Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Modifikasi Metode Preparasi Pewarnaan Akar untuk Deteksi dan Visualisasi Pembentukan Koloni Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Susan Irmayanti; Inggit Winarni
MANILKARA: Journal of Bioscience Vol 1 No 1 (2022): August
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.497 KB) | DOI: 10.33830/manilkara.v1i1.3166.2022

Abstract

The root staining method was used to detect the presence of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) and to calculate the colonization of the AMF in the roots. Optimal root staining methods not only help in the study of plant-associated mycorrhizae, but also save time and money. Root staining aims to clarify and sharpen the picture of AMF associated with plants on the roots, making it easier to observe with a light microscope. This study aims to obtain an effective (fast, safe, and economical) and flexible method of preparation of root staining so that the visualization of AMF on roots becomes clear and contrasting. The method used in this research is descriptive qualitative which includes the cleanliness of the roots from cell contents, root texture, and color contrast, which consists of three treatments, namely P1 (control) using 10% KOH with 90°C heating and followed by the modified Philips & Hayman staining procedure (1970), P2 using 5% KOH by heating at 90°C followed by the modified Philips & Hayman (1970) procedure using 1% HCl, and P3 using 5% KOH heating at 90°C then stained followed the staining method of Philips & Hayman (1970) which was modified by the use of commercial vinegar as a substitute for HCl. All treatments used Trypan Blue dye. The results showed that the P2 and P3 treatments showed results that were not different from P1, the state of the roots is clean enough thereby detection and visualization of AMF could still be observed properly. The P3 treatment method with heating for 9 minutes can be an alternative method that is effective (fast, safe, economical) and flexible. It faster than common method because it takes 9 minutes for cleaning root cells, relatively safe with the use of commercial vinegar solution to replace HCl solution, and economical because it can reduce the need for KOH material up to 50%.
PEMANFAATAN MULTIMEDIA UNTUK PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA TAMAN KANAK-KANAK ALQUR’AN (TKQ) DARUL ULUM JABON MEKAR, PARUNG, BOGOR Nurmawati, Subekti; Kurniawati, Heny; Winarni, Inggit; Prasetyo, Budi
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 5 No 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v5i2.1060

Abstract

Taman kanak-kanak Alqur’an (TKQ) Darul Ulum Jabon Mekar adalah lembaga pendidikan yang berbasis pada sistem pembelajaran islami. Lembaga pendidikan tersebut telah meluluskan sebanyak 243 siswa/i dengan berbagai prestasi yang membanggakan. Namun demikian kompetensi guru dalam pengajaran sains bagi siswa usia taman kanak-kanak masih dirasa kurang dan sarana maupun prasarana yang belum memadai untuk mendukung pembelajan sains.Untuk itu perlu dilakukan kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat tentang pemberian materi pelatihan dan praktek kepada para guru berkaitan dengan metode pengajaran sains yang tepat bagi anak-anak TKQ Darul Ulum Jabon Mekar. Tujuan kegiatan PkM meliputi a). mengidentifikasi kebutuhan dan menyiapkan materi multimedia untuk pengajaran tentang sains; b). memberikan pelatihan, pendampingan, dan monitoring kepada para guru dalam pengajaran sains melalui pemanfaatan multimedia; dan c). melibatkan siswa dalam proses pengajaran sains sederhana yang disampaikan oleh guru dengan memanfaatkan multimedia. Metode pelaksanaan meliputi: a). persiapan; b). pelatihan; c). pendampingan; d). monitoring; dan e). evaluasi.Seluruh rangkaian kegiatan pelatihan telah dilaksanakan sehingga proses pembelajaran materi sains di ruang kelas berjalan lancar dan normal, terjadi interaksi dua arah antara para guru dan siswa/i yang dapat menciptakan suasana belajar cukup ideal.
Identifikasi dan Karakteristik Morfologi Jamur Makroskopis di Garis Wallace dan Weber Kawasan Hutan Jalur Pendakian Moya Mabuku Kota Ternate Menggunakan Koordinat GPS Dwisatyadini, Mutimanda; Zikriyani, Hikmah; Sulistiana, Susi; Winarni, Inggit; Papuangan, Nurmaya; Nurhasanah, Nurhasanah
Biocaster : Jurnal Kajian Biologi Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Lembaga Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kamandanu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/biocaster.v6i1.768

Abstract

Differences in organic matter content and soil pH can cause different fungal spore growth. Soil type is one of the factors that directly affect the presence of fungi. This research was conducted on the Wallace and Weber lines in Ternate, North Maluku. The research location was chosen because it has endemic fungal species, biodiversity that has not been widely discovered, and unique geographical conditions. Data collection was carried out through direct surveys using exploration methods, sampling with purposive random sampling, and direct collection of fungi based on shape, color, stem length, diameter, and type of substrate where they grow (soil, wood, leaves, and others), along with observations of fungal morphology. Qualitative analysis includes determining the order, family, genus, and scientific name presented in the form of tables and images, as well as descriptions of the characteristics of each species based on the identification results. The diversity index was also calculated. Environmental parameters measured included air temperature, soil moisture, light intensity, and soil pH. The results of the study showed that there were 20 species of fungi in the Moya Mabuku Hiking Trail Forest Area, Central Ternate District, Ternate City, North Maluku, Indonesia, with GPS coordinates of 0.8° North Latitude and 127.3630910° East Longitude. These fungi belong to the Ascomycota and Basidiomycota divisions, with the families Helotiaceae, Strophariaceae, Hygrophoraceae, Auriculariaceae, Omphalotaceae, Tremellaceae, Hypoxylaceae, Phyllotopsidaceae, Polyporaceae, Gardonemataceae, Tricholomataceae, Sarcoscyphaceae, Agaricaceae, Mycenaceae, Psathyrellaceae, and Cortinariaceae. The results of environmental parameter measurements on wood, soil, and coconut shell substrates showed that soil pH ranged from 3.85-6.10; air humidity 77.5-91.5% RH; substrate humidity 36.5-99.9%; Light intensity ranges from 93.5 to 7496 cd; air temperature ranges from 27.7 to 33.9°C; and substrate temperature ranges from 27.4 to 33.9°C. These pH conditions, ranging from 3.85 to 6.15, are considered optimal for supporting the growth of macroscopic fungi.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI JAMUR MAKROSKOPIS DI GARIS WALLACEAE DAN WEBER KAWASAN HUTAN JALUR PENDAKIAN MOYA MABUKU, KOTA TERNATE MENGGUNAKAN KOORDINAT GPS Dwisatyadini, Mutimanda; Hikmah Zikriani; Susi Sulistiana; Inggit Winarni; Nurmaya papuangan; Nurhasanah
Jurnal Metabio Vol. 7 No. 2 (2025): MetaBio : Jurnal Pendidikan (Edisi Elektronik)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Simalungun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/txrsk586

