Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pelestarian Seni Jaran Kepang oleh Sanggar Wahyu Satrio Putro di Kota Binjai Tarigan, Yohana Amerisa Br; Dewi, Heristina; Gulo, Hubari
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.938

Abstract

This study examines the preservation of the Jaran Kepang art form by Sanggar Wahyu Satrio Putro in Binjai City using a qualitative approach. The objectives of the research include: (1) adaptation and innovation without compromising traditional values, and (2) passing down Jaran Kepang to younger generations. Jaran Kepang is a traditional Javanese art that portrays the skills of horseback warriors through dynamic and captivating dance movements, accompanied by gamelan music. Although this art form has existed since the Majapahit Kingdom, its development outside Java, including in Binjai City, North Sumatra, reflects a cultural transformation. The study applies a qualitative method through non-participant observation, interviews, video recordings, and audio documentation. The findings reveal that the preservation of Jaran Kepang by Sanggar Wahyu Satrio Putro is not merely an act of safeguarding cultural heritage, but also a strategic effort to maintain the relevance of traditional arts in the era of globalization.
Peran Lagu Populer Simalungun dalam Upacara Adat Perkawinan: Analis Tekstual dan Musikal di Kelurahan Pematang Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun Purba, Zulkifli; Dewi, Heristina; Sitopu, Sapna
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.1015

Abstract

This study analyzes the role of Simalungun popular songs in traditional wedding ceremonies in Pematang Raya Village through textual and musical approaches. The research focuses on three main songs: Sitalasari, Etah Mangalop Boru, and Horas Sayur Matua. A qualitative descriptive method was applied using observation, interviews, and documentation techniques. The findings reveal that Simalungun popular songs function as a medium of cultural communication, a form of prayer and blessing, and a symbol of respect toward social structures and customary values. Musically, the songs use diatonic major scales, moderate tempos (85–100 bpm), and simple rhythmic patterns that reflect the sacred and harmonious atmosphere of the ceremony. The transformation from traditional instruments such as gondrang bolon to modern ones like keyboards and guitars does not diminish their cultural meaning. Instead, these songs embody a creative adaptation that preserves traditional values while embracing modern influences. They play a vital role in maintaining Simalungun cultural identity, strengthening social cohesion, and ensuring the continuity of local traditions amid modernization.
Organologi dan Teknik Permainan Taratoa oleh Mardi Boangmanalu di Pakpak Bharat Pasaribu, Kevin Leonardo; Dewi, Heristina; Sebayang, Vanesia Amelia
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.940

Abstract

Taratoa is one of the traditional wind instruments owned by the Pakpak people in North Sumatra. This instrument has high cultural value and is classified as an aerophone, precisely the type of end-blown flute. Its existence reflects the rich musical tradition of the Pakpak people that needs to be studied and preserved. This research aims to examine the organological aspects of Taratoa, including the manufacturing process, materials, construction, and playing techniques. The main focus is on the practice of Mardi Boangmanalu, a traditional craft and performance art form practiced by Taratoa craftsman and player from Aornakan II Village, Pargetteng-Getteng Sengkut District, Pakpak Bharat Regency. The approach used in this research is a descriptive qualitative one, employing data collection techniques that include observation, interviews, and documentation. To identify the process of making and playing techniques, this research refers to the structural and functional theory of Susumu Khasima (1978: 174). In classifying Taratoa, the Hornbostel-Sachs (1961) theory was used.
ANALISIS MUSIKAL DAN MAKNA TEKSTUAL LAGU POPULER MARSADA BAND MASIHOL, ANJU MA AU, MARTIKKI KARYA KELOMPOK MUSIK MARSADA BAND DI DESA TOMOK SAMOSIR Sampe Tua, Erfin; Dewi, Heristina; Sitopu, Sapna
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 1 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i1.2026.86-90

Abstract

Marsada Band merupakan kelompok musik yang menggabungkan unsur musik etnik Batak dengan genre musik modern seperti beat, reggae, dan chacha. Penelitian berjudul Analisis Musik dan Makna Tekstual Lagu-Lagu Populer Marsada Band di Desa Tomok, Samosir ini bertujuan untuk menganalisis secara musikal dan makna tekstual dari lagu-lagu Marsada Band, yaitu Masihol, Anju Ma Au, dan Martikki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan musikal dan semiotik untuk menggali makna di balik lirik dan komposisi musik lagu-lagu tersebut. Teori semiotik digunakan untuk memahami simbol-simbol dan pesan yang terkandung dalam lagu, sedangkan pendekatan musikal fokus pada struktur dan elemen musik. Data diperoleh melalui studi literatur dan observasi langsung terhadap karya-karya Marsada Band. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marsada Band berhasil memadukan unsur tradisional Batak dengan musik modern sehingga menciptakan gaya musik yang unik dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Selain memberikan hiburan, lagu-lagu tersebut mengandung makna mendalam yang merefleksikan budaya dan kehidupan sosial masyarakat Batak.
MUSIK, LAGU,DAN TARI MELAYU SUMATERA UTARA Heristina Dewi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.238

