Mochamad Hadi
Laboratorium Ekologi Dan Biosistematika, Departemen Biologi, Fakultas Sains Dan Matematika Universitas Diponegoro, Semarang 50275, Indonesia

Published : 41 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

KERAGAMAN SERANGGA OPT DAN MUSUH ALAMI DI LAHAN KACANG HIJAU SEBELUM DAN PASCA PANEN Dwiyani Anjar Martitik; Mochamad Hadi; Udi Tarwotjo
Jurnal Akademika Biologi Vol. 7 No.2 April 2018
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangga dapat berperan sebagai OPT ataupun musuh alami di suatu ekosistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis serangga OPT dan musuh alami dominan, keragaman serta pengaruh faktor fisik lingkungan terhadap keragaman serangga OPT dan musuh alami. Pengambilan sampel dilakukan dua kali yaitu pada masa sebelum dan pasca panen. Setiap pengambilan sampel menggunakan dua metode, yaitu jaring ayun dan metode light trap. Hasil penelitian menunjukkan jumlah individu dan jumlah jenis yang didapatkan sebelum panen lebih tinggi dibandingkan pasca panen. OPT yang dominan, yaitu famili Chrysomelidae, Curculionidae, Sciaridae, Pentatomidae, Cicadellidae, dan Pyralidae. Sedangkan musuh alami yang dominan yaitu famili Staphylinidae, Coccinelidae, Carabidae, Miridae, Aelothripidae, Tachinidae, Formicidae, Salticidae dan Thomisidae. Keragaman jenis OPT dan musuh alami termasuk dalam kategori sedang. Indeks kemerataan OPT sebelum dan pasca panen serta musuh alami sebelum panen termasuk dalam kategori merata sedangkan musuh alami pasca panen termasuk dalam kategori tidak merata. Indeks kesamaan antara kedua musim pengambilan sampel menunjukkan tingkat kesamaan yang bervariasi. Faktor fisik lingkungan kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas cahaya matahari berpengaruh terhadap aktivitas OPT maupun musuh alami di lahan penelitian.
Perbandingan Keanekaragaman dan Kelimpahan Insekta pada Sawah Organik dan Sawah Semi Organik di Sekitar Danau Rawa Pening, Ambarawa Widya Zeki Ravelia; Jafron Wasiq Hidayat; Mochamad Hadi
Jurnal Akademika Biologi Vol. 10 No. 1 Januari 2021
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.7 KB)

Abstract

Serangga merupakan biota asosiasi paling banyak di habitat persawahan, dapat berperan sebagai hama, predator ataupun musuh alami di suatu ekosistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman , dominan, kelimpahan dan pengaruh faktor fisik lingkungan terhadap keragaman serangga pada sawah organik dan sawah semi organik. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali. Setiap pengambilan sampel menggunakan metode, yaitu sweep net dan di analisi dengan indeks keanekaragaman jenis Shannon Wiener dan indeks kelimpahan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah individu dan jumlah jenis yang didapatkan pada sawah organik lebih tinggi dibandingkan sawah semi organik. Serangga yang dominan ditemukan, yaitu Archimantis latistyla, Paranaemia vittigera, Oxyus chinensis, Leptosia acuta Keragaman jenis serangga pada sawah organik dan sawah semi organik termasuk dalam kategori sedang yaitu pada sawah organic 2,046 sedangkan pada sawah semi organic 2,047. Indeks kemerataan serangga sawah organik yaitu o,79 dan sawah semi organik 0,93 termasuk dalam kategori merata Indeks kesamaan antara kedua lahan pengambilan sampel menunjukkan tingkat kesamaan yang berbeda. Faktor fisik lingkungan seperti kelembaban udara 70%-85% suhu udara 22oC kecepatan angin 10m/s dan intensitas cahaya matahai 4 dapat berpengaruh terhadap aktivitas serangga di lahan penelitian.
Keanekaraaman Burung Daerah Terbuka Dan Tertutup Hutan Kota Tinjomoyo Dengan Hutan Kota Universitas Diponegoro Semarang Muhammad Abu Naim; Mochamad Hadi; Karyadi Baskoro
Jurnal Akademika Biologi Vol. 8 No. 2 Juli 2019
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.273 KB)

