Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENINGKATAN KEBERHASILAN SAMBUNGAN TOP-WORKING JAMBU METE (Annacardium occidentale L.) DENGAN APLIKASI ASAM INDOL BUTIRAT / Improve Grafting Success of Top Working on Cashew (Annacardium occidentale L.) by Application of Indole Butyric Acid (IBA) Ireng Darwati; Rudi Suryadi; M. Syakir
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.83-89

Abstract

Cashew (Annacardium occidentale L.) productivity in Indonesia is still low compared with other cashew producing countries, may be the use of low genetic quality of plant material. On of the efforts to improve the productivity is by using high quality genetic materials, which may be done by implementation of top-working technology. Top-working technology may be used to replace existing plants in the field with superior varieties rapidly through grafting method, without having to uproot the existing plants. Top-working on cashew nut crop is still not much information and the success rate is still relatively low when compared to fruit crops. Information on top-working in cashew is still scarce and with little success. Therefore, it is necessary to study the application of IBA to increase grafting success of top-working on cashew. The study was conducted at Cikampek Experimental Station (ES) from January to June 2016. The rootstock is 7 years old, the varieties used for the scion and rootstock are B02. Cashew tree trunks were cut about 1.2 - 1.5 m above ground level during rainy season. The scion used has a length of ± 15 cm and a diameter of 5 - 7 mm with the dormant bud. The design used was a randomized, single factor, with seven replications. The treatments tested were concentrations of IBA (0, 300, 600, and 900 ppm). The parameters measured were the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, khlorophyl, and field determination of compatibility constant (FCC). The results showed that 600 ppm IBA application significantly increased the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, and the highest FCC value (87.50%, 12.08 cm, leaf 11.40, and 13.84)Keywords: Annacardium occidentale L., auxin, productivity, percentage of grafting success, top-working AbstrakProduktivitas jambu mete (Annacardium occidentale L.) di Indonesia masih rendah yang disebabkan oleh penggunaan bahan tanaman dari biji dengan mutu genetik yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah penerapan teknologi top-working yaitu teknologi menggantikan tanaman tidak unggul di lapang dengan varietas unggul secara cepat melalui cara penyambungan, tanpa harus membongkar tanaman. Tujuan penelitian adalah mendapatkan konsentrasi IBA yang tepat untuk meningkatkan persentase keberhasilan dan pertumbuhan sambungan top working pada tanaman jambu mete. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Cikampek mulai bulan Januari sampai Juni 2016. Varietas yang digunakan untuk batang atas (entres) dan batang bawah yaitu B02, dan batang bawah berumur 7 tahun. Pada musim hujan dilakukan pemotongan batang pohon jambu mete setinggi 1,2 – 1,5 m di atas permukaan tanah. Batang atas yang digunakan berukuran panjang ± 15 cm dan diameter 5 – 7 mm dengan mata tunas yang masih tidur (dorman). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan empat perlakuan dan tujuh ulangan. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi IBA (0, 300, 600, dan 900 ppm). Peubah yang diamati adalah persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, kandungan klorofil, dan kompatibilitas berdasarkan nilai konstan field determination of compatibility constant (FCC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi IBA 600 ppm dinilai cukup efisien dan efekftif dalam menghasilkan persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, dan kandungan klorofil.Kata kunci: Annacardium occidentale L., auksin, produktivitas, persen-tase keberhasilan sambungan, top-working.
PEMUPUKAN NITROGEN DAN FOSFOR UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN, PRODUKSI BIJI DAN KANDUNGAN THYMOQUINONE JINTAN HITAM Rudi Suryadi; Munif Ghulamahdi; Ani Kurniawati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 28, No 1 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v28n1.2017.15-28

