Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

THE QUR'ANIC PERSPECTIVE ON DISASTER SEMIOTICS Mardan Mardan
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 18 No 2 (2018): Islamic Studies
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v17i118i2a7

Abstract

This research entitled The Qur'anic Perspective on Disaster Semiotics. It uses interpretive approach with the method of tafsīr maudū'ī" and comprehensive semantic analysis. The object of this research is The Qur'an verses concerning with disasters. The results indicate that the disaster semiotics in the Qur'an, include the following terms: al-balā', al-musībah, al-fitnah, and al-‘azāb. From these words, several facts are obtained: (1) disaster as a test is a necessity of life for mukallaf humans, which is carried out by God himself without the involvement tried in determining the way, time, and form of the disaster; (2) a disaster, which is a necessity of life including spaciousness and life suffering, whose levels are in accordance with the level of one's faith, the higher experience disasters more severe than others; (3) the disaster in the form of God's gift or favor cannot be used as evidence of divine affection as suffering does not always mean His wrath; (4) disasters come, in addition to natural factors, also because of human sins. If that also happens, humans must respond to the disaster as education and divine enlightenment, as a blessing to believers, and a warning to sinners and punishment for those who are unjust and overreach. 
Social Construction of The Elite in The Quran (Analysis of Term Al-Mala’) Muhammad Yusuf; Mardan Mardan; Nahdhiyah Nahdhiyah; Kamaluddin Nurdin Marjumi
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Vol. 29 No. 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v29i1.3374

Abstract

From a sociohistorical-anthropological perspective, the existence of an elite class with a class of people is known in the Qur’an. This research elaborates the verses of the Qur’an about elite society in social order. The existence of an elite society and its role in human civilization is the main concern in this study. Through the thematic interpretation method, typology and the role of elite society are explained. The terms prophet, apostle, malik, and al-mala’ refer to the elite. Prophets and messengers are elite groups based on revelation, malik based on political power relations. The term al-mala’ is part of an elite society divided into three groups, namely al-mala’, which opposes the apostles, al-mala’, which does not oppose the da’wah of the apostles, and al-mala’ which has a hypocritical character. Da’wah and education carry the regeneration mission for the birth of new elites who are partners in the benefit. As for the opponents of da’wah and the elite who are hypocritical in character, they must be anticipated so as not to cause chaos, crisis, and crime.
Komunikasi Sebagai Interaksi Sosial dengan Non Muslim Dalam Alquran Hapsah Hafid; Mardan Mardan; Rahmi Damis; Asriadi Asriadi
RETORIKA : Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Retorika
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/retorika.v5i1.1617

Abstract

Interaksi social berarti tindakan(action) yang berbalasan antar individu atau antar kelompok. Tindakan saling memengaruhi ini seringkali dinyatakan dalam bentuk symbol-simbol atau konsep-konsep. Secara sederhana komunikasi dapat dikatakan sebagai proses interaksi maupun proses perubahan social yang lebih baik, dan pada prinsipnya melalui kegiatan komunikasi yang kita bangun diharapkan mampu memunculkan proses interaksi maupun perubahan social bagi masyarakat baik muslim dan non muslim.Islam adalah agama universal yang ajarannya ditujukan kepada umat manusia secara keseluruhan. Inti ajarannya selain memerintahkan kepada penegakan keadilan dan mengeliminasi kedzaliman, juga meletakkan pilar-pilar perdamaian yang diiringi dengan himbauan kepada umat manusia agar hidup dalam suasana persaudaraan dan toleransi tanpa memandang perbedaan ras. Interaksi sosial dibangun atas dasar nilai persamaan toleransi, keadilan, kemerdekaan dan persaudaraan. Nilai-nilai al-Ikhwah alInsaniyah tersebut idealnya untuk menjadi landasan utama membangun interaksi sosial dalam kemajemukan demi mewujudkan perdamaian abadi di muka bumi secara seluruhnya dan di Indonesia khususnya. Interaksi sosial muslim kepada nonmuslim adalah sikap saling menghargai dan menghormati dalam urusan sosial kemasyarakatan yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran alQuran dan al-hadits (agama Islam). Nilai-nilai tersebut adalah saling mengenal (memahami), membangun budaya kompromi, berbuat baik, berperilaku adil dan saling membantu, regulasi tertulis (dokumen) yang menunjukkan komitmen dan konsisten serta persamaan dalam arti yang seadil-adilnya. Nilai-nilai tersebut direkomendasikan untuk menjadi landasan dalam menangani masalah multikultur, multiagama, multibahasa, multibangsa atau kehidupan yang plural secara umum. Kata Kunci: Komunikasi, Interaksi Sosial
Interaksi Sosial Dengan Non Muslim Dalam Perspektif Al-Quran syahrir syahrir; Muhammad Yusuf; Mardan Mardan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.1136

