efforts made by the Government sub-village government regarding the obstacles faced in the Socialization, Criteria and Mechanism of Targeting Recipients of Direct Village Fund Cash Assistance (BLT-DD) for Non-Natural Disaster Victims in the form of a Corona Virus Disease (Covid-19) Pandemic in Sungai Mancur hamlet, Tanah Sepenggal Lintas Regency, Bungo namely: a) Optimizing the socialization of the BLT-DD program to the community, b) BLT-DD being distributed to people who are really affected by Covid-19 and c) Increasing community participation is an effort made by the hamlet government against negative assumptions about the criteria for prospective recipients BLT-DD
Pengelolaan Persandian Dalam Menjaga Informasi Rahasia Negara Pada Pemerintah Kabupaten Bungo Ridwan Ridwan; Mulia Jaya; Rusdi Rusdi
Kemudi Vol 4 No 2 (2020): Kemudi: Jurnal Ilmu Pemerintahan
Publisher : Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.351 KB)

Abstract

Encoding is one of the mandatory matters that is not related to basic services. To elaborate regional authority related to coding matters, mapping of coding affairs is carried out in the context of structuring the Provincial / Regency / City Regional Institutional Apparatus in the Field of Encoding according to the direction of Law No. 23 of 2014 concerning Regional Government. With the enactment of Law Number 23 Year 2014 in the Jambi Provincial Government, especially in the Bungo District, realizing harmonization of policies between the center and the regions that synergize with each other and will achieve the goals of Regional Autonomy in the welfare of people's lives. In the Bungo Regency in the coding activity supported by 17 sub-districts within the Regency area, the implementation was not yet optimal. This research uses qualitative research methods, qualitative research has a flexible nature. This research found that the implementation of the duties and functions of the Bungo Regency coding team in maintaining confidential government information in the context of efforts to realize the integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) had not gone well. This is evidenced by the lack of awareness and responsibility of the coding team on the duties and functions of the coding field. Obstacles or obstacles facedby the coding team in carrying out their functions in safeguarding confidential government information in an effort to realize the integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia, including lack of awareness and full support from superiors or officials authorized to carry out coding functions and functions, there is no means from the government in the implementation of duties and functions in the coding field.
Implementation Of Good Governance Principles To Increase Library Service Capacity In Sungai Kerjan Kelurahan Office In 2020 Mulia Jaya; Firmansyah Firmansyah
IQRA`: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi (e-Journal) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/iqra.v16i2.11779

Abstract

This study describes bureaucratic transparency, participation, and the rule of law, as well as the impediments to the application of Good Governance principles at the Sungai Kerjan Village Office. The findings indicated that the application of Good Governance principles at the Sungai Kerjan Village Office was good, but it should be improved again because there are several indicators that make service delivery less than optimal. According to the findings of the study, the indicators of the factors that impede the application of good governance principles to increase the capacity of public services in the process of managing a Business Certificate (SKU) at the Sungai Kerjan Village Office, Bungo Dani District, are as follows: 1) Internal variables (factors from within). Lack of understanding of the apparatus on Good Governance principles The Kelurahan's implementation of Good Governance is still ineffective due to a lack of understanding of the principles of good governance. 2) External variables (factors come from outside) a lack of community involvement Participation is a sign of democracy when people are included in the development and implementation of a plan. as well as accept responsibility in accordance with one's maturity and level of obligation Complaint or criticism services via question cards have not been operating effectively. With the budget, the implementation of using their own personal laptops has not been liquidated. The implication of this research is that it is hoped that there will be an increase in the quality of the Human Resources (HR) workforce in providing services and improving facilities and infrastructure, allowing for better and more optimal service implementation at the Sungai Kerjan Village Office.
Kebijakan Pengoperasian Terminal Kota Lintas Muara Bungo: Dinamika Dan Permasalahannya Ridwan Ridwan; Mulia Jaya; Hasrul Mubaraq
Jurnal Administrasi Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Administrasi dan Kesehatan Setih Setio

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.766 KB) | DOI: 10.56957/jsr.v2i4.57