Abstract

Kandungan organik dan pH tanah yang berbeda dapat menyebabkan spora jamur yang berbeda tumbuh, dan jenis tanah merupakan salah satu faktor yang secara langsung dapat memengaruhi keberadaan jamur. Galur Wallacea dan Weber di Ternate, Maluku Utara, akan menjadi subjek penelitian ini. Lokasi penelitian memiliki spesies jamur endemik, keanekaragaman hayati yang belum terpapar, dan lokasi geografis yang unik. Pengumpulan data dilakukan melalui survei langsung, metode eksplorasi pengambilan sampel, purposive random sampling, dan koleksi langsung jamur, seperti bentuk, warna, panjang batang, diameter, dan substrat hidup (tanah, kayu, daun, lainnya), bersama dengan pengamatan morfologi jamur. Analisis kualitatif mencantumkan ordo, famili, genus, dan nama ilmiah, yang disajikan dalam tabel dan gambar, dan menggambarkan karakteristik masing-masing spesies dengan hasil identifikasi. Indeks keanekaragaman digunakan. Faktor lingkungan yang diukur, suhu udara, kelembaban tanah, intensitas cahaya, dan pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 spesies jamur ditemukan di Kawasan Hutan Jalur Pendakian Moya Mabuku, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Indonesia, dengan koordinat GPS pada 0,8° Lintang Utara dan 127,3630910 Bujur Timur. Jamur-jamur tersebut adalah divisi Asycomycota dan Basidiomycota, serta famili Helotiaceae, Strophariaceae, Hygrophoraceae, Auriculariceae, Omphalotaceae, Tremellaceae, Hypoxylaceae, Phyllotopsidaceae, Poliporaceae, Gardonemataceae, Tricholomataceae, Sarcoscyphaceae, Agaricaceae, Mycenaceae, Psathyrellaceae, dan Cortinariaceae. Hasil uji parameter substrat kayu, tanah, dan tempurung kelapa menunjukkan pH 3,85-6,10. dan memiliki kelembapan udara 77,5-91,5%RH, kelembapan substrat 36,5-99,9%, intensitas cahaya 93,5-7496 Cd, suhu udara 27,7-33,9 oC, suhu substrat 27,4-33,9 °C, dan pH 3,85-6,15 dapat optimal untuk pertumbuhan jamur makroskopis.
Peningkatan Literasi Digital Ibu-Ibu KWT Cempaka Desa Kademangan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan melalui Pelatihan Barcode Tanaman Dwisatyadini, Mutimanda; Sulistiana, Susi; Utami, Sri; Zuhairi, Fawzi Rahmadiyan; Winarni, Inggit
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma (in Progress)
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v7i1.1175

Abstract

Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka merupakan wadah bagi perempuan untuk mengelola sekaligus menyalurkan berbagai ide dan aktivitas di bidang pertanian. Kelompok ini beranggotakan sekitar 40 orang yang terdiri dari ibu-ibu yang tinggal di Perumahan Batan Indah, dengan latar belakang sebagian besar purnabakti dan ibu rumah tangga, serta sebagian kecil masih aktif bekerja. Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan teknologi, diperkenalkan inovasi pendampingan melalui penggunaan Quick Response Code (QR-Code) kepada kelompok tani tanaman hias sebagai mitra. Pemanfaatan media digital melalui sistem informasi tanaman berbasis QR-Code memungkinkan penyediaan informasi yang lebih lengkap mengenai tanaman, seperti nama Latin, klasifikasi, dan manfaatnya, sehingga dapat membantu masyarakat mengakses informasi secara lebih mudah serta meningkatkan edukasi terkait tanaman obat keluarga. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan media digital berupa sistem informasi tanaman berbasis QR-Code, pemberian pelatihan, pendampingan, dan pengawasan kepada anggota kelompok wanita tani dalam penggunaan media digital tersebut, serta evaluasi terhadap pemanfaatannya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa setelah pelatihan, sebagian besar peserta mampu memahami penggunaan aplikasi barcode tanaman baik melalui telepon genggam maupun laptop, dengan 20 responden menyatakan memahami cara penggunaan aplikasi. Sebanyak 21 responden menyatakan aplikasi memberikan kemudahan, sedangkan 20 responden menilai bahwa aplikasi barcode tanaman tersebut bermanfaat dalam meningkatkan akses informasi tanaman.