Niken Feladita
Unknown Affiliation

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENETAPAN KADAR PROTEIN KACANG TANAH (ARACHYS HYPOGEIA) DENGAN BEBERAPA PERLAKUAN DENGAN METODE KJELDAHL Andri Hartono; Niken Feladita; Robby chandra Purnama
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 2, No 3 (2016): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v2i3.580

Abstract

Kacang tanah merupakan tanaman yang amat digemari oleh masyarakat indonesia, seperti yang tertera pada catatan Biro Pusat Statistik bahwa konsumsi nasional protein sehari rata-rata penduduk Indonesia 48,7 gram sehari. Ini telah melebihi rata-rata standar kecukupan 45 gram. Telah dilakukan pengujian di laboratorium terhadap kadar protein total pada kacang tanah mentah, kacang tanah sangrai, kacang tanah rebus, kacang tanah goreng (Arachys hypogeia) dengan metode Kjeldahl. Penetapan kadar protein secara kuantitatif dengan metode Kjeldahl dilakukan dengan menetapkan kandungan nitrogen yang terdapat di dalam sampel. Kadar protein dapat ditentukan dengan cara mengalikan jumlah nitrogen yang diperoleh dengan suatu faktor konversi. Analisis protein dengan metode Kjeldahl dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu proses destruksi, proses destilasi, dan tahap titrasi. Dari hasil penelitian kadar protein total pada sampel kacang tanah mentah didapatkan hasil 19,10%, dari kacang tanah rebus, 15,24%, dari kacang tanah goreng, 18,89%, dari kacang tanah sangrai, 20,15%. Kacang tanah dengan berbagai perlakuan masih layak dikonsumsi masyarakat karena walaupun terjadi penurunan kadar protein, kacang yang hanya sebagai sumber protein tambahan dapat dikonsumsi sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi protein per harinya. Kata Kunci : kacang tanah, protein, kjeldahl
IDENTIFIKASI HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH RACIKAN YANG BEREDAR DI PASAR TENGAH BANDAR LAMPUNG SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Annisa Primadiamanti; Niken Feladita; Entin Rositasari
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 2 (2018): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.816 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i2.2783

Abstract

Kosmetik termasuk sediaan farmasi yang digunakan untuk mempercantikwajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari berbagai macamsenyawa kimia misalnya hidrokuinon. Penggunaan hidrokuinon menurut peraturanBPOM termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter, hidrokuinon dilarang digunakan tanpa resep dokter karena memiliki efek samping berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapathidrokuinon pada krim pemutih racikan yang beredar di Pasar Tengah BandarLampung. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 7 merk Krim PemutihRacikan yang dijual di Pasar Tengah Bandar Lampung. Teknik pengambilan sampeldilakukan secara populative sampling. Senyawa hidrokuinon ini diidentifikasi dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. Prinsip Kromatografi Lapis Tipis yaitu pemisahan senyawa multi komponen dengan menggunakan dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam yang digunakan yaitu Silika Gel GF 254 nm dan fase gerak yang digunakan yaitu toluen dan asam asetat glasial (8:2). Diperoleh hasil dari 7 sampel di dapat 3 sampel teridentifikasi mengandung senyawa hidrokuinon dengan warna bercak ungu untuk sampel, baku pembanding dan sampel ditambah baku serta diperoleh hasil harga Rf untuk masing-masing sampel yaitu sampel D = 0,05, E = 0,05,G = 0,02.Diperoleh kesimpulan pada krim pemutih racikan yang dijual di Pasar TengahBandar Lampung dengan metode Kromatografi Lapis Tipis dalam 7 merk Krim Pemutih Racikan diperoleh hasil 43% dari sampel tersebut mengandung senyawa hidrokuinon.Kata Kunci : Hidrokuinon, Krim Pemutih Racikan, Pasar Tengah Bandar Lampung,Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
IDENTIFIKASI FUROSEMID PADA JAMU PELANGSING YANG BEREDAR DI PASAR TENGAH DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Nofita Nofita; Niken Feladita; Aldono Fantoro
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.868 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1168

Abstract

Jamu pelangsing merupakan salah satu obat tradisional yang ada di Indonesia yang memiliki khasiat untuk menurunkan berat badan. Dari populasi sampel jamu pelangsing yang berada di Pasar Tengah ada kemungkinan penambahkan bahan  kimia obat (BKO). Berdasarkan Permenkes No. 007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat, obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia obat (BKO). Di dalam jamu pelangsing diduga ditambahkan  BKO furosemid yang berkhasiat sebagai diuretik/pelancar air seni. Identifikasi furosemid pada sampel jamu pelangsing yang beredar di Pasar Tengah yaitu sampel A, B, C, D, dan E menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan metode pemisahan campuran analit dengan mengelusi analit melalui suatu lempeng kromatografi lalu melihat analit yang terpisah dengan penyemprotan dan visualisasi dibawah sinar ultraviolet. Untuk menarik kesimpulan dapat dilihat dari warna bercak dan selisih antara angka Rf sampel dengan Rf baku pembanding.  Dari hasil pengujian terhadap lima sampel jamu pelangsing, terdapat tiga sampel yang mengandung BKO furosemid, yaitu sampel A, B, dan E. Kata Kunci : jamu pelangsing, furosemid, KLT
PENETAPAN KADAR KALSIUM PADA TERUNG UNGU (Solanum melongena L) SEGAR, KUKUS DAN REBUS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM Robby Candra Purnama; Niken Feladita; Nurul Maesaroh
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.963 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1156

Abstract

Terung ungu (Solanum melongena L) adalah tanaman yang berasal dari Asia yang mengandung beragam mineral seperti kalsium, magnesium, fosfor dan kalium, serta kandungan gizi lainnya seperti karbohidrat dan vitamin serta mengandung antioksidan. Berdasarkan kandungan gizi dari terung ungu maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui salah satu kandungan mineral dari terung ungu yaitu kalsium dan di tinjau dari cara pengolahan dan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi terung baik secara kukus maupun rebus maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengolahan terhadap kadar kalsium. Sampel di ambil dari Pasar Tani Kemiling Bandar Lampung. Uji kualitatif kalsium pada terung ungu dilakukan dengan reaksi warna dan uji kuantitatif kalsium menggunakan metode spektrofotometri serapan atom dengan panjang gelombang 422,51 nm. Dari hasil kualitatif terung ungu menunjukan hasil positif kalsium dan dari uji kuantitatif diperoleh persamaan regresi linier y = 01306x+0,00991179 dengan koefisien korelasi 0,9990 didapat kan kadar terung ungu segar 1,7766 ± 0,05310 mg/100g dan terung ungu kukus 0,6754 ±0,04823 mg/100g dan terung ungu rebus 0,6053 ± 0,03331 mg/100g. Dari hasil penelitian ini terung ungu segar mengandung kalsium lebih tinggi dibandingkan dengan kalsium pada terung ungu kukus dan rebus. Penurunan kadar kalsium pada terung ungu k.ukus dan rebus dikarenakan kalsium hilang pada saat pemanasan yaitu perebusan dan pengukusan Kata kunci :   Terung ungu segar, kukus , rebus , kalsium, spektrofotometri serapan atom
PENGARUH MASSA DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK INDUSTRI RUMAH TANGGA SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV Niken Feladita; Nofita Nofita; Tyas Putri Wulandari
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.81 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1173

Abstract

Kafein adalah salah satu alkaloid yang banyak terdapat pada biji kopi, daun teh, dan biji coklat. Pada pria maupun wanita dewasa asupan maksimal kafein kedalam tubuh yaitu 400 mg. Kelebihan mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan gangguan pencernaan, insomnia, kegelisahan, dan ketidakterarturan detak jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar kafein dalam kopi bubuk industri rumah tangga yang biasa diminum masyarakat Perumahan Karunia Indah Bandar Lampung. Dengan memvariasikan massa dan waktu penyeduhan yaitu 3, 4,5, dan 6 gram masing-masing selama 5,7, dan 10 menit untuk melihat ada atau tidak nya peningkatan yang dipengaruhi oleh massa dan waktu penyeduhan tersebut. Pengukuran kadar kafein ditentukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 274nm. Didapatkan kadar kafein dari bubuk kopi industri rumah tangga dengan massa Sampel 3 g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 1,66 %, 4,67%, 5,42%. Sampel 4,5g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 3,52%, 3,78%, 5,25%. Sampel 6g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 3,32%, 3,66%, 5,89%. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa semakin banyak massa dan semakin lama waktu penyeduhan maka kadar kafein semakin besar. Kata kunci : Kopi, Kafein, Spektrofotometri UV
UJI CEMARAN BAKTERI Coliform PADA MINUMAN ES DAWET YANG BEREDAR DI KECAMATAN KEDATON BANDAR LAMPUNG DENGAN METODE MOST PROBABLE NUMBER (MPN) Annisa Primadiamanti; Niken Feladita; Iga Jelita Budiono
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.166 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i3.2803