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Dinas perhubungan, komunikasi dan informatika Kota Muara Bungo dengan pertimbangan penulis ingin mengetahui kebijakan pengoperasian Terminal Kota lintas yang telah berjalan saat ini, khususnya peran Bidang Perhubungan Darat dalam mengoptimalkan keberadaan terminal. Adapun metode yang dipergunakan adalah deskriftif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan sejumlah informan yang dianggap relevan dengan penelitian. Penelitian ini dapat menggambarkan kesimpulan bahwa pengoperasian Terminal Kota lintas yang telah berjalan belum terlaksana secara dengan baik kesimpulan ini didasari atas hasil observasi dan keterangan sejumlah informan yang menjadi objek penelitian. Keberhasilan dari terlaksananya perencanaan program
Transformasi Identitas Administratif dan Tata Kelola Hibrida: Negosiasi Otoritas Birokrasi dan Adat di Kabupaten Bungo, Indonesia Mulia Jaya; Dedi Epriadi; Didik Try Putra
Jurnal Bina Praja Vol 17 No 3 (2025)
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.17.2025-2705

Abstract

These days, local governments keep running into friction between official bureaucracy and the deep-rooted customs of their communities. In Bungo Regency, Indonesia, this tension really came to the surface after Local Regulation No. 9 of 2007 swapped out the term “Village Head” for the traditional title “Rio.” This study examines how that change has shaken up how local leaders see themselves and how they operate. I took a close look at Bungo through interviews with 25 key people, combed through legal documents, and even hung out (virtually) in the “Pesan Bungo” WhatsApp group to see how things play out day to day. The big questions: How do these local leaders juggle their official duties and their traditional roles? What does this new title actually change on the ground? And what should policymakers take away from all this? Here’s what I found. The Rio isn’t just picking a side—they’re constantly switching hats, sometimes acting by the book, leaning into tradition, and often working behind the scenes through informal networks. They’re like fixers, piecing together Solutions from whatever’s at hand. On one hand, using the Rio title boosts their credibility with both the government and the local community. It gives them more room to maneuver and negotiate what leadership means. But there’s a flip side: it can also concentrate power in a few hands and turn tradition into just another tool for influence. Bottom line? Changing administrative titles isn’t just a surface-level move. It turns local government into a battleground for power and meaning. If public value and inclusivity matter, then governance needs to stay flexible and responsive—ready to adapt as these tensions play out.
KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH MERANGIN DALAM PENGELOLAAN DAN PEMELIHARAAN WARISAN BUDAYA BENDA PUSAKA RAMBUT PANJANG Ridwan Ridwan; Mulia Jaya; Yandra Hartomi
Jurnal Academia Praja Vol 2 No 02 (2019): Academia Praja : Jurnal Ilmu Politik, Pemerintahan, dan Administrasi Publik
Publisher : Universitas Jenderal Ahmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.368 KB) | DOI: 10.36859/jap.v2i02.111

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebijakan Pemerintah Daerah Merangin dalam pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya benda pusaka rambut panjang di Desa Air Liki Kecamatan Tabir Barat Kabupaten Merangin Tahun 2018 dan untuk mengetahui kendala dan upaya Pemerintah Daerah Merangin dalam mengatasi kendala dalam pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya benda pusaka rambut panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat dengan studi deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat dengan studi deskriptif. Teknik pemilihan informan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling (teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan Pemerintah Daerah Merangin dalam pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya benda pusaka rambut panjang di Desa Air Liki Kecamatan Tabir Barat Kabupaten Merangin Tahun 2018 belum ada, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya penempatan khusus terhadap keberadaan rambut panjang serta akses jalan menuju lokasi yang tidak diperbaiki (hanya menggunakan jalur sungai). Kendala Pemerintah Daerah Merangin dalam pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya benda pusaka rambut panjang di Desa Air Liki Kecamatan Tabir Barat Kabupaten Merangin Tahun 2018 diantaranya, keterbatasan anggaran dan belum terdaftar sebagai cagar budaya. Upaya Pemerintah Daerah Merangin dalam mengatasi kendala dalam pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya benda pusaka rambut panjang, diantaranya yaitu: mengganggarkan melalui Dana Desa serta melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin.
DEMOKRASI RELASIONAL DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA: NEGOSIASI LEGITIMASI DAN FLUIDITAS PREFERENSI PEMILIH DI PEDESAAN INDONESIA Didik Try Putra; Mulia Jaya; Dedi Epriadi
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 6 (2026): 2026 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i6.957