Abstract

Nigella sativa L. yang dikenal dengan jintan hitam merupakan tanaman asli daerah Asia Barat dan kawasan Mediterania yang beriklim sub tropis. Bijinya yang berkhasiat sebagai obat dan rempah sudah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu terutama oleh umat Muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan. Penelitian tanaman jintan hitam di daerah tropis sampai saat ini masih terbatas. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi biji dan kandungan bioaktif thymoquinone tanaman jintan hitam. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Manoko, Lembang menggunakan benih berasal dari Arab Saudi. Rancangan yang digunakan adalah petak terbagi, dengan petak utama dua taraf dosis pupuk N (0 dan 120 kg N ha-1) dan anak petak empat taraf dosis pupuk P (0, 60, 120, dan 180 kg P2O5 ha-1) diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, produksi biji dan kandungan thymoquinone. Hasil penelitian menunjukkan pemupukan N dan P masing-masing nyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi biji jintan hitam. Pemupukan dengan dosis 120 kg N ha-1 dan 180 kg P2O5 ha-1 mampu meningkatkan produksi biji sebesar 477,48 kg ha-1 dengan kadar thymoquinone 0,0625% dan produksi thymoquinone 29,84 kg ha-1.
PENGARUH POLA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN USAHATANI NILAM Rosihan Rosman; Rudi Suryadi; Muhamad Djazuli; Agus Sudiman; NFN Setiawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n1.2016.19-25

Abstract

Upaya meningkatkan produktivitas dan mendukung upaya budidaya menetap diperlukan suatu pola tanam dengan berbagai jenis tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola tanam nilam yang tepat dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug sejak Mei sampai November 2011. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan enam perlakuan dan enam ulangan. Petak utama adalah dua tingkat intensitas cahaya (naungan), yaitu tanpa naungan (intensitas cahaya 100%) dan di bawah tegakan pohon pala (intesitas cahaya sekitar 80%). Anak petak adalah tiga perlakuan pola tanam nilam yaitu nilam monokultur, nilam + jagung, nilam + kacang hijau. Ukuran petak setiap perlakuan 5 m x 6 m. Pengamatan dilakukan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, kadar minyak dan nilai PA serta nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilam dapat dipola tanamkan diantara tanaman pala. Tidak terdapat interaksi antara intesitas cahaya dan pola tanam pada parameter tinggi tanaman nilam, jumlah cabang, kandungan minyak, kadar PA. Tinggi tanaman dan jumlah cabang tertinggi tanaman nilam ditunjukkan oleh intensitas cahaya 80% (94,77 cm dan 12,12 cabang) dan nilam monokultur (80,00 cm dan 13,25 cabang). Interaksi terjadi pada jumlah daun dan bobot segar terna yaitu tertinggi pada perlakuan nilam monokultur intensitas cahaya 100% yaitu 683 helai tanaman-1 dan 764,5 g tanaman-1. Kandungan minyak dan kadar PA semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata, kadar PA semua perlakuan lebih dari 31%. Pendapatan tertinggi pada pola tanam nilam monokultur yaitu sebesar Rp. 15.290.000,- per hektar. Untuk lokasi yang telah ditanam dengan tanaman pala akan memberikan nilai tambah yang cukup besar dari hasil nilam yaitu Rp. 7.159.900,- per hektar.
STRATEGI PENELITIAN BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING PALA / Research Strategy of Cultivation to Improve Productivity and Competitiveness of Nutmeg Rudi Suryadi
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.01-13