Abstract

Abstrak: Musik adalah salah satu cabang kesenian.Sementara itu, kesenian adalah salah satu unsure kebudayaan.Kadangkala istilah kesenian selalu diidentikkan dengan kebudayaan.Bahkan banyak orang mengartikan kesenian sinonim dengan kebudayaan, Namun menurut kajian-kajian ilmu budaya, kesenian hanya salah satu bagian dari kebudayaan yang amat luas.Kesenian ini dapat berwujud ide, kegiatan, atau benda-benda.Di antara benda-benda seni musik, adalah alat-alat musik.Demikian pula yang terdapat dalam kebudayaan musik Melayu Sumatera Utara. Pada prinsipnya, musik terdiri dari wuhud gagasan, seperti konsep tentang ruang: tangga nada, wilayah nada, nada dasar, interval, frekuensi nada, sebaran nada-nada, kontur, formula meloadi, dan lain-lainnya. Dimensi ruang dalam music ini merupakan organisasi suara. Sementara, di sisi lain, music juga di bangun oleh dimensi waktu, yang terdiri dari: metrum atau birama, nilai not (panjang pendeknya durasi not), kecepatan (seperti lambat, sedang, cepat, sangat cepat), dan lainnya. Kedua dimensi pendukung musik ini, kadang juga berhubungan dengan seni tari yang diiringinya. Dalam konteks budaya Melayu sendiri, integrasi antara music dengan tari terwujud dalam konsep begitu musik begitu pulatarinya. Dengan demikian, budaya musik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan Melayu pada umumnya. Musik adalah salah satu media ungkap kesenian.Kesenian adalah salah satu daripada unsure kebudayaan universal.Musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam music, terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi bahagian daripada proses enkulturasi budaya—baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari pada structural maupun genrenya dalam kebudayaan.Demikian juga yang terjadi music dalam kebudayaan masyarakat Melayu Sumatera Utara.
Pembentukan Identitas Budaya Remaja Melalui Komunitas Dance Cover DreamWalker di Medan Ramadhani, Cahyani Indah; Dewi, Heristina; Gulo, Hubari
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei (In-Press)
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.939

Abstract

Budaya populer Korea (K-Pop) telah membentuk berbagai praktik budaya remaja di Indonesia, salah satunya melalui komunitas dance cover. DreamWalker adalah komunitas dance cover K-Pop di Kota Medan yang menjadi ruang ekspresi dan interaksi sosial bagi remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan reduksi data, penyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DreamWalker menjadi medium pembentukan identitas budaya remaja melalui representasi tubuh, ekspresi emosional, serta negosiasi nilai global dan lokal. Identitas terbentuk melalui unsur wiraga (teknik), wirama (keselarasan), dan wirasa (emosi) dalam praktik tari, serta diperkuat melalui pengalaman kolektif fan performa budaya. DreamWalker berperan sebagai agen budaya yang memfasilitasi pembentukan identitas hibrida remaja dalam konteks globalisasi, dengan menggabungkan simbol K-Pop dan nilai lokal Kota Medan melalui praktik pertunjukan yang reflektif. 
Representasi Identitas Budaya Nias melalui Analisis Musikal dan Lirik Lagu Populer Ciptaan Man Harefa Laia, Kristiyani Feranola; Dewi, Heristina; Gulo, Hubari
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei (In-Press)
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.949

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur musikal dan makna tekstual tiga lagu populer Nias ciptaan Man Harefa, yaitu Tano Niha Ni’omasioda, Hulo Omasio, dan Yae Wangandorogu. Lagu-lagu ini dipilih karena merepresentasikan identitas budaya dan nilai spiritual masyarakat Nias, baik di kampung halaman maupun di perantauan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dan semiotik. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap rekaman lagu, transkripsi notasi musik, wawancara dengan narasumber utama, serta penyebaran kuesioner kepada masyarakat Nias. Analisis musikal dilakukan berdasarkan teori struktur melodi William P. Malm, sedangkan analisis makna lirik menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga lagu memiliki struktur melodi yang sederhana namun ekspresif, dengan pola kontur naik-turun yang mencerminkan nuansa emosional. Secara tekstual, lirik lagu memuat simbolisme lokal yang kuat dan mengangkat tema cinta tanah air, kerinduan, serta harapan spiritual. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa lagu-lagu Man Harefa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya, penguatan identitas, dan refleksi nilai-nilai sosial masyarakat Nias.