Abstract

Di Kecamatan Kedaton Bandar Lampung, terdapat beberapa pedagang esdawet yang menggunakan gerobak keliling maupun menetap. Bakteri Coliformmerupakan kelompok bakteri indikator untuk menentukan kualitas air. Penelitian inibertujuan untuk menentukan uji bakteriologis pada es dawet yang beredar dikecamatan Kedaton Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakanmetode Most Probable Number (MPN), dimana terdapat dua uji dalam metode MostProbable (MPN) tersebut, yaitu uji penduga yang menggunakan media Lactose Broth Single Strength (LBSS) dan Lactose Broth Double Strength (LBDS). Selanjutnya sampel positif dari hasil uji penduga dilanjutkan untuk uji penegasan, yang menggunakan media Brilliant Green Lactose Bile 5% Broth (BGLBB). Sampeldiinokolum menggunakan jarum ose yang telah dipanaskan, kelima sampel dibeli saat hari penelitian. Penelitian dilakukan di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung. Dari hasil yang dilakukan terhadap kelima sampel es dawet tersebut didapatkan 100% sampel es dawet mengandung bakteri Coliform Dapat disimpulkan bahwa es dawet yang beredar di kecamatan Kedaton Bandar Lampung, terdapat bakteri Coliform melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor HK.00.06.1.52.4011 batasan Coliform pada kelapa dan hasil olahannya yaitu) 3 koloni/gram.Kata Kunci : Cemaran Bakteri, Coliform, Es dawet, MPN.
PENETAPAN KADAR KLORIN TOTAL PADA PEMBALUT WANITA YANG BEREDAR DI SUPERMARKET TELUK BETUNG BANDAR LAMPUNG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET-VISIBEL Niken Feladita; Robby Candra Purnama
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.138 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1157

Abstract

Pembalut wanita pada saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Umumnya untuk mendapatkan bahan baku rayon, perlu dilakukan proses pemutihan yang biasa dilakukan menggunakan klorin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui kadar klorin di dalam pembalut wanita. Penelitian ini merupakan penelitian purposive sampling dimana sampel yang digunakan memiliki kriteria tertentu. Sampel diambil sebanyak 7 sampel di Supermarket Teluk Betung Bandar Lampung dengan metode reaksi warna dan spektrofotometri ultraviolet-visibel. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 3 sampel pembalut wanita yang mengandung klorin. Kemudian 3 sampel ini dianalisis secara kuantitatif untuk mengukur kadar klorin yang terkandung didalamnya, dapat diketahui bahwa kadar yang terdapat pada pembalut wanita antara 0,01 mg – 0,04 mg dalam 1 gram pembalut. Dapat disimpulkan bahwa 3 dari 7 sampel pembalut wanita positif mengandung klorin dan masing-masing kadar klorin pada sampel merk C sebesar 0,042 mg/gram, sampel merk D sebesar 0,018 mg/gram dan pada sampel merk G sebesar 0,037 mg/gram. Kadar yang didapatkan tidak memenuhi standar ambang batas klorin dalam air minum sebesar 0,00625 mg/gram. Kata kunci : Pembalut wanita, Klorin, Spektrofotometri uv-vis
UJI DAYA HAMBAT SARIAN EKSTRAK DAUN KI TOLOD (Hippobroma longliflora) KERING TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus MENGGUNAKAN METODE DIFUSI AGAR Agustina Retnaningsih; Niken Feladita; Retno Handayani
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.695 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i3.2804

Abstract

Ki Tolod (Hippobroma longliflora) yang lebih dikenal sebagai gulma atautanaman liar ini ternyata banyak sekali khasiatnya salah satunya dapat digunakansebagai obat untuk mempercepat proses penyembuhan Iluka. Yaitu dengancaramenumbuk halus bagian daun tanaman Ki Tolod, kemudian ditempel pada bagian luka yang sakit, kemudian dibalut dengan kain bersih. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi pada kulit luka yaitu bakteri S. aureus.Bakteri ini menghasilkan nanah, oleh sebab itu bakteri disebut bakteri piogenik. Daun Ki Tolod memiliki kandungan alkaloid yang dapat bersifat antibakteri.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak daun Ki Tolod terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Uji daya antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar.Daya anti bakteri dilihat dari besarnya diameter zona hambat yang terbentuk dengan adanya daerah jernih disekitar cakram yang berisi kandungan alkaloid dari daun Ki Tolod.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun Ki Tolod mempunyai daya antibakteri terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dimana kontrol positif yaitu kloramfenikol memiliki diameter zona terbesar dalam menghambat Staphylococcus aureus diikuti dengan ekstrak daun Ki Tolod pada konsentrasi 100%.Kata kunci : ekstrak daun Ki Tolod, luka, daya antibakteri, metode difusi agar,Staphylococcus aureus
IDENTIFIKASI VITAMIN B1 PADA JAMU PENGUAT TUBUH YANG BEREDAR DI BANDAR JAYA SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Nofita Nofita; Niken Feladita
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.347 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i4.2140

Abstract

Pengobatan tradisional merupakan upaya yang diselenggarakan dengan cara tradisional untuk meningkatkan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitative). Pengobatan tradisional yang masih banyak diminati masyarakat adalah dengan meminum jamu. Salah satunya, jamu penguat tubuh. Jamu penguat tubuh biasanya diindikasikan untuk memelihara stamina kesehatan, atau daya tahan tubuh, serta menyegarkan badan. Agar produk yang dihasilkan dapat laku dengan keras dalam persaingan, perdagangan suatu industri obat tradisional mungkin menambahkan bahan kimia obat vitamin B1 dalam jamu penguat tubuh, karena akan memberikan efek yang lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya vitamin B1 yang terdapat dalam jamu yang beredar di daerah Bandar Jaya. Penelitian dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) karena metode ini memberikan fleksiblitas yang lebih besar dalam pemilihan fase gerak,memerlukan waktu yang relatif singkat, mudah dilakukan dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah. KLT merupakan proses pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan kepolarannya, penelitiaan ini menggunakan fase gerak berupa campuran air : piridina : ammonia : methanol : asam asetat glassial (6:6:5:1:1) dan fase diamnya silica gel GF 254nm. Diperoleh hasil denga selisih harga Rf ≤ 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua sampel jamu penguat tubuh positif mengandung BKO Vitamin B1,dan tidak memenuhi syarat peraturan Menteri Kesehatan nomor 006 Tahun 2012, pada pasal 37 .Kata Kunci : Jamu Penguat, Vitamin B1, KLT
PENETAPAN KADAR TIMBAL (Pb) PADA KEMPLANG PANGGANG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) Niken Feladita; Nofita Nofita; Yuliana Yuliana
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v2i4.2145

Abstract

ABSTRAKTimbal (Pb) adalah logam berat yang dapat meracuni lingkungan. Timbal (Pb) dapat masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan, makanan dan minuman serta absorbsi melalui kulit. Kontaminasi timbal (Pb) didalam kemplang dapat berasal dari udara yang tercemar oleh asap kendaraan bermotor pada saat proses pembuatan (tahap penjemuran). Selain itu cemaran timbal juga dapat berasal dari bahan baku ikan yang digunakan pada saat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar logam timbal (Pb) yang terkandung pada kemplang panggang yang dijual di pusat oleh-oleh khas Lampung di Jl. Pagar Alam Segala Mider, Bandar Lampung memenuhi persyaratan atau tidak dari batas standar makanan yang telah di tentukan oleh Badan Standar Nasional (2009) yang menganjurkan batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kerupuk kemplang yang dikonsumsi oleh manusia sebesar 0,3 mg/kg. Analisis kadar logam timbal (Pb) dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) AA-7000 Series pada panjang gelombang 283,35 nm dapat disimpulkan bahwa dari kelima sampel kemplang yang dianalisis memiliki kadar logam timbal (Pb) yang melebihi batas kadar yang telah ditentukan oleh Badan Standar Nasional (2009) yang menganjurkan batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kerupuk kemplang yang dikonsumsi oleh manusia sebesar 0,3 mg/kg.Kata kunci : Kemplang, Timbal (Pb), Spektrofotometri Serapan Atom