Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Farmaka

BERBAGAI METODE IMMUNOASSAY UNTUK DETEKSI AFLATOXIN B1 (AFB1) KATHERINE AUGUSTIA TJENGGAL; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.022 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22158

Abstract

Aflatoxin merupakan metabolit bersifat racun berbahaya, aflatoxin ditemukan diberbagai bahan pangan, untuk aflatoxin B1 banyak ditemukan di bahan pangan tumbuhan dan bersifat karsinogenik apabila dikonsumsi oleh manusia. Paparan aflatoxin terhadap manusia tidak menimbulkan gejala spesifik yang mudah dideteksi. Sehingga diperlukan metode yang tepat untuk mendeteksinya. Banyak metode telah dikembangkan untuk mendeteksi metabolit ini. Salah satunya adalah immunoassay yang memiliki keuntungan lebih cepat, mudah, dan murah, dibandingkan dengan metode konvensional.
REVIEW ARTICLE : TANAMAN HERBAL YANG MEMILIKI AKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA AYU UTAMI DEWI; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27935

Abstract

Luka merupakan  suatu  keadaan  terputusnya kontinuitas jaringan akibat adanya cedera. Penyebab terjadinya luka akut akibat faktor dari luar, karena terkena benda keras atau tajam. Penggunaan obat medis yang terus menerus akan menimbulkan efek samping. Banyak tanaman herbal yang telah dilaporkan memiliki aktivitas penyembuhan luka dan dapat dijadikan sebagai altematif terapi. Review ini difokuskan mengkaji tanaman herbal yang memiliki aktivitas penyembuhan luka dengan metode in vivo. Hasil pengajian dari 30 jurnal bahwa senyawa yang berperan penting dalam mempercepat proses penyembuhan luka adalah flavonoid, alkanoid, tanin, saponin, terpenoid dan steroid. Tanaman herbal ekstrak etanol daun Chromolaena odorata memiliki aktivitas penyembuhan luka yang paling efektif pada dosis rendah 5% dibandingkan dengan kontrol. Kata Kunci: Penyembuhan Luka, Tanaman, Herbal, In vivo
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT DALAM DARAH MAHASISWA SHIFT D 2016 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN IYAN RIFKY HIDAYAT; Alda Anjella Lady Carina Paska Agatha; Hazna Putri Salsabilla; Umi Azizah; Nicholas Sugianto; Rahadianti Khofii Suwanditya; Bunga Dacilia Harsanti; Afina Dwi Rahmawati; Hanny Latifa; Rano Karya Sinuraya; Dika Pramita Destiani; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.917 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22165

Abstract

Aktivitas fisik merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pergerakan otot rangka dan energi. Selain itu, aktivitas fisik ialah salah satu faktor yang berpengaruh pada sistem hematologi, terutama dalam kadar trombosit seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap jumlah trombosit dalam darah mahasiswa shift D 2016 Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional melibatkan 35 responden untuk pengisian lembar kuesioner Baecke dan pengambilan sampel darah. Hasil yang didapatkan nilai exact sig. (2-sided) sebesar 1.000 yang berarti tidak ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap jumlah trombosit responden.
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP NILAI MCV, MCH, DAN MCHC MELALUI PENDEKATAN INDEKS ERITEMA PADA MANUSIA DENGAN RENTANG UMUR 19-22 TAHUN Cecep Suhandi; Abib Latifu Fatah; Mamay Krisman; Nurfianti Silvia; Annisa Atusholihah; Randy Rassi Prayoga; Ersa Fadhilah; Ameilia Ameilia; Nadila Berliana; Dika Pramita Destiani; Rano Kurnia Sinuraya; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.28617

Abstract

Stres merupakan perasaan tertekan terhadap tuntutan yang sedang dihadapi. Stres juga diketahui mempengaruhi variabel erythron, sistem endokrin, hematopoietik, dan kekebalan tubuh. Status hematopoietik dapat ditentukan melalui pengukuran nilai indeks eritrosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC melalui pendekatan indeks eritema konjungtiva pada manusia normal. Subjek uji pada penelitian ini meliputi 150 mahasiswa farmasi Universitas Padjadjaran dimana 114 sukarelawan dengan data penelitian yang lengkap digunakan sebagai subjek uji akhir. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengecekan tingkat stres dilakukan menggunakan kuisioner stres pada instrumen DASS 42 serta aplikasi image analyzer (MATLAB) digunakan untuk mengukur indeks eritema. Tingkat stres dinyatakan sebagai nilai (skor) hasil pengisian kuisioner dan indeks eritema diketahui sebagai nilai perbedaan intensitas warna merah dan hijau pada konjungtiva mata. Berdasarkan uji Korelasi Pearson didapat nilai signifikansi >0,05 (0,847) yang menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan indeks eritema. Nilai korelasi Pearson -0,018 menandakan bahwa korelasi antara tingkat stres dan indeks eritema bersifat negatif (protective factor) dengan level korelasi sangat rendah. Dengan pendekatan bahwa indeks eritema berbanding lurus dengan nilai indeks eritrosit (MCH, MCV, dan MCHC), maka hasil uji statistik juga menyatakan secara tidak langsung hal yang sama mengenai hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC.Kata kunci: Stres, DASS 42, Indeks Eritema, MATLAB ABTRACTStress is feeling depressed about problem being faced. Stress is also known to affect the erythron, endocrine, hematopoietic, and immune variables. Hematopoietic status can be determined by measuring the erythrocyte index value. This study was conducted to determine the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC through the conjunctival erythema index approach in normal humans. Subjects in this study included 150 pharmacy students from Universitas Padjadjaran where 114 volunteers with complete research data were used as final subjects. The method in this study uses a Cross Sectional approach. Stress level measurement is performed using a stress questionnaire on the DASS 42 instrument and the application of an image analyzer (MATLAB) is used to measure the erythema index. The stress level is expressed as a value (score) from the filling out of the questionnaire and the erythema index is known as the value of the difference in the intensity of the red and green color in the eye conjunctiva. Pearson Correlation statistical test have showed a P-value> 0.05 (0.847) which indicates that there is no significant relationship between the level of stress with the erythema index. The Pearson correlation value of -0.018 indicates that the correlation between the stress level and the erythema index is negative (protective factor) with a very low level of correlation. With the approach that the erythema index is indirectly proportional to the erythrocyte index value (MCH, MCV, and MCHC), the statistical test results also imply the same conclusion about the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC.Keywords: Stress, DASS 42, Erythema Index, MATLAB
Artikel Review: Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak, Fraksi dan Isolat Rimpang Curcuma sp. Terhadap Beberapa Bakteri Patogen SILVIA PERMATA SARI; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.468 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10721

Abstract

Curcuma sp. rhizome is a species that is often encountered in the community. The content of the common and largest of the rhizome of Curcuma sp. is the essential oils, flavonoids (curcuminoid) and terpenoids. The third component provides antibacterial activity with a force that varies depending on the levels of components in the rhizome. Tests conducted on some species of bacteria include Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, and others. Testing method of antibacterial activity is conducted disc diffusion method and the method of paper (paper disk). While the review method used was a meta-analysis. Source of data used in the form of research journal downloaded online. Journal obtained is 20 pieces and sorted to obtain 15 journals that met the inclusion criteria. Curcuma sp. used is Curcuma xanthorriza, Curcuma domestica, Curcuma longa, Curcuma mangga, Curcuma zedoria and Curcuma heyneana have antibacterial activity against several pathogenic bacteria in the form of extracts, fractions or isolates.Keywords: Curcuma sp., Antibacterial, curcuminoid, flavonoids.