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah negara penghasil sekaligus pengekspor pala nomor satu di dunia. Pala merupakan komoditas strategis sub sektor perkebunan karena selain sebagai penghasil devisa negara juga penyerap lapangan kerja dengan melibatkan jumlah petani yang cukup banyak. Permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya produktivitas dan kualitas pala Indonesia dibandingkan negara pengekspor pala lainnya, seperti Grenada dan India, sehingga daya saingnya menjadi rendah. Saat ini telah dilepas 4 varietas unggul pala yang mempunyai potensi produksi antara 5.120 - 7.500 butir/pohon atau 1.000 - 1.500 kg /tahun dengan kadar minyak atsiri pada biji antara 10,80% - 11,85% dan pada fuli antara 13,9% - 20%. Apabila dalam pengembangan luas areal pertanaman pala menggunakan tanaman sambungan dari varietas unggul, maka potensi peningkatan produktivitasnya dapat ditingkatkan dari 472 kg/tahun menjadi 1.500 kg/tahun. Agar potensi produksi dari varietas unggul tersebut muncul, maka perlu didukung dengan teknologi budidaya yang benar dan efisien, seperti penentuan jarak tanam yang optimal, penentuan rekomendasi pupuk yang berimbang dan spesifik lokasi, serta optimasi sex ratio untuk meningkatkan tanaman yang produktif dari 60% menjadi 90% dengan penyambungan in situ. Namun, melihat perkembangan penelitian pala sampai saat ini, informasi hasil penelitian budidaya pala masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu disusun strategi penelitian budidaya untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas hasil yang efisien. Tersedianya teknologi budidaya pala yang applicable dan feasible akan mendorong tercapainya efisiensi peningkatan produktivitas dan kualitas, sehingga selain berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani juga akan meningkatkan daya saing pala Indonesia di pasar internasional. Kata kunci : Myristica fragrans, budidaya, daya saing, efisien,  produktivitas.ABSTRACT Indonesia is the first producer and exporter of nutmeg in the world. Nutmeg is a strategic commodity since it generates foreign exchange as well as providing jobs for number of farmers.  The main problem in nutmeg is low productivity and product quality, hence the competitiveness is lower than other exporting countries such as Grenada and India. Currently, has been released four varieties of nutmeg prefetch queue that have the potential to produce between 5.120 - 7.500 grains/tree or 1.000 -1.500 kg/year with oil content in seeds between 10,80% - 11,85% and the mace between 13,9% - 20%. If the development of area using grafting material of  high-yielding varieties, the potential increase in productivity can be increased from 472 kg/year to 1.500 kg/year. In order for the potential production of high-yielding varieties appear, it needs to be supported with cultivation technology properly and efficiently, such as determining the optimal spacing, determination fertilizer recommendations impartial and specific locations, and optimization of sex ratio for increasing productive plant from 60% to 90 %  with graftign in situ. However, information related to research cultivation on nutmeg is very limited.  Therefore, it is important to develop research strategies of cultivation to support the improvement of productivity and product quality of nutmeg efficiently. The availability of cultivation  technology applicable and feasible, the efforts to increase the productivity and quality of nutmeg be achieved efficiently, so that in addition to impact on farmers' income increase of nutmeg will also improve the competitiveness of Indonesian nutmeg in the international market. Keywords: Myristica fragrans, cultivation, competiti-veness, efficient, quality, productivity.
TEKNOLOGI PENYAMBUNGAN (GRAFTING) MENDUKUNG PENGEMBANGAN, PEREMAJAAN DAN REHABILITASI PERTANAMAN JAMBU METE / Grafting Technology for Support Extensification, Replanting, and Rehabilitation of Cashew Plantation Rudi Suryadi
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.85-100