Abstract

Hutan Kota merupakan salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memiliki luas minimal 0,25 ha pada wilayah perkotaan dengan vegetasi pohon yang dominan. Berdasarkan peran dan fungsinya, kawasan hutan kota dapat dikembangkan sebagai penyangga wilayah resapan air tanah, rekreasi alam, pelestarian plasma nutfah, sangtuari dan habitat satwa liar. Hutan Kota Tinjomoyo (57,5 ha) dan Hutan Kota Universitas Diponegoro (26 ha) merupakan dua hutan kota Pemerintah Kota Semarang yang memiliki wilayah paling luas. Burung merupakan salah satu vertebrata yang peka terhadap lingkungan, baik faktor fisik, kimia maupun biologi. Keberadaan burung di hutan kota berperan dalam memperkuat fungsi ekologis kota, memencarkan biji, polinator, pengendali hama dan menambah nilai estetika kota. Tujuan penelitian yaitu untuk mengkaji keanekaragaman burung yang ada di hutan kota. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019 dengan melakukan pengamatan dan pendataan langsung pada daerah terbuka dan tertutup Hutan Kota Tinjomoyo serta Hutan Kota Universitas Diponegoro menggunakan metode point count. Analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan indeks kelimpahan jenis, indeks keanekaragaman jenis, indeks kemerataan jenis dan uji t-Hutcheson. Dijumpai 48 jenis burung, 10 jenis masuk kategori dominan dengan 2 jenis burung dominan di semua lokasi. Indeks keanekaragaman jenis sedang dengan nilai indeks keanekaragaman 2-2,73 dan persebaran jenis merata dengan indeks kemerataan 0,55-0,76. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada daerah terbuka dan tertutup antara Hutan Kota Tinjomoyo dengan Hutan Kota Universitas Diponegoro. Hutan Kota Universitas Diponegoro pada daerah terbuka dengan daerah tertutup berbeda signifikan.
Keragaman Anggota Lepidoptera di Kawasan Agrowisata Jollong Kabupaten Pati Mochamad Hadi; Muhammad Abu Naim
Jurnal Akademika Biologi Vol. 9 No. 2 Juli 2020
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.827 KB)

Abstract

Agrowisata Jollong terletak di Desa Jollong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Perkebunan kopi menjadi komoditas terbesar di lokasi Agrowisata Jollong. Adanya kupu-kupu tentu berpengaruh positif secara langsung maupun tidak langsung terhadap produktivitas perkebunan karena peran kupu-kupu sebagai pollinator. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman anggota Lepidoptera di kawasan Agrowisata Jollong Kabupaten Pati. Data diambil menggunakan metode  Point Count. Data dianalisis menggunakan indeks kelimpahan, indeks keragaman dan indeks kemerataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat  216 individu dari 34 spesies dan 5 famili. Indeks keragaman kupu-kupu di Agrowisata Jollong dikategorikan sedang dengan kisaran nilai H’ 2,53 - 2.77. Indeks kemerataan termasuk tinggi dan merata, dengan kisaran nilai e 0.82 - 0.88. Terdapat 5 spesies dominan tetapi hanya Eurema blanda dan Leptosia nina yang dominan di semua lokasi yang diteliti. Spesies dominan di sekitar pabrik adalah Chilades pandava, Eurema blanda, Papilio memnon dan Leptopsia nina.  Spesies dominan di Kebun Kopi adalah Eurema blanda, Eurema hecabe dan Leptosia nina. Spesies dominan di sekitar air terjun adalah Eurema blanda dan Leptosia nina. Spesies dominan di sekitar sungai adalah Eurema blanda dan Leptosia nina. Dari semua spesies yang ditemukan terdapat 2 spesies yang dilindungi menurut PP No.7 Tahun 1999 yaitu Troides helena dan Troides amphrysus. Terdapat satu spesies yaitu Mycalesis janardana memiliki status Least Concern IUCN (berisiko rendah) sedangkan yang lain berstatus NE (Not Evaluated). 
Distribusi spasial mikroartropoda tanah berdasarkan jarak yang berbeda dari Pantai Utara Kota Semarang, Jawa Tengah Anggi Aprilia Budi Prasetiani; Rully Rahadian; Mochamad Hadi
Jurnal Biologi Tropika Vol. 2, No. 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.126 KB) | DOI: 10.14710/jbt.2.1.1-7

Abstract

Soil microarthropods are soil mesofauna which has body size 0.02 - 0.17 mm. Distribution of soil fauna of an area depends on the condition of environment  and the characteristic of biologic. The objective of this research is to determine the distribution of spatial and structure community of soil microarthropods in several locations that have different distance from the northern coast of Semarang City. The research was conducted at December 2017 until June 2018. Sampling was conducted at three different locations, that is area around of Tawang Station, the Undip Pleburan Campus area, and the Cemoro Songo Park area. Samples were extracted and identified at the Ecology and Biocytic Laboratory, and analysis of soil and C-organic material at the Soil Mechanics Laboratory and Environmental Laboratory. The results of identification found 53 species consist of 14 ordo and 11 families. The distribution of all microarthropods  are almost included in clumped distributions. The abundance of microarthropods is dominated by Acari and Collembola. The evenness are included in the highest evenness categories with the highest location with a value of 0.93. The similarity of taxa are included in the lowest categories with a value of 10.26% -19.35%.
Estimasi populasi dan vegetasi habitat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus E. Geoffrey 1812) di Gunung Ungaran, Jawa Tengah Fitri Nur Indah Sari; Karyadi Baskoro; Mochamad Hadi
Jurnal Biologi Tropika Vol. 3, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbt.3.2.47-56