Abstract

Studi ini berasal dari kegelisahan akademik tentang ketidakmampuan pendekatan behavioristik-elektoral klasik untuk menjelaskan dinamika politik masyarakat desa yang semakin relasional, dinegosiasikan secara sosial, dan semakin cair. Dalam konteks Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Sepakat Bersatu Kabupaten Tebo Tahun 2026, preferensi politik masyarakat terbukti berkembang melalui percakapan sosial, hubungan interpersonal, kedekatan emosional, pengalaman kolektif, dan pengakuan moral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa. preferensi politik masyarakat tidak berkembang secara stabil dan individual sebagaimana diasumsikan dalam teori pemilih rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana pemilih melihat hal-hal, menjelaskan bagaimana relasi sosial masyarakat desa menghasilkan legitimasi politik, dan menginterpretasikan demokrasi desa sebagai tempat di mana legitimasi relasional dibuat. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan survei terhadap 110 responden, yang dipilih secara acak dari 965 Daftar Pemilih Tetap (DPT). Pengumpulan data dilakukan melalui survei tatap muka, observasi lapangan, dan dokumentasi Pilkades. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengevaluasi pola persepsi politik, keluwesan preferensi pemilih, dan elemen sosial yang membentuk legitimasi kandidat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi politik masyarakat desa berubah seiring dengan komunikasi sosial komunitas lokal. Pengalaman interpersonal kandidat, kedekatan sosial, reputasi moral, dan tingkat keterlibatan sosial mereka lebih penting daripada program politik formal. Jaringan sosial informal seperti keluarga, komunitas keagamaan, tokoh lokal, dan percakapan sehari-hari warga adalah tempat politik lokal bekerja. Hasil ini menunjukkan bahwa demokrasi desa lebih dari sekadar proses elektoral administratif; itu adalah tempat di mana orang membuat, berbicara, dan memahami legitimasi politik. Secara teoritik, penelitian ini menawarkan reposisi konseptual tentang demokrasi relasional sebagai perspektif alternatif untuk studi governance lokal di Global South. Penelitian ini menegaskan bahwa rasionalitas relasional lebih cocok untuk memahami perilaku pemilih masyarakat desa daripada kalkulasi individualistik. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya memperluas penelitian tentang perilaku memilih dan demokrasi desa di Indonesia, tetapi juga melakukan intervensi epistemologis terhadap dominasi perspektif behavioristik dan liberal-elektoral dalam studi governance modern. Kata Kunci: Demokrasi Relasional; Legitimasi Politik; Perilaku Memilih; Pilkades; Governance Lokal
Efektivitas program keluarga harapan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Domri Domri; Ridwan Ridwan; Mulia Jaya
Jurnal Politik dan Pemerintahan Daerah Vol. 1 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jppd.v1i1.1

Abstract

Kesejahteraan masyarakat merupakan tolok ukur perkembangan suatu bangsa. Tingkat kesehatan, pendidikan, perekonomian perlu diperhatikan. Program Harapan Keluarga yang dicanangkan oleh pemerintah mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana efektivitas Program Keluarga Harapan dalam meningkatkan kesejahteraan  masyarakat di Desa Pulau Lebar Kecamatan Tabir Barat Kabupaten Bungo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program PKH efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dimana PKH adalah membantu mengurangi kemiskinan dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada kelompok masyarakat sangat miskin. Sedangkan hambatannya adalah rendahnya partisipasi masyarakat, kendala teknis dalam proses pendataan penerima program PKH, kendala teknis dalam pendampingan program PKH, serta kendala teknis dalam penyaluran/pendistribusian dan penggunaan dana program PKH. Adapun upaya Pemerintah Desa Pulau Lebar Kecamatan Tabir Barat dalam mengatasi hambatan pada program PKH dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat diantaranya; meningkatkan sosialisasi, pemutakhiran data penerima PKH, kepastian jadwal pembayaran, penangguhan atau pembatalan peserta.