Abstract

Initially cashew cultivation was aimed at marginal land conservation. A tight spacing (3 m x 3 m) so that the crown can cover the ground as quickly as possible to prevent soil erosion during rain and deciduous cashew leaves will add soil organic matter. Therefore aspects of plant productivity have not been a concern. As the price of cashew nuts tends to increase every year. This can encourage farmers to try cashew crops more seriously. At present, cashew cultivation is not only an effort to conserve marginal land, but also as a source of income for farmers, especially in Eastern Indonesia (KTI). Until 2016, Indonesia's cashew area had reached 514,491 ha with production of 137,094 tons. However, the level of productivity is considered still low, namely 430 kg logs/ha/year, far below India and Nigeria in the range of 900-2,286 kg logs/ha/year. Some factors that cause low productivity of Indonesian cashew are (1) the quality of plant material used, (2) disruption of pests and diseases, (3) maintenance of plants, and (4) the number of old plants (> 30 years). For this reason, efforts need to be made to increase the productivity of cashew, by implementing grafting technology in the extensification, replanting and rehabilitation of cashew. Research related to the grafting has been done quite a lot and produced, both grafting in nurseries and directly on the field (top working). The production potential of 9 superior varieties released ranged from 5.97 - 37.44 kg logs/trees/year or an average of 16.70 kg logs/trees/year. If the extensification, replanting and rehabilitation activities apply the grafting technology using the stem from superior varieties, it will be able to increase the productivity of Indonesian cashew to 1,670 kg logs/ha/year or increase by 300% from current productivity. AbstrakAwalnya penanaman jambu mete bertujuan untuk konservasi lahan marjinal. Jarak tanam rapat (3 m x 3 m) agar tajuk dapat secepat mungkin menutup permukaan tanah untuk mencegah erosi permukaan tanah saat hujan dan daun jambu mete yang gugur akan menambah bahan organik tanah. Oleh sebab itu aspek produktivitas tanaman belum menjadi perhatian. Seiring perkembangan harga kacang mete cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut mampu mendorong petani untuk mengusahakan tanaman jambu mete lebih serius. Saat ini penanaman jambu mete tidak hanya sebagai usaha konservasi lahan marjinal, namun menjadi sumber pendapatan petani, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sampai 2016, luas areal mete Indonesia telah mencapai 514.491 ha dengan produksi 137.094 ton. Namun, tingkat produktivitas dianggap masih rendah yaitu 430 kg gelondong/ha/tahun, jauh dibawah India dan Nigeria pada kisaran 900-2.286 kg gelondong/ha/tahun. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas jambu mete Indonesia yaitu (1) mutu bahan tanaman yang digunakan, (2) gangguan hama dan penyakit, (3) pemeliharaan tanaman, dan (4) banyaknya tanaman tua (>30 tahun). Untuk itu perlu ditempuh upaya meningkatkan produktivitas jambu mete, dengan menerapkan teknologi penyambungan pada kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi pertanaman jambu mete. Penelitian terkait penyambungan sudah cukup banyak dilakukan dan dihasilkan, baik penyambungan di pembibitan maupun langsung di lapang (top working). Potensi produksi dari 9 varietas unggul yang dilepas berkisar antara 5,97- 37,44 kg gelondong/pohon/tahun atau rata-rata 16,70 kg gelondong/pohon/tahun. Apabila kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi menerapkan teknologi penyambungan menggunakan batang atas dari varietas unggul, akan mampu meningkatkan produktivitas jambu mete Indonesia menjadi 1.670 kg gelondong/ha/tahun atau meningkat 300 % dari produktivitas saat ini. 
PENGARUH TOPPING, JUMLAH DAUN, DAN WAKTU PENYAMBUNGAN TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU MENTE DI LAPANGAN ROBBER ZAUBIN; RUDI SURYADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n2.2002.55-60