Abstract

Javanese Lutung is an endemic Indonesian primate found in Java and Bali. According to the IUCN, these primates are designated as vulnerable species. The purpose of this study was to determine population data and vegetation data of Javanese Lutung habitat. The study was conducted from July to August 2019 at several Mount Ungaran locations, namely Gonoharjo, Semirang, Kalisidi, Medini, Promasan, Jimbaran and Gedongsongo with the line transect method measuring 1 km and repetition three times in each location. Javanese Lutung individual density calculated based on the equation of the Subcommittee on Conservation of Natural Population ranged from 0.94 to 10.3 Ind / km² with an estimated population ranging from 1 to 26 individuals. Javanese Lutung distributed from the height of 565-1421 masl with a group distribution pattern. Found 10 species of tree vegetation in the area of Mount Ungaran. Which is used as a place to feed and break of Javanese Lutung, namely Buluh, Pukuran, Pine, and Puspa trees.  
Kondisi tanah sebelum dan sesudah ditambang di area galian pasir dan batu Rowosari Semarang berdasarkan struktur komunitas mikroartropoda dan indeks QBS-ar Rully Rahadian; Mochamad Hadi; Udi Tarwotjo; Wiatri Larasati; Noora Lailatul Husna
NICHE Journal of Tropical Biology Vol. 4, No. 2, Year 2021
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sciences and Mathematics, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/niche.4.2.40-45

Abstract

Pemanfaatan khamir inulinolitik indigenous ampas tebu (bagasse) sebagai penghasil biokatalis inulinase dalam produksi gula rendah kalori Moch Ali Utomo; Tia Erfianti; Dewi Ayu Maryati; Romario Dion; Pragati Wira Anggini; Wijanarka Wijanarka; Mochamad Hadi
NICHE Journal of Tropical Biology Vol. 4, No. 2, Year 2021
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sciences and Mathematics, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/niche.4.2.56-63

Abstract

Kelimpahan dan Keanekaragaman Serangga OPT Nokturnal beserta Musuh Alaminya pada berbagai Macam Tanaman Sayur di Lahan Organik, Desa Batur, Kabupaten Semarang Faiz, Mohamad; Hadi, Mochamad; Rahadian, Rully
NICHE Journal of Tropical Biology Vol 7, No 1 (2024): NICHE Journal of Tropical Biology Volume 7, Number 1, May 2024
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sciences and Mathematics, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/niche.7.1.1-10

Abstract

Sustainable agriculture strategy: analysis of macroarthropods diversity in cabbage farming systems Nasik, Isman; Tarwotjo, Udi; Hadi, Mochamad; Mubarok, Rizal Husni
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol 27, No 2: 2025: Bioma: Berkala Ilmiah Biologi Volume 27 Issue 2 Year 2025 (December 2025) (In Pr
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/bioma.2025.69591

Abstract

Cabbage is a widely consumed vegetable in Indonesia, but the role of soil macroarthropods in cabbage cultivation is often overlooked by farmers. This study aimed to analyze the structure of soil macroarthropod communities and the abiotic factors influencing them in monoculture and polyculture cabbage fields. The research was conducted in Batur Village, Getasan, Central Java, on three types of land: cabbage monoculture, cabbage polyculture, and forest as a control. Samples were collected using the pitfall trap method and identified at the Ecology and Biosystematics Laboratory. The highest diversity index was found in polyculture fields (H′ = 1.02), followed by monoculture (H′ = 0.85) and forest (H′ = 0.19). The evenness index was also highest in polyculture fields (E = 0.69). The Formicidae family dominated all three land types, with a community similarity index of 44% between monoculture and polyculture fields. Statistical tests showed significant differences between the forest and agricultural lands (p < 0.05), but no significant difference between monoculture and polyculture systems (p > 0.05). Correlation analysis revealed that soil moisture had a strong positive correlation with diversity and evenness, while temperature showed a negative correlation with those indices. These findings indicate that although polyculture tends to support higher diversity, the difference was not statistically significant. This information is expected to encourage more adaptive and sustainable farming practices while maintaining biodiversity in agricultural lands.