Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

The Symbolic Violence in Madrasah Muri'ah, Siti; Gianto, Gianto
Borneo International Journal of Islamic Studies Vol 3 No 1 (2020): Borneo International Journal of Islamic Studies, Vol. 3(1), November 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1559.943 KB) | DOI: 10.21093/bijis.v3i1.2955

Abstract

Violence is identical with power. Violence is a practice result of power. When a class dominates another class, the process will produce violence. The mechanism of violence carried out by the dominant class against the dominated class slowly and smoothly. Education, according to Bourdieu, is only a tool to maintain the existence of the dominant class. The dominant class forces the dominated class to behave and follow the culture of the dominant class throughout the school. Schools influence students' attitudes and habits with dominant classroom culture. This research is a qualitative descriptive. This research was conducted at Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Balikpapan and in Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MAN) 2 Nganjuk. Resources in this study are the headmaster of Madrasah, deputy, teachers, subject teachers, boarding teachers and students. Data collection techniques used in this study is observation, interviews and documentation. Data analysis used is content analysis. From the study, it can be concluded that symbolic violence in Madrasah Ibtida'iyah Negeri (MIN) Balikpapan and Madrasah Ibtida'iyah Negeri (MIN) 2 Nganjuk are manifested in almost all madrasah activities. The symbolic form of violence that researchers found was that students were forced to practice upper-class habit published in wall magazine, students were forced to accept high-class habit in the form of pictures or persuasive sentences (seducing) subtly. For example, 6 S mottos: Smile, Greet, Greetings, Shaking hand, Polite, and Saying Salaam Before entering class.
Mengembangkan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dalam Kerangka Filsafat Pendidikan Islam Gianto, Gianto; Sunanik, Sunanik
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2024): November 2024
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan berbasis kearifan lokal (local wisdom) merupakan pendekatan penting dalam pendidikan yang dapat memperkuat identitas budaya bangsa serta membangun karakter peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk menggali bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pendidikan berbasis filsafat pendidikan Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis teoretis, artikel ini membahas pentingnya kearifan lokal dalam konteks pendidikan Islam dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat memperkaya proses pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pendidikan dapat memperkuat karakter, meningkatkan kecerdasan sosial, serta mengembangkan identitas budaya siswa, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan dalam Islam yang menekankan pada keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas.
Ujian Nasional sebagai Panoptikon Bangsa Gianto, Gianto
SYAMIL: Journal of Islamic Education Vol 2 No 2 (2014): SYAMIL: Journal of Islamic Education
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/sy.v2i2.496

Abstract

National Examination is the assessment of learning outcomes by the government which aims to assess the achievement of national competency on specific subjects in the group of subjects in science and technology. The results are used as one of the considerations for mapping the program quality or the educational unit, as the basic selection to the next education level, determining students' graduation, and giving scholarship for improving the quality of education. Panopticon was originally a concept of the prison building designed by English philosopher and social theorist Jeremy Bentham in 1785. The design concept was allowing a guard to watch  prisoners everywhere. Later, Panopticon not merely architectural designs, but he became a model of community supervision and discipline, which also applied today. National Exam as State Panoptikon is a philosophical concept where the values in National Examination is examined or analyzed using the concepts and values of Panoptikon
Ujian Nasional sebagai Panoptikon Bangsa Gianto, Gianto
SYAMIL: Journal of Islamic Education Vol 2 No 2 (2014): SYAMIL: Journal of Islamic Education
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.645 KB) | DOI: 10.21093/sy.v2i2.496

Abstract

National Examination is the assessment of learning outcomes by the government which aims to assess the achievement of national competency on specific subjects in the group of subjects in science and technology. The results are used as one of the considerations for mapping the program quality or the educational unit, as the basic selection to the next education level, determining students' graduation, and giving scholarship for improving the quality of education. Panopticon was originally a concept of the prison building designed by English philosopher and social theorist Jeremy Bentham in 1785. The design concept was allowing a guard to watch  prisoners everywhere. Later, Panopticon not merely architectural designs, but he became a model of community supervision and discipline, which also applied today. National Exam as State Panoptikon is a philosophical concept where the values in National Examination is examined or analyzed using the concepts and values of Panoptikon
Makna Pengajaran Yesus Tentang "Memberi Minum Secangkir Air Putih" Menurut Matius 10:42 Mau, Marthen; Putralin, Eliantri; Gianto, Gianto
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2021): Februari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.374 KB) | DOI: 10.59830/voh.v3i2.28