Abstract

Rendahnya produktivitas perkebunan jambu mente di Indonesia, yaitu rata-rata hanya 350 kg gclondongha, disebabkan antara lain karena pohon- pohonnya berasal dari bibit (seedling) yang mutunya kurang baik. Untuk meningkatkan potensi produksinya, pertanaman jambu mente yang ada sebaiknya disambung dengan batang atas (entres) unggul.Teknik penyam- bungan dirumah atap sudah tersedia dengan hasil 90% - 95% sambungan hidup, sedangkan untuk penyambungan di lapangan baru dilakukan dengan metode sambung samping dengan keberhasilan 40%. Suatu penelitian telah dilakukan di Instalasi Penelitian Cikampek mulai Januari 2000 sampai dengan Januai 2001, dengan tujuan untuk menguji perlakuan topping, jumlah daun batang bawah dan waktu penyambungan yang terbaik untuk meningkatkan keberhasilan penyambungan jambu mente di lapangan Rancangannya adalah petak tcrpisah dengan 2 ulangan dan 32 sambungan/ perlakuan. Perlakuan yang diuji adalah (1) lopping (pembuangan pucuk batang bawah), sebagai petak utama, terdii atas (al) tanpa topping, dan (a2) topping; (2) jumlah daun pada batang bawah dan waktu penyambungan, sebagai anak petak, terdiri atas : (bl) 2 daun, disambungpukul 08.00-11.00, (b2) 2 daun, disambung pukul 1 1.00-13 00, (b3) 2 daun, disambung pukul 13.00-15.00, (M) 4 daun, disambung pukul 08.00-11.00, (b5) 4 daun, disambung pukul 11.00-13.00, (b6) 4 daun, disambung, pukul 13.00-15.00. Topping dilakukan 7 hai sebelum penyambungan. Sebagai batang bawah digunakan tunas-tunas yang tumbuh dai pangkal batang mente jenis Pecangaan yang ditebang pada tinggi I m. Batang atas diambil dai pohon unggul jenis Balakrisnan-02. Parameter yang diamati adalah jumlah sambungan yang hidup, pertumbuhan tunas, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang nyata dari perlakuan terhadap semua parameter. Interaksi terbaik diperoleh pada topping dengan 4 helai daun pada batang bawah dan waktu penyambungan pukul 08.00 - 11.00, dengan jumlah sambungan hidup, pertumbuhan tunas dan jumlah daun tetinggi, masing-masing 86.36% ; 27 cm ; dan 14 daun, sedangkan hasil terendah ditunjukkan oleh interaksi tanpa topping dengan 2 helai daun pada batang bawah dan waktu penyambungan pukul 1 3 00-15.00, dengan 10% sambungan hidup, petumbuhan tunas 12 cm, dan 5 helai daun.Kata kunci: Anacardium occidentale L, topping, teknik penyambungan, produktivitas ABSTRACTEffect of topping, number of leaves and time of grafting on the success of cashew grafting at ield conditionsThe low productivity of cashew plantation in Indonesia, average 350 kg pods/ha, is among others caused by low quality of the cashew plants developed from seedlings. To increase the productivity, the existing trees should be grated with scions taken from high yielding vaieties. The grating technique of cashew at lath-house conditions is available with a success of 90-95%, however, grating technique for ield conditions using (he side grat succeded only 40%. The experiment was conducted at Cikampek Research Installation - Balittro, from January 2000 to January 2001, lo studs the efect of topping, number of leaves on rootstock, and the lime of grating on the success of cashew grating at ield conditions. The design was a split plot, with 2 replicates and 32 grats/treatment. The treatments were (1) topping of the rootstock, as the main plot, consisted of (al) without topping, (a2) topping, and (2) number of leaves on the rootstock and period of grating, as the subplot, consisted of (bl) 2 leaves at the rootstock/grated at 8.00 - 1 1.00, (b2) 2 leaves at the rootstock/graded at 11.00-13.00, (b3) 2 leaves al the rootstock/gratcd at 13.00-15.00, (b4) 4 leaves at the rootstock/gratcd at 08.00- 11.00, (b5) 4 leaves at the rootstock/grafted at 11.00-13.00, (b6) 4 leaves at the rootstock/gratcd at 13.00-15.00. Topping was conducted 7 days before grating Shoots grown from the trunk of the Pecangaan type, coppiced at I m height, were used as the rootstock Scions were taken from high yielding vaiety Balakisnan 02 type. Parameters assessed were number of 'lakes" and growth of scion, consisted of length of scion and number of leaves. Results of the expeiment showed that there were significant interaction of the treatments on all of the parameters. The best interaction was shown by topping with 4 leaves at the rootstock and grated at 8.00-11.00 which resulted in a 86.3% of "takes", 27 cm length of scion with 14 leaves, while the lowest results were shown by without topping with 2 leaves at the rootstock and grated at 13.00- 15.00 with 10% of "takes". 12 cm lengOi of scion with 5 leaves.Key words Anacardium occidentale L., grafting technique, topping, productivity
PENINGKATAN KEBERHASILAN SAMBUNGAN TOP-WORKING JAMBU METE (Annacardium occidentale L.) DENGAN APLIKASI ASAM INDOL BUTIRAT / Improve Grafting Success of Top Working on Cashew (Annacardium occidentale L.) by Application of Indole Butyric Acid (IBA) Ireng Darwati; Rudi Suryadi; M. Syakir
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.83-89

