Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Parental preparation and management to cope with earthquake disaster Septi Mayang Sarry; Mafaza Mafaza; Nila Anggreiny
Jurnal Psikologi Tabularasa Vol. 19 No. 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jpt.v19i2.12820

Abstract

ABSTRACTElementary school-age children who live in earthquake-prone areas must have disaster preparedness skills. However, they have limited understanding on disaster risks and are unengaged to protect themselves from harm. Parents have a significant role to prepare their children to overcome this situation. Descriptive quantitative method used in this study to describe disaster preparation and management of parents with school-age children. Three hundred and four parents participated in this study (81 fathers and 223 mothers) and completed the research questionnaire of parental disaster preparedness and management by Kawasaki et al (2019). The data was collected from eleven districts in Padang using cluster random sampling technique. The results showed that parents’ disaster preparations are more focused on ensuring the safety of children (68.1%). Moreover, parents perceive that school facilities and infrastructure to deal with earthquakes are inadequate (47.7%). In terms of earthquake disaster management, parents are more concerned about ensuring their children’s physical health (97%) than mental health (79.6%). Meanwhile, most parents still have difficulty planning post-disaster management related to providing learning facilities (53.6%) and ensuring the continuity of the learning process (48%).ABSTRACTAnak usia sekolah dasar yang tinggal di daerah rawan bencana gempa bumi harus memiliki kemampuan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Akan tetapi, pengetahuan mereka masih terbatas untuk menilai resiko bencana dan kurang mampu untuk bisa menyelamatkan diri terutama saat sedang tidak bersama orang tua, seperti di sekolah. Oleh karena itu, orang tua perlu sedini mungkin mempersiapkan anak agar dapat mengurangi resiko bencana pada diri mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran persiapan dan manajemen bencana orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Sebanyak 304 orang tua berpartisipasi dalam penelitian ini (81 ayah dan 223 ibu) mengisi kuesioner yang dikembangkan oleh Kawasaki dkk (2019) mengenai persiapan orang tua dalam menghadapi bencana. Teknik cluster sampling dilakukan untuk mengambil sampel dari 11 kecamatan yang ada di Kota Padang. Persiapan orang tua dalam menghadapi bencana lebih kepada upaya memastikan agar anak bisa menyelamatkan diri (68,1%). Meskipun, persepsi orang tua terhadap sarana dan prasarana sekolah untuk menghadapi gempa bumi dianggap kurang memadai (47,7%). Manajemen bencana yang paling diperhatikan orang tua ketika terjadi bencana gempa bumi yaitu memastikan kesehatan fisik anak (97%) dibandingkan kesehatan mental (79,6%). Saat berada di tempat pengungsian atau masa evakuasi sebagian orang tua merasa kesulitan untuk menyediakan sarana pendidikan dan pembelajaran (53,6%) dan memastikan keberlangsungan proses belajar (48%)
Memupuk Karakter, Memulihkan Perilaku dan Emosi: Implementasi Program BERANI bagi Anak Asuh di Panti Asuhan Ranisa Kautsar Tristi; Septi Mayang Sarry; Ridho Akbar Syafwan; Lulu Fadilah Parma; Febyola Salsabila
Jurnal Abdidas Vol. 7 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v7i1.1295

Abstract

Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah Anak asuh yang tinggal di panti asuhan seringkali menghadapi tantangan kesehatan mental akibat lingkungan pengasuhan yang terbatas. Program BERANI (Bertanggung Jawab, Empati, dan Bernilai Integritas) diimplementasikan untuk mengatasi masalah perilaku dan emosional pada anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pesisir Selatan dengan pemberian edukasi yang menguatkan karakter BERANI pada anak. Kegiatan ini menggunakan desain mix methods yang melibatkan 30 anak asuh. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta instrumen kuantitatif pengetahuan yang diberikan dua kali (pre-test dan post-test). Pengukuran lainnya menggunakan Strenght and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk digunakan untuk mengukur kondisi emosi dan perilaku anak. Pemberian edukasi dilakukan selama 30 jam dalam 7 pertemuan selama periode Juli hingga September 2025. Evaluasi menunjukkan dampak positif yang signifikan dimana proporsi anak pada kategori emosi dan perilaku bermasalah di level “very high” menurun dari 32,1% menjadi 25,5%, sementara kategori “normal” meningkat pesat dari 14,3% menjadi 45%. Dari sisi pengetahuan, materi empati mengalo peningkatan pemahaman tertinggi sebesar 43%. Meskipun terdapat sejumlah tantangan salah satunya dari kurang konsistennya jarak jadwal pelaksanann yang juga dipengaruhi jarak geografis tim pelaksana menuju lokasi, program ini berhasil memperbaiki fungsi psikologis partisipan. Program BERANI efektif dalam meningkatkan kesehatan mental dan pengetahuan tentang karakter positif dari anak asuh. Temuan ini mendorong pentingnya pemenuhan hak kesejahteraan psikologis anak di panti asuhan secara berkelanjutan.