Gusti Ayu Rai Saputri
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT PADA PEMBERSIH WAJAH (FACIAL FOAM) YANG DI JUAL DI PASAR TENGAH BANDAR LAMPUNG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE Nofita Nofita; Gusti Ayu Rai Saputri; Atika Septiani
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.983 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2775

Abstract

Pembersih wajah (Facial foam) adalah sabun muka yang teksturnya halus. Fungsi utama untuk membersihkan kotoran (debu, sisa kosmetik) fungsi lainnya tergantung varian dan merk (ada yang untuk mengurangi minyak, mencerahkan, anti jerawat, dan lain-lain). Salah satu senyawa yang sering ditambahkan ke dalam facial foam adalah asam salisilat. Asam salisilat merupakan zat anti acne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Berdasarkan keputusan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.00.05.42.1018 Tahun 2010 tentang kosmetik, asam salisilat dipergunakan dalam kosmetik dengan kadar maksimum 2%. Telah dilakukan penelitian penetapan kadar asam salisilat pada pembersih wajah (facial foam) yangdi jual di Pasar Tengah Bandar Lampung dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah lima sampel, dengan kriteria pembersih wajah (facial foam) yang tidak mencantumkan kadar asam salisilat pada produk kosmetika pembersih wajah tersebut. Penelitian penetapan kadar asam salisilat menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 533 nm. Dari hasil penelitian didapatkan kadar rata-rata : A mendapat kadar rata-rata 0,014 0/0, sampel B mendapat kadar rata-rata 0,0097 %, sampel C mendapat kadar rata-rata 0,0042 0/0, sampel D mendapat kadar rata-rata 0,0058 %, dan sampel E mendapat kadar rata-rata 0,0016 0/0. Kelima sampel tersebut masih memenuhi syarat perizinan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.00.05.42,1018 Tahun 2010. Kata Kunci : Asam Salisilat, Pembersih Wajah (Facial Foam), Spektrofotometri UV-VIS
IDENTIFIKASI NATRIUM DIKLOFENAK PADA JAMU REMATIK YANG BEREDAR DI DEPOT JAMU WAY HALIM BANDAR LAMPUNG SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Gusti Ayu Rai Saputri; Annisa Primadiamanti; Gusti Ayu Putri Mei Restuti
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.378 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1169

Abstract

Berdasarkan BPOM RI tahun 2004, obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. Jamu merupakan obat tradisional yang disediakan secara tradisional. Bahan kimia obat yang sering ditambahkan dalam jamu rematik adalah natrium diklofenak. Natrium diklofenak merupakan obat golongan anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) dengan efek analgesik, anti-inflamasi, dan antipiretik.  Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi apakah terdapat bahan kimia obat natrium diklofenak dalam jamu rematik yang beredar di depot jamu Way Halim Bandar Lampung. Jamu rematik yang digunakan pada penelitian ini yaitu 6 macam merek jamu rematik yaitu sampel A, B, C, D, E, F yang di jual di depot jamu Way Halim Bandar Lampung. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi jamu rematik ini adalah metode Kromatografi Lapis Tipis yang prinsipnya yaitu memisahkan senyawa multikomponen dengan menggunakan dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Hasil penelitian menunjukkan dari 6 sampel jamu rematik yang digunakan tidak ada jamu yang mengandung natrium diklofenak. Hal ini ditunjukkan dari warna bercak dan selisih Rf sampel dengan Rf baku pembanding tidak saling mendekati. Kata kunci : Natrium diklofenak, Jamu rematik, Kromatografi Lapis Tipis
PENETAPAN KADAR RESIDU PESTISIDA DIAZINON PADA ANGGUR MERAH (Vitis Vinifera) DI PASAR BAMBU KUNING DENGAN VARIASI PENCUCIAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Ade Maria Ulfa; Gusti Ayu Rai Saputri; Wayan Sri Intan Sari
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2776

Abstract

Buah anggur dapat tumbuh balk di daerah subtropis, tanaman anggur dapat tumbuh balk di daerah dataran rendah dengan musim kemarau berkisar 4-7 bulan Karena kulit buah anggur yang tipis dan masa tumbuh buah anggur yang cukup lama tanaman ini rentan terserang hama sehingga dilakukan penyemprotan pestisida. Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah apakah anggur yang dijual dipasar Bambu Kuning Bandar Lampung mengandung residu pestisida diazinon dan berapa kadar pestisida diazion pada buah anggur jika dilakukan dengan variasi pencucian menggunakan alat Spektrofotometri UV-Vis merk Spektrofotometri UV-1700 Series. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh penurunan residu pestisida diazinon dalam variasi pencucian. Sampel anggur tanpa perlakuan didapatkan residu pestisida sebesar 4,999 mg/kg. pada sampel anggur merah dengan LB pada pengulangan 1 dan 2 terbukti lebih besar menurunkan residu pestisida diazinon menjadi 3,1755 mg/kg, dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 2,9588 mg/kg, untuk sampel anggur merah dengan AH pada pengulangan 1 dan 2 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,4198 mg/kg, dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,3331 mg/kg, untuk sampel anggur merah dengan AB pada pngulangan 1 dan 2 didapatkan penurunan residu pestisida menjadi 3,475 mg/kg dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,8769 mg/kg. Berdasarkan hasil yang didapat oleh peneliti, kadar yang terdapat dalam sampel anggur menunjukkan penurunan kadar residu pestisida dengan beberapa variasi pencucian. Kata kunci : Diazionon, Anggur Merah, Spektrofotometri UV-Vis.
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN DAN BATANG SAMBILOTO (Andhrographis paniculata) PADA PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella thypi DENGAN METODE DIFUSI SUMURAN Agustina Retnaningsih; Gusti Ayu Rai Saputri; Riska Pandala Putri
Jurnal Analis Farmasi Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v6i1.5492

Abstract

Tanamansambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan tanaman yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk dijadikan obat herbal, karena efektif, efisien, aman dan ekonomis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daun sambiloto dan batang sambiloto dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi penyebab demam tifoid, maka dilakukan uji daya hambat ekstrak etanol daun dan batang sambiloto dengan menggunakan metodedifusi sumuran. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Tumbuhan Sambiloto jenis Andrographis paniculata Nees dalam bentuk simplisia. Uji dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan dengan menggunakan masing-masing konsentrasi sebesar 20%, 40%, 60%,80%, dan 100%. Hasil penelitian memperlihatkan tidak adanya daerah bebas kuman atau zona jernih disekitar lubang sumuran yang telah mengandung batang dan daun sambiloto. Kesimpulan hasil ini ialah ekstrak etanol daun dan batang Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) tidak mempunyai efek antibakteri terhadap Salmonella thypi.Kata kunci: Daun dan Batang Sambiloto, Salmonella thypi, metode sumuran