Abstract

Cashew (Annacardium occidentale L.) productivity in Indonesia is still low compared with other cashew producing countries, may be the use of low genetic quality of plant material. On of the efforts to improve the productivity is by using high quality genetic materials, which may be done by implementation of top-working technology. Top-working technology may be used to replace existing plants in the field with superior varieties rapidly through grafting method, without having to uproot the existing plants. Top-working on cashew nut crop is still not much information and the success rate is still relatively low when compared to fruit crops. Information on top-working in cashew is still scarce and with little success. Therefore, it is necessary to study the application of IBA to increase grafting success of top-working on cashew. The study was conducted at Cikampek Experimental Station (ES) from January to June 2016. The rootstock is 7 years old, the varieties used for the scion and rootstock are B02. Cashew tree trunks were cut about 1.2 - 1.5 m above ground level during rainy season. The scion used has a length of ± 15 cm and a diameter of 5 - 7 mm with the dormant bud. The design used was a randomized, single factor, with seven replications. The treatments tested were concentrations of IBA (0, 300, 600, and 900 ppm). The parameters measured were the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, khlorophyl, and field determination of compatibility constant (FCC). The results showed that 600 ppm IBA application significantly increased the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, and the highest FCC value (87.50%, 12.08 cm, leaf 11.40, and 13.84)Keywords: Annacardium occidentale L., auxin, productivity, percentage of grafting success, top-working AbstrakProduktivitas jambu mete (Annacardium occidentale L.) di Indonesia masih rendah yang disebabkan oleh penggunaan bahan tanaman dari biji dengan mutu genetik yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah penerapan teknologi top-working yaitu teknologi menggantikan tanaman tidak unggul di lapang dengan varietas unggul secara cepat melalui cara penyambungan, tanpa harus membongkar tanaman. Tujuan penelitian adalah mendapatkan konsentrasi IBA yang tepat untuk meningkatkan persentase keberhasilan dan pertumbuhan sambungan top working pada tanaman jambu mete. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Cikampek mulai bulan Januari sampai Juni 2016. Varietas yang digunakan untuk batang atas (entres) dan batang bawah yaitu B02, dan batang bawah berumur 7 tahun. Pada musim hujan dilakukan pemotongan batang pohon jambu mete setinggi 1,2 – 1,5 m di atas permukaan tanah. Batang atas yang digunakan berukuran panjang ± 15 cm dan diameter 5 – 7 mm dengan mata tunas yang masih tidur (dorman). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan empat perlakuan dan tujuh ulangan. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi IBA (0, 300, 600, dan 900 ppm). Peubah yang diamati adalah persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, kandungan klorofil, dan kompatibilitas berdasarkan nilai konstan field determination of compatibility constant (FCC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi IBA 600 ppm dinilai cukup efisien dan efekftif dalam menghasilkan persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, dan kandungan klorofil.Kata kunci: Annacardium occidentale L., auksin, produktivitas, persen-tase keberhasilan sambungan, top-working.
PENGARUH TOPPING, JUMLAH DAUN, DAN WAKTU PENYAMBUNGAN TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU MENTE DI LAPANGAN ROBBER ZAUBIN; RUDI SURYADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n2.2002.55-60

Abstract

Rendahnya produktivitas perkebunan jambu mente di Indonesia, yaitu rata-rata hanya 350 kg gclondongha, disebabkan antara lain karena pohon- pohonnya berasal dari bibit (seedling) yang mutunya kurang baik. Untuk meningkatkan potensi produksinya, pertanaman jambu mente yang ada sebaiknya disambung dengan batang atas (entres) unggul.Teknik penyam- bungan dirumah atap sudah tersedia dengan hasil 90% - 95% sambungan hidup, sedangkan untuk penyambungan di lapangan baru dilakukan dengan metode sambung samping dengan keberhasilan 40%. Suatu penelitian telah dilakukan di Instalasi Penelitian Cikampek mulai Januari 2000 sampai dengan Januai 2001, dengan tujuan untuk menguji perlakuan topping, jumlah daun batang bawah dan waktu penyambungan yang terbaik untuk meningkatkan keberhasilan penyambungan jambu mente di lapangan Rancangannya adalah petak tcrpisah dengan 2 ulangan dan 32 sambungan/ perlakuan. Perlakuan yang diuji adalah (1) lopping (pembuangan pucuk batang bawah), sebagai petak utama, terdii atas (al) tanpa topping, dan (a2) topping; (2) jumlah daun pada batang bawah dan waktu penyambungan, sebagai anak petak, terdiri atas : (bl) 2 daun, disambungpukul 08.00-11.00, (b2) 2 daun, disambung pukul 1 1.00-13 00, (b3) 2 daun, disambung pukul 13.00-15.00, (M) 4 daun, disambung pukul 08.00-11.00, (b5) 4 daun, disambung pukul 11.00-13.00, (b6) 4 daun, disambung, pukul 13.00-15.00. Topping dilakukan 7 hai sebelum penyambungan. Sebagai batang bawah digunakan tunas-tunas yang tumbuh dai pangkal batang mente jenis Pecangaan yang ditebang pada tinggi I m. Batang atas diambil dai pohon unggul jenis Balakrisnan-02. Parameter yang diamati adalah jumlah sambungan yang hidup, pertumbuhan tunas, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang nyata dari perlakuan terhadap semua parameter. Interaksi terbaik diperoleh pada topping dengan 4 helai daun pada batang bawah dan waktu penyambungan pukul 08.00 - 11.00, dengan jumlah sambungan hidup, pertumbuhan tunas dan jumlah daun tetinggi, masing-masing 86.36% ; 27 cm ; dan 14 daun, sedangkan hasil terendah ditunjukkan oleh interaksi tanpa topping dengan 2 helai daun pada batang bawah dan waktu penyambungan pukul 1 3 00-15.00, dengan 10% sambungan hidup, petumbuhan tunas 12 cm, dan 5 helai daun.Kata kunci: Anacardium occidentale L, topping, teknik penyambungan, produktivitas ABSTRACTEffect of topping, number of leaves and time of grafting on the success of cashew grafting at ield conditionsThe low productivity of cashew plantation in Indonesia, average 350 kg pods/ha, is among others caused by low quality of the cashew plants developed from seedlings. To increase the productivity, the existing trees should be grated with scions taken from high yielding vaieties. The grating technique of cashew at lath-house conditions is available with a success of 90-95%, however, grating technique for ield conditions using (he side grat succeded only 40%. The experiment was conducted at Cikampek Research Installation - Balittro, from January 2000 to January 2001, lo studs the efect of topping, number of leaves on rootstock, and the lime of grating on the success of cashew grating at ield conditions. The design was a split plot, with 2 replicates and 32 grats/treatment. The treatments were (1) topping of the rootstock, as the main plot, consisted of (al) without topping, (a2) topping, and (2) number of leaves on the rootstock and period of grating, as the subplot, consisted of (bl) 2 leaves at the rootstock/grated at 8.00 - 1 1.00, (b2) 2 leaves at the rootstock/graded at 11.00-13.00, (b3) 2 leaves al the rootstock/gratcd at 13.00-15.00, (b4) 4 leaves at the rootstock/gratcd at 08.00- 11.00, (b5) 4 leaves at the rootstock/grafted at 11.00-13.00, (b6) 4 leaves at the rootstock/gratcd at 13.00-15.00. Topping was conducted 7 days before grating Shoots grown from the trunk of the Pecangaan type, coppiced at I m height, were used as the rootstock Scions were taken from high yielding vaiety Balakisnan 02 type. Parameters assessed were number of 'lakes" and growth of scion, consisted of length of scion and number of leaves. Results of the expeiment showed that there were significant interaction of the treatments on all of the parameters. The best interaction was shown by topping with 4 leaves at the rootstock and grated at 8.00-11.00 which resulted in a 86.3% of "takes", 27 cm length of scion with 14 leaves, while the lowest results were shown by without topping with 2 leaves at the rootstock and grated at 13.00- 15.00 with 10% of "takes". 12 cm lengOi of scion with 5 leaves.Key words Anacardium occidentale L., grafting technique, topping, productivity
PENGARUH POLA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN USAHATANI NILAM Rosihan Rosman; Rudi Suryadi; Muhamad Djazuli; Agus Sudiman; NFN Setiawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n1.2016.19-25