Abstract

Penelitian ini membahas tentang interaksi sosial dengan non muslim dalam perspektif Al-Quran. Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya interaksi sosial antara muslim dan non muslim dalam kerangka kehidupan beragama dan bermasyarakat yang senantiasa diwarnai dengan keberagaman. Memahami interaksi ini tidak hanya penting untuk memperkuat hubungan antar umat beragama, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang merupakan bentuk penelitian yang berkaitan dengan analisis teks berupa sumber-sumber primer seperti ayat-ayat Al-Qur'an beserta terjemahannya. Kemudian sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang membahas tema interaksi sosial dengan non-muslim. Hasil penelitian menunjukkan Al-Qur'an memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana umat muslim seharusnya berinteraksi dengan non muslim, dengan menekankan nilai-nilai keadilan, toleransi, dan saling menghormati. Dalam surah Al-Mumtahanah (60:8) menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, bahkan terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Kemudian dalam surah Al-Baqarah (2:256) menegaskan bahwa setiap individu berhak memilih keyakinan mereka sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. Sedangkan pada surah Al-Anfal (8:61) menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mencari jalan damai dan bekerja sama dengan semua pihak, termasuk non muslim.
Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an (Telaah Tematik atas Ayat-Ayat Kesetaraan Gender) Saniasa saniasa; Muhammad Yusuf; Mardan Mardan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1377

Abstract

Penelitian ini membahas konsep kesetaraan gender dalam perspektif Al-Qur'an melalui pendekatan tafsirtematik untuk menggali isu-isu tentang kesetaraan gender menurut ajaran Islam. Penelitian dilatarbelakangi oleh urgensi memahami landasan qur'ani bagi implementasi kesetaraan gender di tengah arus perubahan sosial dan tuntutan akan keadilan gender pada masyarakat Muslim kontemporer. Berbeda dengan kajian sebelumnya yangcenderung membahas tentang kesetaraan gender secara umum, penelitian ini menawarkan analisis komprehensifterhadap terminologi, konteks historis, dan implementasi konsep kesetaraan gender dalam karir berdasarkan ayat-ayatAl-Qur'an yang relevan. Metodologi yang digunakan adalah metode tafsir tematik dengan mengidentifikasi danmenganalisis ayat-ayat yang berkaitan dengan kesetaraan gender dalam karir, terutama dalam surah Q.S AN Nisa (4) ayat 1, Al-Ahzab (33) ayat 35, An-Nisa (4) ayat 7 , dan Al-Hujrat (49) ayat 13. serta didukung pendekatan semantik-hermeneutis dan analisis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mendiskriminasi gender dalam urusan amal, tanggung jawab, dan kontribusi sosial. Penegasan prinsip keadilan dan penghargaan atas kerja keras menjadi dasar bagi kesetaraan dalam karir.
Konsep Musyawarah dalam Perspektif Al Qur’an (Kajian Tafsir Tematik tentang Musyawarah) Muthmainnah Muthmainnah; Muhammad Yusuf; Mardan Mardan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.1917

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai dasar yang terkandung dalam praktik musyawarah menurut ajaran Islam melalui perspektif Al-Qur'an. Dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer yang menghadapi tantangan implementasi nilai-nilai demokrasi terdapat pemahaman terhadap landasan qur'ani bagi praktik musyawarah menjadi sangat penting. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tafsir tematik, di mana peneliti mengidentifikasi dan menganalisis ayat-ayat yang berkaitan dengan musyawarah, khususnya dalam Qur’an pada Surah Ali 'Imran ayat 159, Surah Asy-Syura ayat 38, dan Surah Al-Baqarah ayat 233. Pendekatan semantik-hermeneutis dan analisis kontekstual juga diterapkan untuk memperdalam pemahaman terhadap konteks historis dan terminologi yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musyawarah di dalam Al-Qur'an merupakan prinsip yang fundamental dalam pengambilan keputusan kolektif. Konsep ini menekankan aspek partisipatif, keterbukaan, dan penghargaan terhadap keberagaman pendapat. Meskipun Al-Qur'an tidak memberikan mekanisme baku untuk pelaksanaan musyawarah, namun menetapkan nilai-nilai etis yang harus dijunjung tinggi. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam implementasi musyawarah sesuai dengan konteks sosial-politik masyarakat Muslim.Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa musyawarah adalah bagian integral dari ajaran Islam yang dapat diadaptasi dalam berbagai konteks, sehingga dapat memperkuat praktik demokrasi dalam masyarakat Muslim. Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam musyawarah, diharapkan masyarakat dapat lebih bijaksana dalam mengambil keputusan kolektif yang mencerminkan prinsip-prinsip Islam.
Nikah dalam Perspektif Al-Qur’an (Telaah Tematik atas Ayat-Ayat tentang Nikah) Ridwan Sahrani; Muhammad Yusuf; Mardan Mardan; Abdul Rachman Sahrani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1978

Abstract

Marriage is a sacred institution in Islam that functions not only as a physical bond between a man and a woman, but also embodies profound spiritual, moral, and social values. This study aims to analyze the concept of marriage in Islam through both normative and contextual approaches. The research uses a qualitative method with library research as the primary approach. Data sources include the Qur’an, Hadith, classical and contemporary fiqh literature, and Islamic family law documents in Indonesia. The findings reveal that marriage in Islam represents the implementation of maqāṣid al-sharī‘ah, particularly in preserving lineage, honor, and religion. On the other hand, various social phenomena—such as early marriage, unregistered marriages without valid guardians, and rising divorce rates—indicate a significant gap between normative teachings and social practices. Therefore, an educational approach and continuous community development are essential to restore the ideal function of marriage in Islam as the foundation of a dignified family and society