Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

INPARI SEBAGAI VARIETAS PADI ALTERNATIF DI LAHAN RAWA LEBAK PROVINSI SUMATERA SELATAN Wahyu Wahyu; Suparwoto Suparwoto
JURNAL ILMIAH AGROUST Vol 1 No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya petani menanam padi di lahan rawa lebak hanya satu kali dalam setahun pada musim kemarau, dimana penanaman padi dilakukan setelah air pada rawa lebak dangkal mulai menyurut dan selanjutnya diikuti oleh lebak tengahan dan dalam. Penanaman varietas padi yang adaptif pada lahan sawah lebak adalah salah satu upaya penting yang perlu ditempuh sehingga produktivitasnya lebih tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama dan mempunyai kualitas beras yang baik. Pada periode tahun 2000-2010 Badan Litbang Pertanian telah merilis sekitar 85 varietas unggul baru (VUB) padi diantaranya, varietas Inpara yaitu varietas padi rawa yang toleran keracunan Fe dan Al serta toleran terendam selama 7-14 hari fase vegetatif (Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 5) dan varietas inpari untuk lahan sawah irigasi. Berdasarkan hasil kajian varietas inpari dapat tumbuh dan memberikan hasil yang baik di lahan rawa lebak. Produksi dari varietas Inpari 1, Inpari 4, Inpari 6 dan Inpari 13 yang ditanam dengan sistem jajar legowo 4:1 di rawa lebak tengahan rata-rata 6,95 ton gkp/ha. Dengan semakin banyaknya varietas unggul yang dilepas, petani lebih banyak mempunyai pilihan akan varietas yang sesuai dengan keinginan dan spesifik wilayahnya. Hal ini akan memperluas keragaman genetik tanaman di lapangan sehingga dapat menekan resiko terjadinya ledakan hama dan penyakit tertentu. Adapun tujuan dari penulisan ini untuk memberikan informasi bahwa varietas inpari yang mempunyai rasa nasi pulen bisa beradaptasi di lahan rawa lebak sehingga dapat memberikan banyak pilihan varietas yang disukai petani.
Inventarisasi Potensi Daya Saing Spasial Lahan Rawa Lebak untukPengembangan Pertanian di Sumatera Selatan Waluyo Waluyo; Alkasuma Alkasuma; Susilawati Susilawati; Suparwoto Suparwoto
Jurnal Lahan Suboptimal : Journal of Suboptimal Lands Vol. 1 No. 1 (2012)
Publisher : Research Center for Suboptimal Lands (PUR-PLSO), Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33230/JLSO.1.1.2012.9

Abstract

Waluyo, Alkasuma, Susilawati, Suparwoto. 2012 Spatial Inventory of Potential Competitiveness Swamp Land for Agricultural Development in South Sumatra. J. Lahan Suboptimal 1(1):64-71. Swampy marsh land has great competitive advantage for farmland development.The purposes of this study were 1)to identify the spread of potential swampy marsh land for food crops in major production centers; 2)to understand thecontent, quantity,and distribution of minerals essential for health in the low lands of South Sumatra. Data were collected through some surveys using transects (toposequen), including delineation of maps, flooding/ground water, state of the microrelief, soilbase material, land use, and land surface condition. Ground observations were based on the Soil Survey Manual. The results indicated that Sungai Pinang and Rantau Panjang has three types of swampy land, namely shallow swampy marsh, mid marsh low lands, and swamps in the low lands. Swampy marsh as the potential competitiveness for its antioxidant mineral deposit (Fe, Mn, Cu, Zn, and Se) can produce good functional food products such as Padi seputih, Pelita Rampak, Ketan Sinde, Padi Petek. These varieties have considerably high antioxidant mineral. Therefore, the use of swampyland must be directed. Shallow and intermediate wetlands can be used for rice, pulses and vegetables whereas deep wetlands are suitable for fishing.