Abstract

Upaya meningkatkan produktivitas dan mendukung upaya budidaya menetap diperlukan suatu pola tanam dengan berbagai jenis tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola tanam nilam yang tepat dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug sejak Mei sampai November 2011. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan enam perlakuan dan enam ulangan. Petak utama adalah dua tingkat intensitas cahaya (naungan), yaitu tanpa naungan (intensitas cahaya 100%) dan di bawah tegakan pohon pala (intesitas cahaya sekitar 80%). Anak petak adalah tiga perlakuan pola tanam nilam yaitu nilam monokultur, nilam + jagung, nilam + kacang hijau. Ukuran petak setiap perlakuan 5 m x 6 m. Pengamatan dilakukan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, kadar minyak dan nilai PA serta nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilam dapat dipola tanamkan diantara tanaman pala. Tidak terdapat interaksi antara intesitas cahaya dan pola tanam pada parameter tinggi tanaman nilam, jumlah cabang, kandungan minyak, kadar PA. Tinggi tanaman dan jumlah cabang tertinggi tanaman nilam ditunjukkan oleh intensitas cahaya 80% (94,77 cm dan 12,12 cabang) dan nilam monokultur (80,00 cm dan 13,25 cabang). Interaksi terjadi pada jumlah daun dan bobot segar terna yaitu tertinggi pada perlakuan nilam monokultur intensitas cahaya 100% yaitu 683 helai tanaman-1 dan 764,5 g tanaman-1. Kandungan minyak dan kadar PA semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata, kadar PA semua perlakuan lebih dari 31%. Pendapatan tertinggi pada pola tanam nilam monokultur yaitu sebesar Rp. 15.290.000,- per hektar. Untuk lokasi yang telah ditanam dengan tanaman pala akan memberikan nilai tambah yang cukup besar dari hasil nilam yaitu Rp. 7.159.900,- per hektar.
PEMUPUKAN NITROGEN DAN FOSFOR UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN, PRODUKSI BIJI DAN KANDUNGAN THYMOQUINONE JINTAN HITAM Rudi Suryadi; Munif Ghulamahdi; Ani Kurniawati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 28, No 1 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v28n1.2017.15-28

Abstract

Nigella sativa L. yang dikenal dengan jintan hitam merupakan tanaman asli daerah Asia Barat dan kawasan Mediterania yang beriklim sub tropis. Bijinya yang berkhasiat sebagai obat dan rempah sudah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu terutama oleh umat Muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan. Penelitian tanaman jintan hitam di daerah tropis sampai saat ini masih terbatas. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi biji dan kandungan bioaktif thymoquinone tanaman jintan hitam. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Manoko, Lembang menggunakan benih berasal dari Arab Saudi. Rancangan yang digunakan adalah petak terbagi, dengan petak utama dua taraf dosis pupuk N (0 dan 120 kg N ha-1) dan anak petak empat taraf dosis pupuk P (0, 60, 120, dan 180 kg P2O5 ha-1) diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, produksi biji dan kandungan thymoquinone. Hasil penelitian menunjukkan pemupukan N dan P masing-masing nyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi biji jintan hitam. Pemupukan dengan dosis 120 kg N ha-1 dan 180 kg P2O5 ha-1 mampu meningkatkan produksi biji sebesar 477,48 kg ha-1 dengan kadar thymoquinone 0,0625% dan produksi thymoquinone 29,84 kg ha-1.