Abstract

Abstract Water is the primary source of life for humans which needs to be available indefinitely because without water humans will experience physical death. Therefore, humans need to consume enough water in everyday life. The purpose of this research is that humans need to consume water so that the human body remains stable, healthy, strong, and prevents all toxins that can enter the human body at any time. This study used a qualitative research method, by applying the type of grammatical historical method. The results of the analysis in this study can be described, narrated, and implemented in human life. The results of this study are in accordance with the teachings of Jesus in Matthew 10:42 that just giving a cup of water to the poor followers of Jesus, then the giver will be rewarded according to his deeds. Therefore, humans must pay attention to each other in the practice of everyday life to do good deeds to other people, both those who need them and those who don't need them. Abstrak Air merupakan sumber kehidupan primer bagi manusia yang perlu tersedia tanpa batas karena tanpa air manusia akan mengalami kematian secara fisik. Karena itu, manusia perlu mengonsumsi air putih yang cukup dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini ialah manusia perlu konsumsi air putih supaya tubuh manusia tetap stabil, sehat, kuat, dan mencegah segala racun yang bisa masuk kapan saja ke dalam tubuh manusia. Penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif, dengan menerapkan tipe metode historikal gramatikal. Hasil analisis dalam penelitian ini dapat dideskripsikan, dinarasikan, dan diimplementasikan dalam kehidupan manusia. Hasil penelitian ini adalah sesuai pengajaran Yesus di dalam Matius 10:42 bahwa memberikan minuman air putih secangkir saja kepada para pengikut Yesus yang hina dina/miskin, maka sang pemberi akan diberikan pahala sesuai perbuatannya. Karena itu, manusia harus saling memperhatikan dalam praktik kehidupan setiap hari untuk melakukan perbuatan baik kepada orang-orang lain, baik mereka yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan.
Strategi Penerapan Disiplin dan Etos Kerja Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dalam Membentuk Generasi Z Islami Gianto, Gianto; Sunanik, Sunanik
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 10 No. 3 (2023): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v10i3.2135

Abstract

Penelitian ini dilatar-belakangi bahwa nilai-nilai agama yang dahulu kental ditanamkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sudah mulai tergerus arus globalisasi. Di tengah masalah krisis moral bangsa yang hari ini terjadi, dan ketika pendidikan umum sudah tidak lagi memadai untuk dapat memenuhi tuntutan perbaikan karakter dan moral bangsa, pendidikan agama Islam yang justru seharusnya menjadi ujung tombak dalam pembentukan karakter Generasi Z menuju generasi Islami pada masa depan. Kesadaran pemangku kebijakan dan pengelola Madrasah Aliyah (kepala sekolah, guru dan karyawan) untuk membentuk karakter Generasi Z menuju generasi Islam modern menjadi sangat penting. Generasi Islam modern menurut pandangan peneliti adalah generasi yang menguasai teknologi informasi dan agama sekaligus. Ketika ilmu pengetahuan berperan dalam pengembangan teknologi secara empiris (hard skill) Generasi Z, maka ilmu agama berperan dalam pengembangan kualitas kemanusiaan (soft skill) Generasi Z. Jika hal ini terjadi, maka cita-cita untuk mencetak Generasi Z yang Islami sudah tercapai. Generasi Z yang mahir dalam teknologi sekaligus Generasi Z yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara tugas Madrasah Aliyah sebagai ujung tombak pembentukan karakter Generasi Z Islami telah sukses dilaksanakan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pendekatan penelitian mengunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini ada 2 yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah guru, siswa, dan kepala sekolah. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul melalui tiga teknik tersebut kemudian diperiksa keabsahannya dengan pengecekan kreadibilitas. Pelaksanaan kreadibilitas data mengunakan teknik trianggulasi. Teknik analisis data yang digunakan mengunakan model Miles dan Huberman dengan tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa strategi penerapan disiplin dan etos kerja siswa dalam membentuk generasi z yang Islami di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Paser yaitu melalui penerapan tata tertib dan percontohan guru, sedangkan untuk etos kerja siswa adalah memiliki orientasi kemasa depan, sanggup kerja keras serta menghargai waktu, bertanggung jawab, hemat dan sederhana, tekun dan ulet dan berkompetensi secara jujur dan sehat.
Mengembangkan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dalam Kerangka Filsafat Pendidikan Islam Gianto, Gianto; Sunanik, Sunanik
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 6 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan berbasis kearifan lokal (local wisdom) merupakan pendekatan penting dalam pendidikan yang dapat memperkuat identitas budaya bangsa serta membangun karakter peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk menggali bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pendidikan berbasis filsafat pendidikan Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis teoretis, artikel ini membahas pentingnya kearifan lokal dalam konteks pendidikan Islam dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat memperkaya proses pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pendidikan dapat memperkuat karakter, meningkatkan kecerdasan sosial, serta mengembangkan identitas budaya siswa, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan dalam Islam yang menekankan pada keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas.