Faisal Helmi
Departemen Geologi Sain, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ALTERASI DAN MINERALISASI PADA BATUAN PORFIRI ANDESIT DAN PORFIRI GRANODIORIT DI DAERAH CIGABER DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Prakoso, Jodi; Patonah, Aton; Helmi, Faisal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 1 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1715.243 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i1.9789

Abstract

Geographically, the study area is located in the Cihara Region, Lebak District, Banten Province. The purpose of this research is to determine alteration zone and  mineralization of porphyry andesite and porphyry granodiorite. The research method is fieldwork and laboratory analysis (petrography and minegraphy analysis). Result of research area, there are seven alteration zone; such as chlorite-sericite-quartz zone, chlorite-sericite-carbonate zone, chlorite-sericite-carbonate-quartz zone, sericite-quartz zone, chlorite-epidote-sericite zone, chlorite-epidote-sericite-carbonate zone, and chlorite-actinolit-biotite zone. Alteration type in research area is devided into three alteration type philic zone, phropilitic zone, and potasic zone. Ore mineral assemblages of research area are dominated by pyrite and calcopyrite according to type model mineral deposite the research area included of epithermal intermediete sulfidation and porphyry type. Keyword : Alteration, Mineralization, Ephitermal Intermediete Sulfidation, porphyry typeSecara Geografis daerah penelitian termasuk dalam Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tipe alterasi dan mineralisasi daerah penelitian serta sebarannya. Metode penelitian yang dilakukan adalah pemetaan geologi dan analisis laboratorium (analisis petrografi dan minegrafi). Hasil penelitian lapangan dan analisis laboratorium daerah penelitian terbagi menjadi tujuh zona alterasi yaitu zona klorit-serisit-kuarsa, zona klorit-serisit-karbonat, zona klorit-serisit-karbonat-kuarsa, zona serisit-kuarsa, zona klorit-epidot-serisit, zona klorit-epidot-serisit-karbonat, dan zona klorit-aktinolit-biotit. Tipe alterasi daerah penelitian terbagi menjadi tiga tipe alterasi yaitu tipe alterasi filik, propilitik, dan potasik. Mineral bijih yang berkembang pada daerah penelitian didominasi oleh mineral pirit dan kalkopirit menurut model endapan mineral termasuk kedalam tipe endapan epitermal sulfida menengah dan endapan porfiri.           Kata Kunci : Alterasi, Mineralisasi, Epitermal Sulfida Menengah, endapan porfiri
EVOLUSI TEKTONIK BERDASARKAN ANALISIS DATA KEKAR DAERAH BINUANG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BINUANG, KABUPATEN TAPIN, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Yusuf, Andi Supian; -, Ismawan; Helmi, Faisal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 3 (2014): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v12i3.8376

Abstract

Research area administratively located in Binuang district, Tapin Regencies, South Kalimantan Province. Geographically located in coordinate 115° 3' 40,359" East Longitude until 115° 15' 49,871" East Longitude and 3° 1' 7,068" South Latitude 3° 16' 10,038" South Latitude. Based on its physiography aspect, the research area is part of Barito Basin. The object of these research area the geological structures which is focused on the measurement of the fractures on rocks which represents each present tectonic periods, which is used for determining force and the tectonic pattern in the research area. As seen from the field data, it is known that the geological structures available in the research area are anticline, sincline, fracture, sinistral wrench fault, and reverse fault. The tectonic evolution on the research area begins during rifting which continues since Pra-tersier until Eosen with NE-SW direction, resulting the reverse faults with the fault surface estimated to be NW-SE direction, during Pliosen period reactivation of older faults happened on research area. The tectonic process changed into compression with NW-SE direction.
VALIDASI REKAHAN SEBAGAI INDIKATOR BATUAN TERUBAH DENGAN METODE KELURUSAN DAN PETROGRAFI DI DAERAH BUNGBULANG, KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT Khaerani, Puspa; Taufiq, Andra; Muslim, Dicky; Helmi, Faisal; Putri, Yunitha R.I.
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11 No 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v11i3.30

Abstract

Garut Selatan menyimpan potensi sumber daya mineral berupa emas, krisopras, dan kalsedon. Di beberapa lokasi di Bungbulang ditemukan adanya batuan terubah dan tambang kalsedon tradisional yang sudah tidak beroperasi lagi yaitu di Sungai Citanggeuleuk. Batuan terubah ini memiliki ciri fisik litologi yang berbeda dengan batuan di sekitarnya seperti berwarna hitam, mengandung mineral muskovit, klorit, dan mineral lempung. Lokasi singkapan batuan terubah diperkirakan berada pada jalur rekahan sesar minor di daerah tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap adanya rekahan yang diperkuat dengan adanya batuan terubah sebagai jalur fluida hidrotermal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelurusan dan petrografi. Metode kelurusan yang digunakan berupa analisis kelurusan segmen sungai sebagai analisis dasar kelurusan yang mengindikasikan adanya anomali kelurusan pada lokasi penelitian. Metode petrografi dilakukan untuk mengidentifikasi mineral pada batuan yang menunjukkan adanya pengaruh ubahan karena rekahan. Dari kegiatan pemetaan geologi di daerah penelitian terdapat indikasi batuan terubah di beberapa tempat pada litologi batupasir dan tuf yang mengandung mineral mika putih yang melimpah, klorit, dan mineral lempung. Dari hasil analisis morfometri sungai di daerah ini, diinterpetasikan rekahan yang mempengaruhi pembentukan batuan terubah ini berarah barat-timur yang memanjang dari Sungai Citanggeuleuk sampai Sungai Cianda. Maka rekahan merupakan indikator adanya batuan terubah pada daerah Bungbulang, Garut.
FORMASI PULAU BALANG PADA SUMBU LIPATAN SEPARI KOTA SAMARINDA Abdurrokhim, .; Helmi, Faisal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i3.67516

Abstract

Batuan sedimen berumur Neogen di Cekungan Kutei dicirikan oleh suksesi progradasi yang berkembang dalam berbagai tatanan lingkungan pengendapan, mulai dari turbidit laut dalam, endapan silisiklastik laut dangkal, dan batugamping hingga endapan fluvio-deltaik dan darat.Formasi Pulau Balang merupakan batuan sedimen tertua yang tersingkap di Antiklinorium Samarinda, di Kota Samarinda. Bersama dengan Formasi Balikpapan, kedua formasi tersebut mengikuti sumbu-sumbu lipatan, di mana Antiklin Separi merupakan salah satu lipatan diantaranya. Formasi Pulau Balang yang tersingkap dengan baik di sepanjang Antiklin Separi di Kota Samarinda, dicirikan oleh urut-urutan batuan yang didominasi oleh batulempung, dengan kadang-kadang perselingan dengan batupasir turbidit, endapan channel-fill, dan endapan slump.Asosiasi litofasies endapan laut dalam Formasi Pulau Balang dalam ini dapat dikelompokkan menjadi (1) laminasi batulempung, batulanau dan dan batupasir halus yang kadang-kadang berlapisan juga dengan batupasir turbidit, (2) endapan channel-fill, dan (3) endapan slump.Perlapisan tipis batulempung dan batupasir dicirikan oleh batulempung, batulanaudan batupasir berlapis tipis hingga sangat tipis. Batupasir berbutir halus hingga sangat halus, dengan ketebalan yang tidak konsisten secara lateral. Batupasir turbidit berbutir halus hingga kasar, dengan ketebalan 3–23 cm, berselang-seling atau berselang-seling dengan batulempung. Batupasir tersebut memiliki struktur sedimen sekuen Bouma, Ta, Tb, dan Tc. Batupasir berbutir kasar terkadang teramati di dalam lapisan batupasir ini, berukuran kasar, kadang kerikilan, dan menunjukkan kontak bagian bawah erosional. Endapan channel fill ini dicirikan oleh batupasir berbutir kasar berlapis tebal hingga sangat tebal, batupasir berbutir kasar kerikilan dengan kontak bagian bawah erosional, batulempung berselang-seling dengan batupasir dibawahnya tererosi oleh endapan channel ini. Geometri endapan channel fill berbentuk lentikular. Endapan slump dicirikan oleh soft sedimentary deformation dari perlapisan batulempung dan batupasir turbidit. Sebanyak 13 sampel batuan telah diambil secara sistematis untuk dianalisis kandungan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya. Terdapat 9 sampel yang berasal dari sisi timur Antiklin Separi, dan 5 sampel yang diambil dari sisi barat sumbu Antiklin. Dari fosil-fosil foraminifera tersebut, menunjukkan bahwa batuan sedimen Formasi Pulau Balang di sepanjang Antiklin Separi ini terbentuk selama N5 hingga N6, Burdigalian, Miosen Awal, dalam lingkungan laut dalam (batial).
TEKTONIK DAN ASPEK KEBENCANAAN DI PULAU SUMATRA Haryanto, Iyan; Irawati, .; Helmi, Faisal; Adhiperdana, Billy G.; Abdurrokhim, .; Natasia, Nanda; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i3.68147

Abstract

ABSTRAKStruktur geologi di Pulau Sumatra dilatarbelakangi oleh tumbukan lempeng miring antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Peristiwa tektonik ini menyebabkan terjadinya tegasan strike slip sehingga pola struktur yang terbentuk di pulau ini didominasi oleh sesar mendatar dan dua diantaranya bersifat regional yaitu Sesar Sumatra dan Sesar Mentawai. Berdasarkan latar belakang tektonik di atas, maka setiap struktur sesar yang memiliki pola yang sama dengan  kedua sesar regional di atas, selalu disimpulkan sebagai sesar mendatar juga.Data lapangan menunjukan tidak semua struktur sesar naik berada di dalam zona transpresional dari mendatar regional yang melengkung (bend fault) atau bergeser (steep over) seperti yang terjadi di daerah Bukit Garba, yaitu sesar-sesar naiknya terbentuk langsung oleh tektonik kompresi. Tektonik kompresi juga terjadi di daerah tinggian seperti prisma akresi  dan jalur orogenesa yang pembentukannya memerlukan gaya yang besar dan bersifat regional. Secara genetik peristiwa tektonik harus dilatarbelakangi oleh sistem tegasan kompresi dibandingkan strike slip. Namun demikian karena latar belakang tumbukan lempengnya bersifat miring, maka sebagian dari sesar-sesar naik di Pulau Sumatra bersifat oblik yaitu naik mendatar.Kata Kunci: bend fault, orogenesa, pop-up, strike slip, steep over, subduksi miring. ABSTRACTThe geological structure of Sumatra Island is constructed by the oblique collision of the Indo-Australian Plate with the Eurasian Plate. This tectonic occurrence induces strike-slip stresses, resulting in a structural pattern predominantly characterised by strike-slip faults, among which two are regional: the Sumatra Fault and the Mentawai Fault. Based on the aforementioned tectonic context, any fault structure exhibiting a similar pattern to these two regional faults is typically classified as a strike-slip fault.Field observations reveal that not all thrust fault structures are situated within transpressional zones of regionally curved (bend faults) or steepened (steep-over) faults, as observed in the Garba Hills area. These thrust faults are directly formed by compressional tectonics. Compressional tectonics are also active in areas of high elevation, such as accretionary prisms and orogenic zones, whose formation necessitates substantial forces and is of regional extent. Tectonic events, in a genetic sense, are primarily driven by a compressional stress system rather than strike-slip mechanisms. Nevertheless, due to the inclined nature of the plate collision background, some thrust faults on Sumatra Island are oblique, rising horizontally.Keywords: bend fault, orogenesis, pop-up, strike slip, steep over, oblique subduction.